
Riana pusing. Padahal dia janjian mau ketemu sama temannya disini, mau nonton lakon wayang. Awalnya dia nggak tertarik sama sekali, tapi begitu dibilangin “Ada sinden bule, lho. Lucune poll, rugi kalau lo gak ikutan...”, ya jadi tertarik dia. Nah sekarang begitu dia ikutan dan datang ke lokasi, dia malah kesasar. Mana temennya yang harusnya bertanggung jawab atas hal ini?
“Mbak Yura, lo dimana? Gue nyasar i lho!” sungut Riana.
“Lho, udah sampai ya? Sek ta, lo di pintu utara apa di pintu selatan?”
“Gue kagak bawa kompas, dikata lagi cari jejak pas kegiatan pramuka apa?” sungut Riana.
“Lho, bentar... Lo yang pakai baju terusan warna krem itu bukan?” tanya Yura. Riana menoleh ke sekeliling, dan itu dia, terlihatlah Yura yang sedang memainkan ponselnya sambil cengengesan.
“Emang kurangajar nih orang satu, kancane digarapi thok ae...” omel Riana kemudian, seraya menjitak pelan kelapa eh, kepala sahabatnya.
“Lah lu nggak ngomong kok kalau nggak tau jalan kesini,” Yura menjulurkan lidahnya.
“Mbok peka ngono lho cah, Masya Allaah...” Riana menghentakkan kakinya kesal.
“Iya-iya, mangap. Eh ya udah, yuk masuk,” ajak Yura. Riana mengangguk. Tapi asli, dia sebel banget sama Yura ini. Dia sering banget melibatkan Riana pada situasi-situasi yang tidak terduga, yang mengharuskan Riana berpikir keras untuk menyelesaikannya. Kalau udah gitu, statement andalan dari Yura adalah, ‘kan kalau gak gitu, lunya gak mikir’. Jadi sekarang dia siap-siap aja deh, seorang Yura kalau ngajak dia pergi ke suatu tempat dan melakukan sesuatu, pasti di kepalanya itu telah tersusun banyak rencana. Dan Riana udah gak perlu terkejut lagi sama itu.
“Tenang Ri, kita dapet tempat duduk VVIP nih, jadi bisa ngeliat dari tempat terbaik di gedung pertunjukan ini,” kata Yura.
“Gue nggak peduli, mbak. Lo itu orangnya penuh intrik dan ide gila, gue gak yakin agenda kita hari ini Cuma nonton doang, lo pasti udah punya sesuatu dan ujung-ujungnya, nanti, itu semua akan dilimpahkan kepada gue,” kata Riana acuh.
“Dih, kok suuzhon?” Yura nyengir.
“Itu gembolan di belakang lo apaan? Kamera, kan? Emang gue gak tau?” sungut Riana. Yura Cuma ngakak. Ketahuan juga deh akhirnya.
***
Tapi terlepas dari keisengan Yura yang selalu menyulitkan hidup Riana, sebenernya anak itu nggak pernah keberatan sama apapun yang dipinta oleh gadis itu untuk dilakukan. Selain itu, selama ini, sepanjang dia kenal sama Yura, yang diminta oleh gadis itu untuk dikerjakannya adalah selalu mengenai hal-hal positif yang juga berkaitan sama skill/kemampuan yang dikuasai Riana selain musik, seperti berbicara di hadapan banyak orang, dan juga menulis. Dan terlepas juga dari kejengkelannya yang sempet nyasar di gedung pertunjukan hari ini, nyatanya, Riana begitu menikmati pagelaran wayang orang itu, yang menghadirkan sesuatu yang menarik, karena di antara sinden-sindennya yang ayu-ayu, yang kelihatan ‘Jawa banget’, ada dua orang di antara mereka yang begitu menarik perhatian Riana, karena keduanya adalah orang asing alias bule. Adalah Elena Jones (ini marganya yaa, bukan berarti dia “jones” alias jomblo ngenes kayak kalian), dan Sabrina Evans. Mereka berdua berasal dari Perancis dan Canada, tapi sudah sekitar empat tahunan ini mereka tinggal di Indonesia. Dan aksi mereka ketika “ndagel” sama dalangnya juga nggak kalah luwes kok sama sinden-sinden lokal yang lain, malah tambah menyemarakkan suasana karena kepolosan mereka yang sering kali “digarapi” alias dikerjain sama pak dalangnya. Dan malam itu, Riana berhasil berkenalan dan ngobrol akrab sama mereka. Dan Yura juga sudah mendapat izin untuk mewawancara mereka. Kan bener, pasti ujung-ujungnya Riana-lah yang akan mengerjakan tulisan hasil liputan ini. Nggak papa lah, kan bisa dibantu sama adiknya nanti. Kata Wisnu, dia (Ganesh), dulu penulis yang cukup aktif di majalah sekolahnya.
