
Lokasi konser, malam hari. Tiga buah mobil taksi online telah mengantar tiga pasangan dengan selamat hingga di tempat tujuan. Dan ketiganya tiba dan turun di waktu yang nyaris bersamaan.
“Special Hanum sama Ganesha di gate sebelah sana ya, tenang, gue udah bilang kok sama penjaganya,” kata Jeremy – yang ternyata sudah ada lebih dulu di lokasi.
“Kita Cuma masuk berdua?” tanya Hanum.
“Iyaa, soalnya yang lain pake tiket festival, jadi mereka harus ke arah lain. Gak papa ya, kata Riana, kamu kan pemberani,” kata Jeremy meyakinkan, seraya menepuk pundak Hanum.
“Iya deh, aku ke sana dulu ya. Ayo, Nesh,” kata Hanum. Ganesh mengiyakan, lalu mengeratkan genggamannya di tangan Hanum. Cuma ada yang janggal disini, sodara-sodara. Ingat di episode sebelumnya, ketika Hanum diberikan bunga oleh teman laki-lakinya? Dan posisi sekarang, ketika gadis itu mengajak Ganesh kesini dan nonton konser, posisi mereka masih saling diam karena Ganesh yang masih marah dengan Hanum.
“Ini siapa yang maju duluan nih?” tanya hanum, sesampai mereka di gate.
“Kamu dong, lady’s first,” jawab Ganesh pelan.
“Ya udah, kamu stay di belakang aku ya, jangan kemana-mana...”
“Iya, mbak...”
***
“Lho, kamu nonton juga?”
“Eh, Na-Nathan, iya nih...” Hanum terkejut.
“Sama siapa kamu kesini, Han?” tanya Nathan lagi.
“Sama pacarku sama teman-teman. Kamu?”
“Aku sama Laras, tu, di sebelah sana,” jawab Nathan.
“Oh gitu, ya udah deh Nat, kalau gitu, kami duluan ya?”
“Silakan. Lewat sini, Han, tak bantu...” kata Nathan. Hanum mengangguk. Ia membantu Ganesh dulu, baru Hanum. Setelah mereka mengucapkan terima kasih, Nathan segera berlalu, membiarkan pasangan muda-mudi itu masuk ke gate untuk mengkonfirmasi tiket mereka.
***
Masih suasana konser. Lagu demi lagu dimainkan, sesuai dengan vibes yang ada, as a concert title ; Bahaya (Mantan) Terindah, makanya suasananya jadi agak galau-galau gimanaaa gitu. Tapi untuk lagu yang satu ini, Hanum kok jadi gelisah sendiri, ya?
“Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti”
“Mbak, jangan ditutupin wajahnya. Kenapa tho?” tanya Ganesh pelan. Hanum tidak menjawab, ia malah mencondongkan tubuhnya, meraih bahu anak itu dan memeluknya. Ia ingin Ganesh mengerti, bahwa selamanya, mereka berdua akan selalu saling memiliki.
“Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Kau tak akan terganti” (Kahitna – Takkan Terganti).
“Hey, mbak nangis?” tanya Ganesh – yang baru menyadari bahu Hanum yang bergetar halus, dan tetesan air mata yang telah membasahi kemejanya.
“I’m sorry for that night, Nesh...” lirihnya. Ganesh menggaruk kepalanya, mencoba mengingat, apa yang telah terjadi di malam sebelumnya antara dirinya dan Hanum? Ah, ya, gedung pertunjukan. Bridal style, lalu... Laki-laki dengan buket bunga itu! Tapi bukankah itu laki-laki yang sama yang membantunya dan Hanum ke gate tadi? Lalu...
“Iya mbak, maafin aku juga, nggak seharusnya aku marah sama mbak pas kondisinya mbak lagi capek kayak gini,” kata Ganesh pelan. Hanum menggelengkan kepalanya, karena sepengetahuan dia, bukan Ganesh yang salah.
__ADS_1
“Lho-lho, bentar deh. Apaan tuh di pojokan?” ucap sebuah suara tiba-tiba. Dan Ganesh dan Hanum baru menyadari bahwa musik sudah berhenti sejak tadi.
“Wah ada yang pelukan... Kayaknya lagi galau tuh. Yuk, samperin!” ujar suara yang lain. Ganesh melongo. Ada huru-hara apa nih? Tapi dia nggak sempat shock lebih lama, karena sebuah tangan kini tengah berusaha menariknya, memisahkannya dari Hanum.
“Eh, kenapa ini?”
“Diajak naik...”
“Pacar saya gimana?” tanya Ganesh bingung.
“Ya dibawa, yuk,” ujar orang itu lagi. Ganesh gak tau aja, siapa yang narik dan bawa dia ke atas, kalau tau pasti heboh nih.
“Nah, ini dia bintang tamu kita... Coba kasih mic dong... Dan dibuka dikit maskernya,” setelah lebih dekat, Ganesh baru sadar, itu, kan... Dia tau itu siapa, meskipun euforia para penonton tak terkira saat itu, saat dia dan Hanum naik ke atas panggung.
“Kamu namanya siapa?” tanya orang itu lagi seraya memegang pundak Hanum.
“Ha-Hanum...” jawab gadis itu setengah ragu, setengah grogi, setengahnya senang.
