
"Masalah nya adalah, Papa memperkerjakan Farah menjadi sekertaris mu untuk urusan kantor, bukan pribadi, bersikap lah dewasa, Buka mata kamu, fokus kan pada kantor bukan Wanita. ingat Bima, masa depan kantor kita dan hidup Ratusan karyawan kita ada di tangan kamu, miliki sedikit rasa tanggung jawab itu. " Kata Pak Beni dengan tegas dan berlalu dari tempat itu meninggalkan Bima yang masih diam.
Setelah bicara dengan Bima, Pak Beni masuk ke kamar dan tampak Istri nya melihat nya.
"Sudah lah Pa, jangan terlalu memusingkan hal ini, Mama percaya Bima nanti akan memiliki rasa tanggung jawab itu. dia pasti akan mulai sungguh-sungguh memimpin kantor."Ucap Bu Amber mencoba menenangkan suami nya.
Pak Beni membuang nafas berat. "Yah semoga saja Ma, itu kan harapan kita."Kata Pak Beni dan Bu Amber tersenyum mengangguk.
•••
Pagi Itu.
Farah dan Kedua sahabat nya naik Taxi bersama ke kantor. dalam perjalanan Taxi yang mereka naiki terjebak macet.
"Ada apa sih pak?." Tanya Windi.
"Gak tahu neng, seperti nya ada kecelakaan."Ucap Supir Taxi.
"Gimana Far, Sil, kita udh 10 menit disini gak bergerak."Kata Windi.
"Gimana kalau kita jalan saja. kan sudah tidak terlalu jauh, dari pada telat kan."Kata Sisil mengusulkan.
Ketiga wanita itu pun memutuskan turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki untuk meminimalisir keterlambatan ke kantor.
__ADS_1
Berjalan di atas trotoar melewati macet yang begitu lumayan panjang, hingga Mereka sampai pada penyebab kemacetan, melihat mobil yang bertabrakan, membuat Farah lansung membuang wajah nya, meski tak melihat lansung kecelakaan yang merenggut nyawa suami nya itu, namun Farah memiliki Trauma saat melihat mobil atau kecelakaan di jalan, mengingatkan nya kembali pada mas lalu yang menyedihkan.
Farah memeluk lengan Sisil dan menundukkan wajah nya yang ketakutan. Sisil dan Windi pun mengerti akan hal itu.
"Aku takut." Lirih Farah.
"Jangan takut Far, ada kita."Ucap Windi dan ketiga nya lekas melewati pemandangan tidak mengenakan itu dengan cepat.
Di antara mobil yang terjebak macet, ad mobil Bima yang tidak sengaja melihat Farah dan kedua sahabat nya itu, ia sempat heran dan bertanya dalam hati apa yang membuat Farah tampak seperti orang ketakutan.
Saat sampai di kantor.
Bima melihat Farah sudah duduk di meja nya mengerjakan Kerjaan nya yang belum selesai ia masukan kemarin, Bima sebenarnya merasa kesal, berfikir kalau Farah yang memberitahu pak Beni soal kemarin
"Pagi Pak." Sapa Darah dengan sopan Pak Bima. Bima melihat dan mengangguk kecil dengan wajah datar nya ia lalu berjalan masuk ke ruangan nya.
"Masuk!."
"Permisi Pak, hari ini ada jadwal Metting."Kata Farah.
"Siapkan berkas nya."Kata Bima tanpa menoleh ke arah Farah.
"Baik Pak."Balas Farah.
__ADS_1
Mereka pun berangkat ke tempat Metting yang sudah di jadwalkan klain mereka. tidak ada yang aneh, tidak ada juga pembicaraan di antara mereka, hingga tiba-tiba Farah kembali harus melihat Motor yang tidak sengaja tersenggol dengan motor lain nya, meski itu hanya kecelakaan kecil, tapi Farah tampak takut dan lekas menundukkan kepala nya.
"Ada apa?." Tanya Bima.
"Tidak apa-apa Pak."Jawab Farah dan kembali mengangkat kepala nya saat mobil Bima melewati pemandangan itu.
Dering Telefon berbunyi.
"Hallo."
"Sayang, aku ingin mengajak mu ke acara ulang tahun teman aku. kamu mau ya sekarang."Ucap Rossa.
Bima sejenak terdiam, ia melihat Farah.
"Maaf sayang, aku hari ini sangat sibuk, kamu pergi lah sendiri."Kata Bima.
"Jadi kamu gak bisa?.x"Tanya Rossa lagi.
"Iya, Maaf ya."Kata Bima.
"Ya udah dech."Kata Rossa agak kesal dan mematikan sambungan telefon sebelum Bima berkata-kata lagi.
Bima pun membuang nafas perlahan. ia melihat Farah, dan tak ingin nanti Farah melaporkan lagi pada ayah nya.
__ADS_1