MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 23, SOULMATE (HANYA UNTUK SEMALAM SAJA)


__ADS_3

Riana gabut. Ini hari keduanya di Jakarta, dan teman-temannya pada pergi semua. Ada yang kuliah, ada juga yang pergi bimbingan. Hari ini dia cuma guling-guling di kamarnya. Tadi pagi cuma ikut Bu Dian sebentar ke pasar, tapi masaknya belum. Bu Dian masih harus ngurus toko sebelum mengeksekusi bahan-bahan makanan yang tadi dibelinya.


“Ri, ngopo je get mau gulang-guling thok nang kasur ki?” tanya Bu Dian seraya meletakkan kunci motor di atas meja.


“Gabut e bu, gak ada temennya, do berkegiatan kabeh, lehku libur disek dewe je...” Riana meringis.


“La ayo, kita masak soto daging. Ibu barusan ngerebus dagingnya. Paling udah empuk itu, kan tadi ditinggal lama. Yuk, ke rumah induk...” ajak Bu Dian.


“Lho, ayo, siap!” seru Riana seraya buru-buru bangkit dari posisinya. Kemudian dengan langkah pelan ia mengikuti Bu Dian berjalan menuju rumah induk.


***


“Pagi, nak gadis...” sapa pak Fakhry seraya menghidupkan mesin motornya.


“Pagi pak... Mau kemana?” tanya Riana.


“Ke toko, gantiin istriku yang cantik yang mau memberikan hidangan terbaik untuk siang ini katanya...” goda Pak Fakhry seraya mengerlingkan matanya ke arah Bu Dian.


“Pak, ojok pelanggaran, nggombal nang ngarepan anak i piye karepmu...” sungut Bu Dian. Tapi semua tau, kini wajah wanita paruh baya itu tengah memerah.


“Halah ibuk ki isok tersipu-sipu juga rupanya. Ya udah, bapak ke toko dulu. Semangat masaknya ya sayang,” goda Pak Fakhry sekali lagi. Dan wajah Bu Dian pun semakin memerah.


“Iyo pak iyo, nanti jam 12 insya allah makanannya udah siap...” kata Bu Dian pelan seraya buru-buru memasuki rumah induk, diikuti dengan Riana yang cengar-cengir sepanjang jalan.


“Kowe ki ngopo nduk?” tanya Bu Dian seraya menyiapkan bumbu-bumbu untuk aktifitas memasak mereka hari ini.


“Nggak papaaa, lucu aja ngeliatinnya. Romantis banget,” puji Riana tulus.


“Yah, kami itu kesepian hidup tanpa anak nduk, makanya kami membahagiakan diri sendiri dengan cara kayak gitu...” kata Bu Dian pelan.


“Ibu mah, kok sedih lagi sih, katanya Riri dan yang lainnya anak ibu. Gimana tho?” tanya Riana seraya menggembungkan pipinya.


“Halah-halah, malah ngambek. Yowes, ayo kita mulai masak aja...” kata Bu Dian.


“Yo ayo...” Riana mengangguk setuju. Syukurlah, kegabutannya hari ini sedikit terobati dengan aktifitas memasaknya bersama Bu Dian.


***


Rose Cafe, malam hari. Rasanya sudah lama Riana tidak ke sini ya. Dan sambutan yang begitu ramah itu diterimanya dari segenap karyawan Rose Cafe yang mengenal sangat baik dirinya.


“Mbak, piye kabare?” tanya Alit, begitu Riana membuka pintu cafe dan memunculkan sedikit wajahnya.


“Lho, sek kelingan aku tah Mas Alit? Alhamdulillah aku baik, dirimu gimana?” tanya Riana seraya heboh menjabat tangan Alit dan menepuk pundaknya.


“Ya iya, masak gak inget. Bendino Hanum majang foto kalian kok, gimana mau gak inget...”


“Hah? Bentar. Hanum? Kamu kenal Hanum?” Riana heran.


“Itu adikku mbak...” Alit menjawab pelan.


“Welokkkk... Kok kamu gak pernah cerita tho mas?” Riana kaget.


“Lali mbak...”


