
Di depan mereka tampak sebuah benteng berdiri dengan obor-obor di tempatkan di sekitarnya sebagai pencahayaan. Tak hanya itu beberapa penjaga dengan giat berpatroli ke sana kemari dengan tombak di tangannya.
Irena menjelaskan ke semua pasukan yang berjumlah 30 orang tersebut, dengan jumlah kecil mereka akan mengandalkan serangan dadakan.
"Salah satu jenderal memimpin pasukannya di benteng ini, jika kita bisa mengalahkannya maka benteng-benteng lainnya akan mudah kita jatuhkan, semuanya bersiap pada posisi yang telah kita tentukan dan Angel, aku mengandalkanmu."
"Serahkan padaku."
Sementara semua orang bersembunyi di balik semak-semak, Angel menarik busurnya dan panah dilepaskan dari jarinya, membuat satu persatu penjaga berjatuhan ke tanah.
Mereka mulai membunyikan alarm untuk mengantisipasinya. Hanya ada satu jalur untuk keluar masuk dan mau tidak mau mereka harus keluar untuk memeriksanya.
Grey yang sejak tadi menempelkan dirinya di tembok masuk dengan mudah melewati gerbang bertepatan saat mereka berjalan ke luar.
Panah dilesatkan untuk mengenai mereka yang bersiaga di atas.
"Panahnya berasal dari sana, maju," teriak salah satunya.
"Aku sudah menghabisi yang di atas," ucap Angel mendapatkan anggukan Irena.
__ADS_1
"Kerja bagus, sekarang giliran kita, angkat senjata kalian kemudian maju."
"Celaka, mereka datang dengan jumlah cukup banyak, meski begitu serang jangan sampai benteng ini dikalahkan musuh."
"Ooh."
Pertempuran telah pecah di antara keduanya, sementara itu Grey telah mengalahkan orang-orang yang memiliki peran penting untuk menjaga pintu masuk agar mereka bisa menerobos maju.
Grey memukul bagian kepala salah satu penjaga hingga tumbang kemudian membiarkan gerbang terbuka begitu saja hingga musuh akhirnya menyadarinya.
"Kenapa gerbangnya masih terbuka, jangan bilang... semuanya," sebelum dia bisa menarik mundur pasukan, pedang milik Winy lebih dulu membelah tubuhnya menjadi dua.
"Baik."
Di sela-sela pertarungan. Eva secara cekatan memberikan pertolongan pertama melalui sihir penyembuhannya. Dan sampai semua masuk, Grey sendirian harus menjaga gerbangnya.
"Via kurasa ini waktunya kita juga bertarung."
"Aku selalu menunggu waktu seperti ini," katanya sebelum berubah menjadi pedang besar.
__ADS_1
"Jika kalian ingin menutup gerbangnya serang aku kalau bisa."
Mereka menyerang serempak ke arah Grey satu persatu, mereka tahu jika tidak mengalahkan orang berbaju besi ini, gerbangnya akan terus terbuka, di sisi lain jika mereka menutupnya tanpa melawannya kemungkinan besar pria ini juga akan membunuh mereka.
Grey mementalkan beberapa senjata pasukan musuh kemudian menendang mereka menjauh, salah satunya memiliki tubuh dua kali lipat dengannya dan tanpa ampun menghujani Grey dengan hantaman keras dari sebuah gada berduri.
Dentrang, Dentrang.
Jika dia menggunakan senjata biasa pedangnya pasti sudah hancur, dia berterima kasih pada Via yang telah menjadi rekannya sekarang, dia membalas serangannya dengan tebasan kuat. Pria besar itu kehilangan keseimbangannya hingga dia kehilangan momentum untuk mundur dan dengan sedikit tebasan diagonal dia berhasil dijatuhkan.
Darah menggenang dari tubuhnya hingga para pasukan musuh sedikit menahan langkah kaki mereka sebelum kembali bergerak. Selama tiga menit Grey bertarung seorang diri sampai pasukan Irena menerobos maju.
"Jatuhkan mereka semua."
"Baik."
Berbeda halnya dengan para petualang, para penjaga tidak selalu sering bertarung, mereka tidak terlalu piawai dalam sebuah pertempuran hingga mereka mulai mundur ke sudut sampai seseorang muncul dari sana.
Ia mengenakan zirah besi tanpa helm dan membawa dua pedang besar di tangannya, ia memiliki wajah di usia 40 tahunan, dengan rambut pendek serta tubuh tegap.
__ADS_1
"Kuakui kalian sangat hebat tapi sayangnya cara seperti ini benar-benar terlalu bar-bar, bagaimana jika kita bertarung dengan sebuah duel?" katanya demikian.