
Kampus mengheboh, semua mahasiswa dan mahasiswi harapan dosen berkumpul menggerumuti (kayak semut aja), sebuah papan pengumuman. Ada apa sih disana?
“Kembali dibuka! Pekan Seni Mahasiswa tingkat Universitas (PEKSIMITAS). Untuk info lebih lanjut, bisa kunjungi website kami seperti biasa, ayo, segera daftarkan diri kamu!”
“Han, nanti tak ambilin PDF-nya ya kalau kamu mau,” kata Riana, yang tiba-tiba sudah ada di belakang Hanum.
“Eh iya mbak, emang mbak mau ikut juga?” tanya Hanum.
“Iya, aku sama Muara ikut vocal group tapi... Yuk, ke kantin, aku laper,” ajak Riana. Hanum Cuma mengangguk.
***
Selanjutnya, yang terjadi adalah pembicaraan para mahasiswa yang gak jauh-jauh dari tentang gelaran kompetisi dua tahunan sekali yang diadakan oleh universitas di seluruh indonesia. Semua memiliki vibes dan antusiasme yang sama, apa lagi, dengar-dengar kompetisi ini akan digelar secara offline kembali, setelah dua tahun yang lalu harus online/daring akibat pandemi.
“Nesh, aku kok agak takut ya?” Hanum memecah kesunyian. Selasar kelas, siang hari. Sambil menunggu jadwal kuliah yang berbarengan (meskipun berbeda kelas), mereka memutuskan untuk bercakap-cakap sebentar.
“Takut apa?” tanya Ganesh.
“Saingan setingkat universitas aja udah banyak banget, jelas beda sama SLB yang kadang malah bisa nggak ada lawannya sama sekali. Kira-kira, aku bisa nggak ya?” keluh Hanum, yang mulai kumat insecure-nya.
“Bisa sayang. Kamu gak sendirian kok, ayok kita berbagi rasa insecure bareng-bareng, wong aku juga ikutan kok. Udah ya, kita hadapi semuanya sama-sama.” Kata Ganesh seraya mengusap lengan Hanum. Hanum tersenyum, dan meremas lembut tangan lelaki itu.
“Aduh, ada si cowok lemah dan putri pelindung disini, ya? Dari jauh udah terdengar suaranya nih...” Yang tidak diinginkan datang tiba-tiba ; seseorang yang sangat toxic, yang – kalau bisa – dihindari aja, dari pada nambah-nambahin penyakit.
“Hi, Hanum, akhirnya bisa ketemu juga kita disini. Dan... Ganesh? Gue nggak nyangka lho, elo bisa kuliah disini...”
“Kenapa gue harus gak bisa? Kampus ini milik umum kan, bukan milik leluhur lo?” kata Ganesh tajam. Hanum jadi ngeri. Sesaat pegangannya mengerat di atas lengan kursi, dan kakinya secara alamiah menyenggol kaki Ganesh, namun ditepisnya kaki wanita itu dan Ganesh bersiap-siap berdiri. Tapi untunngnya, si pengacau itu keburu dipanggil sama temannya, jadi selamatlah dia dari amukan Ganesha yang sepertinya akan menjadi sangat mematikan tadi.
“Yang, jangan ngamuk ya, please,” pinta Hanum pelan, setelah memastikan si pengacau itu benar-benar sudah pergi bersama temannya.
“Justru...” kata Ganesh seraya melepas pegangan tangan Hanum, “aku berharap bisa ketemu lagi sama dia dalam posisi sendiri, nggak ada kamu. Biar tak pukulin sampe mati aja sekalian...” lanjutnya. Hanum menjengit kaget. Setahunya Ganesh adalah tipikal orang yang santai, kalau ada masalah, nggak pernah dia selesaikan dengan ancaman apalagi kemarahan. Tapi kalau tahapannya sudah menjelang serius dan semi menakutkan seperti ini, Hanum juga tau, kalau posisinya dan apa yang terjadi itu udah berlangsung lama dan terlalu dalam, dan sudah tidak bisa ditolerir lagi.
***
Nama lelaki itu Reno, awalnya, Hanum berkawan baik dengannya karena mereka satu kelas waktu online English Class (Toefl). Dan yang bikin dia semangat bercerita kepada Ganesh waktu itu tentang teman barunya adalah, karena ternyata Reno mengenal Ganesh dengan baik. Tapi yang tidak diketahui sama sekali oleh Hanum adalah, Reno itu pelaku bullying yang membuat Ganesh jadi mengalami “mental breakdown”. Bersama teman-teman sekolahnya yang lain (Reno dan Ganesh pernah satu sekolah, tapi beda angkatan), Reno dan teman-temannya kerap mem-bully anak itu. Sampai detik inipun, perundungan untuk Ganesh seperti tidak akan pernah berakhir. Dan yah, itulah akhirnya yang membuat Ganesh menjadi tampak seperti monster saat harus dipertemukan kembali dengan orang yang selalu menyakitinya sejak dulu hingga kini.
“Nesh, kamu mau kemana?” tanya Hanum kaget saat mengetahui anak itu mengeluarkan tongkatnya.
“Pulang,” jawabnya singkat.
