
Surabaya, sore hari. Hari yang melelahkan untuk mahasiswa seperti dirinya dan orang lain. Riana memasuki kos-kosannya dengan tampang lesu dan laper berat. Di ruang tengah, ada Hanum yang sedang tidur dengan ekspresi jelek banget ; mulutnya menganga lebar. Riana meringis melihat itu. Gaya tidur Hanum ternyata sama dengannya. Riana melihat-lihat lagi ke sekeliling. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, sampai akhirnya tiba di dapur. Di atas meja ia melihat ada dua kotak makanan yang masih disegel, belum dibuka. Ini pasti perbuatannya Hanum.
“Dek, itu nasi siapa di meja dapur?” tanya Riana seraya mengguncang pelan tubuh gadis itu.
“Eh, Mbak Ri udah pulang tho. Itu punya aku sama punya mbak. Mau tak panasin ta?” tanya Hanum seraya auto bangkit dari posisinya.
“Udah nggak usah, mbak panasin sendiri aja. Soalnya mbak mau bawa makanannya ke kamar, mau langsung nugas nih.” Kata Riana.
“Yo silakan mbak, aku arep turu maneh kok yoan. Sek ngantuk iki...” kata Hanum seraya menggeliatkan badannya.
“Eh ojok, meh maghrib kok turu, pamali. Ayo gek tangi gek maem, tak kancani...”
“Tadi katanya mau langsung garap tugas...” Hanum heran.
“Ora, ra sido. Kamu ini nek wayae mangan ora ditunggoni, luput ngko, sidone ra maem, bablas turu...” omel Riana. Hanum nyengir. Dan Riana tidak bisa tidak menggerakkan tangannya untuk mencubit pipi gembil itu.
“Gek ayo, maem. Kudu didulang ta?” ledek Riana.
“Ora mbak ora, oweeeek...” kata Hanum seraya pura-pura jadi bayi. Riana ketawa lagi. Ngerti dia sekarang, kebudayaan “oweeeeek” ini berasal dari mana. Sudah pasti, itu adalah ajaran Ganesha.
***
Kamar Riana, malam hari. Setelah menemani – dan memastikan Hanum benar-benar menghabiskan makanannya, gadis itu masuk ke kamarnya untuk mengerjakan tugas dan sekaligus persiapan beristirahat. Syukurlah, karena tadi dia sempat mencicil mengerjakan di warkop kampus, akhirnya resume yang dibawa ke kostnya jadi tinggal setengah, dan sudah selesai setelah satu setengah jam berkutat menghadap laptop sambil memutar beberapa volume album Kahitna.
Riana menaiki ranjangnya yang sudah lama ia rindukan, setidaknya sejak keberangkatannya yang sangat pagi sekali ke kampus tadi. Tapi anehnya, kok dia belum bisa tidur juga ya?
Riana membalikkan posisi tubuhnya, lalu seperti kurang kerjaan, ia malah sibuk menjelajah seluruh kamar – sampai ke langit-langit, dengan matanya. Duh, sawangane lho, Ri, kayak orang lagi jatuh cinta aja.
“Aish, kenapa sih aku ini? Kok pengen tidur tapi gak bisa tidur ya? Seandainya aja ada metode tidur baru, yakni tidur tanpa memejamkan mata. Sebenernya bisa-bisa aja sih, tapi bukannya nanti malah jadi serem ya?” celoteh Riana pada dirinya sendiri. Yah elah ni orang...
Kesal karena tidak bisa tidur, Riana memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan mengelilingi kamarnya, dan yak! Itu dia, saudara-saudara. Teronggok dengan manis (enggak pake manja group), sebuah koper misterius yang diboyongnya dari kediamannya di Malang. Sebenarnya dia begitu penasaran ingin segera mengintip isi koper ini. Sejak hari pertama Ganesh memberitahunya tentang keberadaan koper itu, dia sudah penasaran setengah mati. Tapi kesibukannya sebagai mahasiswa sangatlah menyita waktu, jadi dia benar-benar lupa sama sekali tentang keberadaan koper itu.
