MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 28, BABY ADAM (ADA CERITA DI JOGJA, PART 1)


__ADS_3

[Kalian gak ada rencana ke Jogja po? Libur semester masih lama kan? Sini lah tengokin gue sama anak gue, kalian tega banget sih huaaaaa...] Pagi hari, di kost Riana. Gadis itu baru saja selesai mandi, usai mengerjakan aktifitas bersih-bersih kamar. Dan sekarang, dia heran karena Yura – sahabatnya memberondongnya dengan chat sepanjang itu, mengabarkan atas kelahiran bayinya.


[Lho mbak, kok tau-tau udah lahiran aja? Kapan bikinnya?] Yura is typing.


[Anjrit, gak berubah lo dari dulu ya, tetep bar-bar aja. Gue lahiran pas liburan di Jogja sini, di tempat mertua. Padahal HPL masih dua minggu lagi, gue pikir kalau minggu kemarin gue pulang, ya kekejar deh lahiran di SBY, eh ndelalah kok Mas J ada kerjaan dikit di Jogja, yowes akhirnya gini deh...]


[Oalaaa, berarti akan lebih lama lo di Jogja mbak? Bayi itu bisa dibawa naik pesawat umur berapa sih?]


[Kayaknya diatas 3 bulan baru boleh deh. Ya udah sih, kalau terlanjur penasaran kesini aja, Mas J pasti seneng kok kedatangan teman-teman bar-barnya...]


[Ya deh mbak, cb tak takok anak2 sek, mbok nowo mereka mau jalan2...] dan chat itupun segera berakhir.


***


Riana menyajikan nasi goreng buatannya di meja ruang tengah kos-kosan, untuk lima orang. Hari ini Wisnu, Ganesh dan Muara mau quality time disini. Rencananya, pada minggu pagi yang cukup cerah ini mereka mau nyewa studio buat jamming.


“Eh gess... Kita libur masih lama gak sih?” Riana memecah kesunyian.


“Masih kethok-e Ri, la ngopo?” tanya Muara.


“Pada inget sama Yura nggak?”


“Mbak Yura yang kita menghibur di acara nikahannya itu?” tanya Hanum.


“Iyup, bener.” Jawab Riana.


“La ngopo mbak?” kini Ganesh yang bertanya.


“Anu, dia ngundang kita semua ke Jogja, ke tempatnya Mas Jere, katanya dia udah melahirkan...” jelas Riana.


“Lho, sido tinggal nang Jogja ta dia?” tanya Muara.


“Ora, wong jare HPL masih lama tapi gak kekejar mau lahiran disini, Mas J-nya juga masih ada urusan di Jogja kethok-e, yowes sido lahir ndek kono bayinya..” jawab Riana.


“Oalah yo ayo, kabeh wae nang Jogja...” kata Ganesh.


“Lho, do setuju tah iki?” tanya Riana.


“Yo kenapa enggak sayang, liburan rame-rame kayak dulu kita itu lho. Cuma bedanya, sekarang kita nggak mencar, nyatu terus...” jawab Muara.


“La yang kalian berdua enak double date, la aku piye e?” keluh Wisnu.


“Iya ya, kasian banget kamu Nu, keburu pulang sih kemarin Mas Alit-nya, nek ora kan ben diajak sisan...” ledek Hanum.


“Sembarang mbak, sak bahagiamu wes, kok aku dikon bebojoan karo mase i piye...” sungut Wisnu. Hanum Cuma ngakak.


“Yowes bar maem kita semua packing wes, aku mesen tiket, jadi besok tinggal pancal...” kata Muara.


“Lah, sido saiki temenan ta?” Riana heran.


“La iyoo, mau kapan lagi, wes gek ndang, ben ndang mari ndang uwes...” kata Muara. Semuanya mengangguk, lalu mulai makan.


***


Keesokan paginya, di dalam kereta. Kelima anak-anak setengah nakal itu ternyata beneran jadi berangkat ke Jogja. Dan berhubung baterai-baterai mereka baru pada diisi semua, sepanjang jalan itu – di dalam kereta, adaaaa aja yang diributin.


“Sssttt reeeekk, menengo tah, do ribut wae wong papat ki Gustiii...” omel Riana.


“Mbuh ki, Mas Muara lho nggriseni ket mau,” omel Hanym.


“Hadeeeh nyesel aku ngisi baterai kalian penuh-penuh, do berisik, do gak bisa dikondisikan,” omel Riana.

__ADS_1


“Itu udah bisa dikondisikan sayang, Ganesh udah tidur tuh,” kata Muara seraya menunjuk Adiknya Riana yang duduk persis di sebelahnya.


“Halah Ganesh lak ***** sih, angger kenek bantal kenek AC, yo wes, turu...” kata Riana. Tapi syukurlah, menjelang siang, suasana berangsur tenang. Dan baterai mereka pun habis dengan sendirinya.


