
Makan adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia karena kebutuhan. Orang biasanya makan kalau pas laper aja ya kan? Tapi gimana nih kalau misalnya di sekitar kalian ada orang yang melakukan makan karena hobi? Yah, ada lho, Riana orangnya. Seperti yang pernah author jelasin ya, Riana itu pendek, mungil, tapi berisi. Pipinya tembem, kayak bakpau. Semua itu terjadi karena hobinya dia yang satu itu : makan. Kemanapun dia pergi jalan-jalan, yang penting adalah kuliner, panganan, camilan. Wes, iku thok. Lainnya dipikir belakangan aja. Kayak pagi ini nih, tau kalau di sekitar kampusnya ada CFD alias car free day, Riana memutuskan untuk pergi kesana. Bukan niat mau jogging atau sepedaan kayak yang lain, dia Cuma pengen jajan. Soalnya emang, sih, di kegiatan CFD begitu pasti banyak tukang makanan. Jadi agak bingung akunya sama konsep CFD ini. Padahal kan kegiatan CFD itu diadakan biar pada sehat ya, karena gak ada polusi/pencemaran udara dari kendaraan bermotor. Paling-paling adanya orang lari-lari sama main sepeda, tapi sebagai ganti polusi tadi ada banyak tukang jajanan ; ada seblak, cilok, sosis bakar, pentol bakar, nasi uduk, mie ayam, bakso, belom lagi aneka minumannya ada ice cream, boba, wah! Jadi pembuangan kalori yang tadi terjadi karena jogging dan main sepeda itu berakhir sia-sia dong ya? Hihhi. Tapi nggak papa lah ya, soalnya, author kalau pas hari minggu pagi, pas kebetulan lagi main ke alun-alun atau ada acara CFD juga begitu, kok. Jalan-jalan jogging-nya 15 menit, jajannya satu jam.
***
“Halo, Ra, kamu selo nggak?” tanya Riana seraya mematut penampilannya di depan cermin.
“Aku baru bangun, Ri. Selo sih. Kenapa?” tanya Muara dari seberang telepon.
“Temenin ke CFD di lapangan deket kampus yuk,” pinta Riana.
“Sekarang ta? Mau tak jemput tah dewe-dewe?” tanya Muara.
“Lho ya jemputen ta, aku males kok kalau pergi sendirian...”
“Ya udah, bentar mandi dulu, tungguin di kost yaa,” kata Muara.
“Siaaap, hati-hati yaaa,” kata Riana. Klik – sambungan terputus.
***
“Ra, udahan yuk jalan-jalannya, istirahat apa gimana gitu, pegel nih,” keluh Riana seraya meminta berhenti untuk ke sekian kalinya. Ampun dah bocah, ini baru jalan satu putaran lho, masak sih udah capek?
“Lho, tadi kamu ngajakin ke CFD buat apaan Ri? Di CFD ya gini, orang-orang pada jogging dan atau sepedaan semua, masak kita Cuma bengong?” Muara ketawa.
“Ya iya sih, tapi kan kita udah dua putaran tadi...”
“Satu setengah,” ralat Muara.
“Iya itulah. Ya udah makanya, kita cari tempat lain aja, pegel nih...” Riana memelas. Muara menimbang-nimbang sebentar, lalu ia melihat ke kejauhan. Sejauh mata memandang, banyak orang-orang yang berpakaian seragam dengan mereka ; kaus dan celana training, pakaian sporty ala-ala. Dan sejauh mata memandang pula, banyak orang-orang yang jogging, main sepeda, sepatu roda, juga skateboard. Tapi kayaknya yang dicari Muara bukan itu, deh. MMM, terus apa, dong?
__ADS_1
“Eh, di sebelah sana ada yang jual eskrim, tuh, kesana yuk,” ajaknya.
“Nah kuwi lho sing tak karepke... Yuk!” Seru Riana bersemangat. Bayangin, sampe tarik-tarik tangan Muara segala itu dia. Duh!
***
Perjalanan mereka tidak berhenti sampai di penjual eskrim. Setelah eskrim, mereka beli sosis bakar, pentol, cilok, empek-empek, donat, roti goreng, lumpia basah, pokoknya banyak, deh. Muara aja sampai geleng-geleng kepala, dia baru lihat kegilaan Riana yang satu ini.
“Ampun dah, Ri. Jogging-nya Cuma dua puluh menit, jajannya satu setengah jam dewe,” keluh Muara seraya mengeluarkan motornya dari barisan kendaraan yang lain.
“Halah, babah wes, nggak setahun sekali ini. Lagian ini aku juga beli buat anak-anak, kok, katamu mereka mau ke kost, kan?” tanya Riana seraya naik ke atas boncengan.
“Iya sih, ya udah, dipake dulu ini helm-nya.” Kata Muara seraya menyerahkan helm kepada Riana. Gadis itu hanya mengangguk, dan mengenakan helm tersebut. Setelah itu, mereka melanjutkan obrolan sepanjang perjalanan, tertawa-tawa bersama.
***
“Buset mbak, katanya tadi mau olahraga di CFD, kok pulang-pulang bawa buntelan segini banyak?” tanya Hanum terkejut, sesampainya Riana dan Muara di kosan.
“Heh, lempar batu sembunyi tangan ya kamu. Mana ada, siapa tadi yang baru jogging satu setengah putaran udah ngerasa capek, ayo?” sungut Muara tak terima.
“Eh, udah-udah, jangan damai, eh, jangan ribut. Ya udah ini tak bawa masuk aja ya, kasihan tuh pasukan anti huru-hara di dalam pada kelaparan,” kata Hanum seraya menjinjing bungkusan plastik yang lumayan berat itu.
“Udah pada dateng ta?” tanya Riana.
