
“Mbak, aku nyangkut!” jeritan heboh seseorang menghebohkan suasana pagi hari nan syahdu di sebuah kamar hotel di Kota Malang.
“Ngopo je Han?” tanya Riana seraya buru-buru menghampiri Hanum. Dan dia sukses melongo lalu ngakak melihat gadis itu yang terlihat lucu dan gak karuan dengan gaun panjangnya yang tersangkut di tepi kursi. Mana aksesoris pelengkap gaun itu belum selesai dipakai semua lagi.
“Astaghfirullah... Kok bisa begini?” Riana terkikik seraya membantu Hanum berdiri dan merapikan gaunnya yang memang terlihat rumit itu.
“Ck, lagian ide siapa sih aku harus pake beginian? Ribet banget!” omel Hanum.
“Ini cantik dek, nggak ribet. La kamu gak ngomong kalau susah, kan bisa tak bantu... Wes kene, tak pakein semua...” kata Riana lembut. Hanum mengangguk, lalu membiarkan gadis itu membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan.
“Cantik kamu dek, kayak boneka, serius,” puji Riana seraya memakaikan pita terakhir pada untaian rambut Hanum. Gaun putih dengan model rok mekar yang ditambah aksesoris pelengkap dari kalung hingga anting-anting – yang semuanya terbuat dari mutiara, kiriman dari Yura dan Jeremy yang baru saja liburan ke Pulau Lombok, belum lagi make-upnya yang supranatural *eh, natural, semakin memperkuat kecantikan gadis itu yang seolah sudah terjadi dengan sendirinya.
“Yuk keluar, habis ini kita berangkat ke tempat masing-masing. Bisa jalan gak?” ledek Riana yang setengah mati pengen ngakak ngeliat Hanum yang tampak tersiksa dengan gaun yang dia kenakan.
“Bisa mbak, asal gak disuruh sprint aja,” sungut Hanum.
“Astaga si adek... Senyum sayang, udah cantik gini kok... Yuk, jalan...” ajak Riana. Hanum mengangguk.
***
“Cantiknyaaaa...” ucap Wisnu dan Muara tanpa sadar, begitu Riana dan Hanum datang menemui mereka.
“Mau foto dong...” kata Ganesh seraya buru-buru mengambil tempat di sebelah Hanum.
“Iya siap, ayo tak fotoin...” kata Muara seraya buru-buru mengatur posisi yang pas untuk keduanya.
“Cantik kamu mbak...” puji Laras yang ternyata sempat gak sengaja megang gaun Hanum.
“Thanks, Ras...” jawab Hanum.
“Tapi kayaknya sampean gak biasa ya pakai gaun kayak gitu, jadi nggak keliatan luwes gitu...”
“Maksude piye, Ras? Kamu mau nunjukin kalau kamu lebih mampu menguasai pakaian ini daripada aku, terus nanti Ganesh akan lebih tertarik sama kamu gitu? In your dream...” jawab Hanum acuh seraya melangkah menjauhi gadis itu, memegang tangan Ganesh – setengah menariknya agar menjauh dari perempuan adik tingkatnya itu. Laras seketika terdiam, wajahnya masam akibat ucapan Hanum yang telak dan benar sesuai dengan isi kepalanya. Sementara Riana, dia sukses melongo. Belum pernah dia menghadapi Hanum dalam mode cemburu seperti ini. Ternyata ngeri juga ya.
“Eh, ya udah, yuk sarapan. Acaranya kan mulai jam delapan,” ucap Muara, mencairkan suasana yang sedikit kaku akibat perseteruan dua perempuan tadi.
“Yuk, kita makan orang, eh salah...” jawab Hanum acuh seraya mendahului langkah. Dan ganesh tetap setia memegang tangannya, karena takut dengan perubahan mood Hanum yang bisa saja terjadi tiba-tiba.
***
“Hanum, semangat ya. Jaga mood. Lo gak papa ta gue tinggal sendiri?” tanya Dian seraya mencarikan tempat duduk yang pas dan tepat untuk Hanum.
“Iya Yan, gak papa... Gue harap si kadal gak berbuat ulah di vocal group, biar gimana juga, dia kan anggota dari lomba yang diikuti Mbak Riri...”
