MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 55, HILANGNYA BIDADARI (2)


__ADS_3

Riana berjalan di antara hatinya yang patah, dan air matanya yang tidak berhenti mengalir sejak kabar itu pertama kali diterimanya. Gadis itu sempat hilang kesadaran juga sebelum akhirnya Muara datang untuk menjemputnya. Dan sekarang laki-laki itu ada di sebelahnya, mendampinginya dengan perasaan yang juga hancur ; ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Jeremy – suami Yura, saat ini.


“Mas J, turut berduka cita...” ucap Muara pelan seraya memeluk laki-laki itu.


“Thanks, Ra...” katanya lemah seraya hampir jatuh lagi. Muara buru-buru menahan tubuh sahabatnya itu, dan membawanya menuju kursi.


“Adam mana, mas?” tanya Riana mengalihkan.


“Adam sama neneknya, di ruang bermain... Lo mau ketemu dia kah?” tanya Mas Jeremy.


“Iya, tak nemuin Adam dulu, nanti yang lain nyusul ke sini mas. Ra, aku tinggal bentar ya,” kata Riana seraya menyusut pelan-pelan air matanya. Bukan apa-apa, dia akan berhadapan dengan putra dari Yura dan Jeremy yang masih kecil, yang pasti belum siap menghadapi semua ini.


“Iya Ri, hati-hati,” kata Muara. Riana cuma mengangguk, selekasnya ia pergi, ia ingin menemui Adam yang juga cukup lengket dengannya.


***


“Aunty Ana, Mommy kok nggak keluar-keluar, ya? Kata oma, mommy lagi tidur, tapi kok enggak bangun-bangun? Ini kan udah sore...” celoteh Adam seraya bergelayut manja di lengan Riana. Ya, nama Riana terlalu susah bagi bocah yang baru bisa mengucapkan huruf “R” tersebut, jadilah ia memanggil gadis itu dengan sebutan Aunty Ana saja, untuk mempermudah. Riana mengusap matanya yang tetap saja menganak sungai. Ia begitu kasihan kepada Adam yang di usianya yang sekecil ini, sudah harus menghadapi kenyataan yang mungkin saja tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia dewasa sekalipun.


“Aunty, Adam mau lihat mommy...” rengeknya. Riana kaget. Ya ALLAH, apa yang harus ia lakukan?


“Ri, Adam mana?” tanya Jeremy. Syukurlah, ayahnya datang.


“Ini lho mas, lagi tak pangku. Kenapa?” tanya Riana.


“Mau tak ajak ke kantin, dia harus makan sore...” kata Jeremy.


“Sebaiknya lo urus jenazah Mbak Yura dulu, mas, biar Adam gue yang handle.” kata Yura menawarkan bantuan.


“Lo nggak repot ta?” tanya Jeremy.


“Enggak mas, kayak sama siapa aja lo. BTW, apa aja yang boleh dan nggak boleh dimakan sama Adam?” tanya Riana. Soalnya dia belum pernah ngasuh anak kecil, jadi agak takut aja.


“Alhamdulillah, Adam bisa makan semuanya. Tapi jangan dikasih ice cream ya, soalnya dia baru sembuh dari pilek,” kata Jeremy. Riana mengangguk. Ia segera membawa bocah kecil itu ke dalam gendongannya, dan pergi ke cafetaria rumah sakit untuk makan.


“Aunty Ana, Adam mau lihat mommy...” rengeknya lagi. Nasi bentonya hanya disentuhnya sedikit, sementara Riana cuma membeli beberapa buah donat dan kopi sebagai pengganjal perutnya.


“Nanti, ya, maem dulu Adam-nya, nanti kita lihat mommy...” bujuk Riana.


“Nggak mau, Adam maunya maem sama mommy!” rengek bocah kecil itu. Sepertinya dia mulai bersiap akan menangis juga. Riana buru-buru memeluk Adam, dan mengusap kepalanya.


“Ssssttt, anak sholeh, anak pinter, Adam maem ini dulu, dihabiskan, terus nanti kalau sudah habis, kita lihat mommy, ya. Kan mommy lagi sakit sayang, jadi nggak bisa bareng-bareng sama Adam dulu, sekarang, Adam sama Aunty Ana dulu, nggak papa ya?” bujuknya. Meski awalnya enggan, tapi begitu Riana mengiming-iminginya dengan sebatang cokelat, anak itu mau nurut juga, tapi bibirnya tetap mengerucut, lucu, deh, bikin pengen nyubit.


