MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 44, GEGER


__ADS_3

Riana shock. Jantungnya seperti ditarik keluar semua. Kamar Hanum kosong, dan pintunya terkunci. Kemana anak itu, gak ada yang tau, ibu kost pun tidak.


Riana terduduk di bawah tangga. Ia mengambil napas dalam-dalam, sebelum menghembuskannya... Lewat bawah *eh, bukan. Pokoknya gitulah. Ia berpikir-pikir sejenak apa yang telah terjadi semalam.


“Aduh, gimana coba ini anak? Kalau ilang gegara diculik alien gimana? Eh kenapa juga harus alien ya? Aaa Tuhan, mbuh, ruwet wes, luput, ambyar kabeh!” Riana mengacak-acak rambutnya, frustasi. Ia sungguh bingung, kemana Hanum tadi malam. Dan parahnya dia, saking shock-nya begitu tahu Hanum “menghilang” alias nggak ada di kamarnya, dia malah sibuk berkeliling taman – mencari, tanpa berniat menghubungi siapapun untuk bertanya. Ya jelas, dia tetap tidak akan tahu dimana sebenarnya Hanum berada.


“Ah, gimana sih ya? Iki ki kudune onok sing tak oyak tak takok-i ket mang... Kok gak kepikiran, ya?” Riana mengucek kasar rambutnya. Kebiasaan, pasti kalau panik dia akan kehilangan ide tentang sesuatu yang harusnya bisa ia lakukan. Riana pergi ke kamarnya, mengambil ponselnya, lalu mulai berpikir akan menghubungi siapa untuk pertama kali. Dan pilihan itu langsung jatuh kepada Muara.


Riana menggeser ikon hijau pada ponselnya, lalu menunggu panggilan itu terjawab.


“Halo, Ri, kenapa?” tanya Muara, dengan suara khas baru bangun tidur.


“Ra, iki serius iki ki... Hanum ilang!” ucap Riana panik. Tapi alih-alih ikutan panik, Muara malah berreaksi tenang-tenang saja, dan itu membuat akhirnya Riana sedikit kesal.


“Ck, Ra, kamu tuh gimana sih? Adeknya ilang gini kok santai-santai aja? Udah gila kamu ya?” omel Riana.


“Sek talah, aku ki arepe cerito, mulo tho ojok ngegas terus...” kata Muara.


“Ya udah, apaan?” sahut Riana tak sabar.


“Hanum semalam tak jemput, tak bawa ke rumah sakit. Sorry nggak ngasih tau, aku panic attack soalnya. Pertimbanganku kemarin juga kondisinya Ganesh yang bener-bener mengkhawatirkan. Dia manggil-manggil Hanum terus, makanya pas kebetulan dia belum tidur kan, ya aku akhirnya nelpon terus jemput tu anak. Tenang, dia aman di rumah sakit kok...”


“Astaghfirullah Muara Devan Mahendraaa, kan kamu bisa ngomong aku dulu kalau ada kayak ginian tuh... Ya oke sekarang mungkin Hanum aman, karena perginya sama kamu. Tapi nanti-nanti, aku gak mau sampai ada cerita kayak gini lagi, bahaya tau...” alih-alih membuat gadis itu tenang, penjelasan Muara tadi justru membuat Riana sukses mencak-mencak.


“Iya sayang iya, maaf, deh, aku emang ceroboh...” aku Muara. Aslinya dia pengen ngakak kalau ngeliat ekspresinya Riana yang sebenernya sih serius, tapi entah, kalau di mata dia, keseriusan itu berubah jadi keimutan *halah.


“Ya udah, tapi awas sampe yang kayak gini kejadian lagi. Kamu tuh harusnya...” percakapan selanjutnya gak usah tak ceritain deh, bestie, soalnya Riana lagi ngamuk. Kepanjangan nanti, hihihi.


