MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 56, NAMA KECIL DAN SEBUAH CERITA


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, handphone Riana berdering. Ia menghentikan kegiatan mengetiknya, menoleh. Sebentar kemudian, keningnya sudah berlipat tiga saking dalam kerutannya. Ini kan hari minggu, siapa juga yang nelpon dia di waktu sepagi ini?


Riana acuh, melanjutkan ketikannya. Tugas akhirnya harus segera selesai, karena dia pengen buru-buru lulus. Kemarin, semua tertunda sejak Yura drop hingga meninggal. Riana begitu sibuk di kantor D FM sampai dia lupa sama sekali sama tugas akhirnya.


“Astaga, ini HP gigih amat perjuangannya, kayak atlet. Siapa sih yang nelpon minggu-minggu begini?” omel Riana. Dan pada akhirnya, gadis itu menghentikan ketikannya sejenak, lalu beralih pada ponsel yang sedang di-charge di nakas samping tempat tidurnya. Dan sesaat kemudian, matanya membulat sempurna, karena di display ponselnya tertera tulisan horror “Papa is calling”.


Riana menekan dadanya. Perasaan macam apa ini? Setelah bertahun-tahun ia pergi (dan tidak pernah dicari), kini, pada entah tahun ke berapa, beliau menelponnya lagi. Sudah pasti ada sesuatu yang mahapenting kalau sudah begini kejadiannya. Dan meskipun tangannya gemetar, tapi tekad gadis itu sudah bulat, ia akan menjawab panggilan tersebut, apapun yang terjadi.


“A-A-Assalamu’alaikum, pa...” sapa gadis itu lirih.


“Waalaikum salam... Tari, apa kabar?” Nyes! Seperti baru saja disiram seember air es, Riana merasakan dingin yang dahsyat di sekujur tubuhnya. Tari atau Mentari adalah panggilan kecil – atau bisa dibilang panggilan kesayangan kedua orang tuanya dulu. Terakhir ia mendengar panggilan itu diutarakan dengan begitu lembut dan mannis adalah saat usianya delapan atau sembilan tahun, dan sekarang, papanya memanggilnya dengan nama itu lagi...


“Tari, Mentari, kamu masih disana kan?” tanya papanya lagi.


“I-ya, pa, Ta-Tari disini, alhamdulillah, Tari baik. Papa gimana?” tanya Riana balik.


“Papa baik, nak... Ri, nggak pengen pulang dulu ta?” Riana tersentak. Papanya, si tuan diktator itu... Memintanya pulang?


“Se-Sebenernya sudah ada rencana sih pa, tapi, biar Tari selesaikan skripsi dulu aja, soalnya Tari udah nunda sebulan karena ada beberapa perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan, jadi, ini mau Tari kelarin dulu, sekalian wisuda...”


“Kamu jadi kuliah?” tanya papanya sedikit terkejut. Tuh, kan, Riana aja sampai heran sendiri. Se-tidak peduli apa ayahnya?


“Yah, begitulah pa...” jawab Riana seadanya.


“Apa papa perlu datang saat wisuda kamu?” tanya papanya hati-hati.

__ADS_1


“Se-luangnya papa aja, kalau memang gak bisa, ya gak papa, kan ada Ganesha, dia mau wisuda juga...”


“Astaga!” di seberang sana, sang papa mengusap dahinya. Ia tidak menyangka bahwa keputusan anak-anaknya untuk pergi (dan tanpa pernah ia cari) ternyata telah membawa perubahan yang begitu besar dan banyak. Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Riana berpamitan dengan sang ayah, lalu gegas menutup telepon. Dia harus melakukan sesuatu sebelum segala pikiran negatif yang mengendap di benaknya berdampak negatif pula pada semua hal yang akan dan harus ia kerjakan nanti.


***


Riana galau? Iya, bener ternyata, semua pikiran negatif yang mengendap dan berkembang di kepalanya telah mengubah hal-hal kecil yang tadinya beraturan menjadi sedikit berantakan. Seharian dia nggak keluar ruangan kecuali ketika harus menemui beberapa tamu yang hendak bekerja sama dengan D FM. Selain itu, ia juga sudah benar-benar diburu waktu, harus menyelesaikan skripsinya supaya bisa terkejar wisuda tepat di tahun ini.


[My dear, pulang jam berapa kamu hari ini?]


[Hari ini nggak lupa makan siang kan? Calon istriku jangan sampai mengecil lho ya, nanti nggak empuk lagi pipinya.]


[Aku tau kamu sedang tidak baik-baik aja sekarang. Tunggu aku ya, aku akan datang dan sembuhkan lukamu. Saranghae, Mentariku...] Riana tersenyum simpul diantara tiga chat teratas yang tidak hanya menyejukkan matanya, tapi juga hatinya. Itu adalah chat dari... Siapa lagi kalau bukan Muara?


