MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
PROLOG


__ADS_3

Sepasang muda-mudi tengah duduk berhadapan. Mereka begitu dekat, dan nyaris dapat berpelukan, seandainya tempat duduk mereka itu tidak dibatasi oleh meja. Si pemuda mendahului berbicara, sementara matanya menatap lurus-lurus pada sosok wanita yang diam menunggu.


“Sekarang, lo udah tau, kan?”


“Tau apa? Tau tentang lo yang ngilang tiba-tiba dan akhirnya menyatakan kabar kepergian ini?” bantah si wanita.


“Sekarang waktu udah berganti, tahun udah berubah, gue nggak mau terus stuck, terjebak pada sesuatu yang gue sendiri yakin, itu gak pernah pasti. Begitupun dengan elo, gue nggak perlu ada lagi disini, karena toh sesaat lagi lo juga akan pergi, mengejar mimpi dan cita-cita lo yang hampir terkubur lama. Dan oh ya, soal Abhi, gue juga turut berduka cita. Sorry, gue gak tau berita itu...”

__ADS_1


“Apa yang lo ketahui tentang gue? Setelah lo meminta hati lo kembali di Jogja waktu itu, gue rasa, lo juga udah berhenti peduli...”


“Kenyataannya enggak, Riana...” lelaki itu mengacak kasar rambutnya, rasa frustasi yang hebat kini menguasainya.


“Gue nggak pernah berhenti peduli sama lo, gue selalu mengamati lo dalam diam. Dan setelah hati gue lo kembalikan, ternyata, dia tetap berdetak untuk lo. Gue sayang sama lo, Riana, begitupun elo, kita berada dalam jalin frekuensi yang sama. Tapi mau bilang apa kalau takdir berkata bukan kita berdua yang harus bahagia karena bersatu selamanya? Gue rasa kita akan sama-sama bahagia nanti, dengan jalinan cerita dan cara-cara yang berbeda. Mungkin dengan kita yang akhirnya sama-sama pergi, semua akan berakhir baik, sesuai apa yang kita kehendaki. Gue akan kembali ke keluarga gue, di Amerika sana. Tapi hati gue tetap disini, di Indonesia, karena separuh dari darah gue juga ada di tanah pertiwi ini. Suatu saat, pasti kita ketemu lagi, dengan sama-sama membawa perubahan, ke arah yang lebih baik pastinya. Terima kasih ya, untuk beberapa tahun terindahnya, mencintai lo bikin gue ngerasa sakit dan bahagia sekaligus dalam waktu bersamaan. Tapi kalau lo punya pertanyaan, apakah gue menyesal dengan semua yang digariskan terjadi untuk kita? Jawabannya, enggak, nggak sama sekali. Lo yang terindah buat gue, kini, dan entah sampai kapan. I love you, Riana...”


“Jangan nangis, Riana. Suatu saat, gue akan kembali lagi kesini. Tapi kapan pastinya, gue gak tau. Yang jelas, gue nggak akan melupakan negara ini, serta salah satu warganya begitu saja. Masih lebih banyak hal-hal indah yang patut kita kenang, lebih banyak dari tentang rasa yang nggak kelar-kelar ini...” kata Nico seraya memeluk erat-erat Riana.

__ADS_1


“Gue nggak akan pernah bisa juga lupa sama lo,” kata Riana serius.


“Pasti bisa, kehidupan dan jalinan cerita baru juga telah menanti lo...” kata Nico lagi. Sesaat kemudian, suara pengumuman dari bandara telah memanggil-manggil seluruh penumpang – termasuk Nico, memanggil mereka untuk segera terbang dan menjemput mimpi mereka di tempat yang entah. Dan begitulah akhirnya, mereka saling melambaikan tangan tanpa kata. Karena sepertinya yang terbaik adalah begitu ; perpisahan, lambaian tangan semua dilakukan tanpa kata, dan atau tanpa saling bertatap mata. Siapa tau, jadi lebih cepat lupanya.


Halo, ini season 2-nya....


Buat yang penasaran sama kehidupan Riana sama Muara setelah keterima di kampus impian mereka silakan mampir sini. Ceritanya makin seru lho 🤗

__ADS_1


__ADS_2