***


Riana memasuki area rumah sakit dengan ekspresi yang masih tegang. Ia harus memastikan sendiri kondisi Hanum sebenarnya. Walaupun Muara udah berkali-kali bilang kalau semua akan baik-baik aja, tapi Riana tetap gak percaya. Baginya akan lebih baik jika ia melihat sendiri kondisi anak itu. Ruang Mawar nomor 15, itulah tempat dimana Ganesha di rawat. Setelah Riana menaiki lift menuju lantai 5, ia menemukan ruang rawat itu – yang untungnya VVIP, jadi dia tidak perlu repot-repot mengulas senyum kepada keluarga dan pasien lain. Soalnya mood-nya dia hari ini sedang tidak di-setting untuk bisa ber-ramah-tamah, apa lagi dengan orang asing.


Sesampainya di depan pintu ruangan, Riana melihat adegan yang membuat akhirnya ketegangannya bisa sedikit mengendur. Ia melihat Hanum yang begitu telaten menyuapi Ganesha makan. Riana menyibak sedikit tirai ruangan, lalu masuk ke dalam, dan menyapa mereka.


“Selamat pagi...”


“Pagi Mbak Ri, ayo masuk,” Hanum menyambut dengan ceria kakak dari kekasihnya itu.


“Kalian berdua oke kan? Ditinggal sendiri disini aman kan?” tanya Riana beruntun.


“Aman dan semua oke mbak... Maaf aku lupa ngabarin semalam, habis Mas Ra mintanya buru-buru sih...” kata Hanum.


“Iya sayang nggak papa. Ganesh, kamu gimana?” tanya Riana hati-hati. Jujur, pikirannya masih sangat tidak tenang, apa lagi bila mengingat apa yang terjadi semalam.


“Aku baik, mbak, tapi kakiku...”


“Iya, nanti kita bawa ke tukang urut aja ya. Kapan kamu bisa pulang?” tanya Riana.

__ADS_1


“Kata dokter hari ini sudah boleh pulang kok mbak... Tapi gimana nih sama kakiku?” tanya Ganesh khawatir.


“Aman, nanti kupanggilin tukang urut wes... Tapi yakin, deh, ini pasti bakal sakit banget...” kata Riana menakut-nakuti.


“Woh asli mbak, aku pernah juga jatuh dari tangga, engkel-ku bermasalah, diurut, tukang urutnya tak tendang...” timpal Hanum.


“Duh, kalian kok malah pada jatuhin mental gini sih?” keluh Ganesh.


“Yeeee, ini kan berdasarkan PENGALAMAN kita, ya nggak Mbak Ri?” tanya Hanum.


“Pengalaman sih pengalaman, tapi kan... Ah, udahlah, kalian rese!” ketus Ganesh.


“Halah, kamu lho, malah ngambek. Udah pokoknya, hari ini juga, kamu harus diurut!” putus Riana.


“Aduh, mateng wes... Piye iki oweeeek?” rajuk Ganesh.


“Wes talah, nanti kan ditemenin, tenang aja...” kata Hanum.


“Yowes gek beres-beres itu, biar pas waktunya pulang nanti gampang...” kata Riana. Hanum mengangguk. Ia segera meletakkan mangkuk yang sedang dipegangnya ke atas nakas, lalu membereskan ransel Ganesh yang cukup berantakan karena kepanikan semalam.


“Nah, tukang urutnya nanti ready jam satu siang, di kostmu aja ya, Nesh?” tanya Riana.


“Sembarang wes, manut aku...” ucap Ganesh lemah.


“Tenang ya Nesh, nanti tak temenin.” Bujuk Hanum. Ganesh Cuma mengiyakan. Biasa, kumat ngambeknya.


***


“Semua siap?” tanya Riana. Gayanya udah kayak petugas polisi yang mau jagain demo, tegas banget.


“Alamak, ya gak gini-gini amat kali mbak, kita Cuma mau nemenin orang diurut lho...” Hanum ketawa.


“Ya biarin, biar agak seru gitu, kan kita mah anti mainstream,” jawab Riana santai.