Riana menyentuh koper itu. Tapi niat untuk membukanya urung karena seseorang terlanjur menggedor-gedor pintu kamarnya.
“Aih, siapa nih?” Riana mendorong koper itu sampai menabrak dinding, sebelum akhirnya ia membuka pintu, dan melihat Hanum yang sudah bersimbah air mata.
“Han, kenap...”
“Mbak, Ganesha, mbak!” seru Hanum.
“Eh-eh-eh, wait. Kenapa ini kenapa?” tanya Riana kaget.
“Ganesha, Reno... Reno... Ganesha...”
“Aduh Tuhan, kenapa Han? Masuk-masuk deh, minum dulu. Cerita yang bener...” Riana menuntun gadis yang sedang panik dan kehilangan arah itu.
“Minum dulu dek, ini kenapa sih? Ada apa?” tanya Riana.
“Ka-Ka-Ta... Mas Muara, Ganesha berantem sama Reno...”
“Oh, terus siapa yang menang?” tanya Riana, yang belum paham akan situasi yang sebenarnya.
“Mbak, ini bukan adu panco, hadeeeh... Ini berantem, mbak, berantem!” seru Hanum. Riana masih belum ngeh, tapi sesaat kemudian kesadarannya pulih seratus persen, ketika ia melihat Hanum begitu rikuh dan sibuk menelepon sambil nangis.
__ADS_1
“Ja-Jadi mereka beneran berantem? Ketemu dimana, Han?” tanya Riana yang akhirnya sadar.
“Di... Aku nggak tau, tapi kata Mas Ra, mereka semua masih di kampus...”
“Astaga, malem-malem?” Riana makin kaget.
“Iya mbak, mereka ada rapat apa tadi, terus... Aduh aku pusing, gimana ini mbak?” kata Hanum.
“Ini yang berantem mereka berdua, ada yang terluka nggak?” tanya Riana. Dia jadi ikut-ikutan panik sekarang.
“Ganesha jatuh dari tangga, mbak...”
“Astaghfirullah! Ayo kita kesana sekarang! Kamu boncengan sama mbak!” seru Riana seraya tergesa menyambar jaket jeans-nya, serta kunci motor. Ia segera menuntun hanum dan memakaikannya helm, dan motor pun melaju membelah malam yang cukup dingin hari itu.
***
“Bangun, Ganesha!” seru Riana. Aslinya dia nggak tega memerintah sekeras itu pada adiknya, apa lagi ia baru saja terjatuh dari tangga.
“Mbak bilang bangun, ganesha! Jangan mau kalah sama orang kayak gitu!”
“DIAM!” seru Ganesha akhirnya.
“Aku bingung sama mbak. Sebenernya mbak tu sayang atau benci sama aku? Kenapa mbak masih kayak gini hah?” tanya Ganesh emosi. Dan ia meringis kemudian, karena kakinya terasa sangat sakit.
“Sssst, Nesh, tenang dulu... Eh ini gimana Mas Ra? Wisnu sama Dian mana?” tanya Hanum.
“Sial, yang nyerang udah jauh banget, kabur gak tau kemana!” seru Wisnu seraya terengah-engah.
“Aaaaaaaaaa!” jerit Riana. Muara buru-buru memegangi tangan kekasihnya, menenangkan.
“Atur aja deh mas, ini aku tak nenangin Mbak Riana dulu ya.” Kata Hanum. Muara mengiyakan.
***
Malam hari, kembali ke kost. Riana masih menangis, dan Hanum masih menenangkannya.
“Mbak, aku tau kok, mbak tuh sebenernya sayang banget sama Ganesh. Tapi mbak menyayangi dia dari sudut pandang yang berbeda...”
