
Pagi hari, di Kost Srikandi. Kesibukan tampak hampir di seluruh ruangan, seolah di tempat ini akan diadakan hajatan besar-besaran. Anak-anak kost putri, dengan terkantuk-kantuk berada di dapur, sedang memasak berbagai hidangan. Anak-anak kost putra, sebagian mengangkati meja dan kursi, lalu yang sebagiannya lagi menggelari lantai dengan beberapa helai tikar dan atau karpet. Dan di antara semua hiruk-pikuk kesibukan itu, Riana hadir, dan tampak bekerja lebih banyak dari yang seharusnya dia kerjakan. Padahal Bu Dian – pemilik kost, sudah mewanti-wantinya agar diam di tempat saja, biar teman-temannya yang mengerjakan. Toh ini juga acara syukuran yang diperuntukkan untuk dirinya. Tapi dasar Riana, tangannya gatal kalau tidak ikut terjun membantu pekerjaan mereka.
“Mbok uwes tho, Ri, iki lak acaramu, masak kamu juga yang terjun?” kata Bu Dian, begitu melihat Riana yang begitu cekatan menata kerupuk-kerupuk udang di plastik.
“Yo gak papa tho bu, emang kita mau mantenan apa yang saya gak boleh ikut kerja sama sekali, orang ini Cuma syukuran aja...” Riana tersenyum. Sekarang ia beralih pada buah-buahan yang masih berada di keranjangnya, belum tertata. Urusan perkerupukan diserahkannya kepada yang lain.
“Halo, Yo, dimana kamu?” suara Selena yang sedang bercakap-cakap di seberang telepon.
“Di rumah, mbak, baru bangun aku. Kenapa?”
“Ha mbok kamu tuh kesini tah, bantuin, udah tau di kost tu lagi repot...” omel Selena.
“Yaaa, bentar siangan deh aku kesana... Semalam malem banget aku habis jamming, terus nganter Mbak Carissa pulang...”
“What? Kamu nganter Carissa? Ngapain?” teriak Selena. Sadar posisi dia di hadapan semua orang, gadis itu buru-buru keluar dan melanjutkan omelannya.
“Kenapa Selena?” tanya Riana heran.
“Ya gitu deh, lagian sih, Dyo itu kan gitu orangnya, bisa care sama semua cewek, ya jelas diamuk lah sama Selena...” jelas Milia.
“Yah... gue tau kok persisnya Dyo itu gimana, dulu juga kan sempet ngincer gue tu anak, tapi ya kali, gue sama bocah... Itu Selena masih nerusin acara berantemnya?” tanya Riana.
“Enggak, udah balik ke dalam,” jawab Milia. Riana mengangguk. Lalu seperti tak terjadi apa-apa, ruangan itu kembali sibuk dengan aktifitas persiapan acara syukuran.
***
Sebenernya ini acara syukuran apa sih? Kenapa harus se-heboh ini? Baiklah, Esmeralda, akan aku jelaskan tahun depan (lho!). Sekarang maksudnya.
Diceritakan di season 1, bahwa Riana ini akhirnya keterima kuliah di salah satu PTN terbaik di Indonesia. Jadi Bu Dian, selaku pemilik kost, merasa ikut bahagia dengan kabar ini, sehingga sebulan lalu, diputuskanlah untuk diadakan syukuran sederhana, yang akan dilaksanakan pada sore hari ini.
“Ri, udah, udah beres semua. Ayo kamu siap-siap...” kata Bu Dian seraya kembali ke dapur, mengecek segala sesuatunya.
“Iya bu, ini mau ngajak temen-temen sarapan dulu, kasihan, mereka udah kerja sepagian ini. Ibu sama bapak mau nitip apa?” tanya Riana seraya mengambil kunci motornya yang ada di atas meja.
“Kami gampang, nduk. Yowes, cepet beli sarapannya...” kata Bu Dian. Riana mengangguk. Ia mencium takzim tangan ibu kostnya, lalu buru-buru pergi keluar untuk mencari sarapan. Matahari sudah agak tinggi, sebab mereka memulai aktifitas sejak pagi. Jadi daripada semakin panas (dan acara sarapan mereka berubah menjadi makan siang), lebih baik Riana cepat-cepat pergi keluar dan mencari makanan.
