
“Mungkin memang benar aku yang salah
Kusadari
Kuakui
Kujatuh cinta lagi”
(Rio Febrian-Salahi Aku/ Kujatuh Cinta Lagi).
“Mbak Hanum cantikkuuu, buruan kenapa sih?” kata Ganesh tak sabar dari balik pintu. Tempat kost Riana, siang hari. Sedikit kesibukan tampak di sana-sini, entah apa yang sebenernya ingin dilakukan oleh mereka.
“Sek talah, bentar, aku ngerapiin ini dulu nih,” kata Hanum seraya menutup ritsleting tasnya.
“Kalian pada mau kemana sih, kok heboh banget,” kata Riana yang masih dasteran dan males-malesan di depan televisi.
“Ada urusan dikit mbak. Wes talah nanti sore aja kita kasih tau. Sekarang mbak santuy-santuy dulu aja,” kata Hanum. Ganesh mengangguk, membenarkan.
“Kalian pergi berdua aja?” tanya Riana lagi.
“Ho oh, dah ya mbak, permisi dulu. Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam, hati-hati...” kata Riana. Mereka Cuma mengangguk, terus pergi.
***
Masih di kost, sore hari, dan Riana gabut. Tapi syukurlah, karena sudah tidur nyaris seharian penuh hari ini, Riana jadi merasa segar lagi, energinya jadi terisi penuh kembali. Cuma masalahnya, di kost sepi begini, apa yang harus dia lakukan?
Ah, iya, dia ingat, dia kan udah janji mau cerita sama Muara. Seandainya kemarin rasa lelah yang hebat tidak menderanya, mungkin ia sudah bisa bercerita dan menyelesaikannya malam itu juga.
Riana tersenyum. Dia tau harus mealakukan apa sekarang. Mending dia bersih-bersih, terus mempersiapkan segala sesuatunya untuk sore hari ini.
***
Riana menatap keseluruhan meja teras kost di hadapannya. Sempurna! Semua makanan sudah tertata rapi, dan tampak bagus sekali bila dipotret melalui berbagai angle yang pas. Tapi Riana menggeleng, kemudian tertawa atas ide konyol yang tercetus barusan itu. Apaan tuh motoin makanan terus ditaro di sosmed? Bukan dia banget kan?
Deru motor mengembalikan Riana dari pikirannya. Segera gadis itu pergi ke gerbang, lalu membukanya. Dan Muara tersenyum, menyambut gadisnya yang tampak cantik dengan dress selutut berwarna jingga. Rambut panjangnya yang tergerai juga menambah kesan ayu pada gadis itu. Ditambah lagi ia tidak memoleskan apa-apa pada wajahnya, kecuali bbedak bayi. Cantik alami dan fresh, setidaknya itulah penilaian yang bisa dia berikan untuk penampilan Riana hari ini.
“Cantik.” Pujinya. Riana Cuma tersenyum.
“Weh, ada perayaan apakah ini?” tanya Muara yang terkejut melihat meja teras kost penuh dengan makanan.
“Nggak ada...” jawab Riana.
“La ini makanan segini banyak buat apa?” tanya Muara lagi.
“Hari ini adalah harinya kita... Yuk, kita makan sekarang,” kata Riana seraya mengajak kekasihnya itu untuk duduk menghadapi meja teras yang telah disulap menjadi meja makan tersebut.
“Ini kamu semua yang masak?”
“Enggak, aku beli. Gak sempet ke dapur aku, tidur terus seharian...” jawab Riana.
“Iya lah, capek juga kamu kan. BTW gimana Jakarta?” tanya Muara tiba-tiba. Riana terhenyak. Tapi sebisa mungkin ia tetap bersikap biasa, dan menjawab pertanyaan lelaki itu.
“Mm, Jakarta, ya seperti biasa, panas, macet, padet, rame, ya nggak jauh beda lah sama Surabaya...”
“Apa aja yang terjadi selama kamu ada disana?” Yak, serangan sudah dimulai, sodara. Dan Riana untungnya udah siap dengan itu, jadi dia nggak kaget lagi.
__ADS_1
“Aku ketemu temen-temen lamaku, nginepnya juga di kost aku dulu, orang sama Bu Dian, pemilik kost aku yang lama, kamar itu nggak disewain ke siapa-siapa, jadi setiap aku pulang, aku bisa stay disana,” jawab Riana.
