MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 39, A BIG SECRET OF GANESHA


__ADS_3

Pelataran kampus, sore hari...


Hanum mengeluarkan tongkatnya dari tas, karena dia hendak bersiap-siap untuk pulang.


“Hanum, kamu pulang sendirian nggak papa tho?” tanya salah seorang teman yang sekelas dengannya sore ini.


“Sans lah, ya udah, aku duluan ya. Mariii...” kata Hanum. Temannya mengiyakan. Dengan menggunakan tongkatnya, Hanum berjalan ke luar kelas dan menuju kantin, menemui teman-temannya – termasuk Dian, yang sudah menunggunya disana.


BRUKK!


“Eh, sorry, gak sengaja...” ucap sebuah suara. Hanum bangkit dari jatuhnya, lalu meraba mencari tongkatnya yang terpental cukup jauh. Hanum tidak menanggapi ucapan orang itu, karena Hanum tau siapa dia.


“Gak usah pegang-pegang!” Hanum menepis tangan pemuda yang tadi menabraknya itu, lalu langsung meninggalkannya begitu saja. Harinya sudah terlalu berat dengan materi perkuliahan yang susah abis, jadi dia nggak mau mood-nya dirusak sama orang tidak bertanggung jawab seperti ini. Lagian, Reno ini ngapain sih berkeliaran di prodinya kayak gini? Bukannya dia anak Sastra Indo, ya?


***


“Sorry for waiting guys!” kata Hanum seraya setengah membanting tasnya ke sofa yang berada tepat di sebelahnya.


“Alamak, kenapa ini datang-datang langsung pasang ekspresi siap perang?” tanya Riana.


“Ketemu sesuatu yang tidak menyenangkan di jalan, mbak...” jawab Hanum.


“Si Brengs*k itu lagi ta?” tanya Ganesh yang juga mulai emosi.


“Hoppp, gak usah berantem dulu... Mending kamu jelasin ke mbak deh. Sebenernya siapa sih sosok yang selalu bikin kalian berantem nggak jelas begini?” tanya Riana serius. Ganesh menunduk, takut. Selama ini, kakaknya tidak pernah tau apa saja yang dialaminya, termasuk masalah perundungan yang terjadi ketika dia masih SMP. Ditambah lagi, di akhir masa remajanya, Riana sempurna menghilang darinya, pergi ke Jakarta.


“Hey, jawab dulu pertanyaan mbak!” pinta Riana tegas.


“A-Aku nggak berani cerita kalau Ganesh gak cerita duluan...” kata Hanum takut-takut. Jujur, dia baru pertama kali ini menyaksikan ketegasan Riana seperti ini.


“Nesh...”


“A-Apa, mbak?” Ganesh memperbaiki posisi duduknya. Ini adalah ciri yang umum, ketika seseorang menyimpan sesuatu yang besar di dadanya (seperti sebuah rahasia, misalnya), dia akan cenderung menjadi gelisah dan tak tenang.


“Setelah akhirnya kita bisa bareng-bareng lagi, kamu nggak niat menceritakan sesuatu sama mbak?” tanya Riana lembut. Ia tidak ingin menginterogasi. Akan lebih baik kalau akhirnya, Ganesh akan bercerita karena keinginannya sendiri.


“Nesh... Gak baik nyimpen rahasia lama-lama, apa lagi, kamu kan sayang sama Mbak Riri...”


“Justru itu Han, aku gak bisa bayangin sehancur apa kalau...”


“Kalau apa? Nesh, jangan simpan luka kamu sendirian kayak gini!” Riana tetap pada ketegasannya. Kali ini, ia meraih tangan Ganesh dan setengah mencengkeramnya.


“A-Apa aku harus, mbak?” tanyanya lelah.


“Please, you can share anything with me, Nesh...” kata Riana. Ganesh menghela napas. Tapi sepertinya, memang ini sudah waktunya. Tidak baik ia menyimpan sesuatu yang harusnya bisa ia bagi. Apa lagi, sebenarnya ini juga yang dia inginkan ; kakaknya kembali, menemaninya, mendengarkan semua ceritanya setiap hari. Tapi sebelum Ganesh menceritakan apa yang disimpannya rapat-rapat selama ini, mereka meminta untuk pindah tempat supaya lebih private. Riana setuju, hingga akhirnya, mereka semua memutuskan untuk berkumpul di kos-kosan Riana, as a BaseCamp, seperti biasa.

