
“Hah? Kok... Oh my... Kenapa gue bisa ada disini sih?” Riana terkejut setengah mati. Masih di Rose Cafe, pagi hari. Kini ia mengucek-ucek matanya, terus memandang sekeliling tempat ia berada sekarang. Kenapa dia bisa masih ada disini? Apa yang terjadi?
“Nico...” ucapnya. Terakhir dia disini sama Nico, dan sekarang, pemuda itu sudah tidak ada. Jadi, semalam...
“Hus, jangan suuzhon, Ri, pokoknya jangan!” serunya, lebih kepada dirinya sendiri. Riana memperhatikan penampilannya di cermin yang ada disitu. Pakaiannya masih sama seperti kemarin ; sepatu kets, celana jeans, kaus dan sweter. Rasanya gak ada yang berubah. Kalau perkara rambutnya acak-acakan, mungkin karena dia baru bangun tidur. Dan dia tidak merasakan rasa sakit apapun pada tubuhnya juga, apa lagi di bagian-bagian sensitifnya. yang dia rasakan sekarang cuma pegal, karena semalaman berbaring di sofa.
“Mbak... Wes tangi?”
“Astaghfirullah! Ngapain kamu masuk sini, Lit?” tanya Riana kaget.
“Harusnya aku yang tanya, kok mbak masih ada disini?” Alit heran.
“Nico mana?”
“Hah?” Alit kaget. Ia menatap Riana dan lantai di bawahnya berganti-ganti.
“Aku tanya, Nico mana?” ulang Riana sekali lagi. Alit terhenyak. Ia menatap Riana ngeri, lalu suaranya mulai memelan.
“Maksud mbak, Mas Nico kesini? Kapan mbak?”
“Lah semalam, kamu langsung ke dapur pas pintu cafe kebuka, pas kita lagi ngobrol itu lho...” jelas Riana. Alit terdiam. Benaknya mulai menggali sesuatu. Nico? Semalam Nico kesini? Tapi, dia kan...
“Yowes ngene ae, aku tak buat sarapan, tak tunggu di bawah, Mbak Riri bersih-bersih aja dulu,” kata Alit akhirnya.
“Nico sudah di bawah ta?” tanya Riana lagi.
“Ngko tak ceritani mbak, tak ke bawah dulu...” kata Alit seraya buru-buru turun, meninggalkan Riana yang masih kebingungan di dalam private room. Ini ada apa? Kenapa ekspresinya Alit aneh gitu pas dia tanya soal Nico?
***
Riana menghadapi meja yang di atasnya telah tersaji sepiring omlet dan kentang rebus. Di sebelahnya, Alit menemaninya, bersama menu yang sama dan secangkir kopi sebagai pelengkap.
“Makan dulu mbak...” kata Alit. Riana mengangguk. Tapi ia masih kepikiran dengan kejadian hari ini, dan termasuk juga tentang Nico yang menghilang secara tiba-tiba. Lalu Alit... Kenapa juga dia nggak jawab pertanyaan Riana soal Nico tadi?
“Kok kayak ada yang janggal ya?” tanya Riana pelan seraya mulai menyendok omletnya.
“Wes talah, mangano sek ngko tak ceritani...” kata Alit. Riana mengangguk. Ia selekasnya menyelesaikan makan, supaya semua kejanggalan ini segera terkuak.
***
“Lit... Ini... Ini makamnya siapa yang di foto?” tanya Riana. Masih di tempat yang sama ; Rose Cafe. Tapi kini mereka kembali ke private room, lantai3.
“Itu... Mbak kan bisa baca namanya, disitu ada tulisannya.” kata Alit pelan.
“Astaghfirullah halazim... Lit... Lit, jangan becanda dong, gak mungkin dong Nico yang ada di dalam sana, nggak mungkin kan? Iya kan? Iya kan Lit?” Riana mengguncang-guncang tubuh Alit yang cuma terpaku.