“Kenapa dengan lagu tadi? Ada yang mau disampaikan gak sih? Ini kesini sama siapa?” tanya orang itu berruntun.
“Sama pacar, sama kakaknya pacar, sama pacarnya kakaknya pacar, eh mbuh, gitu pokoknya...” Hanum meringis. Sementara yang nonton pada ketawa. Bahkan Riana beberapa kali menyoroti mereka berdua dengan flash ponselnya.
“Kenapa kayak terbawa suasana gitu di lagu tadi?” tanya orang itu lagi.
“Nggak papa, kami mah emang gitu,” jawab Hanum polos.
“Yakin?”
“Enggak... Eh, piye tho ki.” Hanum garuk-garuk kepala.
“Jadi yang bener gimana ini?”
“Nggak tau... Yang kita tau, kita adalah Soulmate garis keras...” jawab Hanum. Penonton bertepuk tangan lagi.
“Masak sama Kahitna aja? Sama Arti enggak?”
“Nah lho, ya udah, makasih udah dateng ke sini yaa, semoga langgeng terus sama pacarnya...” ucap orang itu lagi. Hanum mengaminkan, lalu kembali turun dengan Ganesh, kembali ke tempatnya dan menikmati pertunjukan yang masih berlangsung.
***
Kita pergi dulu ke pasangan lain yang ada di sebelah sana. Bukan Riana sama muara, ya, lihat mereka udah bosen aku wkwk. Ini adalah Wisnu, dan yang perempuan itu, Dian. Iya, Dian, makanya Hanum sempat kaget kan tadi?
“Bagus ya mbak konsernya,” Wisnu memecah kesunyian.
“Iya, kamu suka banget ya sama mereka?” tanya Dian lagi.
“Suka mbak, banget, satu circle emang suka sama mereka...” jelas Wisnu.
“Oh, pantes.” Dian menanggapi sekenanya. Wisnu Cuma mengangguk, merasa kehabisan topic.
“Bilakah dia tahu
Apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
__ADS_1
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu” konser masih berlangsung, dan kali ini adalah satu lagu andalan Kahitna lagi, berjudul Andai Dia Tau.
“Mbak...” panggil Wisnu pelan.
“Dalem, opo Nu?”
“Nggg... Anu, mbak... Anunya...”
“Anunya sopo? Kon iku yo, una-anu una-anu...” Dian tertawa.
“Eh, gini mbak... Aku... Aku suka sama mbak...”
“Hah?” Dian terkejut. Ia menatap mata pemuda itu – yang kini tak berani balas menatap matanya.
“Iya mbak, sejak kenal mbak di organisasi, sejak sering ngobrol bareng dan ketemu... Aku nyaman sama mbak, merasa diperhatiin, merasa dijagain, walaupun harusnya aku yang jagain mbak, tapi mau jagain juga gimana, takutnya mbak udah ada pemiliknya,” kata Wisnu lagi. Sumpah, berani deh dia dikutuk jadi kukusan bakpau, tapi rasa grogi dan takut itu tidak bisa ditutupi, terlihat dari tangannya yang kian dingin dan basah, dan matanya yang masih tidak berani menatap lawan bicaranya.
“Nu, ini kamu serius gak sih?” tanya Dian lagi.
“Aku serius mbak...”
“Ya terus? Udah cuman gitu doang?” tanya Dian bar-bar.
“Ya enggak sih... E-Emang mbak mau ta jadi pacarku?” tanya Wisnu tak terkendali. Aduh sumpah, ini proses penembakan model apa sih? Kok gak ada romantis-romantisnya banget?
“Kamu mau punya pacar kayak aku?” tanya Dian balik.
“La kenapa enggak?”
“Ja-Jadi?”
“Dian Marisa Ayu, would you be my girlfriend?” tanya Wisnu lantang, tegas, satu tarikan napas. Kali ini, dia juga mulai berani menatap mata kakak tingkatnya itu. Dan satu kali anggukan telah merubah segalanya. Wisnu berterima kasih, lalu merengkuh singkat gadis itu. Dan ia berjanji, bahwa gadis ini akan ia jaga selagi ia masih diberikan kesempatan untuk itu.
***
Usai pertunjukan. Binar bahagia masih tampak pada keenam remaja itu, lebih-lebih Wisnu dan Dian yang baru saja jadian.
“Gila Yan, akhirnyaaaa...” kata Hanum girang seraya menepuk pundak sahabatnya tersebut.
“Mbuh, sebenernya gue masih percaya nggak percaya sih, soalnya bukan dia lagi deket sama Ayang ya?”
“Alah, Ayang itu mau-mau enggak-enggak sama dia, ya Wisnu males juga kali digantungin terus-terusan kayak gitu, jadi dia cari yang pasti-pasti aja deh. Long last yaa...”
“Iya sih, thanks ya. Wah satu circle kita nih, Han...” kata Dian senang.
__ADS_1
“Iya dong... Welcome!” serunya. Kemudian mereka melakukan toast. Ah, Tunjungan Plaza jadi saksi akan banyak hal ; tentang dua orang yang baru saja berdamai, tentang dua orang lain yang semakin merekatkan ikatan cinta mereka, dan kali ini, tentang dua orang lagi yang baru saja merajut cinta baru, cinta yang semoga tidak berakhir saling menyakiti dan meninggalkan luka.
(TBC).