MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 51, TERUNGKAP, TERTANGKAP (AKHIR DARI TEROR)


__ADS_3

Riana bete. Persoalan dan tugas dari kampus menghantamnya tanpa jeda, dan dia masih tinggal bersama beberapa biji *eh, beberapa orang temannya disini, di kampus, kendati jam sudah beranjak menuju pukul 19:00.


“Nah, beres juga akhirnya!” seru salah seorang temannya seraya menjatuhkan tubuhnya di kursi seberang Riana.


“Ada yang perlu dicek lagi gak?” tanya Riana.


“Cek ke gedung pertunjukan aja ya Ri, Siapa tau ada yang belum beres disana...”


“Ya udah, tapi gue sekalian balik yak, jam segini e...” kata Riana seraya mengambil kunci motor dari saku roknya.


“Nggak bareng Muara?”


“Enggak, dia duluan tadi kan. Yowes gue cabut, apa lo mau bareng gue?” tanya Riana.


“Nggak usah, bentar lagi cowok gue jemput kok. Ti-ati, Ri...”


“Woke, sampe besok ya...” kata Riana riang seraya mengayunkan langkahnya cepat keluar ruang rapat. Di depan, dia berpapasan dengan beberapa adik dan kakak tingkat yang sepertinya sedang akan berlatih sesuatu. Setelah berbasa-basi sebentar, ia langsung keluar menuju parkiran ; mengambil motornya terus berjalan pulang.


***


Riana memaki-maki sepanjang jalan – sepuasnya, sepenguasaan kata pisuh dan makian yang pernah dia dengar dan menjadi perbendaharaan di otaknya. Sekarang, jam telah menunjukkan pukul 20:15, dan ban sepeda motornya kempes tiba-tiba. Dan sekarang, dia berada di tengah jalan yang cukup sepi dan gelap. Riana memegang stang sepeda motor semampu tangannya. Jujur, perasaannya mendadak was-was seketika. Apa lagi dia memang sedang “terganggu” akibat ulah penguntit misterius (yang ternyata masih terjadi hingga saat ini), sehingga berdampak juga pada kesehatan fisik dan mentalnya yang akhirnya merosot turun. Singkatnya ; Riana tertekan.


Riana memfokuskan pandangannya, menoleh kiri-kanan. Dia sedang mencari dimana ada tukang tambal ban sekitar sini. Dia harus segera pulang, ini sudah benar-benar menuju malam. Seandainya Muara gak langsung ada job sepulang kuliah tadi, pasti dia akan pulang dengan aman dan selamat bersama lelaki itu. Dan Riana terus melihat sekeliling, sampai-sampai ia tidak sadar dengan keberadaan seseorang di belakangnya.


“Akhirnya aku bisa ketemu kamu disini.”


***


Riana tidak bisa lebih terkejut lagi. Apakah... Apakah ini orang yang sama yang menerornya sejak lama? Tapi...


“Jangan mendekat atau?” Riana mengacung-acungkan botol kaca berisi bubuk merica yang sudah berada di genggamannya, entah sejak kapan. Itu adalah pepper spray, salah satu alat pengamanan diri yang direkomendasikan oleh Muara dan bisa dibawa kemana-mana. BTW, alat ini berguna banget terutama untuk perempuan yang sering bepergian dan (amit-amit), mungkin saja dapat menghadapi situasi tak terduga; misalnya ketemu penjahat atau orang asing yang mencurigakan di jalan atau tempat umum lainnya. Buat melindungi diri dari serangan hewan juga bisa. Dan sekarang, mungkin adalah saat yang tepat bagi Riana untuk menggunakan alat pengamanan diri tersebut.


“Tidak... Aku bukan orang jahat,” kata sosok itu seraya mundur beberapa langkah – menjaga jarak dari Riana yang sedang memegang senjata maut.


