
Grey memutuskan untuk berjalan-jalan demi memeriksa keadaan, di gang itu para anak kecil mengerumuni selagi memeluk kakinya.
Beberapa adalah anak-anak yang sering dibantunya.
"Kalian sepertinya tumbuh dengan sehat."
"Tentu saja, kami makan banyak," timpal seorang anak laki-laki.
"Kami juga sering berlatih juga, agar jadi kuat seperti Grey," timpal seorang gadis dan yang lainnya juga mengatakan tidak jauh berbeda dengan keduanya, sebelum menunjuk ke arah wanita.
"Lihat, ada orang mesum?"
"Siapa yang kalian panggil mesum, anak-anak nakal."
"Lari."
Yang dimaksud mereka adalah Arina yang datang dari seberang jalan. Jika melihat penampilannya sulit untuk tidak mengatakan itu, dia mungkin tipe wanita yang senang diperhatikan oleh pria secara menyeluruh terutama bagian dadanya.
"Ada apa Arina?"
"Temani aku sebentar, kupikir aku perlu berbelanja."
"Aku?"
Sebelum Grey menyetujuinya dia telah ditarik lebih dulu olehnya, dia dibawa sepanjang jalan trotoar sembari melihat-lihat apa yang dipajang di toko yang mereka lewati.
"Aku sudah sejak lama tidak berkunjung ke kota, karena itu, walau aku tampak biasa sebenarnya semua yang di sini terasa asing untukku."
Grey akhirnya menyadarinya, jika diingat dia seorang Hikikomori juga seperti Anabeth.
"Kau sedang mengejekku di dalam hati."
"Tidak juga."
"Jangan bohong."
"Aku serius."
Mereka berdua masuk ke dalam toko yang cukup paling luas dibandingkan toko lainnya.
__ADS_1
"Toko pakaian dalam?"
"Aku perlu beberapa, yang bawah akan tertutup celana jadi yang atas harus pilih dengan seksama."
"Seharusnya kau menutup yang atas juga."
"Hah?"
"Tidak, seharusnya aku yang terkejut karena kau tidak masalah memamerkannya."
"Kenapa harus malu, di kampung halamanku bahkan tidak mengenakkan apapun."
Konsep tertutup tidak ada di dalam kamus putri duyung. Mengesampingkan hal itu, Grey pikir tempat seperti itu sebuah harta karun yang selalu ingin dikunjungi para pria, sebelum dia menyadarinya dua potongan kain segitiga dijulurkan pada wajahnya.
Yang satu berwarna putih berbentuk tipis dengan gaterbelt dan satu lagi berwana merah dan yakin itu bukan sesuatu yang aman digunakan wanita.
"Menurutmu mana yang kau sukai?"
"Jangan tanya padaku, jelas yang berwarna terang ini."
"Fufu ternyata kau pria sejati."
Dia ingin pergi. Namun, seperti sebelumnya tangannya telah ditarik dari keinginan tersebut dan kembali memilih hal yang sepatutnya dia sentuh.
"Apa sebaiknya aku pakai rok pendek saja?"
"Kurasa lebih baik jangan," Grey berusaha menjaga imej dari kota ini.
Setelah memilih termasuk jubah dan topi runcing, mereka mengunjungi toko peralatan sihir.
Grey biasan membeli beberapa di sini jadi dia sudah kenal baik dengan penjualnya yaitu seorang nenek tua kecil.
"Kau helm pembunuh?"
"Sudah kukatakan aku bukan pembunuh meskipun aku banyak membunuh monster sih."
"Kau menolak jadi dirimu."
"Lebih baik tambahkan saja pembunuh Monster."
__ADS_1
"Itu terdengar tidak keren."
"Terserahlah, temanku perlu beberapa alat sihir, kau punya yang bagus."
"Kau tidak perlu menanyakannya... semua di tokoku telah dijamin kekuatannya, pilihlah yang kau suka."
"Kau bisa memilihnya Arina."
Nama tersebut membuat dahi si nenek mengerut.
"Apa barusan kau bilang Arina."
"Yap itu aku?"
"Jadi begitu, kau tetap sama dari yang kudengar, seorang penyihir yang telah mendapatkan sebuah keabadian."
"Mereka terlalu berlebihan, lagipula aku ini bukan manusia."
"Tetap saja membuatmu abadi adalah keinginan banyak orang... uh, sebaiknya aku tidak mengganggumu, pilihlah yang kau suka.. tokoku juga tidak jauh kalah dari peralatan buatanmu."
"Kalau begitu aku merasa terhormat bisa membelinya."
Grey berpikir sebenarnya berapa umur Arina? Tentu lebih tua darinya.
Arina mulai memilah-milah apa yang dia inginkan, Grey juga turut memiliki untuk dirinya dia selalu tertarik dengan sebuah perkamen yang bisa digunakannya.
Si nenek melihatnya setelah menyadari apa yang kurang darinya.
"Grey, dimana pedangmu?"
"Aku merusaknya, tapi aku memiliki penggantinya."
Grey mengeluarkan pedang dari cincin penyimpannya, yang merupakan pedang yang diambilnya dari Nil.
"Ini pedang Spirit?"
"Ukurannya berubah, aku yakin bahwa hanya pedang satu tangan."
"Hoh, aneh sekali... biasanya jika pemilik sebelumnya mati, mereka jarang membuat kontrak secepat itu terlebih dengan seseorang yang membunuh pemiliknya, kau memang helm pembunuh."
__ADS_1
Grey tidak bisa membantahnya sekarang.