__ADS_1
“Kadal? Kadal siapa?” Dian heran.
“Laras woi... Gue manggil dia kadal karena... Gak tau, pokoknya kadal itu hewan yang jelek, dan Laras itu ya, kayak gitu...” jawab Hanum seraya memperbaiki rok gaunnya agar tidak menghalangi peserta lain nanti.
“Astaga arek kok... Ya udah, tak tinggal lho ya, kalau ada apa-apa minta bantuan sama peserta sebelah aja, atau kalau beneran darurat, telpon gue...” kata Dian.
“Beres... Santai aja, gue bawa tongkat kok,” kata Hanum.
“Oke deh kalau gitu. Good luck ya, cantik,” kata Dian seraya menjawil pipi Hanum.
“Lo juga ya Yan, do the best...” Kata Hanum tulus.
“Iya, siap. Gue kesana ya. Semangat, gak usah grogi wes...” kata Dian. Hanum mengangguk. Kini ia memfokuskan telinganya kepada puluhan peserta lain – yang sudah mulai berdatangan. Dan gadis itupun mulai kembali tegang. Semoga ia berhasil menampilkan yang terbaik.
***
Sementara itu, di tempat lomba yang putra...
“Nesh, ini kursimu sebelah sini. Mbak tinggal gak papa ya?” kata Riana seraya mengarahkan sang adik ke tempat duduk yang telah disediakan.
“Iya mbak. Mbak semangat ya... Oh iya, kalau Andre pecicilan tanya-tanya soal Hanum, gak usah dijawab ya...” kata Ganesh.
“Iyaaa, buset dah ngadepin dua orang yang sama-sama cemburuan gini bikin repot emang. Yowes mbak tinggal dulu. Kalau ada apa-apa, pokoknya silakan minta tolong sama teman sebelahnya, atau kalau darurat, telpon aja oke?” kata Riana.
“Iya-iya. Yowes mbak cabut ya. Good luck, Ganesha...”
“Sip, mbak juga...” kata cowok itu seraya mengacungkan kedua jempolnya. Riana keluar dari ruangan lomba menyanyi untuk putra seraya tersenyum senang. Nggak nyangka, dia bisa berada dalam situasi yang seperti ini terus bersama sang adik ; saling support, saling menyemangati. Ah, bahagianya.
***
Restaurant hotel, siang hari. Sesuai kesepakatan bersama, Riana CS tidak bergabung dulu dengan anggota vocal group. Mereka tidak mau Andre atau Laras merusak suasana seperti tadi pagi. Akhirnya mereka berpisah meja untuk kegiatan makan siang.
“Aduh!” baru saja acara makan dimulai, teriakan Laras sudah membuat seisi ruangan menengok.
“Apa, Ras?” kata Ganesh refleks seraya mendekati gadis itu.
“Tanganku kena pisau, susah nih motong dagingnya...” lirih gadis itu seraya mengusap jari tengahnya yang sedikit terluka itu.
“Minggir!” seru Hanum. Ia mendorong Ganesh sampai sedikit menjauh dari Laras dan segera membantu gadis itu.
“Kalau kesulitan itu, minta tolong, non, bukan cari perhatian, apalagi cari perhatian dari laki-laki yang sudah punya pasangan. Paham?” ucap Hanum pedas seraya membanting pisau pemotong daging steak itu agak sedikit keras di samping piring Laras yang sekali lagi merasa kalah telak.
“Hanum, sorry, gue nggak merhatiin anak itu...”
__ADS_1
“Nggak semua tunanetra semandiri gue atau Ganesha, jadi, tolong diawasi dan diurus baik-baik itu bayi. Daripada gue lempar nih bocah dari lantai tertinggi hotel ini. Paham?” kata Hanum marah.
“I-Iya Han, sekali lagi, sorry,” kata Rendra yang merupakan leader dari vocal group yang beranggotakan Muara, Riana dan Wisnu di dalamnya. Hanum segera meninggalkan meja itu, dan kembali ke kursinya.
“Apa pegang-pegang?” sentaknya pada Ganesh.
“Ssssttt, Han... Tenang dulu... Lo jangan terlalu emosi. Soalnya...”
“Yang mancing dia kok,” ucapnya seraya menuding Ganesh yang sukses tak berkutik.