***
“Jadi gimana, El, Sab, senang tinggal di Indonesia?” tanya Riana, usai pagelaran. Mereka lagi ada di sebuah cafe yang letaknya hanya berseberangan dengan gedung pertunjukan tadi.
“Sangat senang... Indonesia menarik.” Jawab Sabrina.
“Kalau kamu, El?” tanya Riana lagi.
“Sama seperti Sabrina, aku juga senang... Apa lagi bisa continue ikut belajar kesenian Jawa disini, aku senang sekali...” jawab Elena.
“Kalian ikut wayangan ini sudah berapa lama?” tanya Riana.
“Kayaknya dua tahun... Aku lupa,” Sabrina nyengir, menunjukkan barisan gigi putihnya. Riana mengangguk-angguk. Suasana semakin malam, dan mereka harus segera pulang sebelum waktu menjadi benar-benar larut. Tapi sebelumnya, seperti biasa, mereka dengerin band cafe dulu nyanyi satu atau dua lagu.
“Awak, dewe tau nduwe bayangan, besok, yen wes wayah omah-omahan, aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran... Nangeng saiki wes dadi kenangan, aku karo kowe wes pisahan, aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan...” dan hal yang tak diduga-pun terjadi. Riana begitu takjub melihat Elena dan Sabrina yang maju mendekati para musisi cafe itu, menyanyi dan berjoget bersama mereka. Bahkan Sabrina – yang terlihat paling urakan dan bar-bar itu, berseloroh kepada si vocalist laki-laki yang lumayan ganteng tersebut, lalu me-request sebuah lagu.
“Nyanyiin Widodari, ya,” ucapnya, dengan aksen Prancis-nya yang tetap kentara.
“Nyanyio kaleh kulo, mas,” ucap Elena tidak mau kalah. Duh, menang banyak tuh cowok, direbutin dan diapit dua cewek bule cantik di kanan-kirinya.
“Yowes ngene ae,” kata si vocalist sambil senyum-senyum.
“Mbak-e sing sitok ki, tak nyanyiin Widodari ya, nah mbak-e sing iki ngko duet karo aku... Piye?”
“Deal!” seru keduanya kompak. Riana auto cengo, terus geleng-geleng kepala. Ini fenomena macam apa yang sedang terjadi?
“Sepurane yen pancen salah...”
__ADS_1
“Sepurane yen aku neng uripmu mong masalah, rangkulen aku, iki gur mong salah pahamku...”
“Unine batin dungoku.”
“Ra luput ko jenengmu...” Akhirnya selesai sudah, sebuah lagu yang dibawakan oleh mas vocalist cafe bersama Elena. Elena mengucapkan terima kasih, lalu turun kembali ke bawah, bergabung bersama Sabrina, Riana dan Yura.
“Kamu keren, El,” puji Riana tulus, sesampainya Elena di kursi tempat mereka.
“Iya, tapi Sabrina lebih beruntung, karena dia diromantisin sama masnya, la aku malah diajak satru, coba... Satru itu berantem kan?” tanya Elena dengan aksen bulenya. Riana tertawa. Sejatinya, kedua gadis bule ini adalah masih sama-sama remaja, baru delapan belas tahun. Jadi lucu ngeliatnya kalau salah satu ada yang merajuk gini.
“Tapi kamu cekel-cekelan karo mas-e, aku lho ora,” kata Sabrina. Wadah, ki ngopo do gelut dewe-dewe tho? Sebagai orang tua *eh, sebagai orang yang dituakan alias dewasa alias... Mbak-mbak (ampun Ri, ampun!), Riana harus menenangkan kedua gadis ini.
“Halah mbok uwes, wong podo-podo disenengi karo mase kok ya... Ngomong-ngomong, kalian tinggal dimana?” tanya Riana mengganti topic.
