MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 2, JELANG KEBERANGKATAN


__ADS_3

Satu hari usai acara syukuran, Riana masih sibuk merapikan semua barang-barangnya di kamar. Kebanyakan baju sama buku-buku sih, sama paling laptop, speaker, soundcard atau audio interface. Kalau barang-barang lain kayak rak piring, lemari, kan semuanya punya sini, jadi dia tinggal nyari kost yang sekomplet disini aja, kalau udah sampai di Surabaya. Cuma pertanyaannya, adakah dia akan menemukan ibu dan bapak kost sebaik Bu Dian dan Pak Fakhry di tempat barunya nanti?


“Ri, kardusnya kurang nggak?” tanya Bu Dian dari luar pintu kamarnya.


“Iya bu, kurang, tapi nanti Riri ambil sendiri aja...” jawab Riana seraya menutup koper besar miliknya, dan menguncinya.


“Halah, gak usah, ini ibu bawakan...” kata Bu Dian seraya memasuki kamar Riana. Ia terlihat membawa beberapa buah kardus yang kosong, serta beberapa buah lagi yang tampak terisi sesuatu.


“Lho, ini kenapa ada kardus yang ada isinya juga, bu?” Riana heran.


“Buat perbekalan...” jawab Bu Dian seraya memerhatikan sekeliling kamar. Kamar ini sudah tiga tahun ditempati Riana, sejak kedatangannya pertama kali di kota ini. Riana gadis yang baik, sangat baik, ia ramah kepada semua orang, termasuk kepada keluarga Bu Dian. Bahkan keponakannya saja Si Banyu, sempat jatuh hati kepada gadis berpipi bakpau itu. Sayang, hubungan mereka tidak berlanjut, karena tidak ada restu dari orang tuanya Banyu, yang standar hidupnya ketinggian. Pada akhirnya, sampai sekarang, anak itu juga nggak nikah-nikah. Bu Dian jadi ngebatin sendirian.


“Ya ampun ibuuu, ini kue-kue, makanan segini banyaknya buat Ri semua?” tanya Riana takjub, ketika ia mengintip kardus-kardus yang sudah ada isinya itu.


“La iya, buat siapa lagi? Udah buruan ditutup, terus diikat, digabung sama kardus-kardus yang lain. Habis itu, dibawa ke depan,” titah Bu Dian. Riana mengangguk. Dengan tangan gemetar, ia mengikat beberapa kardus-kardus yang sudah penuh itu, dan menggabungkannya bersama barang-barang lain. Yang tersisa sekarang adalah tinggal satu stel pakaian yang akan dipakai besok ke airport. Tapi sedetik kemudian dia mikir lagi... Ke airport dengan barang segini banyaknya harus naik apa, coba? Lagian sebenernya Riana lebih suka naik bus atau kereta, tapi sama Om Dimas gak dibolehin. Alasannya sih supaya waktunya nggak habis di jalan, jadi semua proses daftar ulang dan segala macamnya bisa berjalan lebih maksimal. Nah yang jadi pikirannya dia sekarang, bawa barang segini banyaknya ke bandara harus naik apa?


“Besok, ibu sama bapak yang akan nganter kamu, nduk.” Bu Dian memecah kesunyian. Riana auto mengangkat wajahnya, dan ternganga heran. Kenapa Bu Dian bisa tahu apa yang sedang dia pikirkan? Kayak cenayang aja!


“Sepertinya itu insting seorang ibu, meskipun ibu belum pernah jadi ibu beneran. Mungkin kalau dua puluh dua tahun lalu ibu bisa memiliki anak, anak ibu sudah tumbuh dewasa dan sehat, seusia kamu juga ya nduk...” kata Bu Dian sedih. Riana merangkul wanita itu, membawanya duduk di atas tempat tidurnya.


“Ibu jangan sedih, Riana sayang sama ibu, Riana kan udah jadi anak ibu sekarang. Masih kurang ta?” ucap gadis itu lembut. Dan hal tak terduga pun terjadi. Tiba-tiba saja, Bu Dian memeluknya begitu erat. Riana membalas pelukan itu. Dan ia tahu kini, bahwa ibu kostnya sedang menangis, ditandai dengan bahunya yang berguncang halus.


