
“Bang, siomainya satu, ya, pakainya telur sama kentang aja, tahu, kol sama pare-nya nggak usah,” ucap seorang gadis seraya duduk di kursi semen pelataran kantor D FM.
“Iya Mbak Hani, apa kabar mbak?” tanya mas penjual siomai itu seraya mulai meracik pesanan Hanum. Ya, itu Hanum, jangan kaget. Setelah dua minggu proses recovery, akhirnya gadis itu kembali bekerja lagi. Dan sekarang hari sabtu, jadi waktunya dia ngisi Zona Curhat, dan seperti biasa, teman bertugasnya adalah Sammy. Tapi menilik dan menimbang kejadian kemarin (dan atas banyak pertimbangan lain juga), akhirnya, Yura memutuskan untuk mempekerjakan seorang operator baru lagi untuk menjadi teman Sammy, namanya Alif.
“Baik, mas, wah lama juga saya nggak kesini,” kata Hanum seraya tersenyum riang.
“Iya mbak, tapi mbak udah sembuh tho sekarang? Wah, gak kebayang, pasti para pendengar senang banget nih mbak udah balik siaran lagi...” katanya tulus.
“Iya mas, alhamdulillah...” timpal Hanum.
“Tapi mbak, kenapa nggak nunggu sampai gedung baru selesai dipersiapkan aja sih, baru siaran lagi?” tanya tukang siomai penasaran.
“Gedung baru? Maksudnya?” Hanum nggak ngerti.
“Kan radio ini mau dipindah lokasinya, mbak, ke tempat baru, soalnya disini udah tidak nyaman dan tidak aman banget...” kata tukang siomai lagi.
“Maksudnya gimana, ya? Saya kok masih bingung?” Hanum menggaruk-garuk kepalanya.
“Yang kejadian malam jumat tempo hari itu mbak, sebenernya udah pernah kejadian juga sebelumnya, sama orang lain tapi. Dan untungnya sih pas kejadian ke mbak, mbak cuman cedera, gak sampai meninggal...”
“Aiiih, emang ada yang sampe meninggal gitu?” Hanum terkejut. Otomatis, kunyahannya pada siomai yang terasa enak itu terhenti.
“Panjang Mbak Hani, ceritanya. Dan saya rasa, mending mbak tanya sama Mbak Yura aja deh, beliau yang lebih punya kuasa buat menceritakan ini...” kata tukang siomai.
“Yowes, ah, jadi terasa semakin misterius ya...” kata Hanum. Tukang siomai cumah tertawa.
***
Hanum memasuki kos-kosannya dalam keadaan lelah. Di dalam, ada Riana yang lagi asyik jadi ulet di atas sofa.
“Malam mbak...” sapa Hanum.
“Oh, hey, malam sayang... Udah maem belom?” tanya Riana seraya menyambut Hanum.
“Belum mbak, aku bingung e mau makan apa...” jawab Hanum.
“Mbak orderin, deh, kebetulan mbak juga laper...” kata Riana. Hanum mengangguk.
“Ini anak-anak cowok gak ada yang kesini ta?” tanya Hanum lagi.
“Pada nge-job kan... Yowes, ini ada nasi goreng kethok-e enak, order itu aja ya?” Riana minta persetujuan.
__ADS_1
“Yowes ra popo... Sambil nunggu order, aku mau cerita nih.” Kata Hanum.
“Eh, apaan?” Riana penasaran.
“Ngerti Mas Rafik a?” tanya Hanum.
“Heh? Sopo?” Riana kaget.
“Kae, tukang siomai nang ngarepan kantor...”
“Weh, kok ngerti jenenge barang?” Riana heran.
“La wonge memperkenalkan diri kok mau, lagian dek-e kan sing pas iko nolong aku, pas tragedi iku lho...”
“Oalah iyo. Terus, ngopo si mas-mas tukang siomai?” tanya Riana.
“Ya nggak, dia ada cerita kalau gedung itu angker, dan katanya ada penyiarnya D yang juga terlibat tragedi seperti aku, bahkan sampai meninggal...”
“Aiii? Yoopo ceritane?” Riana penasaran.
“Itu dia, sok misterius sih tukang siomainya, jarene biar Mbak Yura aja yang ceritakan, katanya lebih berwenang...”
“Ya ojok nang kantor, malah marai mancing makhluk-e metu ngko, nek gelem ajak Mbak Yu ketemuan aja, dimanaaa gitu...” usul Hanum.
