MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 31, THE BEST GIFT EVER


__ADS_3

Sehari pasca hari pertunjukan...


Suara sutil beradu dengan wajan terdengar di dapur mungil sebuah kos-kosan. Seorang gadis tengah fokus mengaduk-aduk isi wajan, yang juga menguarkan aroma sedap kemana-mana, membuat penghuni kamar sebelah akhirnya terbangun dan keluar dari sarang mungilnya *udah kayak tupai, ya, pake sarang segala, lalu berjalan sambil terkantuk-kantuk menuju dapur.


“Pagi,” sapa gadis yang sudah berada disana lebih dulu.


“Pagi Mbak Riri, masak apa pagi-pagi begini?”


“Weh, udah nggak pagi ini sebenernya, sudah mau setengah sebelas siang malah...”


“What?” si gadis yang terkantuk-kantuk itu terkejut. Kantuknya hilang seketika, digantikan rasa bingung dan entah.


“Serius mbak udah setengah sebelas siang?”


“Lho, tenan yooo, kamu baru bangun apa?” tanya Riana.


“Ho-oh e, pikirku masih jam tujuan tadi...”


“Wes ra popo, Han, kamu kan habis kerja keras semalaman. Oh iya, tadi jam 9 ada yang anter paket tuh buat kamu katanya. Paketnya ada di ruang tengah, belom tak buka. Coba buka sendiri...” kata Riana.


“Oalaah ndadak onok paket barang, dari siapa?” Hanum heran.


“Mbuh, aku Cuma nerima, nggak ndelok blas. Kono gek dibuka,” kata Riana. Hanum Cuma mengangguk. Maka secepat kilat ia berjalan ke ruang tengah, dan menjumpai kotak kardus lumayan besar yang terletak pasrah di atas sofa.


“Welokkk... Apaan ini? Masak tetiba ada yang ngirim beginian kesini, sih? Siapa ya? Masak Mas Alit? Perasaan gak deh, kapan bulan lalu pas dia njenguk kesini kan udah ngasih banyak banget...” ucap Hanum, lebih kepada dirinya sendiri. Maka dengan rasa penasaran tingkat akhir (emang mahasiswa?), ia membuka kardus paketan itu yang terasa ringan tapi berat, berat tapi ringan *halah.


“Hah? Cokelat? Ini cokelat beneran apa bukan sih? Masak sebanyak ini?” Hanum geleng-geleng kepala.


“Duarrr!”


“Eh kutu goreng! Ngopo je mbak?” Hanum setengah kaget, setengahnya kesel gara-gara dikagetin sama Riana.


“La kamu, ngapain bengong di depan kardus begitu?” tanya Riana heran.


“Ya nggak, bingung aja, ini lho delok-en, isinya cokelat dan banyak bangeeet...”


“Oh iya... Ada nama pengirimnya gak?” tanya Riana lagi.


“Ora kethok-e, coba aja dilihat.” Jawab Hanum. Riana mengiyakan. Maka dilihat, diraba, dan diterawangnya dengan seksama seluruh bagian dari kardus itu. Tapi kok...


“Enggak ada i, piye jal?”


“Jangan-jangan malah ada di bawah cokelat-cokelat ini?” pendapat Hanum.


“Iya kali... Coba aja dikeluarin semua.” Timpal Riana. Hanum mengangguk setuju. Maka, di sabtu siang yang cukup cerah itu – setelah mematikan kompor, Riana membantu Hanum mengeluarkan cokelat-cokelat dari dalam kardus yang sangat banyak jumlahnya itu.


“Nah kan bener, ini apaan nih mbak?” tanya Hanum setelah kardus itu benar-benar kosong.


“Ini, sebentar, aku cek...” kata Riana. Hanum mengangguk. Dan begitu dia melihat nama yang tertera, dia terkejut.


“Weh, dek... Gilaaa!” jeritnya.


“Apa mbak?” tanya Hanum.

__ADS_1


“Ini, nama pengirimnya sih gak ada, Cuma inisial doang...”


“Inisial apa?” Hanum penasaran.


“Y... W...”


“Whaaaaaattt?” Cuma dua itu thok? Dua itu?” hanum melompat dari duduknya. Ekspresinya sih kayak udah siap buat menjerit.


“Eh, ada amplopnya njir, sek, dibuka dulu...”


“Aduh apaan lagi sih nih? Plot twist-nya gak udah-udah,” keluh Hanum.


“Bentar-bentar... Kalau ini misalnya... Misalnya...”


“Misalnya apaan?” Hanum tak sabar.


“Haaaanuuuuuum, selamaaaaat!” seru Riana histeris seraya melompat memeluk Hanum yang nyaris terjengkang karena nggak siap.


“Astaga iki opo neeeeeh? Ngopo mbak?” tanya hanum. Ia setengah mati berharap ini berita baik, tapi gak semendadak ini juga kan bisa. Kalau dia kena serangan jantung, terus jantungnya harus mendadak diganti sama jantung pisang gimana coba? Repot dong.