“Ibu, jangan sedih... Riana janji akan sering pulang ke sini kalau libur semesteran. Ibu juga bisa telepon dan atau video call Riana kapan aja. Ya, jangan sedih ya...” kata Riana. Pintu diketuk pelan, dan seseorang muncul di baliknya. Itu Pak Fakhry, suami Bu Dian.


“Ibuk I lho, tak cariin kemana-mana, taunya disini...” ucap Pak Fakhry. Bu Dian tersenyum – nyaris meringis, seraya menguraikan pelukannya dengan Riana.


“Iya e pak, maaf ya, kebawa suasana nih...”


“Ya udah itu lho, ada yang mau nyewa kamar lagi di bagian putri, tapi jangan dikasihkan kamar yang ini, ini khusus Riana kalau pulang,” kata Pak fakhry lagi. Bu Dian mengangguk kencang.


“Aku ya mikir gitu pak, tadinya udah mau ngomel, sih, wong anak baru mau pergi besok, udah main terima sewa lagi aja...”


“Ya enggak lah, bapak juga sayang sama Riana, bu, udah kayak anak juga dia tuh. Lagian kan bekas kamar si Dewi juga kosong, udah dibersihin juga, ya tu anak baru bakal ada di sana...” kata Pak Fakhry. Bu Dian mengangguk-angguk lagi. Dan berdua mereka keluar dari kamar Riana, menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Riana tersenyum seraya merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ah, Pak fakhry, Bu Dian, kalian selalu se-romantis itu tiap hari. Semoga aja nanti aku dapat pasangan yang bisa mencintaiku walau tahun dan musim terus berganti.


***


Sore-pun datang. Riana menggerakkan tubuhnya yang sedikit terasa kaku, karena mungkin salah posisi tidur. Riana mengucek-ucek matanya, lalu melirik ke arah jam dinding yang tertempel di dinding (iya dooong, pare somai! Emang mau ditempel dimana lagi itu jam?), dan disana tertera pukul 16:35. Lama juga tidurnya dia.


“Oi, beeeb... Buka aib, eh, buka pintuuuu!”


“Eh kutu macan, eh kutu macan. Edian arek i... Sek talah!” baru saja nyawanya terkumpul setengah, Riana harus terpaksa merelakan jidat keramatnya terantuk kepala ranjang yang persis berada di depannya (dia sedang dalam posisi duduk), ketika ia mendengar teriakan bar-bar Maura dari balik pintu kamarnya.


“Makanya, cepet buka...”


“Masuk ajaaa, enggak dikunciii!” jerit Riana akhirnya. Dengan cengiran jelek, Maura segera masuk ke dalam kamar yang sudah nyaris kosong-melompong itu, lalu ngeliatin Riana yang masih fokus dan tekun banget ngusap-usap jidat keramatnya.


“Kenapa tu jidat dielusin terus? Lagi memancing keluarnya jin dari sana, ya?”

__ADS_1


“Emangnya Aladin! Ini gara-gara elu, dodol! Manggil gak kira-kira!” seru Riana gemas seraya melempar bantal guling ke arah Maura.


“Adaaawww, anarkis lu... Ya sorry, gue terlalu bersemangat nih...” kata Maura seraya menangkap bantal guling itu, mengembalikannya ke habitat semula.


“Kenapa sih? Lu mah kan dijulukinya Miss Heboh dari dulu di sekolah, karena suka gaje, suka heboh sama apa aja. Sekarang kenapa?” ketus Riana.


“Lo pasti tau dong ada anak baru yang mau tinggal disini?” tanya Maura.


“Tau kok, terus?”


“Ayo keluar, lu bakal kaget kalau tau siapa dia. Dan dia gak akan nempatin kamar ini, tapi kamarnya Mbak Dewi tuh, yang di belakang deket jemuran...”


“Siapa sih? Bikin penasaran aja...” Riana mencibir.


“Ayo makanya, jangan ngerem di kamar mulu, bertelur nanti. Yuk...” ajak Maura. Riana mengangguk. Dan sekali lagi, ia melakukan “serangan” kepada gadis itu, dengan cara menjitaknya. Habisnya, pake acara narik-narik segala sih.


