
Jogjakarta masih sama. Masih dengan predikat dan julukan romantis-classic-nya yang tak tergantikan. Jogja, selalu seistimewa itu ; menarik siapapun, menjeratnya dengan rasa rindu, selalu ingin datang lagi, lagi dan lagi. Datang kembali ke Kota Pelajar ini, serasa pulang ke rumah sendiri, damai dan menenangkan.
Dan Riana CS menyambut pagi pertama mereka di daerah istimewa ini dengan perasaan yang amat bahagia. Setelah sama-sama bebersih alias mandi pagi dan beberes tempat tidur, mereka semua sama-sama keluar kamar dan saling sapa.
“Pagi...” Hanum mengawali.
“Pagi cantik,” Ganesh menimpali.
“Hayooo, nyolong start nih Ganesh, harusnya aku duluan yang gombalin Riana,” Muara pura-pura kesal.
“Ya ALLAH apa sih salahku, mengapa engkau menempatkan aku di antara kedua pasangan bucin ini? Aku lelah Ya ALLAH, hix, hix...” kata Ganesh setengah drama.
“Astagaaa ada kehebohan apa sih, pagi-pagi begini?” tanya Jeremy yang terheran-heran seraya membawa tas kerjanya.
“Ndak, mas, biasa, ritual ala kami memang begini kan, selalu mengheboh everywhere,” jawab Riana.
“Sayang, yuk sini tak pakein dasinya, terus nanti kita sarapan. Aku bikin magelangan sama bunda tadi...” kata Yura seraya meletakkan Baby Adam di atas kasur di ruang televisi.
“Jahitanmu udah nggak nyeri ta sayang?” tanya Jeremy seraya menatap lembut istrinya.
“Nggak kok mas, kan dirawat dengan baik, Insya ALLAH pulihnya cepat ini... Yuk, pake dasi dulu, terus maem sama anak-anak. Wes do bangun tho itu?” tanya Yura lagi, seraya dengan telaten memakai dan mengikatkan dasi itu di leher suaminya.
“Udah kok, tuuu ngintipin kita di belakang...” kata Jeremy seraya menatap mereka dengan tatapan jahil.
“Duh enak banget sih rek, ndelok ngenean pagi-pagi. Jadi pengen,” kata Muara seraya melangkah ke depan pasangan halal itu.
“Nek pengen yo gek rabi, Ra...” kata Yura.
“Sek suwe mbaaak, ben lulus sek wae,” Muara meringis.
“Yowes gek sarapan yuk, tuh, wes diceluk-i bunda,” ajak Jeremy. Kelimanya mengangguk, lalu berjalan bersama-sama menuju meja makan.
“Yura, Adam wes bobok a?”
“Sudah bun, tadi bar mandi, nyusu, terus bobok lagi...” jawab Yura seraya menyendokkan makanan untuk suaminya.
“Kamu mau bunda ambilin a maem-e?” tawar Bunda Henny lagi.
“Makasih bun, tapi nanti Yura ambil sendiri aja,” jawab Yura. Bunda Henny tersenyum, begitupun dengan kelima tamu mereka. Dan diam-diam, mereka semua bersepakat, bahwa Yura sudah menemukan tujuan terbaik dalam hidupnya, suami dan mertua yang baik, serta anak yang tumbuh sehat dan semestinya.
“Eh gaes, udah ada agenda ta kalian selama di Jogja ini?” Jeremy memecah kesunyian.
“Mbuh, kami tu gak ada planning liburan kesini, kami Cuma mau mengunjungi kalian,” jawab Riana jujur.
“La yowes, kalau gitu, ikut gue mau gak? Kalian harus lihat, ada yang baru lho di Sakura...” kata Jeremy bersemangat.
__ADS_1
“Ada apa mas?” tanya Ganesh.
“Ada, deh...”
“Yeeee upil kodok, gak pernah bener lehmu njawab ki...” omel Yura.
“Yowes pokoke ngono... Arep ta gak?” tanya Jeremy sekali lagi.
“Ya mau-mau aja, tapi emang nggak papa Mbak Yura ditinggalin?” tanya Hanum tak enak.
“Nggak papa sayang, cantik, aku kan sama bunda disini. Nanti juga aku ke toko bunganya bunda sebentar buat jalan-jalan...” kata Yura.
“Iya nduk, wes talah, nikmati waktu kalian di Jogja, Yura akan aman sama bunda...” kata Bunda Henny. Kelimanya tersenyum.
“Hari ini kerjaan gak banyak kok, nanti aku pulang duluan aja, anak-anak biar pada jalan-jalan sendiri. Kamu mau dibawain apa sayang, buat nanti sore?” tanya Jeremy kepada Yura.
“Aku pengen Cinnamon Role yang di cafe seberang hotel kamu itu lho yang, kayaknya enak,” jawab Yura pelan.
“Oke siap, Cinnamon role buat istriku yang cantik. Bunda titip apa, bun?” tanya Jeremy lagi.
“Bunda mau tiramissu aja deh.” Jawab Bunda Henny.
“Woke siap... Yowes yo, lanjut dulu sarapannya, terus ikut gue dulu pagi ini. Oke?” ucap Jeremy.
“Okeeee...”
***
“Auto inget Abhi gak sih?” lirih Riana.
“Aku baru mau ngomong,” kata Muara.
“Yuk masuk, biar gue tunjukkin beberapa pembaruan disini.” Kata Jeremy mengalihkan topic. Semua mengangguk.
***
“Yang ini lift-nya, coba Han, Nesh, diraba dulu di setiap tombolnya. Ada apanya tuh?” tanya Jeremy.
“Braille!” pekik mereka riang.