“Konser, Bahaya (Mantan), terindah, Gold, untuk dua orang...” ucap Riana pelan.


“Hah serius? Mbak, jangan becanda lah! I-Ini emang harinya sih, ta-tapi...”


“Malam ini, Tunjungan Plaza, jam tujuh...”


“Mbaaak demi apaaaa?” Hanum histeris, ia menutup wajahnya, ia menangis. Kebahagiaan serasa membuncah dari berbagai arah.


“You deserve it, Han, untuk semua yang udah kamu lakukan dengan sangat baik, untuk ujian kamu, untuk totalitas kamu dalam pagelaran...”


“Big no... Untuk sesuatu pengorbanan yang besar, harus ditutup dan dibayar dengan sesuatu yang besar pula, Han, prinsipku gitu...”


“Tapi ini Cuma dua tiket, aku harus nonton sama siapa mbak?” Hanum menggelengkan kepalanya, kebingungan.


“You can watch this with... Hayo, siapa yang udah punya planning jauh-jauh hari nonton ini?” tanya Riana. Hanum berpikir sejenak. Dan pikirannya langsung melayang kepada Ganesh. Ja-Jadi... Haruskah?


“Kalau kami nonton berdua, mbak dan lainnya gimana?” tanya Hanum polos.


“Tenang saja adikku, aku, Muara sama Wisnu udah beli kok. Tapi kita beda kelas, kita festival...”


“Te-Terus gimana?” tanya Hanum lagi.


“Nggak gimana-gimana dong, dodol. Siapin kostum terbaikmu buat entar malam, terus mbak mau kabarin Ganesh dulu. Kita berangkat sama-sama dari sini...” kata Riana. Meski kebingungan, Hanum terpaksa mengangguk, biar sajalah. Toh nanti malam, semua ini akan jelas baginya.


***


“Gimana Ri? Surprise banget gak si Hanum nerimanya?” tanya suara di seberang sana.


“Surprise banget mas, nangis tadi anaknya... Cuma dia penasaran sama siapa sebenernya pemberi semua hadiah itu. Soalnya, di kertas nama pengirimnya gak ada, Cuma inisial thok...” jelas Riana.


“Siapa inisialnya?”


“YW...”

__ADS_1


“Ya itu dia, idola kalian berjamaah...”


“Wait... Maksudnya itu orangnya langsung gitu? Ini beneran?” kini ganti Riana yang terkejut.


“Iya, Ri, dan bahkan orang itu adalah orang yang nonton pagelarannya Hanum kemarin juga...”


“Whaaaaaattt?”


“Ah elah, wat-wot aja... Hanum mana?” tanya sosok itu tak sabar.


“Itu, lagi make up...”


“Mana? Sini gue mau ngomong.”


“Oke, wait...” Riana masuk ke dalam kamar Hanum, memperhatikan gadis itu yang masih asyik menata rambutnya.


“Hey!” Riana mengaktifkan loud speaker, supaya Hanum bisa mendengar suara lawan bicaranya.


“Hai Mas J, tumbenan telepon nih. Udah di Surabaya lagi kah?” tanya Hanum.


“Udah dari bulan April dek, Baby Adam lho udah mau lima bulan... Gimana, seneng gak sama hadiahnya?”


“Seneng banget mas, aku gak percaya lho, padahal udah hopeless banget, kayaknya gak akan bisa deh nonton konser itu...”


“Berarti harusnya kamu juga percaya dong kalau yang kasih semua itu, cokelat dan tiket itu adalah si penyelenggara konser itu langsung?”


“Hah?”


“Kamu mau ngomong sama orangnya langsung ta? Dia ada di sebelahku lho.”


“Are you kidding me?” Hanum menjerit, mengejutkan Riana yang ada di sebelahnya.


“Ya udah, kalau gak percaya, see you tonight yaa, cepetan make-up-nya, open gate mulai jam tujuh lho...”


“Ini masih jam lima, mas...”


“Lebih cepat lebih baik, jangan sampai kamu menyesal oke? Yowes lanjut make-up sana!”


“Yeee, dasar. Nih mbak, HP-nya...” kata Hanum.


“Yowes, mbak tunggu di depan ya...” kata Riana. Hanum mengangguk, melanjutkan menata rambutnya.


***


“Gak ada yang ketinggalan, kan?” tanya Riana seraya mulai bersiap mengunci pintu. Kos-kosan, sore hari. Dan mereka berlima memutuskan tempat ini sebagai BaseCamp sebelum berangkat ke lokasi konser.


“Nggak ada, mbak, semua aman...” jawab Hanum. Riana segera mengunci pintu. Tapi sebelum mereka benar-benar berangkat dengan taksi online yang sudah dipesan masing-masing (mereka tidak satu mobil), seseorang datang dan mengejutkan mereka semua.


“Lho, aku telat ya? Ah, untung belom pada jalan.”


“Lho, Dian? Lo sama siapa perginya?” tanya Hanum.


“Wisnu...”

__ADS_1


“What?


(TBC).


__ADS_2