“Lalu, Nicolas Fernandes itu siapa?” Duarr! Akhirnya meletus sudah balon hijaunya *eh, bukan, maksudnya, ganjalan di benak Muara, tentang sosok laki-laki yang ternyata telah menyita perhatian Riana selama dia berada di ibu kotanya Indonesia tersebut. Sambil menyendok makanannya perlahan-lahan, Riana-pun memulai ceritanya.
“Dia itu sebenernya temen deket aku semasa SMA, Ra. Banyak yang nyocok-nyocokin dan ngejodoh-jodohin kita. Dan nggak sedikit juga yang mengira kita punya hubungan yang lebih dari itu...”
“Trus?” tanya Muara – setengah tak sabar.
“Kami tau kami saling mencintai, dan kami memiliki frekuensi rasa yang sama. Tapi ada lebih banyak hal yang menghalangi terciptanya kebersamaan itu. Sebenernya satu, tapi itu berat, dan kemungkinan untuk kami bersatu benar-benar sangat kecil karenanya,” ucap Riana lagi.
“Apa itu?” Muara semakin penasaran.
“Keyakinan... Ya, kami berbeda keyakinan. Agama kami berbeda.”
“Terus apa yang kalian lakukan selama kamu di Jakarta? Mengulang masa lalu?” ketus Muara. Riana menghela napas, lalu, menatap mata lelaki itu sebentar. Mata indah itu, mata yang selalu menatapnya lembut, bahkan semenjak pertemuan pertama mereka.
“Iya, kami memang bertemu...” jawab Riana pelan. Muara mulai enggan menatap mata wanitanya. Tapi wajah ayu itu, dan sesuatu pada matanya memaksa lelaki itu untuk kembali menatap, meskipun – jika bisa, ia memilih untuk tidak melakukannya.
“Kami memang bertemu, Ra, tapi aku sama sekali gak tau bahwa dia yang kutemui itu bukan wujud dia yang sebenarnya...” lanjut Riana lagi.
“Hah? Mak-Maksud kamu gimana?” Muara kaget.
“Yang kutemui adalah... Rohnya.”
“WHAT?” Muara terkejut. Tapi Riana tidak ingin berhenti, maka ia meneruskan ceritanya.
“Dia sudah meninggal seminggu sebelum aku datang dan sampai di Jakarta. Dia terlibat kecelakaan tunggal di jalanan bersalju di negaranya. Sebenarnya ada sedikit unsur kesengajaan dalam kecelakaan itu, dia jadi korban prank sepupunya yang mencampurkan alkohol berkonsentrasi tinggi pada minumannya di pesta. Aku linglung pada saat itu, sama sekali nggak tau harus apa dan harus bagaimana. Aku shock, semua nggak bisa kuterima dengan mudah di akal sehatku. Itu sebabnya aku mematikan ponsel, aku menghilang, aku bener-bener gak sanggup...” jelas Riana. Muara terhenyak. Ia memeluk pundak gadis itu, menguatkannya. Biar bagaimanapun, kehilangan itu pastilah teramat menyakitkan baginya.
“Dia sudah pernah terlibat kecelakaan yang cukup parah juga sebelumnya, setahun lalu, sebelum kita bener-bener seakrab sekarang... Eh, udah belum sih? Aku lupa. Tapi intinya, banyak hal yang belum selesai di antara kita, termasuk soal perasaan dia sama aku. Aku udah bilang kemungkinan kita untuk bersama itu kecil, tapi dia tetep keukeuh sama perasaannya itu, sampai dia frustasi sendiri. Kami sempet bertemu lagi juga pas kita semua liburan di Jogja sebelum tahun baru waktu itu. Saking frustasinya dia sampai bilang pengen kecelakaan lagi, terus amnesia...”
“Dan akhirnya malah kejadian beneran ya...” lirih Muara.
“Terus... Apa kamu masih ada rasa sama dia?” tanya Muara hati-hati.
“Enggak...” Riana menggeleng.
“Yakin?”
“Sangat... Karena sejak aku tau aku dan dia berbeda, semua rasa itu kumatikan secara perlahan tapi pasti. Aku adalah bukan type orang yang selalu memaksakan perasaan, apa lagi kalau emang tidak ada kemungkinan untuk rasa itu terwujud dan berbalas. Sebelum aku ngerasa sakit sendiri,ya aku memutuskan untuk berhenti...” jelas Riana. Muara mengangguk-angguk. Tiba-tiba, rasa bersalah seperti menyerangnya dari berbagai arah. Kecemburuannya ternyata menyakiti banyak pihak, termasuk dirinya sendiri, dan juga Riana. Masih teringat jelas olehnya Riana yang tertidur begitu lelap dalam perjalanan pulang dari Kenjeran. Ekspresi lelahnya itu lho...