“Alit!”
“Itu bener mbak!” seru Alit – setengah emosi. Sejatinya sejak tadi dia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk mulai menjelaskan ini satu persatu kepada Riana. Terlebih, gadis ini sudah hampir setahun tidak bertandang ke Jakarta, praktis ia tidak tahu apa saja yang telah terjadi di sini.
“Nico... Nico udah... Nggak mungkin!” Riana histeris. Dan sepertinya tubuhnya akan segera ambruk ke lantai, kalau Alit tidak tergesa menyangganya, dan membawanya menuju sofa.
“Sayangnya itu kenyataannya mbak. Nico mengalami kecelakaan tunggal di jalan, usai dia menghadiri pesta ulang tahun sepupunya. Indikasi dari pemeriksaan mengatakan bahwa Nico sempat mengkonsumsi banyak minuman beralkohol sebelum kembali mengendarai mobilnya itu. Dan...” BRUKK! Belum sempat Alit menjelaskan semuanya, Riana sudah jatuh dan tidak sadarkan diri. Alit segera mengambil tindakan, memanggil segenap karyawan Rose Cafe yang lain, untuk menolong Riana.
“Lah... Kok ya setiap datang kesini mesti mbaknya pingsan, setahun lalu juga gini kan?” keluh Ica – salah satu karyawan Rose Cafe yang sedang mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Riana.
“Yang kali ini, dia shock karena Mas Nico sendiri...” timpal Diana.
“Cuman yang aku heran, dia ini ngomong kalau semalam Mas Nico kesini... Lak yo horror kan kalau kayak gitu ceritanya?” tutur Alit.
“Gimana caranya dia kesini? Orang meninggal aja baru seminggu yang lalu,” kata Ica.
“Sebenernya ya emang bisa aja... Dan... Kayaknya apa yang dikatakan sama Mbak Riana bener, kemarin Mas Nico kesini,” kata Diana pelan.
“Ini lagi ratu halu satu... Nggak usah ngadi-ngadi deh,” kata Ica sinis.
“Masih nekat meragukan kemampuan orang indigo? Belum kapok kamu rupanya, Ca?” kata Diana dingin. Ica menyingkir pelan-pelan, ia tidak berani menatap Diana yang sudah mulai mengeluarkan sisi seramnya. Alit pusing. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Kejadiannya sudah terlanjur begini. Mau nelpon Aunty Aline – mamanya Nico, jelas nggak mungkin. Beliau lagi proses terapi sekarang. Kehilangan anak satu-satunya tentu merupakan guncangan sekaligus luka batin terparah yang dialaminya.
***
Riana menatap kosong langit-langit kamar kos-kosannya. Dia masih tidak habis pikir dengan semua yang terjadi kepadanya selama dua hari belakangan ini, dari mulai kedatangan Nico yang misterius, sampai kabar mengejutkan yang – sungguh – masih sulit diterimanya. Nico-udah-nggak-ada? Kata-kata berujung tanya itu masih memenuhi ruang pikirnya saat ini.
__ADS_1
“Mbak...” ketukan yang biasanya – pelan dan teratur – mengembalikan Riana dari pikirannya.
“Masuk, Sel,” ucapnya pelan. Gadis bertubuh tinggi semampai itu membuka pintu perlahan, lalu duduk di tepi ranjang, persis di sebelah Riana.
“Gimana?” tanyanya lembut.
“Hmm, aku nggak tau, kabar ini masih sulit kuterima Sel...” lirih Riana.
“Yah, tapi itulah kenyataannya, Kak Nico udah nggak ada, dan mbak harus ikhlas...” Riana menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia sungguh tak mengerti, dan entah kapan ia bisa benar-benar mengerti dengan semua yang terjadi beberapa hari ini. Seketika teringat olehnya tentang percakapan terakhirnya dengan Nico, waktu itu di cafe dekat Ambarukmo Plaza, Jogjakarta.
