
Tidak ada percakapan di antara mereka, Di dalam ruangan Metting , ia melihat telaten dan profesionalnya Farah dalam urusan pekerjaaan, tak heran jika ayah nya memilih nya sebagai sekertaris.
Saat mereka berdua keluar dari ruangan, Farah berjalan di samping Bima dan menuju ke mobil nya.
Dering Telefon berbunyi.
Farah mendengar ponsel nya berbunyi, ia melihat pak Beni yang menghubungi nya.
Hm, Farah mendehem sebelum ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat telefon nya.
"Hallo pak Beni."Ucap Farah saat mengangkat telefon dan lekas membuat Bima menoleh sejenak ke Farah sebelum kembali menfokuskan kembali menyetir.
"Farah, apa kamu bersama Bima?." Tanya Pak Beni.
Farah melihat Bima. "Iya pak." jawab Farah.
"Kata kan pada nya, saya minta dia untuk pulang, kamu ikut juga ya."Ucap Pak Beni.
"Baik Pak, saya akan sampaikan."Balas Farah.
Sambungan telefon pun tertutup setelah itu.
"Pak, Pak Beni meminta anda untuk pulang ke rumah."Ucap Farah memberi tahu.
"Ada apa?."
__ADS_1
"Tidak tahu."Balas Farah.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Bima lansung meluncurkan mobil kembali ke rumah nya. Saat memasuki rumah, Bima sudah di tunggu oleh pak Beni dan Bu Amber yang seperti nya akan membicarakan sesuatu yang penting.
"Ada apa Pa?." Tanya Bima.
"Duduk dulu, Silakan duduk Farah."Ucap Pak Beni. Farah mengangguk dengan sopan.
"Papa ingin kamu memutuskan hubungan mu dengan Rossa."ucap Pak Beni. mendengar hal itu Wajah Bima menjadi tidak senang.
"Iya Bima, Mama melihat Rossa jalan bergandengan tangan dengan laki-lak lain, Papa dan Mama tidak mau kamu di permainkan."Timbal Bu Amber.
"Mama mungkin salah lihat."Kata Bima datar.
Farah yang mendengar hal ini menjadi tidak nyaman, karena seharus nya ia tak berada di sini.
"Papa belum selesai bicara Bima."Ucap Pak Beni mempertegas suara nya.
"Aku tidak mau bicarakan hal ini, jangan ikut campur urusan pribadi ku Pa."Ucap Bima dan berlalu pergi.
"Bima." panggil Pak Beni namun tak di hiraukan Bima.
"Saya Permisi Pak, Bu."Ucap Farah dan mengikuti Bos nya itu.
•••
__ADS_1
Di mobil.
Suasana menjadi semakin sunyi dan terasa tegang. Farah bingung harus mengatakan apa pada Bima yang tampak tidak senang.
Hingga mobil Bima melewati kantor yang seharusnya menjadi tujuan mereka. Farah yang melihat kantor nya di lewati begitu saja pun heran.
"Pak, kantor kita..."
"Aku tahu." ketus Bima.
Mobil lalu berjalan sangat cepat dan Bima menambah kecepatan itu.
"Pak, jangan laju-laju, bahaya."Kata Farah.
"Kau diam saja kalau ingin selamat."Kata Bima dan membuat Farah memejamkan mata nya dan berpegangan tanpa bisa mengatakan apa pun lagi.
Ketakutan nya benar-benar menyelimuti perasaan nya saat ini. hingga tiba-tiba mobil Bima berhenti membuat nafas Farah terengah-engah, membuka mata nya dengan rasa takut nya yang menyelimuti nya saat ini.
Farah menatap Bima dengan kemarahan nya. namun belum sempat berkata-kata Farah lansung pingsan tak sadarkan diri.
"Farah."
"Farah." panggil Bima namun wanita itu sudah tak sadarkan diri.
Saat Farah terbangun, ia melihat diri nya sudah berada di dalam sebuah kamar yang ia tidak tahu itu kamar siapa. hingga pintu kamar itu terbuka dan masuk seorang pelayan menghampiri Farah.
__ADS_1