MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 41, RUMAH MASA KECIL (SPECIAL RIRI-GANESH)


__ADS_3

    Kota Malang adalah Kota Apel, sekaligus kota dinginnya Jawa Timur. Dan di kota ini jugalah tokoh kesayangan kita lahir ; Riana, juga adiknya, Ganesha. Dan sekarang, sepasang kakak beradik ini kembali menginjakkan kaki mereka di kota bersuhu dingin ini. Akhirnya, setelah sekian lama ya kan...


“Mbak, ki-kita mau pulang ya?” tanya Ganesh. Wajahnya menyiratkan keengganan dan ketakutan.


“Sebentar saja dek, hanya untuk peresmian cabang perusahaan papa yang baru...” jawab Riana pelan seraya tetap menggandeng tangan adiknya.


“Nanti, kalau ada Kak Lisa gimana?” tanya Ganesh yang mendadak memperlambat jalannya, seolah mengulur waktu untuk cepat sampai ke tempat yang sedang dituju.


“Nesh, ayo...” ajak Riana.


“Tapi, mbak...”


“Ganesha!” entah karena terdesak keadaan atau apa, Riana membentak adiknya, lalu menarik tangannya.


“Lepas, mbak,” ucap Ganesha dingin. Riana menghentikan langkahnya, lalu...


“Aku jalan sendiri aja. Aku masih ingat jalan pulang. Arahnya masih persis sama seperti dulu, sebelum mbak pergi gitu aja ninggalin aku...” ucapnya seraya membopong tas ransel yang tadinya jadi satu di troli kakaknya, lalu berjalan mendahului dengan tongkat yang ada di tangannya. Ganesh membuka ponselnya, memesan ojek online untuk pulang ke rumahnya.


***


“Lho, Nak Ganesh, Nak Riri, kalian pulang bareng tapi kok ndak satu kendaraan? Gimana tho?” sambut seorang wanita yang sepertinya sudah familiar dengan mereka, kendati mereka tak pernah pulang ke rumah ini lagi untuk waktu yang lama. Positif thinking aja, mungkin ada seseorang yang bercerita tentang mereka kepada wanita ini.


“Iya tante... Ngomong-ngomong, tante siapa, ya?” tanya Riana.

__ADS_1


“Saya Sarah, mbak...”


“Dia istri baru papa. Ngapain kalian pulang? Emang kalian masih diakui dan ddapet tempat di rumah dan keluarga ini?” Tuhan! Bencana itu akhirnya datang. Dan itulah Lisa, kakak dari Riana dan Ganesh.


“Biarkan mereka masuk dulu, Lisa, mereka lelah pasti habis menempuh perjalanan jauh...” ucap wanita itu lagi. Riana memajukan langkah, memasuki rumah itu dengan pandangan terdongak ke atas – ini bagian dari sikap angkuh yang ia buat untuk orang-orang seperti kakak perempuannya ini ; dan juga mungkin wanita bernama Sarah itu, yang belum diketahui isi hatinya. Tapi berbeda dengan Ganesha, anak lelaki itu malah memilih mundur dan menjauhi pintu, sehingga Riana harus terpaksa sekali lagi menarik tangannya.


“Masuk!” serunya seraya sedikit mendorong tubuh sang adik. Tidak ada pilihan lain, meskipun hatinya teramat sakit, Ganesha tetap mengiringi langkah kaki sang kakak. Sang kakak yang terpaksa mengeraskan dirinya kembali disini, di tempat masa kecil mereka. Bukan karena apa-apa, hal ini dilakukan semata-mata hanya untuk melindungi dirinya sendiri – dan diri Ganesha juga, dari terpaan rasa sakit yang datang menyerang mereka secara begitu tiba-tiba. Lisa meninggalkan mereka dengan tatapan yang angkuh dan penuh cemoohan, sementara itu, Sarah – istri baru sang ayah, berusaha melayani si tengah dan si bungsu dengan sebagaimana mestinya.


“Sebentar lagi papa kalian pulang. Kalian bisa menunggu dulu di kamar, atau mau makan siang? Tante masak sup iga hari ini...”


“Nggak usah tante, kami ke kamar dulu untuk beristirahat. Makannya nanti saja kalau papa sudah pulang. Permisi,” ucap Riana sopan kepada wanita dewasa yang berpenampilan cukup berkelas itu. Wanita bernama Sarah itu mengangguk, lalu membiarkan kedua anak sambungnya beristirahat di kamar mereka.


