
“Alhamdulillah, sampai kost jugaaa...” ucap Riana, sesaat setelah ia turun dari boncengan motor Muara. Saat ini jam telah menunjukkan pukul 22:00, dan mereka baru saja pulang dari suatu tempat.
“Seneng nggak?” tanya Muara, seraya membantu Riana melepas helm.
“Ah, banget. Hari ini luar biasa...” Riana menatap dalam-dalam mata itu, mata yang telah menghipnotisnya selama hampir setahun ini. Mata yang pertama kali memandangnya dengan tatapan khawatir sekaligus iba karena pelipisnya terluka. Mata yang selalu memandang santun kepada semua wanita, menikmati kecantikan yang ada dengan sewajarnya, tidak seperti serigala kelaparan yang melihat daging segar untuk disantap di hari yang sama.
“Ri...” Riana menoleh. Tadi ia sudah sempat berbalik, melangkah pelan menuju pintu.
“Kennapa, Ra?”
“Kamu... Cantik. Sampai besok ya...” ucapnya, seraya buru-buru men-starter motornya, bersiap untuk pulang. Tapi sebelum deru motor itu benar-benar menjauh, seseorang keluar dari dalam kost Riana, dengan tampang jahil.
“Lho Ganesh, kamu disini ta dari tadi?” tanya Riana.
“Iya, Wisnu sama Mayang pergi, Mbak Riri sama Mas Ra juga pergi, nah berhubung Mbak hanum minta ditemenin nonton film, ya udah aku kesini aja,” jawab Ganesh.
“Udah pada makan?” tanya Riana lagi.
“Udah, tadi order. Dan oh ya, selama aku disini pintu tak buka kok, baru tak tutup pas Mbak Hanum risih karena banyak nyamuk, kira-kira lima belas menit yang lalu.” Jelas Ganesh.
“La sekarang kamu mau kemana?” tanya Riana.
“Pulang, lah, itu ada tukang ojek kok dianggurin. Anterin ya, Mas Ra...” kata Ganesh, lengkap dengan senyum jahilnya.
“Yuk, searah juga kan jalannya. Nih, pake helm-nya,” kata Muara seraya menyerahkan helm kepada Ganesh. Ganesh mengangguk, lalu memakainya. Setelah itu, dia naik ke atas boncengan dan memegang pundak Muara.
“Hati-hati ya... Ra, titip adekku, jangan dibawa ngebut pokoknya,” pesan Riana.
“Bereeeeesss... Paling tak ajak freestyle dikit kali ya,” kelakar Muara. Riana memelototkan matanya, membuat Muara terkekeh.
“Ampun Ri, ampun. Yowes aku tak pamit ya, thanks for tonight, Ri...”
“Ok, you’re welcome and see you soon. Kalau gitu aku masuk dulu ya Ra,” pamit Riana. Muara mengangguk. Ia menghidupkan mesin motornya, lalu segera tancap gas, keluar dari kos-kosan Riana, bersama Ganesh di boncengan belakang.
***
“Yoopo Mas Ra?” tanya Ganesh, setibanya mereka di jalan raya yang sudah sedikit lengang malam itu.
“Apane?” Muara nggak ngerti.
“Udah nembak belum?” tanya Ganesh lagi tak sabar.
“Sek talah, Riana lho tenang-tenang aja, kenapa malah kamu yang bersemangat?” tanya Muara.
“Halah sampean iku lho kesuwen, selak dijupuk wong lio ngko mas, gak ngerti a pean Mbak Riri sak mono ayune?” kata Ganesh geregetan.
“Sek ta, tenang ae... Katamu, aku harus cari cara sendiri buat proses tembak-menembak ini kan? Sebentar lagi misi itu akan berjalan kok, jadi gak usah khawatir ya...” kata Muara.
“Bener ya mas, hadeeeh, bikin geregetan aja!” seru Ganesh. Muara Cuma tertawa. Dan motor pun terus melaju, membelah jalanan kota Surabaya di malam hari.
***
Sementara itu, di kosan...
“Yoopo mbak?” tanya Hanum seraya dengan sigap membuat dua gelas cokelat panas untuk keduanya.
__ADS_1
“Apa, Hani?” Riana gak ngerti.