“Lali atau malu mengakui?” Jreeeeenggg... Pertanyaan Riana pas banget, pas menohok, menusuk langsung ke hati Alit, sehingga ia terkejut dengan wajahnya yang memerah.


“Punya anggota keluarga dengan kondisi yang berbeda itu tidak apa-apa, Alit, jangan kamu anggap musibah. Kamu tidak perlu menyembunyikannya dari dunia, apa lagi kalau ia begitu terang dan bersinar, dan buat aku, gak ada masalah kalau seluruh dunia pada akhirnya dapat menikmati kilaunya...” kata Riana panjang lebar.


“Apa mbak juga punya adik dengan kondisi yang berbeda?” tanya Alit hati-hati.


“Iya Lit, dia juga tunanetra sama kayak adikmu, dan mereka pacaran...”


“What?” Alit kaget. Tapi Riana hanya mengangguk dengan ekspresi yang sangat tenang.


“Jangan pernah menjauhkan Hanum dari dunia, dia itu pintar, dan banyak prestasinya. Berdosa besar kalau kamu sampai menghalanginya terbang dengan sayap-sayap kecilnya. Dia itu sudah penuh keterbatasan, Lit, jadi tolong, jangan batasi dia lagi karena rasa malu dan tidak terima kamu...” kata Riana pelan. Alit tertunduk. Tiba-tiba, ia merasa bahwa dirinya adalah manusia terjahat di dunia, karena pengabaian-pengabaian yang secara “sadar” sering ia lakukan kepada adik tunanetranya. Mengapa dikatakan secara sadar? Soalnya, kendati Hanum terus tumbuh dan berkembang, selama ini – sepanjang hidupnya, Alit tetap menganggapnya sebagai bayi kecil, lemah dan menyusahkan, kendati ia juga tetap melihat segenap perjuangan Hanum, juga tentang banyak mimpinya yang mulai coba diwujudkan satu-persatu. Dan sekarang, dia tidak tahu pasti, apakah penyesalannya kini masih berarti?


“Aku jahat tenan yo mbak selama ini...” lirih Alit.


“Nggak jahat, Lit, kamu cuma nggak ngerti harus memperlakukan Hanum kayak gimana, Ho-oh tho? Gini, selain matanya, dia itu adalah gadis yang bener-bener normal ; otaknya, lain-lainnya. Bantu dia saat memang dia butuh, tapi selebihnya, tolong biarkan dia bergerak sendiri, biarkan dia nyaman dengan hidupnya. Aku dulu juga gitu sama adikku, tapi begitu aku mulai bisa memahami keinginannya, ya, aku coba turutin aja. Dan hasilnya, dia sekarang tumbuh jadi anak yang percaya diri dan bahagia...” jelas Riana.


“Hanum itu kalau lagi siaran, lagi ngajar, lagi jadi pembicara dimana gitu, keliatannya terbuka, ceria, kayak hidupnya tuh baik-baik saja. Tapi kalau di depan keluarganya, dia kayak lebih diem mbak, termasuk ke aku, orang yang dia anggap paling bisa ngelindungin dia setelah bunda kami gak ada...” Riana tersentak. Hanum belum pernah bercerita tentang hal ini padanya, tapi mungkin Ganesh sudah tau.


“Pada dasarnya setiap orang akan bisa menjadi dirinya sendiri hanya pada saat dia merasa nyaman, dengan orang-orangnya, dengan lingkungannya. Jika tidak ada perasaan itu, ya, kamu gak bisa berharap apa-apa...” ucap Riana pelan. Alit mengangguk. Sebetulnya diam-diam, ia selalu merasa bangga dengan pencapaian adiknya yang bahkan sudah benar-benar melampaui dirinya. Secara finansial saja, Hanum lebih cukup darinya. Dan sekarang, anak itu sudah hampir sempurna menghilang darinya, pergi ke tempat yang jauh demi cita-citanya.

__ADS_1


“Aku masih punya kesempatan memperbaiki semuanya gak mbak?” tanya Alit.


