
Perkuliahan semester satu sudah berjalan hampir setengahnya. Muara, Riana, Wisnu dan Ganesh sudah merasakan betul repot dan lelahnya menjadi mahasiswa. Tugas selalu ada hampir setiap hari, dan mereka harus benar-benar mengerjakannya dengan serius, sebab ini nantinya akan berpengaruh dengan nilai akhir mereka (IP dan IPK).
Riana melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku akibat duduk menghadapi meja komputer seharian. Syukurlah, tugasnya sudah banyak yang selesai, sehingga ia bisa rebahan barang sebentar.
“Mbak Ri...” panggilan pelan dari balik pintu membuat Riana bangkit dari atas tempat tidurnya, dan membuka pintu kamarnya tersebut.
“Ada apa Han?” tanyanya kepada sosok di balik pintu.
“Aku mau cari makan keluar nih, mau nitip apa?” tanya Hanum.
“Seadanya wes, se-bawanya kamu aja. Mau pergi sama siapa tho kkok rapi banget?” tanya Riana penasaran.
“Ini sama Ganesh, udah janjian di cafe-nya gitu mbak, katanya Wisnu mau bawa seseorang yang akan diperkenalkan ke kita nanti, tapi berhubung Mbak Ri dan Mas Ra sama-sama sibuk, jadi ya biar kami dulu aja yang nemuin...”
“Yeee, ngomong dong kalau mau hangout, mbak ikut!” seru Riana seraya buru-buru mengganti pakaiannya.
“Ya udah nyusulo karo Mas Ra ya, aku udah duluan pesen ojol soalnya. Daaa mbak!” seru Hanum seraya buru-buru keluar, karena ponselnya sudah bergetar terus. Mungkin itu notifikasi dari ojek online yang dipesannya. Riana geleng-geleng kepala. Dasar, mau hangout gini kok ya malah nggak bilang-bilang, kan jadi serba dadakan semuanya. Tapi kemudian dia sadar ; kan memang yang punya rencana hangout tadi Hanum sama Ganesh, kenapa mesti dia yang panik? Dia hampir saja lupa bahwa sesungguhnya Hanum semandiri dirinya, Muara, dan teman-teman awas yang lain. Maka ia merubah keputusannya. Dia akan tetap pergi dengan Muara, namun ke tempat yang berbeda, dan tidak akan menyusul mereka.
[Dek Hani, mbak gak jadi nyusul ya, mbak ada acara di tempat lain sama Mas Muara. Kapan-kapan, kita hangout bareng lagi ya...] Hanum is typing.
[Yaaa sayang banget, padahal kita mau ngenalin gebetan barunya Wisnu nih. Tapi gpp deh, have fun ya mbak...] Riana hanya memberinya emot tersenyum, sebelum akhirnya ia mengunci pintu kos-kosan, dan menyambut Muara yang sudah menantinya di depan, dengan motor kesayangannya.
“Sore cantik, katanya mau nyusulin Hanum sama Ganesh? Kenapa gak jadi?” tanya Muara, sesaat setelah Riana naik ke atas boncengan dan mengenakan helm.
“Aku cuma harus mengerem diriku supaya aku gak terlalu khawatir, Ra...” kata Riana.
“Maksudnya gimana?” Muara heran.
“Biar bagaimanapun, Hanum dan Ganesh kan juga butuh privacy, mereka mungkin emang maunya berdua aja, nggak diintilin sama kita. Aku harusnya mengerti bahwa sebelum ada aku di kehidupan mereka, semuanya baik-baik aja. Toh mereka juga sebenernya normal-normal aja, sama kayak kita, cuma matanya yang nggak berfungsi...” kata Riana.
“Iya sih, setuju aku. Mereka kalau di kampus juga lues banget kan ya, mungkin sesekali aja dibantu. Tapi itu wajar, karena setiap orang akan membutuhkan bantuan pada waktunya...” kata Muara.
“Setuju sih. BTW, kita mau kemana nih?” tanya Riana.
“Nggak ngerti, la tadi yang ngajak berubah rencana kan kamu... Gimana sih?” Muara meringis.