“Aku sama Sabrina sama-sama tinggal di Jogja, mbak. Waktu kami tinggal dua hari lagi disini, kami Cuma manggung aja di Surabaya,” jelas Sabrina, dan diangguki oleh Elena.
“Oh gitu ya... Berarti sebelum kalian pulang, kita ketemuan lagi aja, gimana?” usul Riana.
“It’s a good idea!” seru Elena senang.
“Yes, setuju banget, kamu teman yang menyenangkan,” kata Sabrina tulus. Riana tersenyum. Yura juga tersenyum. Ia begitu bahagia karena bisa membawa Riana menemui sosok baru sebagai teman-temannya. Setelah bertukar kontak dan akun sosial media, mereka berempat memutuskan untuk berpisah arah, lalu pulang ke tujuan masing-masing.
***
“Gimana Milia sama Maura? Masih pada betah itu di Jakarta?” tanya Yura seraya memegang stir mobil. Iya, malam ini Yura baik, mau nganterin Riana sampai ke kost-nya. Sebenernya Yura emang baik tiap hari, sih, kalau dia dan Riana terpaksa berkegiatan sampai malam, dia pasti menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang. Tapi Riana selalu menolaknya, karena dia pasti akan dijemput oleh Muara. Tapi hari ini Muara sedang ada kerjaan juga, jadi ya udah, deh, akhirnya dia pulang dianter sama Yura.
“Masih mbak, si Maura
Juga kan udah jadi model sekarang,” jawab Riana.
“Terus Milia?” tanya Yura lagi.
“Dia lagi memperjuangkan beasiswa ngambil PG Paud kayanya. Tau kan, kalau dia bercita-cita banget jadi guru TK?”
“Tau, dong, pas juga, dia lembut dan keibuan. Kata lo dia kerja di daycare juga kan?”
“Iya, makanya...”
“Tapi Maura tetep Maura yang biasa, kan, nggak berubah?” tanya Yura lagi. Lampu telah berubah hijau, dan mobil mereka kembali berjalan.
“Nggak kok mbak, tapi mental artist dalam dirinya udah kuat sih, jadi kadang-kadang suka kebablasan aja kalau pas lagi jalan bertiga, make-up nya suka heboh dewe, la kita kan malu, ya,” jelas Riana.
“Itu berarti dia belom jadi artis beneran, Ri,” Yura ketawa.
“Kok bisa?” Riana heran.
“Justru artis yang bener itu adalah dia yang tidak menunjukkan ke-artist-an-nya, jadi B aja gitu, outfit ya B aja, make-up juga begitu. Ya kayak logikanya orang kaya beneran aja deh, apa pernah lu liat anak sultan atau sultan beneran pake semua yang brandet dari atas ke bawah sampai kayak butik berjalan?” tanya Yura lagi.
“Nggak tau ya, kalau sultan sih gak mungkin gak make, misal tas Dior, jam tangan Rolex, sepatu Chanel, tapi yang bikin gak keliatan itu mungkin kayak lebih ke gimana dia membawa dirinya aja kali ya...” Riana mengemukakan pendapatnya.
“Iya juga ya... Kok gue gak kepikiran kesana ya? Padahal bukan salah brand-nya, bukan juga salah barang brandet-nya, tapi tergantung pembawaan si pengguna...” Yura menepuk jidatnya.
“Kalau orang serampangan, urakan, ketika dia pakai sesuatu yang bermerek dari Dior atau Zara, kalau dia nggak tau manner tetep aja keliatannya jadi gak bagus, kan...” kata Riana lagi.
“Bener juga sih... La selama ini penampilan si model itu gimana e?” tanya Yura.
“Ya normal sih mbak,” Riana berusaha menutupi aib Maura. Biar bagaimanapun, Maura adalah sahabatnya. Sama seperti ia yang ingin aibnya ditutupi, Maura-pun pasti begitu.
__ADS_1
“Iya deh. Lagian ngapain juga kita jadi ngegibah, sih?” Yura meringis. Agaknya kebiasaannya yang satu ini harus diilangin, deh, dia itu suka banget ngomentarin hidup orang lain, kalau bahasa Prancis-nya, nyinyir, hehe.
“Eh, nanti mampir beli martabak dulu ya, laper nih gue,” kata Yura. Riana Cuma mengangguk, dia lagi asyik berbalas pesan sama Muara.