“Insya ALLAH masih, asal nggak ditunda-tunda...” jawab Riana. Sesaat setelah ucapannya, lonceng pintu cafe berdenting menyenangkan, lalu terbuka. Secara otomatis, Riana dan Alit menoleh bersamaan. Tapi Riana membeku, sementara Alit pergi kembali ke dapur untuk menyelesaikan tugasnya, Riana terus dan terus menatap ke arah pintu. Pandangannya sempurna terkunci pada sosok yang baru saja datang itu. Sosok itu juga balas menatapnya dengan tatapan yang – sepertinya – penuh rindu.


“Apa kabar?” BYURR! Seperti baru saja disiram seember air es, rasa dingin menjalari seluruh tubuh Riana. Sepertinya ini bukan rasa yang wajar, apa lagi kalau mengingat ini adalah pertemuan pertamanya dengan seseorang yang sudah lama tidak pernah dilihat dan bahkan disapa.


“Ni... Nico... A-Aku baik... Kamu... ba-ba-bagaimana?” meski sulit, Riana mencoba tetap menanggapi dan membalas pertanyaan Nico itu. Ya, itulah dia Nicolas Fernandes, seseorang yang berbulan-bulan lalu mengucapkan salam perpisahan padanya. Dia berpamitan hendak meninggalkan Indonesia, kembali ke negaranya. Dan setelah berbulan-bulan menghilang tanpa kabar, kini mereka dipertemukan kembali.


“Aku juga baik… Ayo ke ruanganku, aku kangen... Maaf ya, buat pemilik Riana...” kata Nico riang seraya menggandeng tangan Riana dan membawanya ke lantai tiga, private room tempat Nico mengawasi cafe-nya dulu.


***


“Gimana rasanya kuliah?” tanya Nico, sesampai mereka di private room.


“Yah, capek, banyak tugas...” jawab Riana pelan. Meskipun sempat shock, tapi kini ia mendapatkan suaranya kembali, sehingga ia bisa menjawab dengan cukup baik pertanyaan Nico.


“Surabaya indah?” tanya Nico sekali lagi.


“Lumayan, tapi panas, sama kayak Jakarta…”


“Tapi tampaknya sekarang kamu sudah bahagia ya? Benar begitu kan?” tanya Niko pelan. Dan Riana mengangguk, lalu tersenyum. Nico ikut tersenyum. Kali ini, senyumnya tulus hingga mencapai matanya.


“Syukurlah… Kuharap dia yang terakhir dan selamanya. Aku yakin dia akan menjagamu dengan baik…”


“Thanks, Nic. By the way, kapan kamu ada di Indonesia lagi? Kok nggak berkabar?” tanya Riana mengganti topic.


“Belum lama kok, dan emang gak lama juga disini, cuma mau mindahin kepemilikan café aja…”


“Hah? Maksudnya gimana?” Riana gak ngerti.


“Aku mau menyerahkan kepimilikan café ini sama orang kepercayaan aku yang ada disini…” jelas Nico.


“Siapakah?” Riana penasaran.


“Alit…” jawab Nico pelan. Riana terpana. Ia menatap Nico dari atas ke bawah. mempertanyakan kesungguhannya.


“Aku serius,” jawab Nico, seperti mengerti isi kepala Riana.


“Alit itu orangnya jujur… Dari awal dia kerja disini, aku tau dia orangnya santun dan gak neko-neko, selalu baik sama semua orang, di tangan dia, cafe ini akan jadi jauh lebih besar dari pada sekarang, dan aku begitu yakin akan hal itu...” jawab Nico mantap.


“Tapi kalau begitu, artinya kamu gak akan pernah kembali ke negara ini lagi dong? Kan alasan kamu untuk tetap ada disini udah gak ada. Cafe ini akan dipegang sama Alit...” kata Riana pelan.


“Hahaha, ya nggak begitu juga konsepnya...” Nico tertawa pelan, mengacak rambut Riana.


“Aku masih punya lebih banyak alasan lagi untuk ada disini, selain soal pekerjaan dan bisnisku... BTW, main piano lah, Ri, aku kangen...” pinta Nico. Riana mengangguk. Ia berjalan menuju piano putih yang anggun itu, yang masih tertutup. Sepertinya piano itu terrawat dengan baik, kendati jarang digunakan.


“Kamu mau lagu apa?” tanya Riana seraya duduk di atas singgasana kursi piano.


