MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 58, HEART TO HEART


__ADS_3

“Segala sesuatu yang dimulai dengan hati, maka akan sampai kembali ke hati. Maka, lakukanlah apapun dengan tulus,” (Kura-kura Ninja).


Masih di kota apel sekaligus kota dinginnya Jawa Timur, Malang. Riana ada di dapur rumah pribadinya, bersama dengan dua ART kecenya, Mbok Pinem dan Mbak Wati. Mereka sedang memasak sarapan bersama. Sementara itu, Tuan Pradana – Ayah Riana, masih berada di kamar mandi, bersiap-siap hendak ke kantor hari ini. Ini sudah hari kedua Riana berada di rumahnya sendiri, dan ketenangannya sama sekali tidak terinterupsi kendati ada banyak pertanyaan yang mengendap di kepalanya kini, terutama soal keberadaan Lisa sang kakak dan Tante Sarah, ibu sambungnya.


“Non, jangan ngelamun, itu ayamnya buruan dimasukin ke wajan, nanti kalau hidup lagi gimana?” tegur Mbok Pinem. Riana tergeragap. Buru-buru ia beranjak mendekati wadah berisi ayam yang telah terrendam bumbu, siap untuk digoreng.


“Yeee, si mbok tu gimana. Ini kan ayamnya udah dipotong, kalau idup lagi kayak kuyang dia, ini kan tinggal kepalanya doang,” jawab Riana. Mbok Pinem tertawa. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Riana melanjutkan aktifitasnya dengan mengobrol bersama para ART sambil minum teh. Papanya masih lima belas menit lagi baru turun dari kamar, jadi, Riana masih punya waktu bercengkrama dengan mereka.


“Mbok, aku kok ngerasa kayak ada sesuatu yang hilang dari rumah ini ya?” gadis itu memecah kesunyian, usai menyeruput teh camomile faforitnya.


“Hilang gimana tho non?” tanya Mbok Pinem.


“Ya hilang, ya pokoknya hilang, sesuatu yang tidak ada di suatu tempat,” jawab Riana.


“Sek talah. Memang sebenarnya non ini nyari apa tho?” kini ganti Mbak Wati yang bertanya.


“Bukan apa, Mbak Wati, tapi siapa,” ralat Riana.


“La itu, memang siapa yang non cari disini? Bukannya Den Ganesha ada di surabaya juga?” Mbok Pinem kembali menimpali.


“Saya nyari Tante Sarah dan Mbak Lisa... Kemana mereka mbok? Sedang berlibur kah?” tanya Riana.


“Lho, Non Tari nggak tau ya, kalau sebenernya Mbak Lisa sama Bu Sarah itu...”


“Selamat pagi!” sapa Tuan Pradana seraya mengencangkan ikatan dasinya.


“Pagi,” jawab semua yang ada di dapur kompak. Mbok Pinem dan Mbak Wati saling lirik ; main kode rahasia yang cuma mereka berdua yang tau.


“Oiya, Mbok Pinem, Mbak Wati, untuk malam ini, kalau kalian mau masak, masaklah untuk kalian berempat saja ya, saya mau ngajak putri cantik saya ini makan di luar...” katanya seraya merangkul pundak Riana.


“Makan diluar, pa? Kok tumben?” Riana heran.


“Iya sayang, temen papa baru opening restaurant barunya hari ini, papa diundang kesana...”


“Oh gitu, ya udah nanti tak temenin. Lagian kenapa gak sama Tante Sarah sih pa? Bukannya dia... Istri papa?” tanya Riana hati-hati. Papanya tidak menjawab, ia mengalihkan perasaannya dengan menyeruput kopi yang telah disediakan.


“Jadi, nanti malam kita pergi ya, Ri,” kata papanya.


“Iya pa, siap,” jawab Riana. Setelah tidak ada hal lain yang ingin dibicarakan, mereka pun akhirnya sarapan bersama dengan berbalut keheningan.


***


Riana kembali ke rumah sekitar jam dua siang. ia putus asa membujuk Mbok Pinem dan Mbak Wati untuk bercerita tentang hal-hal apa saja yang terjadi di rumah ini selama dirinya tidak ada. Dan kedua ART setianya itu tetap saja bungkam dan tutup mulut. Sepertinya mereka menyimpan sebuah rahasia yang besar.


“Riana?” panggilan seseorang segera membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh kiri-kanan, dan melihat seorang gadis sebayanya yang memakai jilbab berwarna merah maroon.


“Siapa ya?” tanyanya bingung.


“Ya ALLAH, ini Milia woi, masak lupa sih?” ucap gadis itu seraya mengguncang-guncang lengan Riana. Gadis itu berpikir sejenak, lalu...


“Emilia Ratu Kencana?” tanyanya hati-hati.


“Iyaaa, Yoopo seh arek iki, telung taun lho awak dewe nge-kost bareng mbiyen, saiki lali...”