***


“Carissa?”


“Mbak Riri?” kedua gadis itu sama terkejutnya. Dalam beberapa detik yang terasa seperti hitungan abad itu, mereka saling pandang, saling tatap, saling menilik dan menilai penampilan masing-masing, sampai jadi pusat perhatian.


“Kalian kenapa saling menteleng begitu? Udah saling kenal ta?” Bu Dian memecah kesunyian. Seperti tersadar akan sesuatu, Riana melepaskan tatapannya dari Carissa, pun sebaliknya.


“Eh, i-iya bu, kami sudah saling kenal...” jawab Riana akhirnya.


“Oh, begitu. Carissa ini, nanti menempati kamar yang pernah disewa sama Mbak Dewi, yang di belakang itu...” jelas Bu Dian.


“Gak bisa, Ri, lo kan udah dapet tempat paling istimewa disini. Sudah selayaknya orang yang istimewa dapet tempat yang istimewa...” kata Maura keras-keras seraya duduk di atas sofa, menonton TV. Entah apa maksud dari ucapannya.


“Eh, ini Carissa udah room tour di sini belum? Kalau belum, ayok sama aku...” tawar Riana.


“Belum, mbak,” Carissa menjawab pelan.


“Oh ya udah, ayuk room tour dulu, terus nanti temenin mbak beli makanan buat bareng-bareng disini... Mau ya?” tawar Riana riang. Carissa Cuma mengangguk. Ia masih dapat merasakan tatapan Maura yang tajam, serasa menghunjam dan menembus seluruh tubuhnya. Begitupun dengan Milia dan Selena, mereka seperti sedikit tidak suka padanya, tapi tersembunyi, tidak terang-terangan seperti Maura.


“Yuk, Sa, ngapain bengong? Pake maskernya...” ucap Riana. Carissa mengangguk. Dengan tangan gemetar, ia kembali memakai maskernya, dan mengekor di belakang Riana.


***


“Jadi kamu udah nggak lanjut sewa apartemen, Sa?” tanya Riana. Kedai nasi goreng, sore hari. Mereka asyik mengobrol, sementara pesanan mereka yang  beberapa bungkus itu sedang dikerjakan oleh si penjual.


“Iya mbak. Aku juga belum ada kerjaan tetap sekarang, dan gak bisa nerusin kuliah, karena keuangan papa lagi bermasalah. Aku disuruh kerja aja, tapi aku pengen tetep kuliah...” ucap Carissa sedih. Riana mengangguk-angguk, paham.


“Eh, beneran kamu sepupunya Dyo?” tanya Riana. Sebenernya gak ada tujuan apa-apa, tapi dia penasaran aja, apa Carissa yang dimaksud di pertengkaran Selena dan Dyo adalah Carissa yang sama.


“Iya, mbak, betul. Kemarin kerja jadi bartender itu juga freelance aja, nggak tetap... Dan sekarang yang lagi aku butuhkan adalah kerjaan tetap, supaya aku bisa tetep hidup dan mungkin... Nerusin kuliah,” Carissa mendesah. Beban berat serasa menghimpitnya dari berbagai arah.

__ADS_1


“Kamu di PTS ya, Sa?” tanya Riana hati-hati.


“Iya mbak. Ini terpaksa berhenti dulu, biar bisa ikut seleksi PTN tahun depan. Terus aku mau kerja apa coba dengan ijazah SMA yang aku punya?” keluh Carissa lagi.


“Nanti kamu bisa ngobrol-ngobrol sama temennya mbak yang namanya Milia, siapa tau dia bisa ngasih kerjaan ke kamu...” kata Riana. Tukang nasi goreng memanggil mereka, mengatakan bahwa pesanan mereka telah selesai. Riana segera pergi ke sana dan membayar semuanya. Lalu, percakapanpun berlanjut di atas motor.


“Oiya, kata anak-anak tadi, mbak mau pergi. Emang mau kemana?” tanya Carissa.


“Mbak mau ke Surabaya, Sa,” jawab Riana tenang.


“Ngapain? Mau balik tinggal di Malang kah? Kata Mas Nico, mbak orang Malang, kan?”


