Menjanda Di Malam Pertama

Menjanda Di Malam Pertama
56 - Penolakan


__ADS_3

Setelah apa yang di lakukan Rossa siang itu di kantor, Kini pandangan para Staf pada Farah pun menatap diri nya sebagai sosok wanita perusak hubungan orang, Meski tak mendengar lansung di hadapan nya, tapi Farah tahu ia sedang di perbincangkan.


"Far, kamu oke kan?." tanya Windi. Farah menoleh ke arah sahabat nya itu dan tersenyum.


"Far, kamu harus bicara dengan Bima untuk membuat acara yang di rencana untuk pernikahan kalian setelah sampai di malang, agar orang-orang tahu hubungan mu dengan Bima itu jelas." ucap Windi.


"Iya Far, bukan kah seperti itu lebih baik." Sambung Sisil.


"biar kan saja dia yang atur, aku benar-benar..." Farah mengelengkan kepala nya tak mampu melanjutkan perkataan nya, kalau ia benar-benar tidak memiliki keinginan atau selera untuk melakukan acara pernikahan itu. bahkan kalau tidak di gelar, Farah merasa cukup acara keluarga saat Jakarta beberapa waktu lalu.


•••


Malam itu.


Bima pulang dari luar kota dan di sambut oleh Farah yang mendengar dari pelayan kalau Bima sudah kembali.

__ADS_1


Memandang wanita itu sejenak dari dalam mobil sebelum ia turun, Farah pun menyambut Bima dengan senyuman nya, walau sebenarnya ia masih kesal karena Rossa yang menghina nya kemarin di kantor. ada rasa hati ingin memberitahu Bima akan hal ini, namun di pikir kembali, ia tak ingin Bima jadi kepikiran apa lagi baru saja melakukan perjalanan keluar kota.


"Hai." Sapa Farah pada suami nya itu.


"Kau baik-baik saja?." tanya Bima. Farah dengan senyuman samar mengangguk. ia lalu membantu Bima membawakan Tas nya.


Di kamar.


Farah membaringkan tubuh nya di kamar setelah ia dari luar menemani Bima makan malam. Farah berbaring dan membelakangi Tempat tidur Bima.


Klak


Bima melihat Farah yang berbaring miring membelakangi nya. sejenak melihat nya sebelum ia ikut berbaring di tempat tidur. Farah agak terkejut saat Bima tiba-tiba Bima memeluk nya dari belakang.


"Maaf ya, kau pasti lelah beberapa hari ini ku tinggal keluar kota " Kata Bima. Namun Farah tak membalas nya, ia hanya terdiam menutup kedua mata nya seolah ia sudah tidur.

__ADS_1


Saat jam sudah tengah malam, Farah yang berfikir kalau Bima sudah tidur melepaskan pelukan tangan Bima dari tubuh nya, dan menutupi tubuh nya dengan selimut agar Bima tak menyentuh nya, Bima yang masih sadar terheran saat Farah melakukan itu, namun ia hanya diam saja.


"Sampai kapan kau akan seperti ini, kapan kau bisa menerim diri mu untuk hidup baru dan melupakan masa lalu mu." Batin Bima.


Pagi harinya saat Bima terbangun dari tidur, ia tak mendapati Farah ada di samping nya atau pun di dalam kamar, tapi ia melihat pakaian yang sudah Farah sediakan untuk ia kenakan. Bima tersenyum kecil sebelum turun dari tempat tidur.


Saat Bima keluar dari kamar, ia sudah tak melihat Farah ada dimana mana, ia pun bertanya pada seorang pelayan.


"Dimana Farah?."


"Nona Farah sudah keluar Tuan, tapi dia sudah menyiapkan sarapan untuk anda, kata nya ada urusan." Tutur seorang pelayan, Bima pun mengangguk kecil dan duduk di meja makan untuk sarapan, meski agak heran karena Farah pergi tanpa pamit pada nya, Farah tak pernah seperti ini.


Di tempat lain, Farah duduk di sebuah taman, melihat orang-orang berlalu lalang, ada yang berolah raga, ada yang jalan-jalan santai di pagi yang cerah ini.


"Ada apa dengan ku?, apa sesusah itu aku menerima nya?." Bertanya pada diri nya dengan begitu putus asa, ia merasa ada penolakan yang bergejolak saat Bima menyentuh diri nya.

__ADS_1


Farah yang sedang berjalan menyebrangi jalan dengan begitu tidur fokus, membuat nya hampir di tabrak oleh sebuah mobil.


"Awass." seseorang mendorong tubuh nya Farah agar tidak sampai tertabrak, namun sial nya, orang itu yang di tabrak dan membuat terjatuh dan tak sadarkan diri di tepi jalan, Farah yang melihat itu begitu terkejut, ia khawatir saat seseorang yang menolong nya malah terluka.


__ADS_2