“Ya rabbiii, Milia!” Riana histeris, langsung memeluk dan memukul-mukul ekstrim bahu gadis itu.


“Heh, KDRT ni anak...” ucapnya seraya berusaha berontak, melepaskan diri dari pelukan Riana.


“Habis aku nggak ngenalin lagi, udah berapa lama kita nggak ketemu. Dan... Jilbab itu...”


“Aku udah setahunan pake ini, lebih tepatnya setelah ngajar. Aku lulus cepet Ri, tiga setengah tahun, makanya bisa balik dan mengabdi disini...” jelas Milia.

__ADS_1


“Oalaaah, selamat ya, padahal kuliahnya duluan aku, kok lulusnya bisa duluan kamu sih?” Riana heran.


“Ya gak tau, udah rejekinya kayaknya, Ri...” Selanjutnya – sambil jalan pulang, mereka lanjut bercerita, terutamanya tentang diri dan perjalanan hidup masing-masing setelah tak bertemu sekian lama. Riana nggak nyangka, aksinya jalan-jalan keluar hari ini malah membawanya kepada pertemuan tak sengaja dengan sahabatnya semasa SMA hingga merantau di Jakarta.


***


Malam hari dan persiapan menuju restaurant. Riana bingung, kepulangannya yang kali ini tidak dimaksudkan untuk menghadiri acara resmi sebenarnya. Tapi, karena ayahnya punya acara dadakan, ia terpaksa gedandapan alias terburu-buru mencari, barangkali masih ada secuil gaunnya yang tersisa di istananya ini.


“Pake ini, non,” kata Mbok Pinem tiba-tiba, seraya menyerahkan sebuah hanger pakaian lengkap dengan sebuah gaun di atasnya. Riana menoleh, lalu seketika terdiam. Itu, kan...


“Itu bukannya gaun milik mama ya, mbok?” tanyanya pelan.


“Iya, non. Ini si mbok amankan, sama baju-baju milik Nyonya Helena yang lain juga ada. Itu tadinya mau dipakai sama Bu Sarah, tapi si mbok nggak ngizinin, makanya semuanya mbok simpankan. Di kamar penyimpanan ada dua koper besar berisi semua pakaian indah milik nyonya, non...” jelas ART-nya.


“Tolong urus koper-koper itu, besok akan saya paketkan ke kost saya di Surabaya. Sekarang, saya mau siap-siap dulu buat nemenin papa ya mbok,” ucap Riana. Mbok Pinem cuma mengangguk, lalu pergi keluar ruangan lagi setelah memastikan putri majikannya benar-benar akan memakai gaun tersebut.


***


Di restaurant, masih pada malam yang sama. Papanya terus memandangi Riana yang tampak begitu cantik dengan gaun milik mendiang istrinya .


“Dia seindah dirimu, Helen...” gumamnya.


“Kenapa pa?” tanya Riana yang sepertinya mendengar gumaman samar-samar itu.


“E-Eh, enggak kok Ri. Ya udah yuk masuk, temen papa udah nunggu pasti di dalam...” katanya. Riana mengangguk. Di dalam, ia mendengar-dengarkan papanya yang sibuk berbicara dengan para kolega bisnisnya. Dan ketika salah satu dari mereka melempar guyonan perkara perjodohan antara anaknya dan Riana, papanya dengan santai menjawab :


“Wah, telat, Ed, anakku sudah dimiliki sama anak orang, bentar lagi lamaran mereka,” syukurlah, Riana bisa bernapas lega. Ternyata hidupnya tidak akan se-dramatis kisah-kisah yang lain. Gadis itu masih saja mendengarkan percakapan-percakapan itu, hingga akhirnya ia bosan dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Di tengah-tengah panggung, ia melihat sekelompok pemusik yang sedang bersiap-siap untuk menghibur seluruh pengunjung restaurant itu. Dan pada waktu yang sama, para pemusik itu juga melihat ke arahnya, lalu salah satu dari mereka memekik.


“Bu Riri!” Riana auto menoleh, dan ia tidak mempercayai pandangan matanya.


“Bu, ini Saras! Nggak ingat ta?” tanya sosok itu lagi.


“Ya iya buuu, memang Saras yang ibu kenal ada lagi ta?” tanyanya.


“Ya enggak sih... Terus itu yang di atas?”


“Itu Riza, Rachel sama Andre, kami kuliah di Malang semua, satu fakultas dan satu jurusan, sama-sama sendratasik...”


“Ya ALLAH, udah pada gede ya kalian.” ucap Riana refleks. Selanjutnya, ia bersalaman dengan ketiga anak muridnya yang lain. Kemudian Saras mengambil microphone dan mulai berbicara kepada para pengunjung.


“Yak hadirin sekalian, jadi... Perempuan cantik ini adalah guru kami waktu SMA dulu,” katanya seraya membawa Riana ke tengah panggung. Riana sebenernya bingung, tapi di satu sisi, dia juga senang karena anak-anaknya masih mengingat dirinya.