“Gitu juga boleh... Tapi gimana ya? Analisaku masih ini ada kaitannya sama Yura lho...” kata Riana.
“Ck, mbaaak, dirimu itu kebanyakan nonton film horror apa thriller gitu, emang hidup se-plot twist itu ta?” Hanum ketawa.
“Maksudku, bukan dia pelakunya, tapi aku tuh lupa kalau Yura tuh India eh, indigo. Dan kurasa, dia tau hampir semua latar belakang gedung radio kita itu, tapi dia ada di bawah ancaman...”
“Ancaman siapa?” tanya Hanum.
“Ancaman penunggu gedung itu... Who knows, kan?”
“Mbuh, pikirkan nanti ae wes, jek kesel aku...” Hanum mengedikkan bahu, Riana setuju.
***
Sementara itu, di kediaman Yura...
“Tidurlah, baby, udah malam lho ini. Lihat tuh, Adam aja udah bobok, kan,” bujuk sang suami yang melihat istrinya yang hanya melamun dan menatap kosong ke langit gelap di luar sana.
__ADS_1
“Aku takut, J...” lirih Yura.
“Sayang... Kan ada aku, apa lagi yang kamu takutkan?” tanya Jeremy lembut.
“Kamu tau, kan, soal kemampuan aku yang satu ini, soal kemampuan aku yang bikin aku selalu dibilang kurang waras sama temen-temen, setiap hari, nyaris 24 jam?” tanya Yura putus asa.
“Iya Yu, aku inget banget, hal itu juga yang membuat kamu pada akhirnya memutuskan untuk menutup diri kamu, menjauhkan diri dari circle pertemanan di sekolah, malah fokus ikut beladiri dan tau-tau ikut kejuaraan dan langsung menang...” jawab Jeremy seraya tersenyum, mengenang setiap moment yang terjadi sejak mereka masih SMP dulu.
“Ah, I can’t forget that moment, sampai ada anak cowok, putih + endut ngakunya diutus sama redaktur mading sekolah buat ngewawancarain aku kan?” Yura tertawa, bersandar manja di bahu suaminya.
“Ya ALLAH jan, ngisin-ngisini tenan yo pas iko sayang...” Jeremy meringis.
“Ih, masalahnya sebenernya tuh bukan itu J... Aku selalu dapat vision (penglihatan), yang enggak-enggak akhir-akhir ini...” keluh Yura.
“Soal?”
“Yah, gambarannya selalu tentang gedung terbakkar, sama seorang perempuan berselimut api...”
“Weh, kok serem?” Jeremy bergidik ngeri.
“Kandiani kok, aku gak isok turu akhir-akhir ini...”
“Oh iya, bukannya kemampuan itu bikin kamu bisa berkomunikasi juga sama mereka? Kenapa nggak coba kamu tanyain aja apa keinginan dia yang lagi neror kamu sekarang ini?” usul Jeremy.
“Hmm, ini lho yang aku takutkan, J, kalau aku membuka diriku lagi pada mereka, bisa-bisa hidupku gak tenang lagi... Bertahun-tahun aku coba untuk hidup berdampingan tanpa berinteraksi dengan mereka, bertahun-tahun J aku mencoba untuk gak peduli dan tetap waras, sekalipun kadang-kadang aku ngeliat anak kecil entah dari mana jalan-jalan di sekitar aku, perempuan berwajah pucat, dan lain-lain...”
“Eh wait, dimana kamu ngeliatnya?” tanya Jeremy.
“Ya dimana-mana, di rumah ini juga... Ini lagi kan rumah bekas peninggalan Belanda...”
“Gak matane sayang, ojok meden-medeni ta!” seru Jeremy seraya semakin merapat pada istrinya.
“Lho, tadi yang nanya siapa lho...” ucap Yura dengan wajah tanpa dosa.
“Aku kan Cuma nanya, ya gak perlu dideskripsikan juga sayaang...” kata Jeremy geregetan.
“Maap kalau gitu, saya yang refleks...” Yura nyengir. Dan itu tidak bisa bikin Jeremy tidak menggelitik pinggang ramping istrinya tersebut. Aduuuuh elah, tetep aja ini adegan terpaksa harus diakhiri dengan tulisan “to be continued” alias bersambung. Daripada ujung-ujungnya author dihajar readers yang jomblo, kan...
(TBC).
Sengaja aku upload hari ini biar kurang satu part, biar aku bisa fokus posting lagi. Yeayy!
__ADS_1