“Andai gue boleh meminta, gue pengen kecelakaan lagi, terus amnesia, jadi, gue bisa lupain semua tentang lo, termasuk perasaan ini...”
“Ucapan lo sudah menjadi kenyataan, Nic... Tapi apa harus begini cara lo mengakhiri semuanya dengan gue?” bisik batin Riana. Sungguh sakit sekali rasanya. Hanya karena perkara rasa, salah satu terpaksa mengambil jalan pintas untuk mengakhiri semuanya. Entah ini memang benar-benar ketentuan takdir, ataukah Nico yang telah memutuskan memilih takdirnya sendiri.
“Only for tonight, Ri. Setelah ini, aku gak akan ganggu kamu lagi...”
“Mbak!” Selena menepuk pundaknya.
“Apa, Sel?” Riana menoleh, terkejut.
“Ikhlasin Kak Nico ya, emang udah gini jalannya...”
“Tapi dia kan bisa bahagia dengan menikah dengan orang lain, bukan dengan pergi lalu menyakiti banyak orang... Mbak nggak kebayang seperti apa perasaan Aunty Aline dan Uncle Louis sekarang... Dan mereka... Mereka pasti berpikir kalau mbak... Mbak pembunuh anaknya!” Riana terisak. Rasa sesak yang sudah ditahannya kini tumpah sudah. Ia baru benar-benar memahami dan merasakan hatinya sesakit itu, hari ini, dua hari setelah ia menerima berita itu.
“Ri, ada yang cari...” Milia masuk tiba-tiba. Selena
dan Riana sama-sama menoleh, lalu bertanya.
“Siapa?”
“Tau, Alit namanya. Kayaknya karyawan Rose Cafe gak sih? Kok gue kayak pernah lihat ya,” jelas Milia.
“Alit? Ngapain dia kesini?” Riana heran.
“Ya nggak tau, coba temuin aja dulu,” kata Selena. Riana mengangguk setuju. Maka mereka bertiga segera keluar dari kamar, menemui Alit yang menunggu di bawah.
***
“Ada seseorang yang mau berbicara dengan kamu, mbak.” kata Alit pelan. Hati Riana mencelos. Jangan-jangan itu mamanya Nico, yang ingin mencerca dan menghakiminya? Tuhan... Dia harus bagaimana?
“Hi, sweetie...” Alit mendekatkan ponselnya, dan suara perempuan yang sengau terdengar, beserta penampakannya yang tirus dan tampak seperti kurang terurus. Riana hampir saja tidak mengenali, kalau dia tidak melihat dan ingat rambut panjang sepinggang yang masih tetap tertata rapi itu.
“I’m so sorry, aunty... I kill him... I kil him!” seru Riana tak terkendali. Ia menjauhkan ponsel Alit dari dirinya, lalu merosot dari atas sofa. Milia buru-buru memeganginya, membimbingnya kembali ke sofa.
“Aku pembunuh... Aku yang membunuhnya...” Riana masih meracau pelan dalam pelukan Milia.
“No, not you, sweetie... Ini takdir, saya memang harus kehilangannya...” kata Aunty Aline pelan.
“Aku pembunuh...”