***


“Ehhh selamat datang di Jogjaaaa!” sambut Jeremy heboh begitu kelima anakonda, eh, anak muda itu turun dari ular besi yang membawa mereka semua dari Surabaya sampai kemari.


“Eh, Mas Jere, sehat?” tanya Muara seraya memberikan salam khas laki-laki dengan orang yang pernah menjadi boss-nya tersebut.


“Sehat. Alhamdulillah udah tiga hari jadi bapak...” jawabnya.


“Gimana rasanya bro? Nikmat a?” tanya Muara rada nakal.


“Ya campur-campur, pas proses pembuatan awal sih nikmat-nikmat aja, tapi pas udah jadi, melihat efek samping demi efek samping yang ada ya agak kasihan...”


“Tapi gak kapok buat bikin lagi kan?” tanya Muara semakin bar-bar, dan Riana harus menjewer sebelah telinganya untuk menghentikan itu.


“Ah yowes, yuk langsung ke rumah, udah mau sore ini. Kalian udah pada makan belom?” tanya Jeremy.


“Makan itu urusan belakangan mas, udah pada puas ngemil tadi...” jawab Riana.


“Alah yowes, pokoknya nanti di rumah kalian akan di-service habis-habisan deh, kayak di Sakura Hotel. Tenang-tenang...” canda Jeremy. Mereka semua tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil milik Jeremy yang sepertinya memang sudah dipersiapkan untuk penjemputan mereka, kalau dilihat dari ukurannya.


***


“Oooooh, ini Nak Muara dan teman-teman ya? Yuk, silakan masuk, ndak papa, anggap rumah sendiri aja...” Muara dan teman-temannya sedikit terkejut menerima sambutan seheboh itu dari seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar dan cantik, kendati usianya sudah tidak lagi muda.


“Gak usah heran, bunda gue emang gitu. Yuk, masuk... Yu ada dimana, Bun?”


“Yura lagi nyusuin Adam di kamarnya... Ya udah kamu temuin Yura dulu, biar bunda yang menjamu teman-teman kamu, dah, sana, dari kemarin habis istri lahiran juga kerja melulu kamu tu...” omel bundanya. Jeremy nyengir, maka setelah berpamitan, ia meninggalkan teman-teman dan bundanya, lalu masuk ke kamar, menemui istri dan anaknya.


“Iya bunda, terima kasih atas sambutannya...” kata Riana seraya tersenyum. Entah kenapa, kesan pertamanya langsung baik begitu pertama kali melihat dan mengenal ibunda dari temannya ini.


“Ya udah masuk yuk, udah mendung nih, bentar lagi hujan kayanya,” ajak Bunda Henny. Semuanya mengangguk.


***


Rumah yang ditempati Jeremy dan istrinya saat ini adalah rumah yang berkonsep setengah-setengah ; setengah modern, setengahnya lagi classic. Kalau kita lihat dari konsep tropical di beberapa pot gantung yang ditata di teras yang cukup luas itu, kelihatan kalau rumah ini ditata dengan cukup modern. Tapi kalau sudah melihat pintu kayu jati berukir dan jendela-jendela besarnya, langsung deh kerasa suasana fintage-nya.


“Ayok nak, silakan taruh tas dulu. Bunda sudah siapkan dua kamar untuk kalian. Buat laki-laki, yang sebelah kiri ya, yang perempuan di sebelah kanan,” kata Bunda Henny lagi. Kelima anak itu mengangguk. Dan sesuai arahan Bunda Henny, mereka segera menuju kamar-kamar tempat beristirahat mereka, dan meletakkan tas disana.


“Gila, tajir banget ya Mas Jere, rumahnya lho cuyyy...” puji Wisnu seraya mengamati kamar tempatnya akan beristirahat dengan tenang *eh.


“Ho-oh i, kamar yang kita juga bagus banget,” kata Riana.


“Weh, gimana rek? Wes nyaman?” tanya Jeremy, yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka semua.


“Kenapa dialog-nya jadi kayak di film Rumah Dara sih? Kita akan keluar dari sini dalam keadaan hidup kan?” canda Riana.


“Sialan lo, ya iyalah... Tuh, yuk pada ke kamar aja, Yura udah cerewet banget nanyain kalian. Tapi masuknya satu-satu ya, soalnya bayi gue latah...”


“Hah, latah gimana?” tanya Riana.


“Ya, kaget kalau ketemu orang baru,” jawab Jeremy polos.


“Anjir bukan latah dong mas kalau itu namanyaaa...” Riana geregetan.


“Yowes iyo-iyo, aku salah. Ya udah gih, bergiliran masuknya,” kata Jeremy. Riana mengangguk. Dan dia memutuskan untuk masuk lebih dulu, karena memang dia yang mengenal Yura dengan sangat baik.


***

__ADS_1


“Mbak, selamat ya udah jadi ibu...” ucap Riana tulus seraya menjabat erat tangan Yura.