***


“Kenapa mbak? Jangan nangis... Mbak Riri kuat, ya, jangan nangis mbak...” bujuk Ganesh seraya mengelus pundak sang kakak perempuan tersayang.


“Mbak bentak kamu, mbak nyakitin kamu. Mbak...”


“Ssssttt, udah mbak, udah. Aku bisa ngerti kok. Yang penting mbak ada disini sama aku sekarang, selagi ada mbak disini, aku nggak takut menghadapi apapun. Udah ya mbak, ayok dipake lagi topengnya. Karena aku juga akan memakai topeng yang sama selama disini...” kata Ganesh. Riana mengiyakan, lalu segera menghapus bersih air matanya, dan menepuk pundak sang adik.


“Istirahatlah, satu jam lagi, mbak akan kembali ke sini.” Ucapnya. Ganesh mengangguk.


***

__ADS_1


Malam hari, sepi. Begini ya ternyata rasanya menjadi asing di rumah sendiri. Dan parahnya, yang merasakan seperti itu bukan Cuma satu orang saja. Dan itu membuat akhirnya kedua orang yang sedang se-frekuensi itu memutuskan untuk pergi ke taman belakang, merenungi semuanya disana.


“Kesini juga kamu dek?” tanya sebuah suara. Yang ditanya Cuma mengangguk, lalu memutuskan untuk duduk di atas ayunan.


“Apa aja sih mbak yang udah kita lalui di rumah ini?” Ganesh memecah kesunyian. Riana mengetuk-ngetukkan jemarinya di tiang besi ayunan terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab.


“Yah, banyak, Nesh, setidaknya sampai...”


“Sampai sebelum kita sama-sama pergi, dan atau Mbak Riri yang pergi duluan,” Ganesh merampungkan kalimat sang kakak dengan ekspresi terluka.


“Apa kesalahanku yang itu nggak bisa dimaafkan, Nesh?” tanya Riana seraya menghela napas lelah.


“Dimaafkan mungkin bisa mbak, tapi kalau dilupakan... Mm, sorry, I can’t do that for now...” kata Ganesh. Riana mengiyakan, mengerti. Dulu, ada beberapa hal yang belum sempat ia jelaskan kepada adik lelakinya ini, tapi dia keburu emosi, sehingga ia memilih untuk pergi pada tengah malam berhujan itu ; malam dimana ia melihat Ganesh yang menangis sambil mengunci pintu dan jendela. Riana melihat itu semua, sebelum mobil taksi online membawanya pergi menuju rumah Milia. Hari itu adalah bukan kepergiannya yang biasa ; hari itu ia memutuskan untuk pergi, dan mungkin tidak pernah kembali lagi. Sampai akhirnya dua tahun lalu, Bali, ballroom hotel, dan patah hati mempertemukannya kembali dengan sang adik. Dalam moment tak sengaja tapi membawa berkah itu, kecanggungan sudah barang tentu dirasakan keduanya. Tapi kecanggungan itu akhirnya sirna seiring berjalannya waktu, dan kemudian sempurna menghilang.


“Maafkan mbak...” lirih Riana.


“Semua sudah berlalu, mbak. Yang penting, sekarang aku udah bisa ketemu dan bareng-bareng sama mbak lagi...” kata Ganesh seraya tersenyum, dan mengelus telapak tangan Riana.


“Ya udah, tidur yuk, udah malam. Atau kamu lagi kepengen sesuatu?” tanya Riana seraya mengelus sayang kepala adiknya. Meskipun kadang-kadang Ganesh risih menerima perlakuan itu (ya iya lah, udah delapan belas tahun lho itu anak), tapi Riana tetap senang melakukannya.


“Mm, aku kepengen susu cokelat hangat buatannya mbak. Boleh nggak?” tanya Ganesh pelan.


“Tentu boleh dong. Ya udah, yuk, masuk ya, nanti susunya mbak anter ke kamar...” kata Riana. Ganesh mengangguk, tersenyum, lalu meraih tangan sang kakak dan mengajaknya untuk masuk ke rumah. Iya, inilah rumah mereka ; rumah masa kecil yang penuh cerita dan kenangan, terutama tentang ibu mereka (mereka memanggilnya mama), yang sudah terbaring tenang di dalam pusara. Tentang mama... Ah, mumpung mereka                 berdua lagi disini, mungkin besok adalah waktu yang tepat untuk nyekar dan mendo’akan kesana, sekadar menuntaskan rasa rindu yang ada dan berbagi cerita.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2