“Ealah mbuh wes... Emang tukang urutnya udah sampai mana tho?” tanya Hanum.


“Itu di depan gang, lagi dijemput sama Muara...” jawab Riana. Tak lama berselang, terdengar suara salam dari arah depan. Riana dan Dian membuka pintu, sementara Hanum dan Wisnu stay di dalam dan menjaga Ganesh. Ternyata, tukang urutnya udah datang, seorang wanita tua berusia nyaris enam puluh tahun. Mereka agak sangsi sebenarnya, khawatir ibu tukang urut ini tidak bisa mengimbangi tenaga Ganesh yang besar. Tapi Mak Saripah – begitulah namanya, dan begitulah ia hanya ingin disapa, meyakinkan mereka, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Jadi yang mana yang mau diurut?” tanya Mak Saripah.


“Ini, mak,” jawab Riana seraya menunjuk adiknya yang sudah setengah mati pasrah tentang nasibnya hari ini.


“Oh, yowes ayo,” ucap Mak Saripah pelan. Wisnu segera memapahh Ganesh ke dalam kamar, diikuti Hanum. Riana, Muara dan Dian berjaga di depan, takut ada hal-hal lain yang diperlukan sama Mak Saripah.


“Mbak Hanum...” panggil Ganesh pelan.


“Iya Nesh, aku disini. Tenang yaa,” kata Hanum pelan. Jujur dia agak khawatir dengan semua ini. Tapi, ya mau gimana lagi kan. Dengan isyarat berupa tepukan di pundak, Wisnu menyuruh Hanum untuk minggir ke dinding dekat pintu. Ia khawatir tentang reaksi Ganesh yang bisa saja ekstrim karena kesakitan. Hanum menurut, dan diapun ikutan tegang.

__ADS_1


“Yoopo Nu?” tanyanya pelan.


“Tenang aja, pasti semua tidak akan baik-baik saja, eh...” jawab Wisnu asal. Hanum menjewer pelan telinga anak itu, sebelum akhirnya ia kembali tegang karena persiapan urut-mengurut yang sudah hampir selesai.


“Santai aja ya mas, Insya Allah ini gak sakit kok, soalnya kejadiannya belum lama, jadi tulang yang bengkok akan lebih cepat lurusnya...” kata Mak Saripah. Hanum bergidik ngeri. Apa? Bengkok? Jadi separah itu posisi Ganesh terjatuh kemarin? Hanum beringsut semakin merapat ke arah dinding. Terus terang dia jadi beneran takut nih. Mak Saripah mulai memijat pelan kaki Ganesh, dan kuirang dari lima menit, semua moment seru itu dimulai.


***


Hanum terduduk di atas kursi dengan peluh yang membanjiri seluruh tubuh. Wisnu juga sama, bedanya, dia pake acara benjol segala tuh kepalanya gara-gara kejedot pintu.


“Bener-bener tenaga gajah ya itu anak...” ucap Hanum lemah seraya memegang segelas air di tangannya dengan gemetar.


“Aku kan udah ngomong mbak, Ganesh tuh kayak gitu, dari dulu aku kenal dia ya begitu... Dia gak pernah ngeluarin power yang besar, tapi kalau marah atau terusik ya, jadilah dia sekuat gajah...” jawab Wisnu.


“Kalian itu sebenernya temen dari kapan sih?” tanya Hanum penasaran.


“Sebenernya dulu aku sama Ganesh tetanggaan mbak. Tapi pas SMP aku sekeluarga pindah. Nah pas aku kelas tiga dan Ganesh kelas tiga, kita ketemu lagi, itupun gara-gara dia dipalak anak STM di angkot, aku sama temen-temenku mau pulang, karena panik ya kita nolongin lah, untung ada petugas Satpol PP juga, ya selamat lah kita. Yang aku heran, ternyata Ganesh tu masih kenal aku, padahal ada kali tiga tahun kita gak ketemu. Akhirnya Ganesh mbonceng salah satu temanku, kami antar dia ke rumah budenya saat itu. Jadi sampai SMA sebenernya aku sama Ganesh gak satu sekolah, karena Ganesh di SLB, pas SMA itu dia pindah  ke SLB yang lebih deket sama rumah budenya. Nah terus ya, karena dari dulu kita punya kegemaran dan minat yang sama sama musik, Ganesh sering tak ajak ikut sama band-ku, jadi, ya begitu...” tutur Wisnu.