“Iya juga sih ya. Ya udah, kita makan dulu aja, sisanya biar kita pikirkan nanti.” kata Riana. Muara setuju. Maka, pada sore itu mereka melajukan motor ke jalan yang benar *eh.
***
“Lah, kok kesini sih?” tanya Riana heran, sesampainya mereka di suatu tempat yang merupakan pusat permainan.
“Nggak tau, iseng aja pengen ngajak kamu main kesini. Lagian tadi kan kita berubah rencana dadakan sih...” kata Muara. Riana nyengir.
“Ya udah, terus mau ngapain ini kita disini?” tanya Riana.
“Ya isi voucher, terus main. Sesekali gila-gilaan kita, gak papa kan?” tanya Muara.
“Eh, main di pusat permainan kayak gini bukannya mahal ya?” tanya Riana.
“Tenang, aku lagi punya agak banyak nih. Sesekali menyenangkan pacar cantikku tidak apa-apa kan?” kata Muara seraya merangkul Riana.
“Gombal terus ya bapaknya akhir-akhir ini... Yowes yuk!” seru Riana seraya tertawa lebar. Muara ikut tertawa, dan sambil masih menggandeng Riana, ia mengajak gadis itu menuju counter pengisian voucher.
***
“Mau main yang mana dulu nih?” tanya Muara, usai mereka mendapatkan voucher.
“Aku mau nyobain ping-pong dulu ah...”
“Okeee, aku pasti akan mengalahkanmu...” kata Muara. Riana tertawa dan balas menjulurkan lidahnya.
“Ayo aja kalau bisa...” ucapnya balas menantang. Muara tertawa, dan mereka akan segera memulai permainan ping-pong itu.
***
Muara menghampiri Riana dengan beberapa barang di tangan, sementara gadis itu sedang asyik menjilati ice cream cokelat sambil duduk di atas sebuah kursi.
__ADS_1
“Sayang, coba lihat ini...” kata Muara seraya menunjukkan sebuah benda kepada gadis itu.
“Aaaa, kembang gulaaaa!” seru Riana dengan mata yang sangat berbinar. Kembang gula itu besar – nggak sih, sangat besar untuk ukuran sebuah kembang gula, lebih dari biasanya pokoknya, warnanya merah muda, tampak cantik sekali.
“Aku foto ya...” kata Muara.
“Heh, ojok yooo, kelihatan cute banget jadinya...” protes Riana.
“Babah wes, ancen kowe imut og... Lihat sini, ya, satu, dua...” dan aksi potret-memotret itu terus berlanjut, dan baru berhenti ketika Riana menjewer telinga kekasihnya tersebut, karena bosen difoto-foto.
“Aduh, copot deh nih telingaku ntar...” kata Muara seraya mengusap-usap telinganya yang memerah akibat tarikan maut Riana tadi.
“Aku masih punya beberapa hadiah lagi lho...” kata cowok itu seraya beranjak ke kursi tempatnya menaruh barang-barang tadi.
“Apaan lagi Ra? Iki lho uwes, kembang gula sak mene gedene...” kata Riana seraya mulai menikmati panganan manis berpenampilan imut itu.
“Wes talah, tutup mata dulu.” kata Muara tiba-tiba.
“Aduh ini kenapa lagi sih masnya?” Riana kebingungan. Seharian ini Muara memperlakukannya dengan manis sekali. Kebayang aja, kalau tiap hari diginiin apa gak diabetes dia?”
“Udah tutup mata belum?” suara Muara tiba-tiba ada di depannya.
“Udah...” jawab Riana. Muara tersenyum. Ia meraba leher jenjang Riana, dan memasangkan sesuatu disana.
“Udah boleh dibuka belom?” tanya Riana yang tampak penasaran.
“Silakan...” kata Muara. Riana membuka matanya, dan memegang sesuatu yang indah persis di dadanya.
“Aiii, lucu banget, masak liontin kalungnya bentuk jamur?” Riana tertawa seraya menyentuh kalung yang baru saja dipakaikan oleh Muara itu.