“Iya, jadi kalau sewaktu-waktu ada temen-temen tunanetra yang main kesini, mereka gak kesusahan lagi kalau mau bepergian kemana-mana. Sekarang, kita akan naik ke salah satu lantai, dan kejutan belum berakhir ya,” kata Jeremy, dengan gayanya yang bak pemandu wisata profesional. Sebenernya cocok-cocok aja sih ya, wong dia kerjanya di hotel kok. Perhotelan dan pariwisata kan harusnya sejalan.
“Eh bentar... Ini guiding block gak sih? Apa perasaanku aja?” tanya Hanum, sesampainya mereka di lantai tujuan.
“Ini guiding bblock, mbak, coba perhatiin deh, lantai yang ini sama lantai-lantai di sekitarnya kan beda,” kata Ganesh.
__ADS_1
“Oh iya deng, sorry, terlalu kaget nih...” Hanum meringis.
“Awas turunan mbak,” peringat Wisnu.
“Nah yang ini buat pengguna kursi roda,” kata Jeremy. Mereka semua mengangguk-angguk, kagum atas segala perubahan ini. Ini perubahan yang kecil tapi berarti banyak, khususnya bagi mereka yang akan merasakan dampak baik dari adanya fasilitas-fasilitas ini.
“Makasih Mas Jere, makasih telah memperhatikan kebutuhan para penyandang disabilitas,” kata Hanum tulus.
“Sama-sama. Disabilitas itu sama aja kok kayak yang lain, hak-hak dan kewajibannya juga sama. Yang membedakan Cuma... Apa ya? Kayaknya sampe sekarang, sampe gue kenal kalian, gue nggak pernah tau apa yang membedakan kalian dengan gue dan yang lain. Rasanya sama aja sih, toh kalian juga sekolah, bahkan kuliah, bahkan prestasinya bisa lebih banyak juga dari kita. Kalau yang membedakan misal, kalian buta dan gue enggak, ya just it, selebihnya we’re same,” jawab Jeremy. Semua mengangguk, sangat setuju dengan ucapan Jeremy.
“We appreciate you, bro...” kata Ganesh seraya menepuk pundak Jeremy.
“Thanks a lot, guys. Semoga kedepannya ini semua bermanfaat buat siapapun. Ya udah, lanjut jalan aja yuk, masih banyak surprise things yang mau gue kasih tau nih sama kalian,” kata Jeremy. Mereka mengangguk, lalu lanjut jalan lagi.
***
“Aduh adaaa aja kejadian tuh. Aku nggak niat kerja lho mbak disini, kok bisa tiba-tiba dapet honor segala ya?” kata Hanum seraya memeluk amplop tebal itu erat-erat di dadanya, sebelum dimasukkannya ke dalam tas.
“Life is always amazing, dek. Nyangka gak kamu bakal jadi brand ambasador-nya Sakura hotel?” tanya Hanum.
“Kayaknya kalau dibilang brand ambasador it’s to much deh mbak, berlebihan banget. Lagian ya, kalau Bang Jeremy mau cari temen-temen yang lebih cantik, lebih luwes dan lebih smart dari aku perasaan banyak, kenapa harus aku coba? Pasti alasan utamanya Cuma karena kebetulan, kebetulan pas ada, ya sudah, deh...”
“You’re great, princess. Kok malah suuzhon sama masmu dewe ki piye?” kata Jeremy yang muncul tiba-tiba di hadapan mereka semua.
“Bukannya suuzhon mas, aku kan Cuma insecure...” kata Hanum jujur.
“Hey no need to... Kamu gak perlu insecure, karena kamu special. Bukan karena kondisi kamu, bukan karena kebutaan kamu, tapi karena apa yang ada di dalam diri kamu, semua bakat dan talenta kamu, itulah yang membuat kamu menjadi sempurna dan special...” kata Jeremy, dan diiyakan oleh yang lain.
“Ah, thank you so much, mas...” kata Hanum terharu.
“You’re very welcome, sweetie. Yowes pulang yuk, ini Cinnamon dan tiramissu-nya pasti sudah ditunggu di rumah,” kata Jeremy. Semua mengangguk. Akhirnya, di antara mentari senja hari yang hendak naik ke peraduannya, mereka semua berjalan keluar cafe, memasuki mobil, lalu kembali ke rumah.
***
“Kirain gak jadi dibawain pesanan kita, ternyata ingat kamu J,” kata bunda Henny seraya menyambut mereka semua yang baru saja selesai berkegiatan hari ini.
“Mana bisa aku lupa sama kedua ratu di hatiku ini sih...” ucap Jeremy seraya mencium takzim tangan ibunya, dan mengusap lembut kepala istrinya.
“Kamu mau langsung mandi mas? Nanti aku siapin air hangatnya ya, aku taruh Adam di box dulu,” kata Yura.
“Boleh deh sayang, I need to relax. Kerjaan gak begitu banyak, tapi nginput data gak kelar-kelar nih hari. Untung dibantu sama Liam, kalau gak ada dia, bisa mati berdiri aku...” kata Jeremy.
“Ya udah, mas mandi dulu pake air hangat, nanti kalau udah bersih dan udah seger, kita maem ya. Aku masak sup kacang merah tadi sama bunda...” kata Yura lembut seraya menepuk-nepuk punggung Adam yang sudah hampir tertidur.
“Iya sayang, kalau gitu, mas masuk dulu ya,” ucap Jeremy seraya mencium lembut kening istrinya.
__ADS_1
“Ngacir yuk gas, selak ngebet rabi ngko awak dewe ndelok ngenean ki...” kata Muara. Semua tampaknya setuju, lalu berlarian bar-bar menuju rumah, membuat ketiga penghuni dan pemilik rumah itu tersenyum. Seandainya, rumah mereka bisa seramai dan seheboh ini tiap hari.
(TBC).