
Malam Itu.
Farah berdiri di samping Bima menerima setiap salaman dari orang - orang. berbagai orang pun hadir di tempat acara dengan berbagai karakter. tidak luput Pernikahan Bima dengan seorang janda jadi perbincangan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama dengan Bu Amber, kalau Seharusnya Bima tidak menikah dengan seorang janda.
"Aku kesana dulu ya." Ucap Farah pada Bima yang sedang berbicara dengan rekan bisnis nya. Bima pun tersenyum dan mengangguk.
Farah yang berjalan menuju ke tempat sahabat nya duduk pun mendengar sindiran kecil tentang diri nya. namun ia memilih acuh, karena semua orang berhak memiliki pendapat.
Bima yang berbicara dengan teman-teman nya, terus sesekali melirik ke arah wanita yang kini telah sah menjadi istri nya. Seolah ada magnet yang menarik mata nya untuk terus melihat nya, tak sekali pun ingin ia lepas dari pandangan nya.
Farah yang menyadari Bima terus melihat nya, walau berbicara dengan rekan bisnis dan teman nya membuat Farah pum agak salah tingkah, Bahkan Windi dan Sisil mengoda Farah yang terus di lihat oleh Bima.
"Sudah seperti istri nya akan menghilang saja, ia terus melihat mu Far." Kata Sisil.
"Iya ya, pak Bima seperti nya sudah terkena penyakit." Kata Windi. perkataan itu membuat Sisil dan Farah menatap Windi dengan heran.
"Penyakit apa?." Tanya Sisil.
"Penyakit ke bucinan." jawab Windi tertawa.
__ADS_1
Mendengar hal itu ketiga wanita itu pun tertawa bersama.
namun tawa mereka terhenti saat Bima datang menghampiri Farah, mengajak wanita itu untuk berdansa dengan nya. dengan senang hati Farah menerima ajakan itu.
Kaki kedua nya melangkah kiri dan kanan mengikuti alunan musik yang sendu, kedua mata saling menatap dengan penuh damba.
"Kenapa kau terus menatap ku?."Tanya Farah dengan lembut dan pelan.
"Karena kamu cantik." Balas Bima dengan bisikan yang mampu membuat jantung Farah berdetak begitu cepat.
Farah pun tersipu malu mendengar balasan suami nya itu.
•••
Farah dan Bima terbangun, saat ketukan pintu kamar membangunkan mereka. sejenak Farah mengumpulkan nyawa nya lalu memakaikan piyama pada tubuh nya yang tidak mengunakan sehelai benang pun, ia mengikat rambut nya agar tidak berantakan.
Pintu kamar terbuka dan tampak pelayan yang mengetuk.
"Iya Bi?."
__ADS_1
"Non, Ibu nya Den Bima menitipkan ini." Kata Pelayan memberikan sebuah amplop. mendengar hal itu Farah pun melihat kiri kanan mencari sosok mertua nya itu.
"Mama ada datang??" Tanya Farah.
"Iya non, tapi sudah pergi lagi, saat Tahu Non Farah belum bangun." Tutur nya.
Mendengar itu Farah pun mengangguk, sebelum kembali menutup pintu kamar, tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada pelayan.
Farah duduk di tepi tempat tidur, dan membuka, ternyata itu adalah tiket pesawat untuk mereka liburan ke Cappadocia. Kedua mata Farah membulat besar saat melihat tiket pesawat itu adalah tiket hari ini, dan sore inI.
Bima melihat Farah pun bertanya ada apa?, farah memberitahu dengan khawatir pun membuat Bima menepuk jidat nya.
Dering Telefon Bima mengalihkan perhatian Farah.
"Mama."
"Bima, kamu sudah terima kan tiket nya, segera lah bersiap, jangan sampai ketinggalan pesawat." Kata Bu Amber.
"Kenapa secepat ini Ma?." Tanya Bima.
__ADS_1
"Nanti kamu alasan lagi bilang sibuk kerja, sekarang kan kamu lagi cuti, jangan banyak alasan lagi, segera lah bersiap." Kata Bu Amber tak ingin mendengar alasan apa pun lagi, ia lansung mematikan sambungan telefon.
sambungan telefon tertutup, Bima menghela nafas berat dan melihat Farah yang juga menatap nya. Bima mengangkat dagu nya karena tak bisa berbuat banyak semua harus mereka lewati.