MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 10, YOU ARE MY EVERYTHING (BURUAN TEMBAK!)


__ADS_3

“Nesh... Selo gak?” tanya Muara pelan, melalui sambungan telepon.


“Selo kok Mas Ra... Kenapa?” tanya Ganesh.


“Aku tak mrono yo... Pengen curhat nih...”


“Duh mas, aku bukan Mamah Dedeh, kok malah curhat nang aku i lho...” seloroh Ganesh.


“Ealah bocah, aku serius yo!” seru Muara.


“Iyo-iyo, yowes reneo... Tapi aku titip nasi goreng ya, laper e...” kata Ganesh setengah modus.


“Siap deh... Ya udah, aku OTW Nesh... Eh tapi ojok omong Riana lho nek aku ke tempatmu...”


“Nah lo... Saya curiga... Iki mesti pengen curhat tentang mbakku yaa... Ya udah cepetan, tak tunggu.” Kata Ganesh. Muara mengiyakan. Dan setelah ia bersiap-siap, ia segera mengambil kunci motornya, lalu tancap gas menuju tempat kost Ganesh.


***


“Jadi, ada apa? Ada yang tidak bisa saya bantu?” tanya Ganesh, sesampai Muara di tempat kost-nya.


“Heh... Wisnu kemana ini BTW?” tanya Muara.


“Sama Mayang, gak tau kemana. Paling ya jalan-jalan... BTW kenapa sih mas, kok kayaknya galau banget?” Ganesh penasaran.


“Aku bingung...” Muara memulai ceritanya.


“Pegangan, mas,” kata Ganesh tak peduli, seraya mulai menyantap nasi gorengnya, hasil memalak Muara tadi.


“Heh, aku serius woi!” seru Muara jengkel.


“Iya wes... Ngopo?” tanya Ganesh acuh.


“Cara nembak cewek yang bener tuh gimana?”


“Hah?” Ganesh kaget. Dia auto tersedak. Buru-buru ia mengambil minum di dispenser, sebelum akhirnya kembali menemui Muara.


“Kenapa sih? Makanya kalau makan tuh jangan sama sendok-sendoknya ditelen,” seloroh Muara.


“Kaget, yo... Emang mau nembak siapa sih?” Ganesh penasaran.


“Ya nembak cewek dong yang pasti...”


“Ya iya, panci rawon... Maksudnya cewek itu siapa?” Ganesh geregetan. Muara menghela napas... Ceritain nggak ya? Tapi kalau dia cerita, gimana nanti reaksi si Ganesh? Tapi kalau dia nggak cerita, gimana, udah kadung ada disini juga. Ya udah deh, dia cerita aja.


“Kalau cewek itu... Orang yang terdekat sama kkamu gimana? Kamu bakal terima gak?” tanya Muara hati-hati.


“Maksudnya gimana, mas? Pean arep ngepek Mbak Hanum ta?”


“Lho, bukan... Bukan Hanum...” jawab Muara.


“Jadinya?” Ganesh penasaran.


“Orang itu... Mmm... Orang itu...” Drttt... Drttt... Belum selesai Muara cerita, tiba-tiba HP-nya bunyi. Penasaran sekaligus kesal, Muara izin keluar sebentar sama Ganesh, lalu mengangkat telepon tersebut.


“Iya, oke... Dua hari lagi kan? Di Dandelion Cafe... Ok, ok... Yo, suwun mas...” Muara segera memutus sambungan telepon. Dipikir apa, ternyata Cuma soal kerjaan. Tapi ya alhamdulillah juga, soalnya udah semingguan ini emang dia nggak ada nge-job – belum ada lebih tepatnya.


“Kenapa mas?” tanya Ganesh seraya membereskan bekas makannya.


“Ada kerjaan dikit...” jawab Muara.


“Manggung ta?” tanya Ganesh lagi.


“Iya...”


“Eh BTW, belum dijawab, siapa ceweknya tadi?” Ganesh masih penasaran.


“Orang itu... Mbakmu, Nesh,” jawab Muara. Ganesh bertepuk tangan, tampaknya kegirangan.


“Sudah kuduga... Bener kan ternyata...”


“So-Sorry ya, Nesh...” kata Muara tak enak.

__ADS_1


“Lho, kenapa sorry? Aku nggak marah lho mas, seneng malahan. Lagian, kalian emang cocok sih...” jawab Ganesh.


“Itulah dia... Jadi, pertanyaanku tadi gimana? Cara nembak cewek yang bener itu gimana?” tanya Muara.


“Gini... Sebenernya mas tuh salah orang kalau nanya soal begini ke aku...”


“Kok salah sih? Iku Hanum nganti klepek-klepek i piye carane?” Muara geregetan.


