
Tidak terasa, program “The Gost Hunter” milik D FM sudah berjalan hampir 5 bulan. Selama itu, tidak ada masalah yang terjadi. Hanum juga menjalankan perannya dengan sangat baik. Tapi pada hari ini, semua berbeda.
***
Kantor D FM, malam hari. Hanum memasuki ruangan dengan perasaan yang – sepertinya – sudah biasa. Mau gimana lagi, sudah mau enam bulan dia berjibaku dengan hal-hal semacam ini, setidaknya setiap hari Kamis atau menjelang hari Kamis (untuk proses record, kayak sekarang).
“Han, Mas Ra sama Ganesh tunggu di depan ya. Kamu nggak papa kan ke studio sendiri?”
“Iya mas nggak papa, di ruangan biasa ada Kak Sammy, aku dibantu dia kok. Operator program malam itu...” kata Hanum. Muara mengiyakan, setelah mengantar gadis itu ke dalam studio, ia duduk bersama Ganesh dan memesan siomai yang mangkal di depan kantor radio tersebut.
“Mas, kok malam ini kayaknya rada beda ya?” Ganesh memecah kesunyian.
“Beda gimana?” tanya Muara.
“Yo mbuh, tapi firasatku nggak enak gitu lho...”
“Halah uwes, tenang, semua akan baik-baik aja kok kayak biasanya. Ya udah yuk, dimakan siomainya.” Kata Muara. Ganesh Cuma mengangguk. Tapi tetap aja, feeling-nya gak enak.
***
Sementara itu, di dalam studio...
“Halo Kak Sammy!” sapa Hanum riang.
“Ah, akhirnya ada temen juga...” ucap lelaki bernama Sammy itu seraya menyalami Hanum.
“Halah biasa aku teko rene kan yo jam-jam yak mene kak, kok yo koyok sing kesepian ngono...” Hanum tertawa.
“Akhir-akhir ini suasana studio agak beda lho Han, sepinya lho gak kayak biasanya...”
“Halah lak yo jenenge bengi, mesti wae sepi kak, piye tho kowe ki...”
“Yowes, mungkin efek jomblo juga kali. Mau recording sekarang ta?” tanya Sammy.
“Yo iyo, kapan lagi? Keburu tambah malem nih, wedhi aku yoan. Yuk,” ajak Hanum. Sammy mengiyakan. Dan proses recording-pun dimulai.
***
“Saat aku sedang asyik menatap layar komputer, tiba-tiba saja, kantor ini terasa gelap...” Tap!
“Innalillahi... Apa ini?” Hanum shock. Baru selesai kalimat cerita yang dibacakan Hanum, tiba-tiba lampu studio mati. Suasana langsung benar-benar gelap, sesuai apa yang telah dibacakan.
“Kak Sammy, kak...” panggil Hanum panik. Hening, tidak ada suara. Tak mau tinggal diam dan berakhir mati ketakutan, Hanum segera bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju ke luar.
“Alamak, pintunya kekunci! Ya ALLAH!” Hanum semakin ketakutan. Matanya – yang masih bisa melihat cahaya, merasakan kegelapan yang pekat di sekitarnya.
“Ya ALLAH, Kak Sammy, Mas Ra, Ganesha, buka pintunya!” jerit Hanum mulai putus asa. Tapi ia tidak boleh panik, sungguh, dalam situasi seperti ini, dia harus tetap tenang dan bisa berpikir jernih.
“Ya ALLAH, kenapa sih nih? Apa jangan-jangan aku di-prank?” ucap batin Hanum.
“Mas Ra, Kak Sammy, kalian ngerjain aku ya?” tanya Hanum lagi, masih mencoba berpikir jernih. Dan satu-satunya hal yang harus ia rutuki sekarang adalah, ponselnya yang mati kehabisan baterai.
Hanum mengatur napasnya. Dia harus bisa menguasai diri, supaya dia bisa keluar dengan selamat dari sini. Pilihannya sekarang Cuma dua, keluar dengan selamat, atau mati konyol karena ketakutan di dalam studio ini.
“Kamu, jangan membuatku marah...”
“Hah? Astaga! Ini apa lagi?” Hanum terkejut. Tiba-tiba ia mendengar suara – sepertinya suara wanita, dan lalu... PRAANGG!
“Aaaaaaaaaaaaa!”
***
Ganesh memainkan ponselnya gelisah. Tiga jam telah berlalu dari masuknya Hanum ke dalam studio. Dan sekarang, dia nggak keluar-keluar. Apa take record-nya masih lama, ya?
“Aduh, ni tempat sepi banget sih? Mana Mas Ra lagi ke minimarket bentar... Bentar apanya coba, udah setengah jam lho ini...” rutuk Ganesh sendirian.
“Lho, masnya belum pulang ta?” tanya mas-mas penjual siomai yang ternyata kembali lagi ke kawasan kantor radio itu.
__ADS_1
“Eh iya mas, ini saya nunggu teman saya, sama pacar saya ada di dalam, lagi record program...”