“Dan karena bimbingan beliaulah kami berempat bisa sampai di titik yang sekarang. Semua sertifikat kejuaraan yang mengantarkan kami menjadi peraih beasiswa ini didapat semenjak beliau mengajar kami dengan tulus dan penuh kasih sayang,” lanjutnya lagi. Riana terharu. Sebesar itukah jasanya untuk mereka?


“Dan sekarang, kami mau mengajak Bu Riri untuk berkolaborasi bersama kami, kayak zaman di sekolah dulu. Mau ya, bu,” ajak Saras. Riana mengangguk. Ia menerima microphone yang diserahkan oleh Saras. Walaupun awalnya bingung mau bawain lagu apa, tapi akhirnya ia tau, ia harus mempersembahkan sesuatu untuk ayahnya. Dan dengan ditemani Andre sebagai rekan duet, iapun segera menyanyikan lagu tersebut.


“Teringat masa kecilku


Kau peluk dan kau manja


Indahnya saat itu


Buatku melambung


Di sisimu terngiang


Hangat napas segar harum tubuhmu


Kau tuturkan segala


Mimpi-mimpi serta harapanmu

__ADS_1


Kau ingin ku menjadi


Yang terbaik bagimu


Patuhi perintahmu


Jauhkan godaan


Yang mungkin kulakukan


Dalam waktuku beranjak dewasa


Jangan sampai membuatku


Terbelenggu, jatuh, dan terinjak


Tuhan, tolonglah


Sampaikan sejuta sayangku untuknya


Ku t'rus berjanji


Takkan khianati pintanya


Ayah, dengarlah


Betapa sesungguhnya ku mencintaimu


'Kan kubuktikan


Ku mampu penuhi maumu” (Ada Band – Yang terbaik bagimu). Riana menyelesaikan lagunya dengan begitu baik, dan para muridnya juga mengiringinya dengan begitu luar biasa, sehingga para pengunjung restaurant terpana dan bertepuk tangan atas aksi mereka.


Riana turun dari panggung itu. Di bawahnya, sang ayah masih memegang ponsel dengan kamera yang menyala, mengabadikan pertunjukan dadakan yang dibuat oleh putrinya.


“Keren,” pujinya. Riana mengucapkan terima kasih. Selanjutnya ia mengajak keempat muridnya untuk turun dari atas panggung dan berkenalan dengan papanya. Ini adalah malam yang sangat indah ; malam yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


***


“Mentari, makasih banyak untuk malam ini ya...” kata papanya, sesaat setelah mobil yang ditumpangi mereka berhenti di depan garasi yang gerbangnya baru dibuka oleh Mas Parjo.


“Kok makasih? Makasih kenapa pa?” Riana heran.


“Ya makasih, udah mau pulang kesini, udah mau nemenin papa hari ini...”


“Ya nggak perlu pake makasih lah pa, Tari kan anak papa, udah kewajiban Tari dong bikin papa bahagia,” jawab Riana tulus seraya menyandarkan kepalanya di bahu papanya.


“Terima kasih, nak, kamu emang benar-benar Mentari dalam hidup papa,” katanya seraya mengelus sayang puncak kepala sang putri. Riana tercekat, tapi ia buru-buru mengalihkan rasa harunya dengan berkata:


“Ayo masuk, pa, udah malam,”


***


Riana merebahkan kembali badannya di atas bed king size di kamarnya. Besok siang dia akan kembali ke Surabaya, karena beberapa pekerjaan telah menantinya. Tita sudah begitu rempong spamming di chat. Hingga keputusan terakhirnya, ketika chat dari asisten pribadinya sudah mencapai 30 pesan lebih, Riana cuma membalas.


[Sabar, sayang, besok aku akan pulang. Tunggu mama ya nak, mau oleh-oleh apa?] dia mengirim pesan tersebut sambil meringis. Di otaknya sudah ada bayangan ; pasti Tita menerima pesan itu seraya misuh-misuh tidak karuan.


Puas melihat sosmed dan aplikasi perpesanan, Riana segera beralih ke galeri. Ia memotret banyak moment hari ini. Kebanyakan sih yang diambil bareng ayahnya dari di dalam mobil sampai di restaurant. Lalu surprise moment hari ini... Nah, ini dia sebuah foto dan sebuah video yang mengabadikan dirinya dan keempat muridnya yang berkolaborasi bersama di atas panggung di restaurant tadi.


“Mereka memang anak-anak berbakat...” ucap Riana pelan seraya memutar kembali rekaman video tersebut, sebelum ia bersiap-siap untuk tidur. Alhamdulillah, kepulangannya kali ini tidak berakhir sia-sia, dan ia juga berhasil berbicara heart to heart alias dari hati ke hati dengan ayahnya, yang juga akan segera memberikan sebuah cerita dan pengakuan kepada dirinya dan sang adik, Ganesha. hanya saja, waktunya belum ditentukan.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2