“Sssssssttt... Sepengetahuan saya, dan seingat saya ketika Nico menceritakan semua hal tentang kamu, yang saya tau, kamu adalah anak yang baik, dan Nico begitu mencintaimu. Hanya saja, kalian ditakdirkan berbeda, sehingga tidak bisa bersatu. Tentang kematian Nico sekarang, itu sama sekali gak ada hubungannya sama kamu. Justru dia sudah mulai bisa melupakan kamu, dan enjoy dengan hidup dan pekerjaan barunya. Hanya saja, pada malam bersalju waktu itu, entah kenapa dan entah bagaimana. Dari acara ulang tahun Edgar sepupunya, Nico seperti kehilangan kendali dengan diri dan mobilnya sendiri. Indikasi pemeriksaan mengatakan bahwa dia menyetir dalam keadaan mabuk. Tapi saya tau, anak saya bukan seorang drinker. Dan kamera CCTV di rumah Edgar-lah yang ternyata menjelaskan semuanya ; bahwa ternyata Edgar melakukan prank padanya, memberikannya coctail, dengan kandungan konsentrasi alkohol yang sangat tinggi, dan Nico tidak mengerti akan hal itu. Sekarang, Edgar sedang berada dalam pemeriksaan kepolisian...” jelas aunty Aline. Riana mengepalkan tangannya diam-diam. Kenapa bisa ada moment sekonyol itu, dan sampai menghilangkan nyawa orang lain? Bukankah itu fatal sekali?
“Jadi, sayang, stop menyalahkan diri kamu ya, karena kecelakaan – umm, tragedi ini tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan kamu,” ucap Aunty Aline lagi. Meski berat, tapi Riana mengangguk juga akhirnya. Sekarang persoalannya tinggal, dia harus bisa menerima kenyataan ini.
“Saya... Saya... Saya kehilangannya, aunty...” Riana terisak pelan. Milia terus memeluknya, menguatkan gadis itu.
“Kita semua kehilangannya, Riri. Tolong, maafkan dia jika dia banyak salah sama kamu... Kami disini hanya ingin menyampaikan bentuk cinta terakhirnya untuk kamu. Dalam dua hari, mungkin barang itu akan sampai. Apakah kamu mau menerimanya?” tanya Aunty Aline pelan.
“Tentu saya mau, aunty. Saya akan menerimanya...” jawab Riana pelan seraya menghapus air matanya.
“Terima kasih, ya. Kalau gitu, saya pamit dulu, ada jadwal bertemu psikolog hari ini. Dan, saya izin save nomor kamu, Riana.”
“S-Silakan, aunty. Semoga semua segera membaik...” ucap Riana pelan. Aunty Aline mengangguk, lalu tersenyum. Kemudian ia berpamitan dan mengakhiri sambungan video call mereka.
Perjalanan membawamu
Bertemu denganku, ku bertemu kamu
Sepertimu yang kucari
Konon aku juga s'perti yang kaucari
__ADS_1
Kukira kita asam dan garam
Dan kita bertemu di belanga
Kisah yang ternyata tak seindah itu
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kasih sayangmu membekas
Redam kini sudah pijar istimewa
Entah apa maksud dunia
Tentang ujung cerita, kita tak bersama
Semoga rindu ini menghilang
Konon katanya waktu sembuhkan
Akan adakah lagi yang sepertimu?
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kau melanjutkan perjalananmu
Ku melanjutkan perjalananku
Uh-uh, hu-uh-uh
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kukira kita akan bersama
Hati-hati di jalan
(Tulus – Hati-hati Di Jalan). Riana mematikan radionya perlahan seraya kembali menghapus air matanya. Entah mengapa, lagu Tulus yang baru saja muncul dan viral itu begitu relate dengan apa yang terjadi padanya dan juga Nico. Mereka adalah sama tapi berbeda, berbeda tapi sama. Ini jelas membingungkan, karena secara rasa mereka adalah sama, tapi ada garis-garis batasan yang membuat mereka juga berbeda, sehingga tidak bisa bersama.
“Hati-hati di jalan, Nic,” isak Riana seraya memandang foto makam Nico yang dia minta dari Alit. Ya, hati-hati di jalan, Nico. Perjalanan baru ini tentu tidak akan berakhir secepatnya, tapi, kamu akan menemukan kebahagiaan tak terkira di akhir nanti.
(TBC).
__ADS_1
Selamat lebaran, readers... Disarankan untuk membaca cerita ini marathon sambil ngabisin kuker yang ada di meja rumahmu, ya. Peluk hangat dari author, tapi maaf kalau tidak sehangat pelukan ayang 🤗