“Eh, senyum dulu, dong, jangan cemberut gitu,” bujuk Riana seraya menyuapkan nasi bento yang tinggal satu suapan lagi itu.


“Nggak mau senyum, nanti Aunty Ana bohong lagi, nanti kalau maemnya selesai gak jadi lihat mommy lagi,” protesnya.

__ADS_1


“Iya sayang, kali ini beneran, aunty janji. Tapi senyum dulu, sama habisin makannya, ini tinggal satu lagi, sayang lho...” kata Riana. Adam buru-buru mengangguk dan tersenyum. Riana yang gemas refleks mencium pipi tembem bocah itu, dan lanjut menyuapinya sebelum akhirnya mengajaknya bertemu ibunya nanti.


***


“Daddy, itu mommy diapain?”


“Daddy, kok mommy ditimbun tanah? Mommy kenapa?” pertanyaan-pertanyaan polos yang dilontarkan Adam dalam prosesi pemakaman itu makin memicu tangis para pelayat yang hadir. Bahkan Riana yang sudah tak sanggup berdiri dan melihat peristiwa itu terpaksa ditopang oleh Muara.


“Sayang, kuat sayang...” pintanya. Muara bukannya tidak mengerti tentang kondisi gadis ini yang selalu tak bisa mendengar tentang orang meninggal, atau menyaksikan prosesi pemakaman seperti ini, karena otomatis ingatannya akan melayang pada masa beberapa tahun silam, ketika ibunya meninggal dunia.


“Mommyyyy!” jeritan Adam mengagetkan semua orang yang sedang khusyuk berdo’a. Ia menangis, meraung, menarik tangan para penggali kubur yang terpaksa menghentikan pekerjaan mereka.


“Jangan ditutup, itu mommy-ku!” jeritnya. Jeremy berlari menuju para penggali kubur itu, menarik Adam paksa ke dalam gendongannya.


“Daddy, lakukan sesuatu, mommy hilang! Mommy ditutup di tanah itu!” jeritnya tak terkendali. Ia menendang-nendang, meronta dari gendongan sang ayah. Tangisannya memekakkan telinga, hingga Jeremy pusing dan jadi ikut-ikutan tak terkendali.


“Adam, stop!” jeritnya. Seketika bocah itu terdiam. Tapi isaknya masih terdengar. Riana berlari, lalu merampas Adam dari gendongan sang ayah.


“Jangan sekali-sekali lagi kamu berteriak di telinganya, atau kamu akan menyesal menyaksikan tumbuh kembangnya yang terganggu karena ulahmu.” ucapnya dingin seraya membawa Adam berlalu jauh dari ayahnya yang mungkin juga masih shock – heran sendiri atas apa yang dilakukannya kepada sang putra. Kali ini untuk pertama kalinya ia membentak sang putra. Dan begitu ia tersadar, ia buru-buru mengejar Riana untuk menjemput putranya.


“Ri, tunggu! Adam mana?” tanyanya.


“Tidur,” jawab Riana acuh seraya menunjuk Adam yang ada di gendongan Muara.


“Gue... Gue mau bawa dia pulang,” kata Jeremy hati-hati.


“Dedek bayi masih di inkubator, Ri, kata dokter kalau besok semua udah oke baru bisa dikeluarin dia...” kata Jeremy.


“Semoga semua segera membaik ya. Kalau gitu, gue bawa Adam balik, dia akan tidur di kost gue. Tenang, kamar gue ada AC-nya kok,” kata Riana yang sempat menangkap tatapan khawatir dari Jeremy ; mungkin Adam adalah type anak yang gak bisa tidur kalau gak di ruangan ber-AC.


“Haha, nggak gitu kok Ri, gue cuma takut Adam ngerepotin aja...” kata Jeremy tak enak. Riana cuma menggeleng ; menegaskan bahwa ia tak kerepotan sama sekali dititipi Adam.


“Kalau gitu, gue titip Adam dulu sampai semuanya beres. BTW, pegang ini ya, buat uang sakunya Adam selama disana...” kata Jeremy seraya menyerahkan sebuah kartu kredit platinum ke telapak tangan Riana.