“Nah ini, warung martabak punya temen gue. Lo mau ikut turun gak?” tanya Yura.
“Nggak deh mbak, tapi gue nitip, ya,” kata Riana seraya menyerahkan beberapa lembar uang ke tangan Yura.
“Ck, gue mbak lo, gue aja yang beliin. Udah, diem sini,” omel Yura seraya menepis pelan tangan Riana. Gadis itu Cuma mengucapkan terima kasih secara perlahan, lalu kembali melanjutkan chat dengan Muara.
“Oiii, I’m back!” seru Yura. Riana tersenyum, kembali menyimpan ponselnya di tas.
“Napa senyam-senyum?” tanya Yura menyelidik.
“Nggak papa, mbak, habis lihat-lihat story, biasa,” jawab Riana.
“Eh, cowok yang biasa anter-jemput lo kemana, tumben gak kelihatan?” tanya Yura lagi, seraya kembali menjalankan mobilnya. Yura memang begitu, kalau lagi bepergian sama dia, jangan harap bisa tidur enak di dalam kendaraan, dia pasti bakal punya jutaan topic untuk dibahas, cerewet abis pokoknya. Entah ngidam apa dulu emaknya pas hamil dia tuh.
“Ada mbak, tapi dia juga ada kerjaan, makanya gak bisa jemput,” jawab Riana.
“Kayaknya dia cowok yang baik ya,” komentar Yura. Dan tepat pada saat itu, mobil yang mereka naiki telah sampai di kompleks kos-kosan tempat Riana tinggal.
“Sampe sini aja, mbak,” kata Riana seraya bersiap-siap turun.
“Kok gitu? Kenapa nggak masuk aja?” tanya Yura.
“Udah diportal mbak kalau jam segini, kita kemaleman balik...”
“Emang kost lo nggak bebas ya?” tanya Yura. Rasa bersalah kini telah terbersit di wajah ayunya.
“Bebas mmbak, yang gak bebas tu kompleknya. Udah gak usah khawatir gitu, gue Cuma perlu jalan dikit kok ke dalam,” kata Riana menenangkan.
“Gitu ya. Ya udah deh, thanks for today yaa,” kata Yura tulus seraya mengajak Riana melakukan ritual cipika-cipiki.
“Ya mbak, sama-sama...”
“Jangan lupa, liputannya harus udah selesai tu seminggu lagi,” kekeh Yura. Riana Cuma mencebik, lalu buru-buru turun seraya membawa barang-barangnya. Belum jauh Riana melangkah, ia masih bisa melihat ekspresi Yura yang menertawainya sampai bengek, ia tertawa atas kemenangannya yang lagi-lagi berhasil mengerjai Riana.
***
“Belum tidur, Han?” tanya Riana, sesampainya dia di kosan. Disana memang terlihat Hanum yang lagi fokus membaca sesuatu.
“Belum mbak, tanggung nih, lagi seru novel-nya,” jawab Hanum seraya merubah posisinya dari tiduran menjadi duduk.
“Ya udah, tuh, mbak bawa martabak telur sama terangbulan, semuanya ada di meja, dimakan ya,” kata Riana.
“Iya, makasih mbak,” kata Hanum tulus.
“Sama-sama. Mbak ke kamar duluan ya,” pamit Riana seraya mengusap sayang rambut panjang Hhanum.
“Silakan, mbak...” Hanum tersenyum. Dekat dan bersahabat baik dengan Riana membuatnya merasa bahagia, karena selama ini, dia memang kehilangan figur seorang kakak perempuan. Aslinya dia punya, tapi...
***
Riana memandangi foto-foto yang barusan dia ambil di pagelaran wayang tadi, bersama Yura, Elena dan Sabrina di gedung pertunjukan. Deadline seminggu lagi, dan dia nggak tau dia harus memulai tulisan liputan itu dari mana. Good! Bagus! Great! Yura telah benar-benar sukses mengerjainya kali ini. Nantilah, dia akan berdiskusi saja dengaan Ganesh. Anak itu lebih berpengalaman soal yang begini-gini, beda banget sama Riana yang terbiasa menulis fiksi. Hadeh, Yura, awas yaa! Riana merutuk-rutuk sendiri dalam kamarnya. Tapi dia tetep seneng kok, ketemu temen baru dua sekaligus hari ini. Bule, lagi, dan ambyar, pula.
(TBC).
__ADS_1