***
“Lho, Dyo, mau kemana kamu?” Riana baru saja sampai di depan gang menuju kos-kosannya, ketika dilihatnya Dyo yang setengah terkantuk-kantuk tengah mengendarai motor, persis di belakangnya.
“La ini mau ke kost-mu, mbak. Udah selesai tah persiapannya?” tanya Dyo.
“Udah sih. Ya udah bentar tungguin, mbak beli sarapan satu lagi dulu buat kamu. Kesian jauh-jauh kesini je...” kata Riana. Tanpa menunggu persetujuan Dyo, gadis itu segera memacu motornya kembali ke warung tempat ia membeli sarapan tadi, dan membeli satu bungkus lagi. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, ia segera kembali ke tempat Dyo tadi, dan ternyata, cowok ABG itu sudah tidak ada di situ. Mungkin sudah sampai di kost, pikirnya. Maka iapun segera memacu motornya, meneruskan perjalanan menuju kost.
__ADS_1
***
Sesampainya Riana di kost, ia terheran-heran melihat Milia dan Maura yang berdiri dengan sikap tegang di teras kost.
“Ngopo e cah?” tanya Riana seraya memarkirkan motornya.
“Kae, do padu nang ruang tamu,” jawab Milia – setengah berbisik.
“Oh iya, motornya Dyo ada disini sih. Itu beneran berantem Dyo sama Selena?” Riana memastikan.
“La iyaa, makanya kami keluar. Kebrebeken je, do bengak-bengok iku...” jawab Milia lagi. Riana yang penasaran segera mencabut kunci motornya, lalu ia memutuskan untuk mendekatkan telinganya ke daun pintu, mendengar-dengarkan.
“Maksud kamu apa sih Yo? Aku kan udah bilang, kalau kamu mau jadi pacarku ya nggak usah kebanyakan gaya! Sok-sokan jadi playboy, nganter-nganter Carissa segala. Dia kerja jadi bartender, ya kalau pada akhirnya dia pulang lebih malam daripada kamu yang ngisi di lounge itu ya itu urusan dia!”
“Denger dulu sih mbak, aku belum selesai ngomong...” ucap Dyo putus asa.
“Apa!”
“Mbak Carissa itu sepupuku!” barangkali karena kesal dipojokin tanpa henti sama Selena, akhirnya Dyo berteriak dan membentak gadis itu. Nggak sengaja sebenernya, dan nggak bermaksud apa-apa juga. Tapi ya itu, namanya kalau udah kadung emosi ya.
“Eh, eh, udah... Pada tenang dulu...” kata Riana seraya tergesa masuk ke dalam ruang tamu. Bungkusan sarapannya masih tergantung di atas motor, dan dia lupa sama sekali akan hal itu, saking dia terpesona sama sisi lain Selena yang baru diperlihatkan hari ini.
“Sssttt, come down, Sel...” kata Riana seraya merangkul dan menepuk-nepuk pundak Selena, yang kini di wajahnya juga tengah dibanjiri air mata.
“Kalian ngapain ngintilin gue sih?” Riana heran.
“Ini, dodol, bungkusan lo ketinggalan,” omel Milia seraya membawa beberapa pplastik berisi sarapannya.
“Oh iyaa, lupa. Ya udah, taro di meja aja. Gue mau mendamaikan perang dulu ini...” Riana tergelak seraya menunjukkan dua gelas es sirup dingin yang dibuatnya untuk Selena dan Dyo yang masih sama-sama tersulut emosi.
“Yowes nek ngunu, selamat bertugas, kawin, eh, kawan!” kata Maura seraya menepuk-nepuk pundak Riana. Dan mau tak mau, ketiganya jadi sama-sama terbahak keras, menertawakan kekonyolan mereka.
***
“Ini, diminum dulu...” kata Riana seraya meletakkan dua gelas es sirup itu di hadapan mereka. Kedua insan itu sama-sama meminum es sirup tersebut, lalu menghela napas, menyandarkan punggung mereka ke bantalan sofa.