“Heh, apa-apaan nih? Kalau cuma beliin Adam ice cream atau cokelat, gue masih bisa mas,” kata Riana seraya menyorongkan credit card itu kembali ke yang punya.


“Ya buat jaga-jaga aja, Ri, please, titip, ini biasa dipegang sama mbakmu. Tau kan pinnya?” tanya Jeremy lagi.


“Ya tau sih, pernah dimintain tolong sama Mbak Yura beli apa gitu dulu, lupa gue. Emang belum ganti pinnya?” tanya Riana.


“Belum... Ya udah, sana balik, udah malam. Bentar lagi ujan.” kata Jeremy.


“Iya mas, gue pamit ya. Yang kuat, yang ikhlas...” kata Riana seraya menepuk pundak suami sahabatnya tersebut.


“Thanks, Ri, ti-ati. BTW buruan gendong si Adam, sepertinya Muara keberatan,” Jeremy meringis. Riana mengalihkan pandangan kepada kekasihnya, lalu segera mengambil Adam dari gendongannya.

__ADS_1


“Kami pamit, mas, assalamu’alaikum.” pamit Muara seraya menyalami tangan Jeremy.


“Waalaikum salam, hati-hati.


***


“Seandainya 'ku 'kan tahu


Betapa selalu indah saat kau ada di sampingku


Seandainya 'ku 'kan tahu


Betapa cepatnya engkau harus pergi dari hidupku


Aku takkan ragu, takkan ragu


'Tuk menikah sejak awal cerita cinta


Namun kini engkau pergi


Tinggal aku berkasih dengan bayangmu


Namun 'ku tak cari pengganti


Agar kau disana tahu aku suami terbaik” (Kahitna – Suami Terbaik).


Lagu milik om-om legendaris tapi romantis itu mengalun syahdu ; menggenapi keheningan yang mewarnai perjalanan Riana dan Muara menuju tempat kost gadis itu. Adam masih tertidur, bersandarkan tas di kursi belakang.


“Yang,” panggil Riana tiba-tiba.


“Dalem... Apa sayang?” balas Muara seraya tetap fokus menyetir.


“Seandainya setelah kita nikah terjadi seperti ini, gimana?” tanyanya sungguh-sungguh.


“Terjadi apa?” Muara nggak ngerti.


“Terjadi seperti yang barusan kita lihat, juga yang barusan kita dengar di lagu ini. Apa kamu akan...”


“Ssssttt...” Muara menutup rapat bibir Riana dengan jarinya.


“Aku tau aku gak bisa janji untuk tetap setia sama kamu, maksudnya gini... Kamu sendiri udah lihat fenomenanya kan, ayahmu, ayahnya Hanum, semua menikah lagi setelah ditinggal istrinya...”


“Apa Mas J nanti akan seperti itu?” tanya Riana.


“Aku nggak tau pasti, tapi aku usahain aku akan tetap setia sama kamu, hidup atau mati, aku sayang sama kamu, Ri...” ucap Muara tulus. Riana tersenyum. Jujur ada sebersit ragu di hatinya, apa lagi kalau inget lagu yang barusan dia denger, di dalamnya ada kalimat/bait yang membuyarkan ekspektasi khususnya ekspektasi para kaum hawa :

__ADS_1


“Aku bermimpi, kau mengatakan kau rela, bila ada bidadari penggantimu...” apakah kodrat seorang laki-laki untuk tidak bisa setia? Apa seorang laki-laki tidak pernah cukup hanya dengan satu wanita? Hmm, entahlah, ini semua masih menjadi misteri. Dan pertanyaan ini sama susahnya untuk dicari jawabannya, seperti pertanyaan, kapan author-nya bisa punya badan langsing? Hehehe. Tapi, selamat jalan, Yura. Terima kasih telah berjuang, kamu adalah istri dan ibu terbaik bagi suami dan kedua anakmu. Bayimu memang tidak mengenalmu, tidak pernah melihat wajahmu, tapi seiring berjalannya waktu, ia akan mengenal dan mengenangmu sebagai seorang pahlawan ; pahlawan yang membiarkannya terlahir dan tumbuh, lalu mengejar mimpinya kelak. Sekali lagi, selamat jalan, Yura.


(TBC).


__ADS_2