“Nggak tau, tadi pas kamu istirahat dan makan eskrim, aku ke bawah, lihat ada toko aksesoris. Aku pengen cariin kamu sesuatu yang unik. Kalung dengan liontin hati sih udah biasa ya, tapi terus aku nemu yang bentuk itu, ya udah deh...”
“Kenapa kamu anggap liontin hati itu udah biasa?” tanya Riana.
“Ya emang udah biasa, karena dipake sama banyak orang, dan aku nggak mau kamu terlihat sama seperti gadis kebanyakan, karena kamu luar biasa...” ucap Muara tulus seraya mengacak gemas rambut Riana.
“Ya ampuuun, ini bapaknya udah gombalin saya berapa kali ya? Pelanggaran!” seru Riana pura-pura kesal. Padahal aslinya mukanya udah merah sewarna udang rebus. Dan kebiasaan alamiah tiap cewek adalah, setiap kali wajahnya memanas dan memerah, pasti yang ditutupi adalah pipinya. Kamu gitu juga gak readers?
“Mmm... Apa ya?” Riana tampak berpikir. Ekspresinya menggemaskan sekali, bikin Muara pengen... (Apa hayo? Jangan traveling aja itu otaknya, ya! Orang cuma pengen cubit pipinya kok, weeeeeekkk.).
“Kayaknya capit boneka seru, deh. Tapi aku maunya kamu yang main, dan kamu yang memenangkan bonekanya. Aku cuma nonton. Gimana?” kata Riana seraya mengerling jahil.
“Wah sulit banget ya Verguso... Untung aja nih ya, kamu bukan Roro Jonggrang atau Dayang Sumbi, malah soyo repot aku nek kamu minta dibuatin 1000 candi atau bendungan...” Muara meringis.
“Makanya... Bersyukurlah kamu hidup di era milenial saat ini, anak muda. Jadi, ayo, lakukanlah...” kata Riana seraya tersenyum geli dan menatap Muara.
“Baiklah, Nyi sanak...” Muara tertawa pasrah. Dan Riana menjulurkan lidahnya, senang sekali karena dia akhirnya bisa mengerjai Muara untuk kedua kalinya, setelah dikalahkan berkali-kali dalam beberapa permainan tadi.
***
“Yeeeee, kok malah ketemu disini kita?” pertanyaan seseorang mengejutkan pasangan sejoli itu, yang baru saja keluar dari dalam pusat permainan.
“Lho, Wisnu, katanya kamu mau hangout sama Ganesh?” tanya Riana.
“Tadi udah makan bareng mbak, Ganesh sama Mbak Hanum balik ke kost, kayaknya lagi nyelesaikan project deh mereka itu, makanya aku kesini sama temenku... Oh iya, kenalin, ini Ayang...” kata Wisnu seraya memperkenalkan sosok hitam manis yang ada di sebelahnya.
“Katanya temen, kok dipanggilnya ayang? Parah lu Nu...” kata Riana.
“Bukan begitu mbak, emang nama dia itu Ayang, lengkapnya Diah Ayang Permata... Panggilannya Ayang...” Wisnu meringis.
“Oh, kalau gitu aku manggilmu Diah aja ya, ngko ndak dicakar Nyonya aku manggil kamu Ayang...” Muara meringis. Riana menyikut pinggangnya. Dia bukan type pencemburu kok, (kayaknya, sih. Dia lupa soalnya kapan terakhir dia ngerasain yang namanya cemburu).
“Oh, iya, ndak papa mas. Saya memang biasa kok dipanggil dengan nama itu...” jawab Ayang pelan.
“Ya udah deh Nu, kami duluan ya. Kalian masih mau jalan-jalan ta?” tanya Muara.
“Nggak, ini mau nganterin Ayang ke kost-nya. Dia mau ngerjain tugas soalnya.” jawab Wisnu.
__ADS_1
“Oh, gitu. Yowes yoh, kami duluan. Bye...”
“Bye, ti-ati, mas...”
***
Harum masakan langsung menyerang indra penciuman mereka begitu Riana dan Muara tiba di kos-kosan. Penasaran, mereka segera turun dari motor, memarkirkannya, lalu masuk ke rumah. Di ruang tengah, Ganesh begitu asyik memainkan keyboard milik Hanum, sementara di dapur ada suara seseorang yang sedang menumis sesuatu.
