
Grey terhantam sebuah pukulan yang membuatnya terlempar menabrak pilar, melihat itu Alexia hanya bisa bersembunyi dengan tubuh gemetaran.
Itu bukan kekuatan manusia lagi, melainkan iblis.
Alexia tampak kesal, frustasi, putus asa, tidak bisa berbuat banyak meski begitu Grey jelas tidak mempermasalahkan hal itu, dari awal ia memang tak berniat melibatkan seorang putri dalam sebuah pertarungan hidup dan mati.
Grey bangkit dari puing-puing yang menindihnya.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Via.
"Yang barusan memang cukup menyakitkan tapi sudah tak masalah."
Perdana menteri menimpali.
"Sepertinya kau juga bukan manusia, tubuhmu bisa sembuh dengan cepat."
Grey melepaskan helmnya dan itu menampilkan mata merah yang tidak jauh lebih kuat dibandingkan mata iblis.
"Kau vampir?"
"Aku memang vampir."
Alexia yang melihatnya tampak menutupi mulutnya.
"Jika kau vampir seharusnya kau ikut bergabung denganku, kita bisa menjadi penguasa di bawah kepemimpinan undead king."
"Maaf saja, tapi di dalam hatiku aku masih merasa manusia... seperti tujuan awalku, akan kukalahkan undead king dan membuat dunia seperti dulu," balas Grey selagi menutup kembali wajahnya.
__ADS_1
"Dasar keras kepala, orang sepertimu mati saja."
Iblis tersebut menembakan bola hitam sementara Grey menggunakan sihir api dan berteriak.
"Fire Bolt."
Kedua serangan itu meledak di udara menutup area pertarungan dengan asap hitam. Ketika asap menghilang mereka saling berhadapan di jarak sangat dekat.
Grey mengayunkan pedangnya dan perdana menteri menciptakan semacam pedang dari bayangan hingga saling bertubrukan.
Keduanya saling tertahan satu sama lain sebelum pedang milik perdana menteri hancur berserakan hingga dia ditebas dari depan membuatnya terlempar jauh ke belakang.
Darah menyembur dari mulutnya saat dia bangkit.
"Pedang spirit benar-benar menyusahkan padahal aku memiliki empat mata seharusnya tebasan seperti itu bisa dilihat dengan mudah... kurasa sudah waktunya serius."
"Benar-benar energi yang terkutuk."
"Inilah kekuatan sejati."
Dalam hitungan detik tubuh Grey dipukul beberapa kali, ditendang ke segala arah hingga tubuhnya menerima sakit. Yang terlihat baik-baik saja hanya helm yang dikenakannya.
Pendana menteri mencengkeram wajah Grey kemudian dia hantamkan ke lantai hingga material hancur berkeping-keping.
"Haha meski kau vampir kau masih tidak setara denganku."
Sebuah tanaman tiba-tiba merambat ke tangan perdana menteri hingga dia terkejut.
__ADS_1
"Mustahil? Sihir ini, sihir tanaman kematian."
Menyadari hal itu, dia memutuskan tangannya yang terlilit sebelum mundur ke belakang. Darah menetes dari bahu yang terpotong.
"Bagaimana orang sepertimu bisa menggunakan sihir seperti itu?"
"Semua orang bisa menggunakan sihir apapun asal mereka punya uang."
Grey mengelukan dirinya dari lubang yang dibentuk oleh musuhnya, dia menunjukan sebuah perkamen di tangannya.
"Jadi begitu... kau menggunakan benda itu, benda seperti itu pasti barang yang sangat mahal... kau pasti tidak mungkin memilikinya lagi."
Perdana menteri melesat maju, di jarak satu meter sebuah perkamen terbang di atas kepalanya lalu meledak menghasilkan sebuah cahaya menyilaukan.
"Apa ini?"
Saat cahaya itu menghilang, Grey telah berdiri dengan pedang miliknya, seharusnya itu berwarna terang namun sekarang telah berubah menjadi warna merah.
Warna itu di dapat dari darah Grey sendiri.
Merasakan sebuah tekanan menakutkan, perdana menteri ingin melarikan diri namun tubuhnya tidak bisa digerakkan.
"Mungkinkah cahaya barusan?"
"Aah, siapapun yang terkena, tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya beberapa waktu. Sekarang terimalah pembalasan dari negeri."
"Tunggu sebentar."
__ADS_1
Grey mengayunkan pedangnya dan dengan sekali tebasan tubuh perdana menteri terbelah dua bagian bersama istananya.