“Terus ceritanya Ganesh bisa nge-kost bareng kamu itu yoopo? Emang ada apa dengan budenya?” Hanum penasaran.


“Kalau itu lebih ke konflik internal sih mbak, aku nggak punya kapasitas buat cerita, mbak nanti bisa denger dari Ganesh-nya sendiri, orang mbaknya belum tau juga kok...”


“Opo-o Nu?” tanya Riana yang baru saja datang sambil membawa bungkusan di tangannya.


“Nggak papa mbak, ini Cuma ngobrol-ngobrol aja kok. La sampean dari mana mbak tadi?” tanya Wisnu.


“Ini beli makanan, yowes ayo makan semua aja. Mak Saripah masih di dalam ta?” tanya Riana.


“Yo masih, dia masih memastikan kondisi Ganesh kok. Ya udah, tak panggilin bentar ya,” kata Wisnu. Riana mengangguk.


***


Malam beranjak naik perlahan, mengikuti ketetapan sang pengatur dan pencipta segalanya. Hanum bergelung di atas sofa bed di kos-kosannya, bersama Riana yang masih asyik streaming drakor. Tapi setelah episode terakhir yang ia tonton selesai, gadis itu segera mematikan laptopnya, dan mengelus-elus rambut Hanum yang menutupi mata dan sebagian wajahnya.


“Dek...” panggilnya.


“Iya, mbak?” jawab Hanum seraya setengah mengantuk. Sungguh, jika ia diberi kesempatan untuk meminta sesuatu, yang dia inginkan hanyalah... Tidur. Yes, sleep, turu. Se-simple itu, soalnya energinya udah terkuras seharian penuh menghadapi berbagai kejadian.


“Kamu kok baik banget sih dek? Kamu kok bisa ya sesayang itu sama Ganesh? Apa sih rahasia yang dipunyai anak itu sampai dia bisa disayangi sedemikian rupa sama perempuan sehebat kamu pula...”


“Mbak pengen tau rahasianya?” tanya Hanum seraya menaik-turunkan alisnya.


“Mau lah, dia main dukun atau apa gitu, sampai perempuan seperti kamu rela melakukan hampir apa saja buat dia...”


“Heh, enggak lah. Rahasianya itu sebenernya lebih kepada... Selama deket sama dia, aku merasa bahwa aku adalah wanita yang beruntung. Singkatnya, dia bisa melengkapi kekuranganku, dia terima semuanya dari A sampai Z. Mungkin seperti itu jugalah yang Mbak Ri rasakan saat bareng-bareng sama Mas Ra. Iya kan?”


“You’re right, dek. Nggak ada yang lebih disyukuri oleh seorang wanita ketika ia bisa mendapatkan pasangan yang bisa mencintai tidak hanya lebihnya, tapi juga kurangnya dia...”

__ADS_1


“Yes, that’s all... Jadi, aku gak perlu jelasin apa-apa lagi, kan?” tukas Hanum. Riana mengganti jawabannya dengan sebuah pelukan. Dan ia semakin menyadari betapa besar rasa sayangnya kepada gadis cantik berponi itu. Dan dia juga percaya tentang adanya pelangi setelah hujan. Mungkin setelah kegegeran yang dihadapinya dua hari berturut-turut, akan ada waktu bahagia yang datang dengan durasi serupa atau bahkan lebih. Ya, semoga saja, karena berharap tidak ada salahnya, kan?


(TBC).


__ADS_2