Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 34 : Oasis


__ADS_3

Setelah mengisi perut mereka, mereka hanya duduk selagi rebahan. Walau terlihat bahwa wilayah ini tidak ada apapun namun sebenarnya ini juga merupakan kawasan berbahaya.


Grey melemparkan sebuah kerikil ke atas gundukan pasir dan dalam sekejap seekor laba-laba raksasa keluar lalu menangkapnya dalam hitungan detik.


Semua orang yang memperhatikan ikut terkejut.


"Aku tidak ingin berakhir seperti itu," ucap Arina.


Setelah menjelang sore, perjalanan kembali dilanjutkan. Mereka memutuskan untuk bergerak dengan satu lajur di mana Grey sendiri yang memimpin agar anggotanya tidak salah memilih jalan.


Eva berteriak panik.


"A-apa itu!"


Semua orang mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuknya dan yakin itu sesuatu yang berbahaya.


"Itu kadal yang benar-benar besar, kita akan dimakan olehnya kalau tidak cepat."


Kadal itu jelas berlari padanya dengan empat kaki, warnanya sendiri sama dengan pasir yang sekilas memang sulit diperhatikan.


"Apa kita akan melawannya?" ucap Winy pada Irena di depannya.


"Kurasa tidak, itu terlalu beresiko... perjalanan kita cukup lumayan jauh, kita harus menghemat tenaga."

__ADS_1


"Apa boleh buat, aku punya ide," potong Grey membuat semua orang mengikutinya untuk berlari ke samping.


"Angel tembakkan panahmu padanya."


"Baik."


Grey pikir dia memerintahkan hal sulit pada Angel, namun kekhawatiran itu tidak diperlukan saat dia memang benar-benar bisa melakukannya.


Angel menarik busur dan anak panahnya selagi menjatuhkan punggungnya ke belakang, dia melesatkan panah tanpa kesulitan yang mana membuat semua orang terkagum-kagum.


Beberapa panah bisa dihindari oleh kadal tersebut dan beberapa lagi menancap dengan baik meskipun tidak bisa menumbangkannya.


"Itu sudah cukup Angel."


"Baik."


"Ini semua bagian dari rencana."


Mereka menemukan sebuah banyak gundukan di depan mereka, setiap gundukan memiliki jarak di pinggirnya asal mereka bisa tahu jangkauan para laba-laba di bawahnya, mereka juga akan bisa melewati gundukan itu dengan aman.


Para kuda mulai berjalan dan mengikuti Grey kebagian tengah, kadal yang sebelumnya dengan mudah menerobos ke arah mereka, dalam sekejap para laba-laba menangkap setiap kakinya selagi menyuntikan racun mereka.


Dia meronta-ronta akan tetapi para laba-laba tidak membiarkannya, laba-laba yang lain mulai turut bermunculan yang mengejutkan bahwa mereka memilih ke luar dari sarang untuk menjatuhkannya.

__ADS_1


"Mereka satu sama lain berkomunikasi, cepat pergi."


Dengan arahan Grey mereka meninggalkan kadal yang seutuhnya telah terbungkus puluhan laba-laba.


"Tempat ini memang berbahaya namun putri pasti akan selamat, dia memiliki sebuah kalung yang berfungsi sebagai jimat, jika itu monster mereka tidak akan berani mendekatinya."


"Kau tahu banyak soal putri Grey? Apa kau memiliki hubungan khusus?" Irena mendekatkan wajahnya dari kuda miliknya.


"Aku yang memberikannya, lagipula untuk petualang tidak ada monster yang mendekatinya maka sebuah kerugian bukan."


"Kalian memang suka menantang bahaya."


Sesekali mereka melawan kalajengking, ular dan beberapa hewan yang muncul dari dalam tanah hingga akhirnya saat matahari tenggelam mereka menemukan tempat yang mereka ingin tuju, ukurannya hanya berdiameter 50 meter, dengan sekelilingnya ditumbuhi rumput dan pohon kelapa, sementara di tengahnya ada sebuah danau dengan air biru mempesona.


Tampak gadis berkerudung sedang duduk di pinggir selagi membawa air pada mulutnya.


"Putri Alexia, Anda baik-baik saja."


Putri itu membuka kerudungnya menampilkan rambut biru sebahu dengan jepit rambut bunga Lily. Dia menatap Grey dengan mata berlinang air mata.


"Kamu telat Grey, aku sudah menunggumu."


Keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


"Maaf, semuanya akan baik-baik saja."


"Mereka terlalu dekat jika disebut hanya sebatas kenalan," atas perkataan Irena semua orang mengangguk setuju.


__ADS_2