“Mmm... Apa ya? Enaknya apa dong?” tanya Nico, yang kini juga berjalan pelan menuju sofa – singgasana kebangsaannya saat sedang memantau cafe. Itu singgasana utama, selain kursi dan meja komputer, serta piano yang kini sedang akan dimainkan oleh Riana.


“Sak senengku wae yo... Main aja apa sambil nyanyi sekalian?” tanya Riana lagi.


“Yo sambil nyanyi ta, harus totalitas dong, kan udah jadi anak musik...” kelakar Nico. Riana menjulurkan lidahnya, tapi ia tetap bermain, sambil matanya memperhatikan Nico yang mulai mengambil posisi “santui” ; tiduran di atas sofa panjang itu. Intro dimulai, dan suara Riana yang lembut mulai meningkahi kesyahduan malam yang sedikit mendung ini.


“Ketika engkau datang


Mengapa di saat ku


Tak mungkin menggapaimu”


“Meskipun tlah kau semaikan cinta


Dibalik senyuman indah


Kau jadikan seakan nyata


Seolah kau belahan jiwa


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku


Namun ku yakini cinta

__ADS_1


Kau kekasih hati...” yang tak diduga, Nico melanjutkan lagu itu, ikut bernyanyi bersamanya. Riana tersenyum, melanjutkan lagunya.


“Oh


Terkadang begitu sukar (begitu sukar)


Untuk dimengerti (untuk dimengerti)


Semua ini kita terlambat (semua)


Meskipun tlah kau semaikan cinta


Dibalik senyuman indah


Kau jadikan seakan nyata


Seolah kau belahan jiwa


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku


Namun ku yakini cinta kau kekasih hati


Oh


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku


Namun ku yakini cinta


Kau kekasih hati


Dibalik senyuman indah


Kau jadikan seakan nyata


Seolah kau belahan jiwa


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku (pasanganku)


Namun ku yakini cinta kau kekasih hati


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku


Namun ku yakini cinta kau kekasih hati...” (Kahitna – Soulmate). Riana menyelesaikan permainannya, dan langsung membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Nico. Pelukan yang begitu erat, hangat, dan... Entah, rasanya seperti ada yang berbeda pada moment pelukan mereka malam ini.


“You’re my soulmate, Riana, selamanya...” bisik Nico dengan tubuh gemetar. Riana tidak berdaya. Ia tidak kuasa menolak rengkuhan Nico. Ia merasakan denyar itu lagi, denyar yang membuat dadanya berdebar. Biar bagaimanapun, Nico pernah menjadi bagian yang penting – tidak – sangat penting dalam hidupnya. Jadi, rasa itu mungkin saja masih ada, namun sedikit jumlahnya.


“Be mine, please...” pinta Nico tiba-tiba. Riana terhenyak. Spontan, ia menguraikan pelukan mereka.


“Bukannya kita pernah ngomong ini sejak sebelum-sebelum dan sebelumnya?” tanya Riana pelan.


“Only for tonight, Ri. Setelah ini, aku gak akan ganggu kamu lagi...”


“Mak-Maksud kamu?”


“Please... Aku janji, setelah ini, semua akan selesai. Aku gak akan ganggu hidup kamu lagi. Tapi, jadilah milikku untuk malam ini aja...” pintanya. Riana kebingungan. Entah dia harus bagaimana sekarang. Mungkin jalan satu-satunya adalah dia coba menuruti dulu.


“Ba-Baiklah, aku mau. Tapi, gimana caranya? Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tau kalau kamu itu... Milikku?” Riana merasa hatinya berderak, patah, lalu sakit sekali. Sejatinya, sejak dulu, ia bisa melakukan ini bersama Nico, tapi, ya itu, terlalu banyak perbedaan di antara mereka. Tapi yang terutama dan paling utama adalah perihal keyakinan.


“Peluk aku sampai pagi...” ucap Nico.


“Ha-Hanya itu?” tanya Riana.


“Hanya itu, dan ini yang terakhir. Kumohon...” Tanpa menunggu permohonan Nico yang lebih memelas lagi, Riana segera menuruti permintaan itu. Pikirnya, ini pasti tidak akan apa-apa. Toh dia hanya akan memeluk lelaki itu saja, dan tidak lebih.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2