“Hanum kemana, Nesh?” tanya Riana seraya mencopot helm-nya.
“La yang masak di dapur itu siapa mbak kalau bukan Mbak Hanum?” tanya Ganesh.
“Masak apa?” tanya Riana.
“Mbuh, seblak katanya...” jawab Ganesh seraya tetap main piano. Riana sebel. Susah si Ganesh nih kalau lagi serius sama musik, kalau ditanya jawabnya setengah-setengah. Daripada dia terus bertanya-tanya, mending dia langsung mengintip sendiri saja ke dapur.
***
Di meja depan kos-kosan itulah mereka semua berkumpul, sambil asyik bercanda, menikmati seblak buatan Hanum. Kenapa semua? Ya semua, soalnya, Wisnu juga ikut bergabung dengan mereka, sekaligus mau menjemput Ganesh.
“Nu, gimana PDKT-nya, sukses?” Ganesh memecah kesunyian.
“Nggak tau nih... Aku agak bingung sama Ayang...”
“Cieee...” goda mereka semua.
“Ck, emang namanya dia Ayaaaang woooooiii!” ketus Wisnu.
“Iya-iya, gak usah emosi... Kenapa memang dia?” tanya Hanum.
“Dia kayak mau-mau enggak-enggak gitu sama aku. Kan susah nebaknya...”
“Jangan-jangan dia mau yang enggak-enggak sama kamu?” celetuk Muara tiba-tiba. Riana memelototkan bmatanya.
“Ampun, sayang...” Muara meringis.
“Semua kan butuh proses Nu, gak se-instan itu. Kamu harus sabar...” kata Hanum.
“Nah bener tuh, kamu mau tak ajarin gimana caranya sabar a? Kan udah tak ceritain sesabar apa aku nungguin wanita cantik di sampingku ini...” kata Ganesh seraya mencolek hidung Hanum.
“Pak, jangan pelanggaran!” serunya seraya tersipu.
“Plisss jangan mojok dulu...” sungut Wisnu.
“Iya-iya... Ya terus kamu maunya gimana?” tanya Hanum akhirnya.
“Kayaknya tak perjuangkan dulu. Kalau dia mau, lanjut, kalau nggak, ya tinggal...” kata Wisnu. Dari nada suaranya, terdengar bahwa dia begitu putus asa.
“Tunjukkan terus bahwa kamu serius mencintainya, bikin dia nyaman aja sampai dia luluh sendiri. Dan kurasa, jalanmu akan lebih mudah nantinya, karena kamu udah bisa langsung ketemu tanpa LDR dulu...” kata Ganesh.
“Setuju aku.” timpal Hanum.
“Tapi aku kan gak seromantis kamu, Nesh, yoopo terusan? Aku ngerasa aku datar gitu, mungkin itu juga kali yang bikin Mayang akhirnya lebih prefer ke kamu dulunya...”
“Beda kasus nek ikuuuu!” seru semuanya kompak. Wisnu meringis.
“Nek Mayang iku ncen nackal kerosoku...” kata Riana. Semua mengangguk.
“Yowes lah, sing uwes yo uwes ojok dibahas maneh. Sekarang kita fokusnya ke yoopo carane supaya Wisnu bisa dapatin hatinya Ayang, itu aja...” kata Muara.
“Iku gari ditambahi M kenek lho asline...” ledek Ganesh.
“Hus, uwes, ah. Ngko ndak ngamuk itu Wisnu... Ya udah buruan lek maem, wes bengi, sesok kuliah jam piro doan?” tanya Riana.
“Aku jam setengah delapan udah kelas iki.” jawab Hanum.
“Oh iyo, semester loro bedo dewe. Kalau aku dan lain-lain baru jam sembilan besok itu...” kata Riana.
__ADS_1
“Yo enak!” sungut Hanum. Semua tertawa. Maka perbincangan malam itu ditutup dengan kesimpulan. Wisnu harus bisa mendapatkan hatinya Ayang, supaya dia bisa move on. Asal nggak dibuat pelarian aja sih ujung-ujungnya. Kan kasian.
(TBC).