“Gak papa, kegiatannya tadi gimana?” tanya Hanum lagi. Tapi ekspresi wajahnya tidak bisa ditutupi, sebersit senyum jahil tertangkap oleh mata Riana.
“Kamu itu sebenernya kenapa tho, senyam-senyum sendiri dari tadi?” Riana heran.
“Nggak ada, hari ini seru aja, bisa quality time bareng Ganesh...” jawab Hanum.
“Beneran?” Riana memastikan.
“Beneran dooooong... Emang tampang kayak aku gini ada indikasi boong, ya?” Hanum memain-mainkan alisnya, membuat Riana jadi gemas sendiri.
“Indikasi bohong sih nggak ada dek, tapi kamu itu biasanya cenderung ke jahil. Apa ya? Kayak udah tipikal kalau orang-orang seperti kamu dan Ganesh itu biasanya jahil, iseng. Isenge ra umum pisan...” jelas Riana.
“Kami tuh nggak iseng mbak, Cuma usil...” Hanum nyengir.
“Sama ajaaa, dodol. Ya udah deh, mbak masuk kamar dulu. Kamu cepet tidur ya...” pesan Riana seraya mencubit pipi gembil Hanum.
“Iya mbak. Mbak kalau laper tengah malam di meja ada donat, tadi order sama Ganesh kebanyakan. Aku kadang suka denger suara mbak nikus lho jam-jam satuan ke atas...”
“Nikus? Istilah apa lagi itu?” Riana heran.
“Mbak tau tikus gak?” tanya Hanum.
“Itu hewan yang paling aku benci,” ketus Riana .
“Nah, jadi nikus itu artinya kegiatan seperti tikus, berkegiatan di dapur pada malam hari, saat orang-orang sudah lelap dalam mimpinya...”
“Oooo, oke, aku ngerti konsepnya. Halah kamu tu ada-ada aja, mbakmu disamain sama tikus, kezam, ah,” rajuk Riana.
“Hihi kan Cuma kegiatannya aja, mbaknya tetep Mbak Riana yang biasa, yang kata Mas Muara tadi... Cantik.”
“Mmm... Jadi Ganesh minta aku berhenti ngomong, buat dengerin percakapan di luar, katanya biar bisa ngeledekin Mbak Ri sama Mas Muara...”
“WHAT?” Riana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dan sisi lain dari Hanum Maisha Kartika pun akhirnya terlihat ; kepolosannya. Ya, kepolosan itu yang membuat setiap orang dengan mudah menyayangi bahkan mencintainya.
“Han... Kamu sadar sesuatu gak?” tanya Riana pelan.
“Enggak... Apaan mbak?” tanya Hanum.
“Kamu itu... Polos. Ya, polos banget. Yes I know you’re smart too, but... Apa ya? Ada sesuatu di dalam diri kamu yang ngebuat kamu itu beda dari perempuan-perempuan kebanyakan...” jelas Riana.
“Polos? Iya, sih, kata orang aku polos, bahkan cenderung pea...” Hanum nyengir, usai mengucapkan kata-katanya yang terakhir.
“Iya, tapi kamu menyenangkan, kamu layak untuk dicintai, dijaga dan dilindungi...” kata Riana seraya memeluk Hanum erat-erat. Ditenggelamkannya tubuh Hanum yang mungil – tapi berisi itu ke dalam pelukannya. Dan dalam suasana malam yang cukup hening itu, Riana mengucapkan tiga kata ajaib untuk pacar adiknya itu.
“I love you, my sister... Apapun yang terjadi, ada jodoh ataupun enggak antara kamu dengan Ganesh, mbak akan tetap sayang sama kamu, dan mbak akan tetap jaga kamu...” katanya Tulus. Dan pada detik berikutnya, Riana merasakan guncangan halus pada pundak Hanum, serta pundaknya sendiri yang basah karena tetesan air mata gadis itu.
“Why are you crying?” tanya Riana yang mulai terbawa suasana.
“Selama hidup...” kata Hanum seraya berusaha menghentikan tangisannya, “aku tidak pernah dicintai sebegini rupa sama seorang kakak perempuan. I’ve lost that figure ketika aku tau, aku tidak dicintai di lingkungan dan sesuatu yang biasanya orang sebut sebagai...”