__ADS_1


***


Hanum pergi ke dapur bersama anak-anak yang lain, guna menyiapkan teh untuk mereka semua. Selain itu, ia juga memutuskan untuk membawa mereka semua kesana adalah agar memberikan kesempatan kepada Ganesh dan Riana untuk berbicara empat mata sebagai adik dan kakak.


“Mbak tau suatu rahasia tentang Ganesha kah?” tanya Wisnu.


“Kayaknya kamu juga tau kan?” Hanum balik bertanya.


“Ada apa sih sebenernya? Kok jadi agak horror ya?” tanya Muara gak ngerti.


“Kisah ini berkaitan dengan masalalunya Ganesh sewaktu SMP sih mas. Lebih tepatnya begini. Jadi dulu itu...” belum sempat Wisnu melanjutkan penjelasannya, suara Riana yang berteriak histeris mengejutkan mereka semua. Bahkan Hanum tangannya sampai harus kecipratan air panas saking kagetnya.


“Duh mbak, gak popo tah pean?” tanya Wisnu khawatir.


“Ssshh, yo panas sih, tapi gak popo, aku tak ke kamar, ngobati iki, kalian paranono Mbak Riri cepet!” seru Hanum. Dian kembali dan membawa segayung air. Segera saja ia mengguyur tangan Hanum dengan air itu, lalu membawanya ke kamar untuk diobati. Dan dengan isyarat matanya, ia menyuruh Wisnu dan Muara untuk menghampiri Riana dan Ganesh di ruang tengah.


***


Muara memeluk kekasihnya, mengelus bahu serta punggungnya yang masih berguncang naik-turun akibat desakan tangisnya.


“A-Aku bukan kakak yang baik Ra, a-aku...”


“Ssssttt... Ganesh pasti punya alasan sendiri kenapa dia gak mau ngasih tau kamu soal ini, ya, udah jangan nyalahin dirimu sendiri kayak gini...” kata Muara lembut.


“Jangan kayak gini mbak, ini bukan salahnya mbak. Kan aku bilang, semua ini terjadi justru dari sebelum mbak pergi ke Jakarta. Cuma aku gak bisa cerita di saat itu juga mbak. Apa lagi dulu mbak masih OTW sabuk hitam karate, kan, masih barbar-barbarnya. Nanti kalau anak orang babak-belur gimana, mbak?” seloroh Ganesh. Ia terus memeluk kakaknya yang ternyata begitu terguncang atas apa yang dia ceritakan.


“Tapi, kan...”


“Ya nggak ada tapi, mbak, yang terjadi biarlah terjadi. Kalaupun masih terjadi hingga kini, aku malah udah gak peduli...” jawab Ganesh.


“Yang mana sih anak yang namanya Reno itu?” tanya Riana akhirnya.


“Nggak usah dicari mbak, biarin aja, aku udah gak peduli lagi...”


“Harus ada efek jera, Nesh, dia gak bisa jadi tukang bully sembarangan kayak gitu!” seru Riana berapi-api.


“Ya udah sih mbak, karma itu nanti akan datang sendiri, kita gak usah repot... Yang penting kan aku udah patahin statement-nya dia, yang bilang dengan otak lemotku ini, kayaknya aku gak bisa kuliah. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi... Gusti niku mboten sare, mbak, dia selalu menjaga hamba-hamba-Nya...” kata Ganesh bijak.


“Iya sih, tapi kalau ada kesempatan mbak bisa ketemu sama anak kurangajar itu, nggak akan mbak sia-siain kesempatannya...” kata Riana, masih dalam mode berapi-api. Ganesh tersenyum. Ia menggenggam erat tangan kakaknya.


“He rek, siapa bawa motor kesini tadi?” tanya Dian panik.


“Aku bawa, Wisnu juga bawa. La ngopo?” tanya Muara.


“Mau minjem, ke apotek bentar...” kata Dian.

__ADS_1


“Siapa yang sakit?” tanya semuanya hampir berbarengan.