“Enggak, Sa... Anu, mbak keterima kuliah di salah satu PTN terbaik di Indonesia, yang ada disana...” DEG! Carissa terguncang. Ia merasa benar-benar terguncang atas kabar itu. Teringat olehnya bahwa beberapa bulan lalu, dia sempat “ngece” alias meledek Riana yang belum kuliah di usianya yang sudah kepala 2 itu. Sekarang, siapa yang mengira kalau nasib baik telah berpihak pada gadis yang dihinakannya dulu? Justru nasib buruk kini terancam akan hinggap kepada Carissa ; gagal sarjana, harus jadi tulang punggung keluarga akibat kebangkrutan yang melanda bisnis sang ayahanda. Siapa yang menyangka perputaran takdir bisa sebegini rupa ; kemarin di atas, sekarang di bawah. Kemarin terhinakan, kini naik derajat pelan-pelan. Sungguh luar biasa bukan, cara kerja Sang Pencipta?


“Eh, udah sampe nih, yuk, masuk,” ajak Riana. Carissa yang tersadar segera turun dari atas motor dan bergegas membuka pintu pagar, agar motor Riana bisa masuk.


“Oh iya mbak, nanti kalau mbak pergi, motornya bagaimana?” tanya Carissa seraya kembali menutup pintu pagar.


“Ini rencananya mau dipaketkan kesana, kayaknya besok pagi mulai dikirim, sebelum aku ke Surabaya. Emang kenapa Sa?”


“Oh, enggak, kirain mbak mau jual motornya. Kalau iya, aku mau beli...” kata Carissa malu-malu.


“Walah, motor second tapi bagus di Jakarta masih banyak kok, ntar mbak bantuin cari ya... Yuk masuk, pasti kita udah ditungguin tuh di dalam...” kata Riana. Carissa mengangguk saja.


***


“Beb, nanti kita makan di balkon kamar lo aja ya, itung-itung party, lah,” kata Maura, sesampainya Riana dan Carissa di dalam rumah.


“Sama Carissa juga?”


“Enggak usah mbak, aku mau langsung ke kamar aja, lanjutin beres-beres...” sebelum mendengar penolakan dengan alasan yang dibuat-buat, gadis itu memilih untuk mundur duluan.


“Lho, serius kamu mau beberes sendirian? Nggak butuh bantuan?” tanya Riana.


“Enggak, mbak, makasih...”


“Ya udah, kalau gitu ini, nasi gorengmu dibawa aja sekalian,” kata Riana seraya menyerahkan bungkusan nasi itu kepada Carissa. Gadis itu Cuma mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera pergi ke kamarnya, meninggalkan Riana CS disitu. Dan sesuai kesepakatan tadi, akhirnya mereka makan di balkon depan kamar gadis itu.


***


“Ojok digarap yo rek, sakno arek iku,” kata Riana seraya menyuapkan nasi gorengnya.


“Babah, Ri, gak ngurus. Dia kan pernah jahat sama lo?” kata Maura.


“Pernah doang, kan, terus gak diterusin? Ya udahlah, toh itu udah masalalu juga, dan dia juga gak niat begitu mungkin. Pokoknya, tetep jadiin Kost Srikandi ini sebagai tempat kost yang aman, damai, dan kekeluargaan. Jangan sampai ada insiden saling bully antar penghuni. Kasihan dong Bu Dian, apa lagi dia jarang mantau disini kan,” kata Riana, mencoba melembutkan hati sahabat-sahabatnya.


“Iya juga sih ya, kita-kita kan udah dewasa, gak seharusnya juga sih sikap kita kaya tadi. Cuma ya apa, kesel aja gitu kalau inget...” kata Maura.

__ADS_1


“Nah kalau gitu, jangan diinget-inget lagi, ngko lak ilang dewe mangkelmu. Yowes, dilanjutlah makannya...” kata Riana. Semua mengangguk. Akhirnya, malam terakhir Riana di Kost Srikandi dan Di Jakarta itu dihabiskan dengan begadangan sambil bercerita-cerita, dan bernostalgia. Soalnya, mereka gak akan ketemu, setidaknya untuk setahun kedepan, sebelum libur semester tiba.


(TBC).


__ADS_2