
Grey tidak terlalu memikirkan siapa yang akan menang, yang jelas yang menang adalah seekor putri duyung dengan ukuran H-cup.
Olivier ataupun Arina mengangguk dengan senang.
"Besar memang keadilan."
"Lebih baik di festival berikutnya penilaian dada dihilangkan saja."
Grey memberikan usulan untuk membantu para wanita yang tampak kesal dengan kompetisi ini, dan melihat itu Olivier harus menyetujuinya.
"Aku mengerti mari buat penilai jujur untuk festival berikutnya."
Itu jauh lebih baik, pikir Grey dalam hati.
Jika tidak Olivier mungkin akan diamuk masa.
Keesokan paginya Grey melihat bagaimana salah satu kolam di istana telah diisi penuh oleh ikan milik Arina sebelumnya, dia meminta beberapa orang untuk memindahkannya ke dalam tong yang akan dibawa pulang, bagaimanapun ini adalah hari terakhir mereka tinggal.
Untuk kembali mereka akan menggunakan sihir teleportasi milik Arina karena itulah waktu berangkat dan pergi sangatlah berbeda. Sebelum mereka mempersiapkannya sosok Olivier muncul dengan tergesa-gesa.
"Tuan Grey, Nyonya Arina kita punya masalah."
__ADS_1
Grey melirik ke arah Arina dan secara spontan dia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak melakukan hal buruk belakangan ini apalagi di kerajaan orang lain."
Grey penasaran masalah apa yang membuatnya sampai segitu, Olivier menarik nafas untuk menstabilkan dirinya kemudian menjelaskan hingga keduanya terkejut.
"Kami akan pergi sekarang."
"Eh tunggu, aku akan mengirim pasukan juga."
Sebelum perkataannya sampai pada keduanya, entah Grey atau Arina telah menghilang begitu saja.
Sayap muncul di punggung Grey sementara Arina melayang di udara mengikuti, ada pun Via telah berubah menjadi pedang.
"Aah, tapi baguslah bahwa kita berada di sini untuk mengatasinya.. sebelum mereka membuat kerusakan yang lebih parah, mari selesaikan semuanya," atas pernyataan Grey, Arina mengangguk mengiyakan.
Dari kejauhan atau lebih tepatnya di bawah kaki gunung tampak sebuah desa kecil dan asap hitam mengepul ke udara, mereka mendarat di tengah penduduk yang berlarian karena ketakutan di mana seekor iblis menyerupai kepala katak dan tubuh manusia mengayunkan tangannya ke semua orang yang dilewatinya.
Tumpukan mayat berserakan di bawah kakinya yang mana dihiasi kubangan darah merah segar.
"Bagaimana menurutmu Via?" tanya Grey pada pedangnya.
__ADS_1
"Tidak salah lagi, energinya sama seperti yang dikeluarkan undead king waktu dia terbunuh, jika aku bisa menganalisa energinya aku bisa merasakan iblis yang lainnya juga."
"Baguslah."
Arina tersenyum senang.
"Awalnya kita menikmati festival, kini menjadi perburuan iblis... menarik."
Arina memunculkan tongkat di tangannya kemudian mengirimkan beberapa tombak es pada iblis di depannya, iblis tersebut menghindarinya dengan beberapa kali melompat ke samping sebelum melesat maju.
Grey berdiri di depan Arina untuk memblokir serangan balasan melalui pedangnya. Saat itu terhunus dengan posisi sejajar, iblis tersebut menahannya dengan tangannya yang mana merupakan sebuah kecerobohan. Jari yang tajam terpotong-potong dengan baik sebelum menebas tubuhnya dua bagian.
Ada bola kecil di tubuhnya namun sesaat itu retak dan hancur hingga berserakan. Arina yang memperhatikan hanya menghela nafas panjang.
"Grey, kau malah semakin kuat 10 tahun ini... biarkan aku juga beraksi."
Grey hanya membalas dengan senyuman pahit, saat tahu bahwa undead king telah menyiapkan sesuatu saat kematiannya, Grey terus saja berlatih seorang diri hingga tanpa dia sadari dia menjadi sangat kuat, orang-orang mulai menjulukinya sebagai petualang terkuat di dunia.
Hal itu tidak terjadi begitu saja, saat ada perlombaan yang diikuti oleh banyak petualang ia mendaftarkan diri, dan dia berhasil mengalahkan Irena di babak final hingga menjadi seorang pemenangnya.
Irena tampak menerimanya dengan baik walaupun dia bilang suatu hari akan menantangnya kembali.
__ADS_1
Itu hanya sebagian kecil yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.