“Udah, baru sepuluh menitan lalu...” jawab Hanum. Riana Cuma ber-oh saja, karena dia keburu sibuk nurunin camilan kiloan sebangsanya basreng (bakso goreng), lumpia mini, roti kering, dan keripik singkong yang masih ada di bagasi motornya Muara. Wadaw! Bisa tambah bulet ini sih nanti pipinya.
***
Bukan hanya pada hari itu saja Riaana menunjukkan sisi bar-barnya kepada Muara, ada banyak moment lain yang membuat mereka akhirnya harus pergi ke tempat-tempat tak biasa, demi bisa kulineran. Dan saking seringnya Muara nganterin Riana memenuhi hobinya yang satu itu, dia sampai bertanya, ketika pada akhirnya mereka singgah di warung pecel semanggi legendaris yang katanya sudah jarang ditemukan, bahkan di Surabaya sendiri.
__ADS_1
“Kalau misal ada orang yang ngasih duit sejuta sama kamu, kamu mau ngabisin duitnya dengan ngapain, Ri?”
“Ini sejuta sehari apa gimana?” tanya Riana balik.
“Iya, sejuta sehari...”
“Aku mau kulineran aja, ya makan-makan kayak gini...” jawab Riana santai seraya meminum es teh manisnya.
“Kenapa gak kepikiran buat shopping?” Muara heran. Riana Cuma ketawa.
“Aku tuh gak secewek itu, dan kurasa emang gak semua cewek suka shopping sih... Tapi aku yang paling akut emang, aku beli atau belanja sesuatu itu kalau emang lagi butuh aja, kalau nggak butuh ya enggak. Kalau aku punya uang banyak ya paling-paling Cuma buat makan gini, atau nggak nonton bioskop, atau beli buku-buku baru... Kan lebih berguna...” Muara menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub dengan jawaban Riana yang lugas, jelas dan tanpa bertele-tele. Menurutnya, jarang lho ada cewek yang kayak gini, lebih suka beli buku dari pada shopping barang-barang yang gak terlalu penting macam tas, sepatu atau baju, lebih suka nonton bioskop atau makan daripada jalan keliling mall dan membuang waktu percuma.
“Tapi yeah... Semua pilihan yang diambil itu pasti ada risikonya sih, buat perempuan-perempuan yang suka shopping barang-barang macam tas, baju, sepatu, mungkin akan kehabisan tempat di kamar dan rumahnya untuk meletakkan itu semua. Nah buat cewek-cewek yang hobi makan kayak aku gini, ya juga ada risikonya, karena kami akan tambah endut, badannya gak bagus, jadi, pasti bakalan susah dapet pacar...” Riana tertawa di akhir kalimat. Muara kembali terdiam, lalu mengamati pelan-pelan Riana dari atas sampai bawah. Diamatinya penampilan gadis itu baik-baik. Dari segi wajah, Riana itu punya wajah yang cenderung bulat, dengan mata besarnya yang juga bulat bundar sempurna. Hidungnya mancung, bibirnya kemerahan dan tipis, bikin orang jadi pengen cepet-cepet meng “hap”-nya tanpa aba-aba (hus!). Kalau senyum, senyumnya itu bisa sampai ke matanya, dan seperti virus, senyum itu juga menular, membuat siapa saja yang kebetulan melihatnya jadi pengen ikut tersenyum juga.
“Tapi kayaknyaa sama aja deh,” ucap Muara.
“Maksudnya?”Riana heran.
“Sama kayak statement kamu soal nggak semua cewek suka shopping, kayaknya, nggak semua cowok juga berorientasi pada fisik deh kalau nyari pasangan...”
“Apa termasuk kamu?” Ups! Riana menutup mulutnya. Dia keceplosan lagi. Biasa, susah ngerem dianya.
“Iya dong, fisik itu tidak bisa menjamin kebahagiaan, karena itu sifatnya temporary alias sementara. Saat raga sudah menua, bentuk fisik pun tak lagi sama. Masih banyak yang lebih berharga dan bernilai kalau dibandingkan bentuk fisik dan kecanntikan... Kebaikan hati, misalnya, atau kecantikan intelektual. Kalau aku sih, lebih prefer kesana, entah kalau yang lain...” ucap Muara panjang-lebar. Riana tersenyum. Entah kenapa, dia bisa begitu lega setelah mendengar statement seperti itu dari Muara. Dan dia memang berharap begitu, jangan sampai ada cowok yang datang, ngejar dan ngincer dia Cuma karena fisik. Riana nggak jelek, kok, tapi dia juga nggak cantik-cantik amat. Tengah-tengah lah.
“Eh, habis ini mau beli apa lagi kamu Ri?” Muara memecah kesunyian.
“Kayaknya cukup deh Ra, kita pulang aja, udah mau malem juga...” kata Riana.
“Okay cantik. Kalau begitu, let’s prepare!” seru Muara. Riana tersenyum. Ia senang sekali bisa menjelajahi banyak tempat-tempat kulineran yang asyik bersama Muara seharian ini. Apa lagi, Muara memang sosok yang menyenangkan untuk diajak seperti itu, ia juga memperlakukan Riana dengan sangat manis hari ini. Oh, lupa. Kalau menurut Riana sih tidak hari ini aja, setiap hari, atau kapanpun dia lagi bareng-bareng sama Muara, pasti diperlakukan dengan manis kok. Dan agaknya, pepatah Jawa lama telah bergeser bunyinya ; bukan lagi “witing tresno jalaran soko kulino”, tapi “witing tresno jalaran soko kuliner”. Eh, tapi kulino juga sih, kan mereka udah kebiasaan bareng-bareng sejak lama.
__ADS_1
(TBC).
Tahan-tahan, masih jam segini ya. Happy fasting all ☺