“Sektala, ojo kesusu mas... Gini, tak jelasin. Sekarang itu udah nggak zamannya konsep “aku jatuh cinta sama dia karena...”, sekarang lebih banyak alasannya itu soal kenyamanan. Biasanya kalau udah nyaman, lama-lama perasaan cinta itu juga muncul sih... Dan aku ngeliatnya, Mbak Riana sudah nyaman banget sama Mas Ra, begitupun sebaliknya. Nah kalau udah pada sampai di titik itu, ya kurasa Mas Ra sendiri tau jawabannya, mas Ra harus apa, harus gimana. Aku yakin semua akan berjalan baik, asal masnya juga yakin,” kata Ganesh panjang lebar. Muara mengangguk-angguk, memahami sepenuhnya penjelasan Ganesh. Sekarang, tinggal eksekusinya aja gimana.


“Nesh, tapi... Serius gak papa aku suka sama mbakmu?”


“Gak boleh!” seru Ganesh tiba-tiba. Tapi Muara tidak sempat ciut nyalinya, karena sesaat kemudian ekspresinya jadi geli.


“Kalau jatuh cinta sama mbakku, harus siap serius, nggak boleh nyakitin dia seperti apa yang dilakukan sama cowoknya dulu, si Rey itu. Sampe itu kejadian mas, mending kita gak usah kenal lagi aja sekalian...” ucap Ganesh sungguh-sungguh. Muara mengangguk yakin.


“Itu pasti, Nesh, Riana itu lebih layak buat dicintai daripada disakiti. Cowok-cowok yang pernah nyakitin dia adalah orang-orang yang kurang pintar dan kurang bersyukur. Insya ALLAH aku akan jaga Riana, sesuai kemampuan aku... Ini bukan Cuma sekadar janji, aku serius, Nesh...”


“Iya mas iya, aku percaya... Hadeeeh, ya udah, terus gimana ini?” tanya Ganesh akhirnya.


“Aku mau ke studio teman dulu, mau nyoba beberapa lagu soalnya. Ya udah ya Nesh, kamu kalau butuh dianter kemana atau yang lain, nanti telepon aja ya...” kata Muara seraya bangkit dari posisinya.


“Gampang mas, bentar lagi Wisnu juga balik, aku juga mau pergi sama dia... Sukses ya acara nembaknya...”


“Yo gak sekarang yo Nesh, mbok pelan-pelan...”


“Terserah, deh, yang penting jangan kelamaan yaa...” pesan Ganesh. Muara Cuma mengiyakan. Selanjutnya ia berpamitan sama anak itu, untuk pergi ke destinasi berikutnya ; studio teman, karena mau latihan.


***


“Take me to your place


Where our hearts belong together


I will follow you


You're the reason that I breathe


I'll come running to you


Fill me with your love forever


I'll promise you one thing


That I would never let you go


You're the one, you're my inspiration


You're the one, kiss, you're the one


You're the light that would keep me safe and warm


You're the one, kiss, you're the one


Like the sun goes down, coming from above all


To the deepest ocean and highest mountain


Deep and real deep I can see now


Hey hey hey you're the one


Hey hey hey you're the one


Hey hey hey I can't live without you


Take me to your place


Where our hearts belong together


I will follow you

__ADS_1


'Cause you're the reason that I breathe


I'll come running to you


Fill me with your love forever


I'll promise you one thing


That I would never let you go


Woah-ooh-woah-ooh-woah


Hey hey hey you're the one


Hey hey hey you're the one


Hey hey hey I can't live without you


Take me to your place


Where our hearts belong together


I will follow you


'Cause you're the reason that I breathe


I'll come running to you


Fill me with your love forever


I'll promise you one thing


That I would never let you go


Take me to your place


Where our hearts belong together


I will follow you (I will follow you)


'Cause you're the reason that I breathe (the reason that I breathe)


I'll come running to you (running, running)


Fill me with your love forever


(With your love forever) I'll promise you one thing


That I would never let you go


You are


You are my everything


(My everything)


(My everything) oh-oh-oh


You are my everything


You're the one, you're my inspiration (my everything)


You're the one, kiss, you're the one (my everything)


You're the light that would keep me safe and warm (my everything)


You're the one, kiss, you're the one


You're the one, you're my inspiration (my everything)


You're the one, kiss, you're the one (my everything)” (Glenn Fredly –My Everything). Muara menyanyikan lagu itu dengan begitu yakin dan percaya diri. Tatapannya hanya tertuju kepada satu titik, satu objek yang pada akhirnya menyita seluruh ruang di hati dan pikirannya ; Riana. Ya, gadis itu turut hadir di cafe tempatnya mengisi acara. Tapi tidak sendirian, ia bersama Yura, teman kerjanya. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang penting. Tapi Riana sempat menoleh dan tersenyum manis kepada Muara, memberikan kedua jempolnya atas penampilannya tadi. Well... Author sih Cuma berharap, semoga kali ini Riana lebih peka ya.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2