“Aku tau... Gak usah dilanjutin. Sekarang kamu kan udah jadi adiknya mbak, jadi, gak usah sedih lagi. Okay?” kata Riana seraya mengusap pelan rambut panjang Hanum.
“Terima kasih, mbak,” jawab Hanum pelan.
__ADS_1
“Sama-sama. Dah, masuk kamar sana, mimpi indah malam ini, cantik... Kamu juga cantik lho, bahkan lebih cantik dari mbak...” puji Riana tulus. Hanum tersenyum. Ia melingkarkan lengannya di pundak Riana.
“Aku masuk kamar dulu, ya.” Kata Hanum. Riana mengiyakan. Maka sekejap saja, Hanum yang riang itu berlari menuju kamarnya, menutup pintu, dan menyalakan laptop-nya. Kurang dari 5 menit, lagu akustik yang enak di telinga sudah terdengar sayup-sayup antara kamar Hanum dan kamar Riana. Riana memaklumi kebiasaan Hanum yang satu ini, karena dia juga sama-sama suka muter musik dari perangkat laptop-nya saat di rumah kost-nya terdahulu. Lagian juga, secara genre mereka tidak jauh beda kok.
“On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you
'Cause when you're around
I feel safe and warm
'Cause when you're around
I can fall in love every day
In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...”
Riana menutup novelnya seraya tersenyum sumringah. Ia meletakkan novel yang barusan dibacanya itu di deret rak bukunya yang paling atas, lalu menutup tirai kamar, menyisakan sinar temaram dari rembulan yang muncul sebagian. Gara-gara mendengar playlist musiknya Hanum yang enak, tanpa sadar, ia malah mengambil novelnya, novel yang sudah dibacanya sejak pertengahan tahun lalu, tapi belum sempat ia selesaikan. Syukurlah, novel itu pun berakhir dengan “good ending”, seperti keinginannya. Tapi lagu terakhir yang menutup semua playlist tadi itu terngiang dan terus terngiang di telinganya. Mocca-On The Night Like This. Dia suka semua lagu-lagunya Mocca tentu saja, tapi dia baru tau bahwa ada lagu yang se-simple, sependek, dan seenak itu. Dan sepertinya... Lagu itu sesuai sekali dengan perasaannya akhir-akhir ini, apa lagi semenjak dia sering menghabiskan waktu dengan Muara. Dan ketika ada satu-dua hari dimana mereka tidak bersama, Riana seperti menyimpan semua cerita yang berpusat pada dirinya seharian penuh itu, untuk diceritakan pada saat malam tiba, saat dirinya dan Muara sempat untuk bercakap. Atau kalau tidak di hari dan malam yang sama, dia akan tetap menyimpan semua ceritanya untuk nanti, saat mereka bisa bertemu dalam waktu yang lama. Baru pada saat itulah Riana akan nyerocos panjang-lebar soal semua yang terjadi padanya di hari-hari ketika mereka tidak bersama. Biasanya sih, kalimatnya dimulai dari...
“Ra, aku mau cerita. Jadi....” dan Muara harus puas mendengarkan kata-perkata, kalimat-perkalimat yang dilontarkan secara pasti, tanpa jeda dan tanpa terlewat sedikitpun. Mendetail, seperti catatan seorang sekertaris yang bekerja untuk CEO sebuah perusahaan besar. Dan semua itu nantinya, akan diakhiri dengan...
“Jadi, gimana menurut kamu, Ra? Aku harus gimana?” NAHH! Disaat itulah kepekaan dan konsentrasi si cowok seperti diuji. Itu ujian hidup-mati. Syukur-syukur kalau ceweknya pengertian. Kalau enggak, bisa diamuk dah. Tapi Riana adalah jenis cewek yang beda. Jadi ketika Muara tidak sengaja melewatkan detail penting pada setiap ceritanya, dia Cuma, oh, okay... Tapi, sisa ceritanya kamu nangkep kan? Dan sekarang, setelah semua yang terjadi kepadanya akhir-akhir ini, Riana jadi berpikir. Apa dia sudah mulai... Jatuh cinta?
***
On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you
'Cause when you're around
I feel safe and warm
'Cause when you're around
I can fall in love every day
In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...
__ADS_1
(Mocca-On The Night Like This).
(TBC)