
Mendengar cerita Windi, keluarga yang berada di luar pun merasa senang, semua beryepuk tangan mendengar malam pertama Farah dan Bima telah terjadi.
"Semoga hubungan mereka semakin dekat dan segera memberikan kita cucu." Kata Pak Beni dan semua orang yang berkumpul di sana pun mengaminkan.
•••
Keesokan pagi nya.
Farah duduk mengobrol dengan Windi di teras Villa, menikmati pemandangan yang sejuk di pagi hari.
"Far, kalau kamu nanti pingin punya anak, kamu mau nya berapa?." Pertanyaan itu keluar dari mulut Windi yang teringat kejadian semalam. dengan senyuman mengoda ia melihat Farah.
Farah diam dengan Ekpresi yang agak sedih saat ia mendengar pertanyaan itu. Windi yang tadinya tersenyum pun perlahan senyum mengoda untuk sahabat nya itu memudar.
"Kenapa Far?." tanya Windi.
"Kamu menikah sama Bima, aku percaya dan sangat percaya kau dan dia akan saling perlahan menerima dan mencintai. Dan kalian nanti akan punya tujuan ini." Kata Windi.
"Belum kepikiran sejauh itu Win." Saut Farah tak begitu bergairah membahas soal memiliki anak.
Bima yang baru saja pulang jalan-jalan pagi bersama Ayah dan Ayah mertua nya pun melambaikan tangan nya pada Farah. Farah pun membalas Lambaian tangan itu dengan senyuman yang agak berat.
__ADS_1
•••
Setelah 2 hari di puncak, Kini Bima dan Farah pun kembali pulang ke malang.
Bima yang sudah di sibukkan Dengan kerjaan kantor, begitu juga dengan Farah yang sebagai asisten nya pun kembali ke kantor setelah pagi mereka sampai di malang.
Meski masih agak canggung, tapi hubungan kedua nya tidak secanggug saat hari pertama menikah.
"Farah, di kantor kita masih banyak kerjaan, besok aku ada perjalanan keluar kota, jadi kau tidak usah ikut, tolong urus semua nya ya." kata Bima.
"Iya, itu sudah tugas ku, tapi apa Bapak tidak lelah baru kembali dari Jakarta dan akan kembali keluar kota lagi?." Balas Farah dengan sikap tegap nya, seprofesional mungkin Farah membalas Bima saat di kantor.
"Tidak, aku sudah biasa seperti ini." Balas Bima, Farah pun mengangguk. Bima tersenyum samar melihat Farah dan membalikkan tubuh untuk berlalu pergi.
"Iya, di rumah banyak pembantu, tidak perlu khawatirkan apa-apa." Ucap Farah. Bima pun mengangguk dan ia benar-benar berlalu masuk ke dalam ruangan nya.
Malam hari nya.
Farah dan Bima kembali pulang ke rumah bersama setelah lelah bekerja. saat berada di kamar, Bima memeluk Farah dari belakang. Farah pun terdiam datar, membiarkan laki-laki itu memeluk nya.
"Entah kenapa aku merasa ingin memeluk mu." ucap Bima. namun Farah tak menyahuti nya.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu pak." Kata Farah. Bima pun mengangguk dan perlahan melepaskan pelukan nya itu.
Farah lalu membuka lemari dan bergegas ke kamar mandi, Bima pun melihat Farah berlalu pergi, ia tersenyum lalu duduk di sofa.
Saat Farah membaringkan tubuh nya di tempat tidur, sementara Bima tampak masih menatap layar monitor nya, karena akan keluar kota besok pagi.
tidak ada pembicaraan di antara mereka, Farah melihat suami nya itu tampak selalu serius kalau melihat Laptop kerja nya sebelum ia membaringkan tubuh nya untuk tidur.
•••
Keesokan hari nya.
Farah yang sedang menatap kerjaan nya di layar laptop nya di kagetkan oleh masuknya Rossa yang sangat tiba-tiba dan sudah berdiri di depan meja kerja nya, menatap nya dengan tatapan tidak suka.
"Maaf, Cari siapa?." tanya Farah menatap Rossa dengan heran. setelah di putuskan oleh Bima karena berselingkuh, bagaimana Rossa masih memiliki muka datang ke kantor Bima. pikir nya.
Plak.
Farah Terkejut saat sebuah pertanyaan Farah di balas dengan tamparan keras dari Rossa. hingga beberapa mata tertuju pada kedua nya.
"Apa maksud mu?." Kesal Farah.
__ADS_1
"Masih berani tanya, baru berapa bulan kau menjadi sekertaris Bima, secepat itu kau menggoda nya dan membuat Bima meninggal kan ku." ucap Rossa dengan keras membuat semua orang di sekeliling Farah mendengar hal itu.