“Apa maumu? Dan kenapa... Kenapa harus kamu yang datang ke hidup aku dalam posisi, kondisi dan situasi kayak gini?” tanya Riana lemah. Ia menurunkan tangannya yang teracung tinggi itu, memasukkan kembali pepper spray-nya ke tas, sehingga tangan itu akhirnya terkulai lemah di samping kanan-kiri tubuhnya. Lalu wajah itu... Kenapa harus dia? Kenapa harus dia orangnya?

__ADS_1


***


Muhammad Sakha Aldebaran adalah seseorang dari masalalu Riana. Meskipun tidak pernah menjadi pacar, tapi ikatan mereka pernah lebih erat daripada itu. Sakha anaknya ganteng, keren, cool, dua tahun lebih tua dari Riana (saat mereka berkenalan, Sakha sudah kelas dua SMA, sementara Riana masih kelas tiga SMP). Sakha, si juara kelas di sekolahnya ; jago basket, jago memanah (ini olahraga panahan beneran ya, tapi, kalau seganteng ini penampakannya, manah hati cewek juga bisa paling), jago main alat musik + nyanyi, jago nulis juga. Mmm, siapa coba cewek yang gak bakal klepek-klepek? Bahkan, cewek dengan level ke-bar-bar-an tingkat dewa macam Riana pun bisa jatuh juga pada pesonanya.


Awal perkenalan mereka terjadi saat mereka harus dipertemukan melalui acara agustusan di kompleks rumah. Saat itu, rencananya Sakha mau ngiringin temennya baca puisi, tapi temennya itu – Aira namanya, gak mau cuma diiringi sama piano aja, dia mau ada biolanya.


“Biar lebih dramatis dan menyentuh, Kha, kalau sampe gue nggak menang, berarti itu salah lo yang gak nurutin keinginan dan kemauan gue,” bujuknya ketika itu. Nah, setelah lelah mencari siapa kandidat yang pas untuk menjadi pemain biola dalam aksi pembacaan puisi itu, pada saat Sakha sedang pergi ke rumah Pak RT karena disuruh bapaknya, dia melihat ada seorang gadis yang sedang tekun banget ngajarin seorang gadis kecil bermain biola. Usut punya usut, gadis kecil itu adalah cucunya Pak RT, dan gadis remaja tanggung yang jadi guru private biola itu adalah tetangganya, yang jarak rumahnya cuma empat rumah doang dari tempat tinggalnya sendiri. Dan lebih mujur lagi, ternyata dia adalah adik dari Lisa, temannya satu sekolah.


Dan setelah kolaborasi itu, mereka menjadi semakin dekat. Dimanapun ada Sakha, disitu pasti ada Riana, sebaliknya pun begitu. Mereka menjalin kedekatan (tanpa status) itu selama nyaris dua tahun. Karena kedekatannya tanpa status dan tanpa ikatan apa-apa, ya jelas kalau Sakha tetap bebas bermain-main, jadi, sehari dia jalan sama Riana, besoknya dia bisa jalan sama Lisa, gitu terus sampai riana capek sendiri dan gak peduli lagi, dibiarkannya Sakha jalan sama kakaknya meskipun hatinya terluka. Hingga akhirnya statement Sakha di hari itu – di hari ulang tahunnya yang ke-17, sudah menjelaskan semuanya, bahwa Riana harus benar-benar berhenti ; berhenti mengganggu cowok itu, sampai berhenti memikirkan dan mengingat semua tentang cinta pertamanya yang sungguh menyakitkan.


“Mas udah mahasiswa, mas gak mau main-main lagi. Usia mas itu sama sama mbak kamu, Lisa, mungkin kami lebih cocok...” bukan main sakitnya hati Riana ketika mendengar hal itu. Ternyata, apa yang ia harapkan selama ini salah, ternyata, Sakha menganggapnya tidak lebih hanya sebagai “teman jalan”, atau lebih tepatnya, teman yang bisa dimintain traktiran kalau kebetulan cowok itu sedang tidak bawa uang. Ya, untungnya kecil-kecil begitu Riana sudah bisa menghasilkan uang sendiri, jadi dia gak peduli mau diapain dan dikemanain aja uangnya. Tapi sekarang... Bodoh, dia baru sadar kalau dia dimanfaatin sama cowok SMA kere yang cuma modal tampang sama fasilitas pemberian orang tua doang. Hmm, cinta memang membutakan segalanya ; menjernihkan yang keruh, membenarkan yang salah.