[Hi my dear, iya, aku enggak lupa kok. Kerjaan gak terlalu banyak hari ini, jadi bisa disambi sama revisi skripsi. Ya ampun, bener-bener pengen segera selesai, terus wisuda dan lanjutin cita-citaku sebagai guru. Tapi kayaknya D FM gak akan aku tinggal sih, makanya aku gak pengen jadi guru sekolah reguler kayak dulu, aku mau ngajar di lembaga non-formal aja karena waktunya lebih fleksibel. BTW kamu sendiri udah maem belum?] Dan Riana langsung meringis kemudian begitu tahu di layar PC-nya telah terpampang tulisan “Muara is typing”. Padahal balasan chat-nya tadi sepanjang jalan kenangan begitu, kok tau-tau Muara udah persiapan ngetik balesannya aja? Punya teknik membaca cepat dari mana itu dia?


[Astagfirullah Muara Devan, engko lak awak dewe ketemu seh, lapo ndadak kangen-kangenan barang?] Muara is typing.


[Oweeek gak mau VC oweeeeek...] dan mau nggak mau, akhirnya Riana ngakak juga. Ternyata Muara ini type pembelajar yang cepat ya, buktinya sekarang dia udah bisa niru gayanya Ganesha yang “berpura-pura jadi bayi” untuk mendapatkan sesuatu, terlebih jika hal yang dipinta itu berasal dari pacarnya.


***


Kawasan kantor D FM. Muara sudah ada disana – dan seperti biasa, ia bersikap begitu manis dengan membukakan pintu penumpang sebelah kiri untuk Riana.


“Welcome, princess...” ucapnya seraya tersenyum manis.

__ADS_1


“Thanks, my prince. BTW, gimana di tempat kerja hari ini?” tanya Riana.


“Semua oke sayang... La kamu sendiri gimana?” tanya Muara balik.


“Ya sama, tapi besok Mbak Tita yang akan handle semuanya, karena aku harus bimbingan...” jawab Riana.


“Semangat yaa, semoga ini revisi yang terakhir,” ucap Muara tulus.


“Iyaa, amiin... BTW maaf ya, jadinya kita gak bisa wisuda bareng deh karena aku kelamaan...” kata Riana merasa bersalah.


“Gak papa lagi, lagian, kan masih ada Ganesha, kalian yang akan wisuda bareng nanti, jadi pasangan kakak-adik yang paling menginspirasi. Nggak banyak lho anggota keluarga yang mau menerima benar-benar dengan lapang dada kondisi saudaranya yang berbeda, ini kan bisa jadi contoh yang baik buat banyak orang, dan aku yakin, adikmu pasti merasa sangat bangga dan beruntung punya kakak seperti kamu, kakak yang baiknya kayak malaikat...”


“Kayak malaikat apanya? Aku pernah bersikap tanpa hati sama dia, ninggalin dia yang nangis-nangis bahkan sampe mohon-mohon supaya aku gak pergi dari rumah dulu itu. Dan begitu ALLAH kasih kesempatan aku untuk bisa bertemu dan bareng-bareng lagi sama dia, aku gak mau nyia-nyiain kesempatan itu lagi...” ucap Riana pelan. Dan karena terbawa akan kenangan itu, tiba-tiba saja matanya sudah berkaca-kaca. Sungguh, meninggalkan Ganesha ketika itu adalah hal terbodoh dalam hidupnya. Pada usianya yang sudah hampir dewasa, ia tidak bisa mempertimbangkan dengan baik segala keputusan yang akan ia ambil, ia masih kalah dengan egonya ketika itu.


“Rasanya setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi, yang jadi pembeda dari semuanya adalah, apakah orang itu bener-bener serius dan niat untuk memperbaikinya apa enggak, dan kurasa, kamu adalah satu dari orang-orang yang berbeda itu ; kamu sudah berusaha sangat keras untuk memperbaiki semua, menebus masa yang pernah hilang, bahkan Ganesh bisa bermetamorfosa jadi sosok keren dan tak terkalahkan kayak sekarang, itu berkat bimbingan siapa kalau nggak kakaknya?” kata Muara panjang-lebar. Riana tersenyum. Muara ini, selalu saja bisa menyejukkan hatinya.


“Kurasa yang banyak berperan atas transformasi Ganesha bukan cuma aku, tapi juga Hanum. Aku heran, ada ya perempuan yang bisa kayak gitu, bener-bener mencintai pure tanpa syarat, mau diajak susah, diajak jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi, sampe itu anak bener-bener bisa berdiri tegak sempurna...”


“Ya itulah, makanya aku bakal kecewa banget kalau sampai Ganesha nyia-nyiain perempuan sebaik itu,” kata Muara.


“Sampe dia macam-macam ya tak cincang halus, kasih garam dan merica, baluri tepung, lalu goreng di minyak panas hingga kecokelatan...”


“Sebentar, sayang. Kamu laper ya? Kok jadi kayak tutorial masak gitu sih?” Muara ngakak.


“Gak tau ya, kayaknya iya deh. Kupang lontong enak nih Ra, sore-sore gini...” kata Riana setengah modus.

__ADS_1


“Lho, yo ayo, mumpung masih disini. Gaskeun Kenjeran nih?” tanya Muara. Riana cuma mengangguk. Dasar, ternyata dia beneran laper, sodara.


(TBC).


__ADS_2