“Thanks, Ri. Jujur gue masih gak nyangka lho, bisa ada di fase ini...” kata Yura.


“Gimana mbak raasanya?” tanya Riana.


“Ya happy, excited, tapi kadang-kadang kalau Adam agak nangis, agak ngerengek, gue masih agak kaget gitu... Sejak kapan sih disini ada bayi gitu kan, terus gue sadar... Oh iya deng, itu kan anak gue yak.” Riana tertawa, memukul main-main lengan Yura.


“Ganteng ya mbak anak lo, perpaduan bapak-ibunya yang pada good looking semua...” puji Riana lagi, seraya menatap sayang bayi laki-laki yang tertidur kekenyangan di atas box bayi.


“Alhamdulillah Ri... Ah enggak ah, kita nggak good looking kok, biasa aja...” kata Yura.


“So how the process?”


“Maksudnya?” Yura nggak ngerti.


“Melahirkannya lewat jalur apa?” Riana memperjelas.


“Lewat jalur mandiri, Ri. Soale pas mau lewat jalur undangan, ternyata nilai raportnya tidak memenuhi standard je...”


“Ora sisan SNM atau SBMPTN aja ta mbak?” omel Riana.


“Hahaha, iya maap-maap. Tadinya mau normal Ri, tapi karena udah satu x 24 jam pembukaan kagak lengkap-lengkap ya akhirnya SC, deh. Soale posisi bayinya udah terlilit tali pusar itu... Gue aslinya kepikiran... Iki isok selamat ora yo?”


“Tapi alhamdulillah kan mbak, ibu dan bayinya selamat semua...” kata Riana seraya mengusap pelan rambut Yura. Entah kenapa, kok dia jadi terharu sendiri menyaksikan sahabatnya yang sudah menjadi ibu seperti ini.


“Lah kenapa lo, Ri?” tanya Yura heran.


“Ora popo mbak, terharu wae...” Riana mengusap air matanya.


“You can feel it too someday, Ri. Dan Insya ALLAH, Muara adalah orang yang tepat untuk itu...”


“Halah kene yo seh suwe mbak, wong lagek arep semester 2 kok. Do’anya aja...” kata Riana.


“Yo mesti wae tho, do’a terbaik untuk sahabat terbaik juga. Cuma elo yang supportif sama apapun yang gue lakuin dari dulu, Cuma elo yang bisa memandang tulus pertemanan itu, tanpa memandang apa yang gue punya, atau gue itu anak siapa. Makanya gue betah banget temenan sama elo...” kata Yura.


“Yo kudune ngono ta mbak, hargai dulu orang lain kalau kita ingin dihargai. Dan hidup ya memang se-simple itu kan?” kata Riana. Ia tersenyum, lalu mengusap kepala Baby Adam yang masih pulas tertidur di box-nya. Yura mengangguk. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba Bunda Henny – mama mertuanya, masuk seraya membawa piring berisi buah-buahan.


“Ayo, busui cantik gek maem iki, ngelih mesti, bar nyusui ho-oh tho?”


“Halah bunda, padahal mengko wae lho ra popo, barengan cah-cah...” kata Yura.


“Wes ora popo, gizinya ibu menyusui itu harus lengkap dan terjamin kan. Ho-oh tho, Nak Ria? Eh sopo tho nduk jenengmu ki?” Bunda Henny tertawa kecil.


“Riana, bunda...” jawab Riana.


“Oh, iyo, Nak Riana. Yowes yoh, gek dipangan iku, Yu, bunda neruske leh masak yo...”


“Nggih, maturnuwun bunda...” ucap Yura tulus. Bunda Henny mengangguk, lalu meninggalkan Yura dan Riana berdua di kamar itu.


“Yowes mbak, dimakan itu buah-buahannya, gue mau ke anak-anak dulu...” pamit Riana.


“Iyo, nanti kalau Adam udah bangun, gue join ke sana deh,” kata Yura. Riana mengangguk. Lalu ia segera pergi, begitu mendengar suara-suara alat musik dari kejauhan.


***


“Masya ALLAH, ra umum pisan og wong-wong ki, wes genah-genahe ndek kene onok bocil, kok yo do jamming?” omel Riana, sesampainya ia di gazebo belakang rumah besar itu. Gazebo yang indah, karena menghadap langsung ke kolam ikan dan aneka tanaman hias di sekitarnya.


“Halah ra krungu Ri nek tekok kene, adoh wesan... Wes gabung sini, cekelen keyboard-e.” Kata Jeremy. Riana nyengir, lalu mengangguk. Rasa lelahnya akibat perjalanan cukup jauh Surabaya-Jogja langsung hilang seketika, begitu ia melihat dan mendengar sesuatu yang amat dicintainya. Musik, dan yang lain pun begitu. Music lovers sejati deh pokoknyaaa.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2