“Udah jangan diterusin dulu berantemnya. Mending sekarang kita sama-sama sarapan ya? Terus Dyo, kamu stay disini aja, soalnya acara selamatannya juga kan sore ini. Kalau kamu pulang dulu, terus balik lagi kesini, malah buang-buang bensin... Iya kan?” tanya Riana. Dyo Cuma mengangguk, tidak bersuara. Mungkin energi terakhirnya dipakai untuk satu bentakan tadi, kepada Selena.
“Kalian tuh tenang dulu, jangan emosian. Nggak akan selesai masalahnya kalau kalian terus keukeuh sama argumen masing-masing, tanpa ada yang ngalah. Saling mendengarkan itu jauh lebih baik. Tapi, apa yang dimaksud gak akan bisa terdengar dan tersampaikan dengan baik, kalau kalian masih sama-sama emosi gitu... Salah satu ngalah ya, turunin egonya...” kata Riana lembut. Dyo mengangguk.
“Ya udah, pada sarapan aja ya, udah kesiangan ini sebenernya. Bentar, mbak ambilin...” kata Riana. Keduanya hanya mengangguk. Riana mencebik, sebel. Berasa ngobrol sama boneka dashboard mobil, ngangguk-ngangguk melulu. Gak takut copot apa kepalanya?
***
__ADS_1
Tak terasa, sore hari pun tiba. Acara syukuran sudah dimulai. Yang diundang gak banyak, Cuma warga kost dan tetangga sekitar, dan teman-teman Riana. Gadis itu kini duduk di tengah para ibu-ibu yang anaknya masih pada kelas 3 SMA, dan sedang ngomongin rencana mau kuliah dimana. Riana gak ikut nimbrung, ia menjadi pengamat saja, mendengarkan. Kalau ditanya, paling jawabnya Cuma satu-dua kata, satu-dua kalimat saja.
“Eh\, bu\, masuk ke U*** itu biayanya mahal kali ya?” tanya salah satu ibu yang memakai jilbab dan gamis warna oranye terang. Kalau dilihat dari jauh\, kayak jeruk berjalan tuh\, hihihi.
“La iya... Suamimu apa sanggup tuh ngebiayain Rania masuk sana? Lagian ya, yang masuk ke kampus itu harus yang otaknya bener-bener encer, baru keterima, kayak Susi, anak saya. Peringkat terus lho di sekolahnya...” ucap salah seorang ibu lain, yang tampak garang dengan lipstiknya yang merah menyala. Merasakan sudah ada hawa-hawa “panash” dari sebuah persaingan, Riana memutuskan untuk menyingkir pelan-pelan dari “toxic circle” tersebut. Ia memutuskan untuk menemui teman-temannya di belakang. Mending dia ngemilin gorengan sepuasnya disana, timbang sakit hati sendiri dengerin nyinyiran buibu yang sebenernya tidak tertuju padanya, tapi kesannya jadi persuasif, aura negatifnya ikutan nempel di dia. Jadi sebelum dia stress, mending dia sendiri aja yang menjauh dari sana.
“Kenapa Ri?” tanya Satria – teman band-nya, yang lagi asyik nyemilin tahu isi di pojokan.
“Stress gue sama tamunya Bu Dian,” keluh Riana, seraya mencomot sebuah gelas kosong, dan mengisinya dengan es sirup. Ia meminumnya dalam sekali tegukan, terus diisi lagi deh tu gelas. Hihihi. Gayanya lho, kayak habis macul di sawah di bawah terik matahari.
“Haus Bu Haji? Minum gak napas dulu,” ledek Satria.
“Gebleg, gerah gue sama omongannya ibu-ibu di depan. Auranya lho negatif, makanya cabut aja gue kesini...” kata Riana acuh seraya ikut mencomot tahu isi yang ada di piring di hadapan Satria.
“Ini namanya tuan rumah gak ada akhlak ya, wong kene sing nduwe hajat malah tamunya ditinggal,” seloroh Milia.
“I dare you to listen that, Mil. Entah berapa jam lo kuatnya. Kalau dari satu jam lo masih lolos tanpa kurang suatu apapun, gue kasih sejuta...” kata Riana.
“Anjrit, berasa uji nyali sih. Ya udah, makan sana, wong jare ibu lo belom makan dari siang...” tawar Milia.