“Dan aku lupa kalau ganesh udah dewasa, udah bisa melawan. Mungkin caraku juga salah. Karena dalam penglihatanku, Ganesh masih lugu, masih empat belas tahun, masih belum tau apa-apa...”
“Iya mbak, karena itulah. Apa lagi, mbak kan udah lama gak bareng-bareng dia, jadi...”
“Aku kakak yang tidak berguna...” isak Riana.
“Ehhh, gak ada yang bilang gitu mbak sayang... Mampus deh nih aku, gimana dah ini?” Hanum kalangkabut. Ponselnya berdering, dan Hanum mendesah putus asa. Ini siapa juga sih yang nelpon dia?
“Halo Mas Ra?”
“Iya, ini aku sama Mbak Ri di rumah. Ini lagi ditenangin dulu Mbak Ri-nya.”
“Iya, udah tenang aja... Ya udah ya mas, yo...” Hanum segera menutup telponnya, dan kembali menemani Riana.
“Mbak, aku ke dapur dulu ya...” kata Hanum. Tidak ada jawaban. Hanum mengecek, dan mendengar deru napas Riana yang teratur. Yah, ditinggalin tidur kan tuh dia. Ya udahlah daripada dia gabut disini, mending dia turun ke bawah (sesuai pamitnya tadi ; ke dapur), dan memasak sesuatu.
__ADS_1
***
Dan akhirnya, disini Hanum sekarang. Terdampar, menepikan diri di sudut balkon kamarnya, bersama segelas cokelat panas yang belum disentuh sama sekali. Ya ampun, itu lama-lama cokelatnya bisa jadi dingin lho kena angin malam, kalau gelasnya masuk angin gimana nanti *hus.
Hanum menghela napas, berpikir-pikir lagi tentang semua hal yang dilaluinya. Terutama sejak pertemuan, drama, hingga kisah cintanya dengan Ganesha, sampai akhirnya semua itu membawanya bertemu dengan Riana, yang merupakan kakak kandung kekasihnya tersebut. Jujurly *halah, bahasa mana itu? Jujur, ketika awalnya dia bertemu dengan Riana di pesawat waktu itu, dia berpikir tentang sosok Riana yang mungkin saja antagonis – jahat, sinis, dan sederet stigma buruk lainnya, lebih-lebih ketika ia memperkenalkan diri sebagai “teman dekat” Ganesha. Mampus kuadrat, apa jadinya kalau dia tau adiknya yang masih delapan belas tahun pacaran sama calon perempuan dewasa berusia 20 tahun. Eh tapi untunglah, semua pikiran dan prasangkanya seratus persen salah. Sejak awal hingga kini, pandangannya tentang Riana tidak berubah ; lembut, hangat, tapi... Rapuh. Nah, ini nih yang bikin dia jumpalitan jungkir balik salto kayang kiri-kanan sampai sekarang, soalnya, beberapa persen sifat dan karakter Riana ini sangat mirip, plek ketiplek persis sama dirinya. Semacam kembar tapi tak kembar, gitu. Dan orang yang gak sengaja ngeliat mereka pun bilang, kalau secara wajah, mereka juga sedikit memiliki kemiripan, apa lagi sekarang baik Hanum dan Riana sama-sama memiliki rambut panjang dan sama-sama ponian. Kalau yang gak fokus alamat bisa kena prank tuh, hihihi.
Hanum mulai menyesap cokelat panasnya – yang sudah hampir mendingin karena terlalu lama terabaikan. Tiba-tiba kilasan memori menyeruak tanpa ampun, membuat segala ingatan tumpah ruah ; antara masa lalu dan masa kini tercerai-berai sudah. Pikirannya kalut. Malam-malam tenangnya kembali terusik oleh pikiran entah apa yang terasa semrawut.