“Nggak, Cuma mau beli obat buat luka bakar, tangannya Hanum kena air panas tadi, kaget dia gara-gara teriakanmu, Mbak Ri...” jelas Dian.


“Lho, sekarang dia dimana? Terus gimana kondisinya?” tanya Riana yang langsung berdiri dan menghadang langkah Dian.


“Aku neng kene, udah, Yan, udah ketemu obat luka bakarnya, ada di kotak P3K-ku. Ini udah beres, see, everything ok now...” kata Hanum ceria seraya menunjukkan tangannya.


“Maaf ya dek, gara-gara mbak...” Riana merasa bersalah.


“Ya elah Cuma kena ginian doang mah, santuy mbak...”


“Yowes, ini ngapain enaknya habis ini?” tanya Riana.


“Kalian udah janji lho mau ngajarin gue nyanyi pop, please koreksi, gue nyanyinya aneh gak? Nanti iringi yak...” kata Dian dengan ekspresi malu-malu.


“Woke, siap, kita ke studio berarti. Motor tinggal sini aja, kita naik taksi online terusan. Yoopo?” usul Riana.


“Woke!” seru semuanya. Maka, dilanjutkanlah kegiatan mereka yang super menyenangkan itu.


***


“Aaaaa, Capeeeeeek!” seru Hanum seraya melompat ke atas sofa bed ruang tengah yang sudah digelar menyerupai tempat tidur betulan.


“Ya ampun sayang, cuci kaki dulu sana, main loncat aja kayak si Manzo kalau habis berkeliaran...” kata Riana seraya tertawa dan mengunci pintu kost mereka. BTW, siapa itu Manzo? Manzo atau Almanzo adalah anak kucing yang ditemukan Riana dulu di teras kos-kosan. Sekarang dia udah gede, udah endut, udah lincah, udah bisa ngawinin kucing lain, hehehe. Anaknya banyak banget, bahkan Laura (kucing betina yang dikawininya), sekarang tinggal disini juga, bersama Rose, anak kucing mereka. Jadi keluarga Ingals-Wilder beneran deh tuh, hihihi.


“Hehehe, iya yak. Maap mbak, saking pegelnya nih sampai lupa...” kata Hanum. Meskipun sedikit malas, tapi akhirnya gadis itu memilih untuk terbang ke kamar mandi, mencuci tangan, kaki, sekalian wajahnya juga, sebelum bergabung kembali dengan Riana di ruang tengah.


“Nah gitu, kan seger jadinya...” kata Riana seraya bergeser dan memberikan tempat kepada gadis itu di atas sofa bed. Hanum Cuma tersenyum, lalu berbaring, memeluk guling dan boneka kesayangannya.


“Dek,” panggil Riana.


“Dalem mbak?” sahut Hanum.


“Makasih ya...” kata Riana seraya mengusap kepala gadis itu.


“Makasih untuk apa mbak?”


“Karena kamu udah sesayang dan setulus itu sama Ganesh, bahkan kamu melengkapi separuh figur yang dia butuhkan saat mbak nggak ada buat dia. Pokoknya mbak adalah orang pertama yang akan merestui pernikahan kalian nanti...”


“Hus, mbak disek po-o, masak aku?” Hanum tertawa. Tapi ia segera melanjutkan kalimatnya.


“Iya mbak sama-sama, bersama Ganesh aku merasa diterima seutuhnya sebagai perempuan, dia gak pernah nuntut aku, dia memperlakukan aku sebagaimana mestinya, dan dia mampu menerimaku sampai ke hal paling buruk yang aku punya. Pokoknya selagi nafasku masih ada, selama itu pula aku akan berusaha mencintai dan membahagiakannya...” kata Hanum. Riana tersenyum, lalu memeluk adik perempuannya itu. Dalam hati ia serius berdo’a, bahwa Ganesh akan benar-benar berjodoh dengannya. Sambil mengelusi rambut panjang Hanum yang sudah tertidur, benaknya jadi berkelana. Dia jadi membayangkan, kayaknya lucu kalau dia sama Muara, terus Ganesh dan Hanum melaksanakan akad nikah barengan. Uh, dasar Riana, ada-ada aja.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2