“Entar aja ah, gampang. Dari tadi udah ngemil mulu, tambah bengkak entar...” tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba HP-nya bergetar, tanda ada telepon masuk. Dengan setengah malas, ia mengambil HP tersebut dari sakunya, sekadar ingin melihat nama di display. Dan begitu ia membaca nama si pemanggil yang tertera, wajahnya sumringah seketika.
“Halo, Ra, iya... Dua hari lagi kan? Iya, aku berangkat ke sana, katanya dari Jakarta sini ada barengannya juga, tapi aku gak tau siapa...”
***
Akhirnya, selesai sudah rangkaian acara syukuran yang sekaligus menjadi acara perpisahan untuk Riana. Kurang dua hari lagi, gadis berpipi bakpau itu akan meninggalkan kos-kosan ini, mencari peruntungannya di kota lain, Surabaya. Bu Dian, yang biasanya betah di rumah induk berdua saja bersama suaminya, kini malah bela-belain berkumpul dengan anak-anak kost-nya, berbaring tak karuan di atas karpet di ruang tengah kos-kosan.
“Alhamdulillah ya, salah satu temen kita ada yang bisa meraih cita-citanya,” Bu Dian mengawali, seraya menghabiskan sisa kantuknya, berguling di atas karpet bulu yang empuk itu. Di sebelahnya berjajar ada Riana, Milia, Maura, dan Selena yang nyempil di pojokan, sudah lebih dulu ketiduran. Kayaknya mereka capek, habis bantu-bantu tadi.
“Iya bu, alhamdulillah, aku ya nggak nyangka bisa sampai di titik ini...” Riana tersenyum, memegang lembut tangan Bu Dian.
Selama ini, selama dia nge-kost disini, Bu Dian begitu baik padanya, dia sudah dianggap anak sendiri. Seketika teringat olehnya berbagai moment dimana ia merasakan langsung kebaikan dan kasih sayang Bu Dian yang tercurah padanya. Pernah suatu ketika kakinya terkilir, jatuh dari motor sepulang bekerja. Lalu ada beberapa luka-luka juga yang menyebabkan dia demam karena infeksi dari luka tersebut. Bu Dian menunggunya seharian, dan ia terus menjaganya sampai kondisi Riana benar-benar pulih dan bisa ditinggal. Pernah juga waktu Riana kecopetan ketika ia bepergian di hari minggu, Bu Dian lah yang menguruskan semuanya ; melapor ke polisi, dan lain-lain, sampai akhirnya mungkin masih rejeki, dompet itu berhasil ditemukan beserta copet-copetnya. Tapi Riana tidak melanjutkan perkara itu ke jalur hukum, karena si copet kelihatannya masih remaja dan belum berpengalaman sebagai copet (amit-amit... Jangan sampai lah!). Dan begitu Riana bertanya apa motifnya melakukan pencopetan, dia bilang mau beli obat buat ibunya yang sakit, dan ketiga adiknya di rumah yang lapar. Karena iba, justru Riana memberikan sekitar dua ratus ribu kepada anak itu, lalu menyuruhnya segera pulang. Ia tahu anak itu tidak berbohong, ia hanya sedikit takut, dan bersalah. Karena di hati dan pikirannya, hanya ada tentang hari ini, dan nasib keluarganya. Jadi, begitulah...
“Sebentar lagi, ibu akan kehilangan kamu dong, Ri?” ucap Bu Dian tiba-tiba.
“Hah? Maksud ibu gimana?” Riana gak ngerti.
“Ya bentar lagi kan kamu pindah tho dari sini, pasti nanti gak balik-balik lagi, terus lupa...”
“Ya ampun ibuuu...” Riana tertawa, lalu mengelus tangan wanita setengah baya itu.
“Riana gak akan lupa sama ibu. Ibu tenang aja ya, ibu udah Ri anggap seperti ibu sendiri...” kata Riana tulus. Bu Dian tersenyum. Ia mengelus sayang puncak kepala Riana. Biar bagaimanapun, waktu terus bergulir, dan ia hanya suka maju, tanpa pernah kembali mundur. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, perubahan itu pasti terjadi, semua orang akan mengalaminya. Dan inilah yang disebut sebagai “babak baru” dalam sebuah kehidupan.
__ADS_1
(TBC).