Menjanda Di Malam Pertama

Menjanda Di Malam Pertama
63 - Jangan Pikirkan Mereka


__ADS_3

Pagi itu.


Farah kembali bekerja ke kantor, namun ia merasa heran saat banyak meja yang kosong dan bahkan sudah ada pergantian karyawan baru.


"Pagi Far." sapa Windi. Farah tersenyum.


"Gimana keadaan kamu Far, udah baikan?." Tanya Windi lagi.


"Iya, udah baikan kok."Balas Farah.


"Kok meja-meja pada kosong, mereka kemana?." Tanya Farah.


"Loh kamu gak tahu, Pak Bima tuh udah mecat mereka semua, kan mereka yang buat kamu terkurung di gudang." tutur Windi.


Mendengar hal itu Farah sangat terkejut, tak menyangka mereka yang melakukan semua itu pada nya.


Farah lalu berjalan masuk ke ruangan Bima yang sedang berbicara dengan salah seorang staf. melihat Farah masuk, Bima mengunakan isyarat tangan meminta staf itu untuk keluar.


"Ada apa?." Tanya Bima yang melihat wajah khawatir Farah.

__ADS_1


"Para staf, apa tidak bisa memberikn mereka kesempatan, mereka pasti butuh pekerjaan ini." Kata Farah.


"Jangan Terus membela mereka, kau pernah membela mereka saat aku memecat mereka karena kesalahan dalam proyek, kamu yang meminta mereka untuk di kembalikan bekerja, apa mereka ingat?, atau apa mereka menghargai mu?, mereka bahkan melakukan hal yang sangat tidak pantas pada mu." Kata Bima dengan wajah tegas dan serius.


"Tapi mereka punya anak dan orang tua yang pasti harus ia hidupi." Kata Farah dengan pelan.


"Sudah, tak usah memikirkan mereka, mereka terima semua konsekuensi atas perbuatan mereka." Kata Bima. Farah pun diam.


Dari sini, ia bisa melihat perhatian Bima untuk diri nya, laki-laki yang tidak pernah ia sangka akan menjadi suami dan pelindung nya.


•••


Pak Beni yang melihat kedekatan Bima dan Farah pun tersenyum senang.


Sementara seperti biasa, Bu Amber tidak begitu suka dengan Farah, namun Farah kini sudah menjadi menantu nya, ia pun hanya bisa mencoba menerima Farah, harapan nya kini hanya ingin menimang cucu.


"Bima, Farah, kapan kalian akan pergi liburan?." Tanya Pak Beni.


"Seperti nya aku akan melakukan resepsi lebih dulu Pa." Kata Bima. Farah yang mendengar agak terkejut karena Bima tidak membicarakan ini sebelum nya.

__ADS_1


Farah menatap Bima seolah ingin meminta penjelasan, namun Bima hanya membalas nya dengan senyum samar nya.


"Oh begitu kah, bagus lah, itu lebih baik." Kata Pak Beni.


"Gak resepsi juga gak apa-apa, toh juga sebelum nya Farah juga sudah pernah menikah." Kata Bu Amber yang tidak setuju. Farah pun sedikit tertunduk, ucapan Bu Amber mengingatkan nya pada luka lama nya.


Namun keputusan Bima sudah bulat, ia akan membuat Resepsi dulu untuk pernikahan mereka, agar semua orang tahu kalau Farah adalah istri nya. kejadian yang menimpa Farah waktu itu tak ingin lagi terjadi pada istri nya, ia ingin Farah di hormati seperti diri nya.


Saat di kamar, Bima menghampiri Farah yang tampak menyisir rambut nya di depan kaca.


"Tidak apa-apa kan kita resepsi dulu baru liburan?." Tanya Bima.


"Apa persetujuan ku itu penting?." balas Farah dengan senyuman nya. Bima tahu Itu sindiran untuk diri nya.


"Maaf." Kata Bima.


Farah lalu mengubah posisi duduk nya dan melihat Bima. Ia tersenyum.


"Baiklah, tapi setelah ini, jangan lupa untuk kompromi dengan ku apa pun keputusan nya."Balas Farah.

__ADS_1


Bima pun mengangguk dan tersenyum, mendekati Farah dan mencium kening Farah.


__ADS_2