***


Dan sekarang, itu cowok ada disini, dengan posisi sebagai penjahat karena sudah menjadi penguntit dan meneror dia. Apa sebenarnya rencana Tuhan kali ini? Dan kenapa harus saat ini dia dipertemukan kembali sama masalalunya yang paling jauh dan menyakitkan itu, dengan cara yang tidak pernah ia duga sebelumnya pula.


“Ternyata kamu penjahatnya ya? Sejak kapan kamu alih profesi? Orang tua kamu udah nggak memfasilitasi kamu lagi sampai kamu rela dibayar gede untuk ngikutin orang kayak aku?” tanya Riana sinis. Rasa kagum dan sayang yang dulu dimilikinya hanya untuk Sakha hilang sudah, kini yang tersisa tinggal rasa jijik dan benci.


“Aku terdesak, Ri...” ucapnya pelan. Riana tertawa keras, menatap Sakha dengan pandangan penuh penghinaan. Semua amarahnya harus dituntaskan hari ini juga. Bahkan kalau memungkinkan, dia sanggup-sanggup aja ninju ini cowok sampai tidak berdaya. Sayangnya ini cafe, tempat umum, jadi susah deh dia mau melancarkan aksinya.


“Harus nguntit aku dan bikin aku celaka, kalau bisa sampai mati sekalian? Iya?” tantang Riana. Kilatan amarah yang besar kini terpancar jelas dari sorot matanya. “Nggak nyangka, kamu cukup bodoh juga ya, Sakha. Dulu kamu manfaatin aku, sekarang kamu dimanfaatin balik sama kakakku. Karma itu emang beneran ada ternyata...” ejek Riana lagi. Sakha tertunduk, pasrah. Sudah jatuh tertimpa tangga, seperti itu mungkin gambaran pepatah yang pas perihal nasibnya. Sudah terpaksa mengemis di bawah kaki Lisa, sekarang, orang yang dulu pernah dia sayang (sekaligus yang pernah dia sakiti) harus jadi target dalam pekerjaannya. Dan tatapan yang dulunya hangat dan meneduhkan itu kini berubah mengerikan ; menusuk tajam, menghunus hingga tepat mengenai jantung hatinya


“Aku... Maafin aku, Ri...”


“Nggak perlu...” kata Riana tegas.


“Aku nggak butuh sama sekali permintaan maaf kamu, yang aku butuh cuman aku gak mau lihat wajah kamu lagi, dimanapun. Dan ini...” lanjutnya kemudian. Lalu dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, ia melayangkan tangannya ke arah depannya dan... PLAKK!


“Itu untuk rasa sakit pertamaku karena kamu memilih nenek sihir itu. Lalu ini...” dan masih dalam mode tak terduga, ia mengarahkan tinjunya ke arah tulang rusuk Sakha, memukulnya begitu keras hingga membuat cowok itu terpelanting ; terjatuh dari kursinya.


“Itu untuk semua bentuk kekacauan yang kamu hadirkan di hidupku akhir-akhir ini. Ingat, kamu harus segera pergi dari sini, sebelum kupolisikan dan kupenjarakan kamu. Ingat itu baik-baik, Sakha Aldebaran!” seru Riana. Lelaki itu tak menjawab, ia sibuk mengusap sudut bibirnya yang berdarah, dan memegangi bagian rusuknya yang sakit karena pukulan maut dan tak terduga tadi. Tapi Riana tak peduli, dengan langkah pelan dan sangat tenang ia meninggalkan cafe yang hampir sepi itu, lalu terkejut ketika sesampainya di luar, ada dua pasang tangan yang memeluknya, dan mengucap syukur berkali-kali. Begitu Riana selesai dari rasa terkejutnya, ia dapat melihat sosok Muara dan Ganesha yang entah gimana caranya bisa sampai sini dan bertemu dengannya.


