
"Hai Bim." Sapa Reno saat masuk ke ruangan Bima.
"Hai Reno, tumben datang." Ucap Bima.
"Iya, Mau ajak kau makan siang." Balas Reno.
" Aku sudah makan." Balas Bima sembari menatap layar monitor nya.
"Sama Farah?." Tanya Reno. pertanyaan itu lekas mengalihkan pandangan Bima ke arah Reno.
"Bukan kah kau bilang kau tak suka dengan nya, sekarang kau malah dekat dengan nya." Ucap Reno tersenyum mengejek.
"Hanya bos dan Karyawan." Saut Bima.
Reno tertawa.
"Katakan saja kalau suka, jadi aku akan mundur pelan-pelan." Balas Reno.
"Kau suka dengan Farah?." Tanya Bima.
"Menurutmu, aku datang ke sini untuk mengajak mu makan siang?, Justru aku ingin mengajak Farah." Tutur Reno.
Bima tertawa kecil mendengar nya. "Yah semoga beruntung." Kata Bima. Reni tersenyum mengangguk.
•••
__ADS_1
Malam Itu.
Bima yang masih lembur di ruangan nya, ingin meminum air di gelas nya namun air sudah kosong, ia lalu bermaksud menelepon Farah dengan telefon kantor, namun ia mengurungkan niat nya, lalu memegangi gelas nya dan bangkit dari kursi nya menuju keluar, bermaksud utuk meminta Farah membuatkan nya minum lansung.
Saat melihat meja Farah, ia tidak menemukan Wanita itu. "Apa dia sudah pulang?, tapi kerjaan sedang banyak, seharusnya dia lembur." Pikir Bima.
Ia lalu berjalan sendiri ke Pantri untuk mengambil Minum. namun ia malah melihat Farah sedang menangis dan Windi mencoba menenangkan nya.
Bima pun bergeser ke dinding untuk sekedar mendengar apa yang membuat sekertaris nya itu menangis.
"Udah dong Far, Aku pikir kamu udah lupa sama Bayu, tapi ternyata kamu masih diam-diam menangis." Ucap Windi.
"Entah lah, tiba-tiba saja teringat pada nya. masih tak percaya saja ia sudah meninggalkan ku." Ucap Farah.
Bima yang mendengar mengerutkan kening nya, ia lalu mengurungkan niat nya kembali dan kembali ke ruangan nya..
Setelah 10 menit berlalu, Bima Mengunakan telefon kantor menghubungi Farah lagi.
"Iya Pak."
"Farah, ke ruangan saya."
"Baik pak."
Farah lalu masuk ke dalam ruangan Bima setelah mengetuk pintu.
__ADS_1
"Bapak panggil saya?."
Bima sejenak diam melihat wanita itu, melihat Farah masih bisa tersenyum setelah baru beberapa menit ia melihat nya menangis.
"Dia sangat pandai menyembunyikan kesedihannya." Batin Bima.
"Pak." Panggilan Farah menyandarkan Bima dari lamunan singkat.
"Bawakan data karyawan kantor untuk divisi kita." Ucap Bima.
"Baik pak." Balas Farah.
"Ada lagi pak?." Tanya Farah lagi.
"Buatkan saya segelas teh hangat." jawab Bima.
Farah menganggukan kepala nya dan keluar dari ruangan Bima. Farah membalikan tubuh nya membuat nafas berat dan raut wajah nya yang tadi tersenyum Berangsur kembali sedih.
Setelah di berikan data-data Pada Bima, Bima pun membuka milik Farah, ia pun melihat umur wanita itu, namun ketika mata nya di kagetkan saat ia melihat data Farah yang terbaru saat kembali bergabung di perusahaan itu, kalau Farah berstatus di KTP nya dengan status cerai mati.
"Farah Janda?." Ucap Bima terkejut.
"Suami nya meninggal?."
"Astaga, aku baru tahu, aku pikir dia belum pernah menikah." Batin Bima.
__ADS_1
Setelah melihat data Farah, Bima pun kini tahu, kalau Faraj adalah seorang janda yang di tinggal meninggal suami nya, meski Bima tidak tahu apa yang membuat suami nya meninggal, tapi kini ia tahu apa yang membuat Farah kadang terlihat begitu sedih.