“Mbak...” kata Ganesh ketakutan.
“Udah, pada makan dulu... Nanti habis ini, kita kasih waktu berdua buat kalian ngobrol ya...” kata Riana. Alamak... Kenapa sih selama event lomba ini isinya tentang cemburu semua? Kemarin, Muara yang cemburu sama Abhi. Sekarang, saling cemburu antara Hanum dan Ganesha. Sebenernya ini tuh kenapaaa? Apa ini ada hubungannya sama sosok author yang juga cemburuan? *eh. Yowes lah, mari kita lanjutkan ceritanya.
***
Ketegangan mengisi seluruh admosfer ruangan. Sekarang adalah pengumuman tentang semua peserta yang masuk final dari semua cabang lomba.
“Untuk menyanyi keroncong putri... Peserta pertama yang masuk final adalah, Indah Permata Arunika...” MC mulai menyebutkan nama-nama peserta, dan dimulai langsung dari cabang menyanyi lagi. Selanjutnya nama demi nama terus disebutkan, hingga akhirnya.
“Peserta terakhir yang masuk babak final adalah... Dian Marisa Ayu!” Euforia tak terkira datang dari rombongan kampus Riana CS, demi mendengar salah satu nama delegasi perwakilan dari institusinya masuk final dalam sebuah lomba.
“Sekarang, untuk lomba menyanyi pop putri...” kata MC lagi. Ruangan kembali hening. Beberapa nama kembali disebutkan, hingga sebuah nama yang ditunggu-tunggu pun terdengar.
“Hanum Maisha Kartika, selamat, kamu peserta berikutnya yang lolos ke babak final!” sekali lagi euforia tak terkira. Hanum dipeluk dari berbagai arah. Dan yang mengejutkan, Laras juga ikut memeluknya. Selanjutnya cabang-cabang lain ; seperti seriosa putri dan putra yang diwakili oleh Erin dan Marco, lalu Ganesha juga masuk vinal untuk pop putra, dan Angel Voice (vocal group), juga menyusul masuk. Oh iya, untuk keroncong putra juga ada pesertanya, dia kakak tingkat, namanya Mas Darrel, dan dia juga lolos.
***
“Yeay, congratulation for us!” seru Muara, seraya melompat langsung ke tengah-tengah kolam renang hotel. Untung dia mendarat dengan benar disana. Aksi lompat-lompatan bak kodok ini juga diikuti oleh teman-temannya yang lain, sampai Hanum dan Ganesh-pun gak ketinggalan untuk ikutan. Tapi begitu Laras mau melakukannya juga, dia malah tergelincir. Dan sebelum cerita ini berubah jadi bak drama Korea dan drama cemburu-cemburuan lagi, Andre keburu ikutan terjun dan menangkap tubuh mungil Laras.
“Hati-hati, Ras...” ucapnya seraya tetap memegang tubuh mungil itu yang masih bergetar karena ketakutan.
“Te-Terima kasih, Ndre... Aku gegabah emang, hadeeeh...” kata Laras pelan.
“Iya, sama-sama. Yuk ke tengah sama aku. Berani gak?” tawar Andre.
“Aman ta?” tanya Laras.
“Aman. Trust me... Yuk,” ajak Andre lagi. Laras mengiyakan. Dan bersama berdua mereka pergi ke tengah menyusul anak-anak yang lain, tanpa menyadari kalau seluruh teman-teman sudah bersuit-suit menggoda mereka.
“Benih-benih cinta baru kayaknya ya?” komentar Riana.
“Gitu dong... Kan mending kalian berdua aja yang jadi, daripada ngejar-ngejar yang udah saling memiliki dari sebelum kalian hadir kan...” timpal Wisnu. Baik Andre dan Laras sama-sama memerah wajahnya. Tapi kalau dipikir-pikir, kata-kata Wisnu tadi juga gak salah sih. Buat apa mereka terus mengejar yang selamanya hanya akan menjadi angan, sementara mereka berdua juga sebenernya punya kans bersatu yang juga cukup besar? Eh, tapi lebih dari itu, selamat ya buat kalian. Let’s fighting, perjuangan belum selesai lho yaa.
__ADS_1
(TBC).