
Siang itu.
Farah sedang mengerjakan kerjaan kantor seperti biasa ia bergumul dengan kertas-kertas yang ada di atas meja. di tengah kesibukan nya, Bima menghampiri Wanita itu.
"Farah, ayo makan siang bersama!" Ajak Bima.
"Saya banyak kerjaan pak." Balas Farah.
"Jangan banyak alasan, ini perintah." Kata Bima. Farah pun tak bisa berkata apa pun lagi dan mengangguk kecil. Bima lalu berjalan lebih dulu keluar, sementara Farah mengikuti sembari menggerutu kesal karena Bima sangat memaksa nya.
"Pak, kenapa tidak makan di kantin saja?." Tanya Farah saat akan keluar dari kantor. Bima melirik sebentar.
"Apa enak makanan disana?." Tanya Bima.
"Pak Bima belum pernah makan di kantin?." Tanya Farah terkejut, namun membuat Bima mendehem lalu mengubah arah jalan nya menuju kantin tanpa berkata apa pun.
Kedua orang itu duduk saling berhadapan, Bim tampak duduk tenang memainkan ponsel nya.
Saat makanan datang, Bima sejenak melirik sebelum ia menaruh ponsel nya dan mulai makan.
"Tidak buruk." Ucap Bima.
"Ini kan kantor keluarga pak Bima, masak kantin di perusahaan sendiri bapak tidak pernah mencicipinya." Ucap Farah tertawa kecil.
Bima tahu itu sindiran halus untuk nya, namun ia merasa hal yang sama, ini hal yang lucu. karena ia benar tidak pernah mau makan di kantin perusahaan nya, karena ketidak nyakinan nya.
Banyak mata melihat mereka berdua makan bersama, dan Farah pun di gosip kan oleh karyawan kalau sedang pdkt dengan Bos mereka.
"Mereka kenapa memandangi ku seperti itu?." Tanya Farah pada diri nya sendiri dengan suara kecil, namun suara itu masih terdengar di telinga Bima.
__ADS_1
"Duduk dengan laki-laki tampan dan kaya, aku rasa pertanyaan itu sudah menemukan jawaban nya sendiri " Saut Bima.
Farah tersenyum mengejek, baru kali ini ia melihat kepedean Bima dalam berbicara.
"Pak, Bukan kah anda baru putus kemarin, sekarang, Bapak terlihat biasa-biasa aja, apa secepat itu move on?." Tanya Farah.
"Hem " Bima mendehem salah tingkah.
"Aku bukan tipe laki-laki yang Sedih karena wanita." Kata Bima.
"Lalu kenapa bapak terlihat murung kemarin, sampai memecat para staf?." Tanya Farah lagi.
"Kamu sedang menginterogasi ku?." Tanya Bima.
"Tidak, hanya bertanya seperti teman." Balas Farah tersenyum.
Farah pun mengangguk, meski ia juga penasaran dengan apa yang membuat Bima begitu galau kemarin.
Setelah selesai makan siang.
Farah kembali ke meja kerja nya, di hampiri Windi dan Sisil.
"Cie Farah...." Ucap Sisil.
"Apaan sih?." Tanya Farah mengerutkan kening nya.
"Staf lain pada gosip kamu makan sama bos." Ucap Sisil.
"Makan sama bos, aku rasa itu hal biasa." Ucap Farah.
__ADS_1
"Beda dong, kalau ini mereka liat kamu dan Bos tertawa bareng. udah kayak orang lagi pacaran." Ucap Windi.
Farah tertawa kecil mengeleng - geleng kan kepala nya. "Itu hanya gosip, nyata nya tidak, aku dan pak Bima hanya bos dan asisten, kalau seperti teman, itu mungkin saja." Balas Farah.
"Hai Farah, Hai " Reno datang menghampiri Farah dan kedua sahabat nya, sembari menyapa Windi dan Sisil.
"Hai."
"Farah, udah makan siang?." Tanya Reno.
"Udah, barusan aja." Balas Darah.
"Yah aku telat dong." Balas Reno.
"Aku belum loh." Saut Windi tersenyum malu-malu. Reno hanya tersenyum memberikan kode keras.
"Udah siang, Makan dulu sebelum makan siang." Ucap Reno pada Windi.
"Aku masuk dulu ya, mau bicara dengan Bima." Kata Reno dan masuk tanpa menghiraukan kode Windi.
"Yaaaahhh, gak peka banget sih." Kata Windi memelas.
"Bukan gak peka, tapi memang dia mau aja Farah bukan kamu." Ucap Sisil tertawa.
"Padahal cantik kita sama kan Far, kok aku masih jomblo aja sih sampai sekarang." Kata Windi cemberut.
Farah dan Sisil tertawa kecil bersama. "Belum ketemu aja jodoh nya, nanti juga datang." Balas Farah.
"AMIN....." Sisil dan Windi mengucapkan nya bersama.
__ADS_1