“Maaf ya, Ri...” ucapnya tulus seraya menggenggam tangan Riana.
“Aku kira ini wajar, Ra. Rasa cemburu itu... Jadi, no need to say sorry, okay?” Muara tersenyum, lalu mengecup lama rambut gadis itu. Aroma shampoo langsung menguar memenuhi admosfer sekitarnya. Dan Muara, sudah berjanji dan bersaksi pada dirinya sendiri, bahwa aroma inilah yang selamanya akan menjadi candu baginya.
“Sekarang, gantian dong...” kata Riana tiba-tiba.
“Gantian apa?” Muara nggak ngerti.
“Ya gantian cerita,” jawab Riana.
“Soal?”
“Celinia Raharja...”
“Oalaaa iku ta?” Muara mengerlingkan matanya. Entah kenapa, tiba-tiba dia pengin sedikit jahil sama Riana.
“Wes gek ndang cerito, sebel je aku, pas wingi dek-e agresif ngono kae... Kamu juga nyebelin, pake peluk-peluk segala...” omel Riana.
__ADS_1
“Aduh ngeri nek iki ki. Yowes-yowes aku tak cerita...”
“Buruan!” serunya galak.
“Iya-iya sayang Gustiii... Gini ceritanya. Pada zaman dahulu kala, hiduplah...”
“Ck, buruan atau kupingmu ilang satu?” ancam Riana seraya bersiap meng-unyeng-unyeng telinga Muara (ngunyeng-ngunyeng apaan sih bahasa Indonesianya? Pokoknya gitu dah yak).
“Iya ampun sayang, iyaa. Kali ini aku serius...” Muara mengangkat tangan – pertanda menyerah, sekaligus melindungi telinganya dari serangan maut.
“Sini tak peluk dulu tapi, gak enak cerita sesuatu kalau gak sambil meluk...”
“Modus!” seru Riana. Tapi tak urung, ia menempel sempurna juga pada tubuh kekar Muara. Ia menahan kepala itu di bahunya, mengusapi rambut panjang gadis itu sambil mulai bercerita.
“Celine itu pacarku zaman SMA, kami pacaran selama tiga tahun. Dulu sih aku sayangnya beneran sama dia. Cuma emang bedanya kayak langit sama bumi banget, Celine anak orang kaya, aku bukan anak orang berada. Aku yang dulu gak kayak sekarang Ri, buat makan sehari-hari aja kadang pake ngutang dulu. Tiga tahun kita jalan bareng, akhirnya aku tau, Celine Cuma manfaatin aku, karena otakku lumayan encer lah dulu... Jadi angger arepe ujian yo dek-e isok nempel-nempel karo aku. Tapi pas enggak ya kayak gak peduli gitu...”
“La kamu ngertinya dari mana?” tanya Riana.
“Pas mau lulus-lulusan itu, aku nggak sengaja lewat kelas kosong. Disana lagi ngumpul Celine sama gank-nya, temen-temen ceweknya yang pada centil-centil semua, mbuh, kok yo onok perempuan endelnya kayak gitu. Terus ya disitu, aku dengerin pengakuan Celine, yang dengan enaknya dia bilang, “kalau gak karena Muara tuh pinter, aku yo wegah karo dek-e, wong bocah kae ra nduwe kok...”.”
“Astaghfirullah...” Riana menutup mulutnya.
“Itulah. Dari situ aku kayak dendam banget sama banyak hal, sama cewek terutama. Celine itu cinta pertamaku Ri, makanya rasanya gak karu-karuan begitu aku tau orang yang kuanggap sebagai cinta terbaikku malah nusuk aku dari belakang kayak gitu. Dulu pun aku gak pernah bermimpi untuk kuliah. Ada sih keinginan, tapi aku sadar diri lah, orang uripe awak dewe wae pas-pasan kok ndadak pengen kuliah barang. Nah ndelalah bar aku lulus SMA kui bapak tuh sakit Ri, sakit keras parah sampe gak bisa kerja. Terus karena skill bermusik aku lumayan ada, ikut-ikutan temen nge-band sana sini, manggung sana sini. La kok enak, lama-lama aku nyaman sama pekerjaanku. Disitulah pertama kali aku ambil keputusan besar dalam hidup, aku merantau, keliling ikut temen-temen manggung di banyak tempat dan banyak daerah, sampai akhirnya setelah setahun aku cabutan sana-sini aku ditaroh di Bali, karena disana kekurangan personel, aku sering jadi additional player gitu. Aku ngabisin waktu di Bali kira-kkira dua tahunan, sampai kita ketemu kemarin...”