“Lho, maksudnya DJ Hani kan? Biasanya dia sama Mas Sam di dalam, tapi udah dua hari ini, Mas Sam izin ke luar kota, mau nengok ibunya yang sakit atau apa gitu. Tuh liat, orang kantornya dalemnya gelap begitu...”
“Hah? Yang bener, mas?” Ganesh terkejut mendengar penjelasan tukang siomai tersebut.
“Bener, mas, mending masnya masuk aja ke dalam, deh, terus diperiksa, takutnya pacarnya kenapa-napa, la emang masnya gak tau ya kalau kawasan kantor ini tu angker? Apa lagi ini bangunan lama, dan ada latar belakang mengerikan disini...”
“A-Apa? A-Angker? Mas, jualannya udah beres belum?” tanya Ganesh yang mulai ketakutan.
“Udah kok mas, kan rumah saya di belakang kantor ini. La ngopo?”
“Ayo ikut saya ke dalam, temenin saya. Nanti saya bayar,” kata Ganesh pelan.
“Oh nggih mas, gak usah dibayar gak popo, saya bantu. Ayo ke dalam,” kata tukang siomai itu lagi. Ganesh mengangguk. Diambilnya tongkat lipat dari dalam tasnya, lalu, bersama mas-mas tukang siomai itu, ia melangkah ke dalam kantor D FM yang gelap gulita.
***
“Masya ALLAH, mbaknya pingsan!” seru si tukang siomai begitu ia sampai ke dekat tangga. Mendengar seruan yang sangat panik itu, Ganesh segera mengikuti, dan benar, di sana – tepat di bawah tangga, kekasihnya tergeletak pingsan dengan pelipisnya yang mengucurkan darah segar.
“Mbak, mbak... Mbak Hanum!” serunya panik. Ganesh membuka tasnya, mencari ponsel, lalu ia menghubungi Muara.
“Halo Nesh, sorry, tadi paketku abis, ini baru ngisi di minimarket. Kenapa?”
“Mas... Ke dalam kantor aja mas, penting mas!”
“Lho, sek talah, kenapa panik begitu kamu, Nesh?” Muara heran. Ia segera mempercepat langkahnya menuju kawasan kantor D FM.
“Penting mas pokoke, nanti tak jelaskan, yang penting, sampean kesini dulu...”
“Lho, kamu udah nggak di depan ta? Ini aku udah sampai, kamu dimana?” tanya Muara sambil celingukan.
“Aku di dalam mas, sama tukang siomai. Wes talah melebuo sek!” seru Ganesh – setengah tak sabar.
“Yowes iyo-iyo tak mlebu...” kata Muara akhirnya.
***
“Buset jam berapa sih? Aih, baru jam enam? Siapa itu heboh banget di luar?” Riana penasaran.
“Mbak, cepet buka pintunya!”
“Ganesh? Kamu di luar?” Riana makin kaget.
“Iya mbak, cepet buka pintunya!” seru Ganesh. Tanpa sempat mencuci muka apa lagi merapikan rambut, gadis itu langsung membuka pintu kamarnya. Dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang anak laki-laki tinggi tegap dengan wajah yang kuyu dan kusut.
“Nesh? Ada ap...”
“Ayo ikut ke rumah sakit sekarang, mbak!”
“Rumah sakit? Ada apa?” Riana nggak ngerti.
“Mbak Hanum ada di sana, ini aku diantar Mas Ra ke sini, Mbak Yura dan suaminya udah tak kabarin semalam...”
“Hah? Hanum kenapa? Sakit?” tanya Riana yang mulai panik.
“Ada kecelakaan kerja mbak. Ceritanya panjang, mending kita ke rumah sakit dulu aja...” kata Ganesh.
“Ya udah iya, mbak cuci muka bentaran, Nesh!” seru Riana. Ganesh Cuma sempat mengangguk. Dan lima belas menit kemudian, tiga orang sudah menaiki taksi online dalam keadaan saling diam.
***
“Maafin gue...” isak Yura dalam pelukan Riana.
“Ini sebenernya ada apa sih? Gue pusing nih, gue baru bangun banget terus langsung disuruh kesini, tanpa tau ada apa sebenernya...” kata Riana putus asa.
“Aku nggak tau kronologi sebenernya tuh gimana mbak, tapi pas aku masuk emang studionya sepi gitu, nggak ada siapa-siapa, padahal Mbak Hanum bilang ada Sammy yang akan bantu...” jelas Ganesh.
__ADS_1
“Terus hubungannya sama Hanum bisa dirawat disini tuh apa?” tanya Riana.
“Kita menemukan Hanum sudah dalam keadaan pingsan dan pelipisnya berdarah, Ri, mungkin jatuh dari tangga. HP anak itu mati semalam, dia lupa charge, terus...”
“ALLAH... Kok bisa begini sih? Kenapa gak ada yang kasih info atau mencegah Hanum buat recording semalam?” tanya Riana emosi.
“Maaf Ri, gue lupa...” isak Yura.
“Gue bilang juga apa mbak! Ide lo ini gila, dan sekarang udah nyelakain orang kayak gini. Dan jangan bilang juga lo lupa kalau sebenernya, kantor D FM itu angker, dan baru ada rencana dipindah lokasi kan sekitar dua bulan lagi, dan project horror sialan lo ini sekarang makan korban kan?”
