Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 64 : Kemenangan


__ADS_3

Itu adalah kebenaran, meski Grey telah berubah menjadi vampir dia masih mempertahankan dirinya sebagai manusia karena itulah saat insiden bulan merah ia masih tetap bisa mempertahankan kesadarannya.


Undead king melangkah maju begitu juga Irena dan Grey yang memosisikan diri menyerang dan bertahan secara bergantian.


Trang, Trang, trang.


Suara tubrukan logam menggema ke seisi ruangan.


"Sebelumnya aku berhasil mengalahkan para raja manusia, sekarang kalian tak akan beda jauh dengan mereka."


"Guakh."


Tubuh Irena terlempar ke belakang dengan darah menyembur dari mulutnya, Grey menusukan pedangnya namun undead king menahannya dengan tangannya lalu menebas Grey sebelum menendangnya juga sejajar dengan posisi Irena.


"Sudah kubilang kalian tidak lebih kuat dibandingkan denganku, matilah."


Dari ujung pedang undead king, itu menciptakan sebuah bola hitam yang terlempar ke arah keduanya sebelum itu menghantam mereka, seseorang telah muncul untuk menghalaunya, dia adalah Arina.


Keduanya memangilnya secara bersamaan.


"Aku pikir aku juga harus membantu, sebelumnya aku tidak melakukan apapun saat para raja itu dibunuh tapi sekarang akan jauh berbeda."


Tongkat yang menahan bola itu pecah bersamaan bola hitam yang lenyap seutuhnya


"Putri duyung?" ucap undead king.


"Saat kau menghabisi para raja aku melihat semuanya sekarang aku juga akan melakukan apa yang harus kulakukan sejak lama."


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Menciptakan pahlawan."


Tubuh Arina bersinar terang dengan cahaya menyilaukan, cahaya itu segera berpindah alih ke Grey dan Arina hingga mereka terselimuti cahaya seutuhnya.

__ADS_1


Tubuh Arina tampak akan roboh dan Grey segera menangkapnya.


"Aku sudah menggunakan seluruh sihir yang kumpulkan selama hidupku pada kalian, jadi menangkan ini."


"Tentu saja."


Grey membawa Arina untuk duduk di dekat dinding sementara dirinya bergabung dengan Irena untuk bertarung kembali.


"Kita kalahkan dia sekarang Grey."


"Aah."


"Sialan kalian manusia."


Keduanya bergerak sangat cepat untuk mengimbangi kekuatan undead king, setiap tebasan menciptakan kerusakan luar biasa yang memotong setiap pilar di istana ini.


Lubang-lubang tercipta membuat udara masuk dengan mudahnya, Irena mengayunkan pedangnya secara diagonal disusul Grey yang mengambil celah.


"Jangan pikir kalian bisa."


"Mustahil?"


"Kami manusia selalu terus berjuang selama ini, rasakan bagaimana kau mati oleh ras yang kau anggap lemah."


"Aku tidak akan menerimanya!"


Undead king berteriak namun sebelum dia bisa mengeluarkan kemampuan terakhirnya, dua pedang Irena dan juga pedang Grey menusuknya secara bersamaan hingga dia memuntahkan darah dari mulutnya.


"Ha-ha-ha."


Dia tertawa.


"Kalian terlambat, lihat di atas kepalaku."

__ADS_1


Ada lima buah bola aneh yang melayang di sana.


"Apa itu?"


"Ini adalah kekuatanku sesungguhnya, aku akan menyebarkan ke lima bola ini yang nantinya akan berubah menjadi iblis, dan sekitar 10 tahun dari sekarang manusia akan merasakan ketakutan yang sama."


Tubuh undead king berubah menjadi debu, sementara kelima bola itu telah melesat ke langit.


Efek dari kekuatan Arina, membuat Irena dan Grey terbaring di lantai.


"Bagaimana Grey, kita tidak sepenuhnya mengalahkannya."


"Biarkan saja, saat itu tiba kita juga akan mengalahkan iblis yang dia buat."


"Haha saat itu manusia pasti sudah bertambah kuat."


"Benar sekali."


Arina yang telah bangkit berkata ke arah keduanya.


"Kalian ini bisa-bisanya santai setelah mendengar itu."


"Bagaimana dengan keadaan yang di luar?" tanya Grey hingga Arina berjalan ke lubang yang terbentuk oleh pertarungan untuk melihat bahwa semua undead telah musnah menjadi debu.


"Kau ingin kabar baik atau buruk duluan?"


"Kabar baik."


"Kita memenangkan pertarungan."


"Kabar buruknya?"


"Kita terlalu lelah untuk kembali pulang."

__ADS_1


Ketiganya tertawa bersama di bawah cahaya matahari yang menyelinap masuk.


__ADS_2