“Kalian kok bisa sampai sini sih?” tanya Riana setelah pelukan mereka terurai sempurna.


“Sorry, aku agak nakal, Ri...” jawab Muara seraya cengar-cengir.

__ADS_1


“Nakal gimana?” Riana gak ngerti.


“Aku ngidupin aplikasi pelacak lokasi yang udah sempet terkonfigurasi sama HP kamu. Padahal, kamu bilang itu hanya boleh aku pakai saat darurat aja, tapi...”


“Tadi itu darurat wesan, Ra, ban motorku kempes, diikutin penguntit gila, eh tapi terus, dimana motorku sekarang?” tanya Riana.


“Udah dibawa Wisnu, ditambal bannya sama langsung tak suruh bawa ke kostmu. Tadi kita nge-job bertiga, aku mau ngabarin kamu sekalian nanyain posisi, eh ternyata gak diangkat-angkat teleponnya, ya udah karena udah enam kali percobaan telepon gagal, karena aku khawatir ya tak nyalain deh aplikasi itu, dan ternyata...” Muara menggantung kalimatnya.


“Soal HP, sorry, memang tak silent sejak pas rapat itu. Tapi... Ternyata apa Ra?” tanya Riana penasaran seraya mengecek ponselnya.


“Anu, sorry, aku gak sengaja mendengar percakapan kamu di dalam, dan juga, ternyata kalau kita udah ketemu sama target yang sedang dilacak, aplikasi ini juga otomatis nyalain perekam buat semacam nyadap gitu...”


“Itulah sebabnya aku gak mau kamu pakai aplikasi ini sembarangan, karena udah menyangkut privacy seseorang. Wong kita download juga gak dari platform bawaan HP kan, harus ngutek browser dulu... Sekarang, apus semuanya, dan data-data lokasi dan segalanya yang udah tersimpan, di-clear aja...” kata Riana tegas.


“Siap, tuan putri. Tapi btw... Dia mantanmu ya?” tanya Muara – setengah menyelidik.


“Nah, mulai deh masuk ke ranah per-cemburu-an... Gak melok-melok wes...” kata Ganesh tak peduli seraya masuk duluan ke dalam kursi penumpang.


“Yuk, sambil jalan pulang aja,” ajak Muara akhirnya. Riana mengangguk, lalu mengikuti cowok itu masuk ke dalam mobil.


“Jadi, gimana?” tanya ulang Muara, masih dalam mode penasaran.


“Sebenernya dia bukan mantan sih. Ya anggep aja aku pernah bodoh dan salah meletakkan hati, gitu aja. Kami gak pernah pacaran, tapi HTS-An selama dua tahun, dan aku yang telat sadar bahwa ternyata aku cuman dijadiin azas manfaat sama dia...” jawab Riana seraya memasang sabuk pengaman.


“Kamu kenal mas itu, Nesh?” tanya Muara.


“Ya kenal mas, tapi nggak seakrab aku sama Mas Ra, cuma saling sapa kalau kebetulan dia mau jemput salah satu dari kakaku. Ya aslinya Mbak Riri tuh ditikung sama mbakku satunya, kasian juga, tapi kalau dipikir-pikir lagi, nggak guna juga dia mempertahankan cowok modal tampang doang, matre gitu orangnya...” jawab Ganesh jujur.


“Aku agak nangkep sih isi percakapannya tadi. Ikhlasin ya Ri, kan soalnya dia masalalumu, aku masadepanmu...” kata Muara sambil nyanyi.


“Iya-iya, Ra. Aku udah bahagia sama kamu sekarang,” jawab Riana pelan seraya merangkul singkat kekasihnya tersebut.


“Ah, jadi iri. Mbak Hanum sibuk terus, sebel!” ucap Ganesh seraya cemberut. Riana dan Muara cuma tertawa. Mohon bersabar, Nesh, ini ujian.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2