“Ri, sabar...” kata Muara seraya menepuk pundak gadis itu.
“Jangan teriak-teriak mbak, ini rumah sakit.” Peringat Ganesh.
“Sekarang kondisi Hanum gimana?” tanya Riana, masih dalam mode marah.
“Udah sadar, tapi belum stabil mbak, masih shock...”
“Gue harus liat sendiri!”
“Nanti aja Ri...” ucap Jeremy.
“Gue harus liat gimana kondisi adik gue! Ini semua gara-gara istri lo mas! Coba kalau dia bisa sedikit lebih sabar untuk nahan ambisi dan keinginannya, semuanya pasti nggak bakal kayak gini!” Yura bersandar lemas di kursi tunggu rumah sakit. Dia baru melihat Riana yang semarah ini. Dan, rasanya memang wajar, bila mengingat dia sendiri sangat menyayangi Hanum. Jeremy menepuk-nepuk pundak sang istri, mencoba membuatnya merasa lebih rileks dan tenang. Bukan dia mau membela istrinya, tapi, siapa juga yang mengira kalau akan ada kejadian seperti ini?
***
Laki-laki berwajah oriental itu menaiki lift dengan tampang yang panik. Ia baru saja tiba dari Lombok kemarin, dan harus langsung dapat kabar bahwa di kantor tempatnya bekerja baru saja terjadi sebuah tragedi, dan melibatkan salah satu penyiar. Seandainya ia tidak terlalu panik malam itu, mungkin saja ia bisa mengkomunikasikan duluan semuanya sama penyiar cantik itu, bahwa dia gak perlu datang ke studio malam-malam bila dirinya tidak ada. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang, ia harus segera meredakan situasi panik yang ada.
***
“Sammy...” ucap Yura yang masih menangis.
“Mbak, sebenernya gimana ini ceritanya? Kok jadi begini semuanya...” ucap lelaki itu seraya mendudukkan dirinya di kursi tunggu seberang Yura.
“Entah awalnya persisnya gimana juga gue nggak ngerti... Tapi kayaknya, penunggu gedung itu marah lagi... Beberapa tahun lalu juga pernah katanya ada kejadian begini, dan malah menghilangkan nyawa salah satu penyiar juga...”
“Ya Tuhan... terus gimana mbak? Gue ngerasa bersalah lagi sama Hani, gue panik soal emak gue, sampai lupa bilang sama dia kalau selama duahari, gue izin...” Sammy menggaruk-garuk kepalanya.
“Ko Sam, dateng jam berapa lo?” tanya Riana, yang baru saja keluar dari dalam ruang rawat.
“Baru kok Ri. Gimana Hani?” tanya Sammy.
“Lumayan ko, tapi belom bisa banyak ditanya, kepalanya mengalami benturan yang cukup hebat pas jatuh dari tangga itu, jadi dia lebih banyak tidur karena pusing...”
“Maaf ya Ri, maaaaf banget soal ini...” kata Sammy sungguh-sungguh.
“Semua orang mendadak minta maaf, gue jadi pusing, beneran. Semua kejadian hari ini masih gak nyangkut di otak gue sama sekali, Ko...” keluh Riana.
“Cowok lo mana?” tanya Sammy lagi.
“Lagi pulang, ini gue juga mau pulang, mau ambil pakaian ganti. Nanti siapa yang jagain Hanum kalau gue nggak kesini?”
“Pulang lah, Ri, gue tunggu Hanum disini. Nanti kalau lo udah balik lagi, gue baru minta jemput Mas J,” kata Yura pelan.
“Adam sama siapa di rumah mbak?” tanya Riana, dengan nada yang sudah mulai kembali bersahabat. Dia menyadari bahwa tadi, dia juga salah karena udah bentak-bentak dan nunjuk-nunjuk Yura, karena terlalu panik dan stress sama kejadian ini. Satu pelajaran lagi hari ini, jangan terlalu mengedepankan emosi atas apapun yang terjadi, dan pikiran yang jernih akan membuat semua yang terasa sukar lebih terasa mudah.
“Adam gue titip di tempat mama dulu, Ri...” jawab Yura pelan.
“Yowes gue pulang dulu mbak, nanti gue balik lagi. Ya, Mbak Yu, Ko Sam, gue duluan...” pamit Riana. Kedua orang itu hanya mengangguk. Ah, sudahlah, mari kita istirahat sejenak. Masih banyak waktu dan hari untuk menyimpulkan semua kerumitan ini, terutama tentang kawasan kantor D Fm. Ada latar belakang mengerikan apa sebenarnya di tempat itu?
(TBC).
Haiiii... Masih pada setia sama cerita ini kah?
Tolong maafkan ke-slow-update-an ini, author baru sibuk UAS nih. Insya allah selama beberapa waktu bisa continue upload lagi hehe.
Gimana, takut gak nih setelah baca ini? Yowes selamat takut, ya, author mau lari aja ah, dadaaaah.. Happy reading...
__ADS_1
Tiati, ini malam jumat lho 😂😂😂