Drttt... Drttt... Ponselnya bergetar. Hanum menyentuh saku roknya. Ini pakaian terakhir yang ia kenakan ketika menyusul Ganesh ke kampus. Dan ia belum mengganti kembali pakaiannya dengan baju rumah, kendati saat ini jam telah berdentang dua belas kali.
“Eh, Mas Ra nelpon? Ngopo maneh iki ki?” tanya Hanum kepada dirinya sendiri. Dengan perasaan setengah takut dan setengah penasaran, gadis itu buru-buru menggeser layar ponselnya, sedikit tak sabar kala mendengar pembaca layarnya belum sampai di kata “terima tombol”.
“Halo, Mas Ra, ngopo?” tanya Hanum.
“Belum tidur ta kamu dek?”
“Durung i, lagi di teras aku. La ngopo?”
“Astaga bengi-bengi seh ndek teras? Yowes, gek siap-siap, mas mau jemput kamu...”
“Eh, kenapa mas?” Hanum mulai waspada. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi.
“Ganesh nyari kamu... Ini posisi kita di rumah sakit...”
“Ya ALLAH, terus yo opo carane? Aku harus gimana?” Hanum panik.
“Ya kui mau, tak jemput aja kamu. Siap-siap sekarang ya...” kata Mas Muara. Hanum belum sempat mengatakan “ya”, telponnya udah mati. Dan Hanum tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengambil ransel mininya dari kamar, bersiap-siap sambil menghela napas jengkel.
***
Hanum meringis ketika tangannya digenggam begitu kuat dan erat oleh Ganesh. Entah apa yang kini sedang dirasakan anak itu, yang jelas genggaman itu tak kunjung lepas, kendati Hanum sudah berada disitu – di sebelahnya, hampir satu jam.
“Here I’m, Ganesha. Don’t worry...” ucap Hanum lembut seraya menyandarkan kepalanya di tiang ranjang rumah sakit.
“Han, lima langkah di belakang kamu, ada sofa. Kesana aja kalau capek,” kata Muara.
“Gak gelem ucul e mas, piye jal. Kethok-e gurung turu iki yoan...” kata Hanum setengah berbisik.
“Gak papa, tarik lembut aja, pasti lepas itu. Aku yakin dia udah tidur, gak ngomong apa-apa kan dari tadi?” tanya Muara.
“Ora, tapi gak gelem diculke mas, aku kudu piye...” Hanum kebingungan.
“Bisa-bisa. Itu bawah sadarnya yang bekerja. Kalau dia tau kamu gak bisa kemana-mana selama hampir satu jam gara-gara dia, pasti dia merasa bersalah banget. Sekarang dia gak tau apa-apa, alam bawah sadarnya yang bekerja, jadi kamu ajak bicara apapun pasti gak responds. Yuk, dilepas, gek turu, lagi kon bengi-bengi seh keliaran di teras iku lapo?” omel Muara.
“Gak bisa tidur, mas, Mbak Riri sih udah tidur tapi. Nah habis minum cokelat panas itu, rencananya aku mau ke kamar, komputeran bentar, terus nyoba tidur. Lah ternyata Mas Ra malah nelpon...” jelas Hanum.
“Oalah, berarti aku yo goblog sisan yo. Yowes aku tak muleh yo, titip Ganesh...”
“Iyo wes, gak papa. Eh tapi kalau besok Mbak Ri cariin aku gimana?” tanya Hanum.
“Alamakkk! Iya juga ya?” Muara menepak jidatnya.
“Mmmh, sampean lho mas! Ngko sesok iki geger mesti!” omel Hanum.
__ADS_1
“Yowes itu biar jadi urusanku, sekarang, kamu disini, aku pulang ya.” Kata Muara. Hanum Cuma mengangguk. Di saat-saat seperti ini, emang dia bisa apa lagi? Ini bener-bener big tragedy pertamanya setelah udah gak LDR, setelah badai yang sama – dan bahkan lebih parah berhasil menjungkirkannya semasa LDR dulu.
(TBC).