“Masya ALLAH kamu kuat banget sih Ra...” Riana mengusap air matanya. Sepanjang cerita tadi, matanya sudah menganak sungai, mendengar pengakuan Muara yang begitu jujur tentang semua yang ada pada masalalunya.
“Perjuanganku masih lebih berat dari itu Ri. Apa lagi awal 2020 itu kan pandemi ya, wih itu edan-edanan banget... Tiap hari nangis aku, frustasi, rasanya kayak pengen mati aja. Masalahnya yang kutanggungjawabi itu bukan diriku sendiri, tapi ada ibu, bapak sama dua adikku, apa lagi bapak dalam masa pengobatan kan Ri. Aku... Aku kayak...”
“Ssssttt... I feel you, Ra, I feel you...” Riana memeluk lelaki itu yang kembali tergugu, terkenang masa lalunya.
“I’m so proud of you, Ra. Kamu itu pekerja keras...” ucap Riana tulus.
“Semoga kamu tidak mencintaiku karena aku yang sekarang ya Ri,” ucap Muara pelan, masih dalam pelukan Riana.
“Ra, aku mencintaimu karena apapun yang ada di diri kamu, vaik-buruknya kamu, semua pokoknya. Sama seperti kamu yang bisa terima aku yang serba kelam dan buruk ini, aku juga sadar diri, aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Orang awalnya aja, kupikir, setelah kamu lihat semua bekas luka di tanganku itu kamu akan menjauh, karena... Ya buat apa sih temenan sama orang yang mentalnya bermsalah?”
“Enggak Ri, enggak. Kita itu punya ujian masing-masing. Dan setiap kita punya rasa sakit yang berbeda, jenis perjuangan yang berbeda juga. Aku nggak bisa bandingin hidupku sama hidup kamu, pun kamu juga begitu. Sekarang, aku ada disini sama kamu, bukan buat adu nasib, tapi buat saling melengkapi. I love you, Riana Mentari...”
“Love you too, Muara Devan Mahendra...” selanjutnya, mereka saling memeluk – memeluk saja, membiarkan keheningan yang ada tergantikan oleh debar jantung masing-masing yang terasa kencang dalam pelukan tersebut.
“Priiiiiittt, dilarang lebih dari peluk, kalau melanggar, denda sepuluh ribu!”
“Yongalah, kapan do teko bocah-bocah ki?” tanya Riana yang terkejut seraya menguraikan pelukan mereka.
“Baru kok mbak... Wiiiihh, sini gess, ada makanan banyak, mari kita habiskan!” seru Wisnu seraya menarik Hanum dan Ganesh yang masih sibuk nyopotin sepatu.
“Nah, kebetulan kita semua laper. Yuk, serbuuuu, oweeeeeeekkk!” seru Ganesh antusias.
“Cuci tangan dulu, paijo tenan og. Pada habis dari mana sih?” omel Riana, persis seperti emak-emak yang ngomelin anak-anaknya yang pada kelayaban, main gak tau waktu.
“Habis jamming di cafe mbak, oweeeeek...” jawab Ganesh.
“Westalah hadeeeh, ojok owak-oweeeek wae, gek ndang, tak ambil piring dulu. Oh iya, Mas Alit ra melu po?”
“Aku ikut mbak, gila, dijadiin supir nih sama mereka bertiga, seharian penuh...” keluhnya seraya mengambil duduk di sebelah Muara.
“Lo temennya Riana?” tanya Muara – setengah menyelidik.
__ADS_1
“Iya, kenal udah lama. Tapi tenang bro, gue murni temen sama dia, lagian gue kesini sekalian nengok adik gue juga, gak nyangka bisa satu penerbangan,” jawab Alit. Muara manggut-manggut, paham. Duh elah bocah, masih cemburuan aja. Udah tau Riana sebucin itu sama kamu. Eh, kamunya juga, deng.
(TBC).