
Di dalam perjalanan mereka menemukan sebuah peti harta karun, itu aneh karena ditempatkan di tempat yang mudah ditemukan. Grey yang lebih dulu menyadarinya menahan pergerakan Irena.
"Kenapa?"
"Itu Mimic."
"Mimic?"
"Monster yang menyerupai peti harta karun."
Grey mengambil sebuah batu krikil di dekat kakinya, saat dia melemparkannya tepat mengenai peti harta karun tersebut, peti itu terbuka menciptakan rahang dari monster dan menerkam ke tempat batu itu jatuh dan kembali sedia kala.
"Apa-apaan dengan penipuan jelas ini?" kata Irena.
"Mereka tidak memiliki mata ataupun telinga, karena itulah jika ada sesuatu menyentuhnya dia akan langsung memakannya, kau terlihat marah?"
"Tentu saja, akan kutebas makhluk ini."
Roh Mimic terbang ke langit lalu menembus ke dalam gua, itu hanya visual yang dibayangkan oleh Grey saat kematiannya.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanannya, mereka melawan beberapa katak berikutnya menggunakan dagingnya sebagai olahan makanan mereka bersembunyi di dalam gua tertutup.
Cincin penyimpan Grey mengeluarkan segala keperluan seperti kayu bakar, makanan, tempat tidur termasuk alat memasak.
"Kau yakin akan memakan daging katak tersebut."
"Kenapa tidak, kau juga mau memakannya?"
"Tidak, aku tidak mau... bagaimana jika beracun, aku cukup dengan roti."
__ADS_1
"Baiklah, aku kira penjelajahan ini akan berakhir hanya satu hari.. maaf soal itu."
"Tak perlu meminta maaf lagipula aku sendiri yang sudah memutuskan."
Irena memeluk lututnya selagi memakan rotinya, itu bukan posisi baik untuk dilihat oleh pria jadi Grey berbalik.
"Aku sedang menggodamu barusan."
"Aku tahu tapi aku tidak tertarik dengan hal seperti itu, paling tidak berhenti mengetes hal-hal aneh tentangku."
Grey mengatakan itu dengan nada tenang seperti biasanya selagi melepas helmnya lalu memakan sup katak tanpa menunjukan wajahnya.
"Apa segitunya kau tidak ingin dilihat?"
"Maaf tapi aku tidak bisa menunjukkan wajahku ke siapapun."
"Jika kau merasa begitu aku tidak keberatan, terima kasih untuk membawaku kemari... kalau begitu aku tidur duluan, rasanya sangat mengantuk."
"Selamat malam."
Ternyata kau bisa bertingkah imut rupanya, pikir Grey dalam hati. Setelah beristirahat, pagi berikutnya Grey telah siap untuk menyiapkan kembali perjalanan. Dia telah memasang helm di kepalanya kemudian mengasah pedang miliknya.
Irena meregangkan tangannya selagi menguap lebar.
"Tidurku benar-benar nyenyak, ini pertama kalinya aku tidur dengan pria."
"Lebih baik jangan mengatakan hal-hal yang bisa memancing orang salah paham."
Kelompok Irena semuanya adalah wanita jadi itu memang benar hanya salah dalam pengucapan saja.
__ADS_1
"Cepatlah bersiap-siap, kita akan bergerak."
"Aku tahu, jangan memerintahku."
Grey sudah menunggu cukup lama untuk dia bangun, seharusnya ia mengerti hal sederhana itu juga.
Mereka menumbangkan beberapa katak berikutnya dan di lantai pertengahan akhir mereka berhadapan dengan banyak ular.
"Tikus, katak dan ular, sebuah rantai makanan yang bagus."
"Bukan saatnya mengagumi sesuatu yang aneh... cepat bantu aku."
Grey melompat dengan gerakan berputar menebas kepala ular dari atas ke bawah dengan mantap.
"Itu ular yang ke 100."
"Yap kerja bagus, di depan adalah ruangan terakhir kurasa."
Dungeon hanya memiliki lantai 20, tanpa jalan rahasia dan juga jebakan, hartanya belum ditemukan yang mana mejadikan area bos sebagai tempat keberadaannya.
Ada sebuah gerbang raksasa di depan keduanya, saat itu didorong menghasilkan decitan karat.
Ruangan yang tiba-tiba bersinar terang dan di dalam sana ada seekor ular raksasa dengan sembilan kepala yang duduk ditumpukan koin emas serta harta lainnya.
Mata Irena bersinar terang.
"Semuanya pasti harta yang berharga."
"Jangan sampai lengah atau kau tidak akan mendapatkan apapun jika mati."
__ADS_1
"Mati oleh hewan seperti ini, tidak ada di kamusku."