“Kelasmu?” tanya Hanum.
“Aku gak peduli.” Katanya dingin.
“Tapi, Nesh...”
“Udah, kuliah sendiri sana!” usir lelaki itu seraya menghempaskan tangan Hanum dengan kasar, sehingga membuat gadis itu nyaris terjungkal. Pasrah, Hanum membiarkan lelakinya pergi, sementara dia sendiri memutuskan untuk segera masuk ke kelas saja, karena kurang dari 15 menit lagi, kelasnya akan segera dimulai.
***
Kos-kosan Riana dan Hanum. Sepi, Cuma ada suara spatula yang beradu dengan wajan, sementara tangan sibuk bekerja, pikiran si pemilik tangan sibuk berkelana kemana-mana, sampai...
“Dek, awas hangus itu masakannya!” peringat sebuah suara dengan pelan, namun cukup membuat si pemilik tangan yang memegang spatula itu terperanjat.
“Ma-Maaf mbak...” ucapnya.
__ADS_1
“Ssssttt, it’s okay, Dear. Udah, kamu duduk di sana aja ya, biar ini mbak yang terusin...” kata pemilik suara tadi. Gadis itu hanya mengangguk, dan bersandar lelah di kursi ruang makan yang tak terlalu tinggi itu.
“Ada apa, Hanum?” tanya gadis itu yang sudah selesai dengan masakannya.
“Enggak apa-apa, mbak,” jawabnya lirih.
“Ganesha?” Riana coba menebak. Satu anggukan pelan diikuti tetesan air mata setelahnya, yang buru-buru diusap kasar oleh Hanum.
“You can cry as long as you want, I’ll be your shoulder...” kata Riana lembut. Hanum menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Enggak kok mbak, aku nggak mau nangis...” BOHONG! Hanum itu tidak sekuat itu. Karena ketika Hanum berkata “tidak, aku tidak ingin menangis”, hatinya ternyata sudah patah lebih dulu, dan – mungkin saja – mengeluarkan darah. Riana tidak mengatakan apa-apa, tapi dia langsung saja memeluk Hanum, mengusap punggungnya pelan. Kehangatan menjalari gadis itu perlahan tapi pasti, dan sesuatu yang mendesaknya terus-terusan itu akhirnya keluar juga, dan memaksa bahunya untuk naik-turun dan berguncang hebat setelahnya.
“Terima kasih sudah menjadi penopang yang kuat untuk Ganesha, dek. Mbak harap ada jodoh diantara kalian, karena kalian itu kelihatan benar-benar cocok, dan mbak akan sangat bahagia ketika kalian bahagia...” ucap Riana pelan seraya mengusap lembut rambut Hanum.
“Aamiin, mbak,” gadis itu menjawab parau. Handphone Riana yang berada di atas meja berdering, sehingga membuat gadis itu terpaksa menguraikan pelukannya kepada Hanum.
“Halo, Ra...”
“Iya, masuklah, aku di dalam, tadi ada sedikit kejadian. Tapi semua udah beres kok...”
“Iya, oke...” klik – sambungan terputus.
“Siapa mbak?” tanya Hanum, usai ia membersihkan wajahnya di kamar mandi.
“Mas Muara, dia kesini sama Ganesha, Wisnu dan Dian, kan kita ada latihan bersama hari ini...” jawab Riana seraya memindahkan masakannya ke mangkuk, untuk dinikmati bersama-sama nanti.
“Kita latihan disini apa ke studio?” tanya Hanum lagi.
“Ke studio dong... Yuk, mereka udah ngetuk-ngetuk pintu tuh,” kata Riana. Hanum mengangguk. Maka bersama mereka berdua membuka pintu, dan menyambbut teman-teman sekaligus kekasih mereka.
“Yoi, boleh juga tuh. Kebetulan, gue lagi laper mbak,” seloroh Wisnu.
“Astaga nih anak, perasaan baru aja deh makan mie goreng double di kantin kampus tadi, masih laper aja,” komentar Ganesh seraya mencopot sepatunya.
“Apa kamu juga gak laper, Nesh? Dari dulu pas zaman masih di rumah juga kamu senengnya nikus kan? Padahal udah makan sebelumnya,” goda Riana.
“Ah, mbak mah...” Ganesh tersapu, eh tersipu. Wajahnya merona merah.
“Eh gesss, kalian tuh kalau nyanyi pop gimana sih? Gue juga pengen belajar dong...” tanya Dian tiba-tiba.
“Maksudnya gimana itu gimana, Yan?” tanya Hanum.
“Selama ini kan genre gue lain sendiri, keroncong, gitu. Ya memang ini genre turun-temurun di keluarga sih, keroncong sama campur sari. Tapi, gue kan pengen belajar sesuatu yang baru juga,” kata Dian.
“Udah pernah nyanyi pop sebelumnya kah?” tanya Hanum.
“Udah, tapi gak pede gara-gara sering dibilang aneh sama temen-temen, ya udah habis itu nggak belajar lagi,” jawab Dian sedih.
“Jangan dengerin kata mereka, Yan, lo kan gak ikut makan sama mereka, gak dibiayain UKT dan kos-kosan sama mereka, ya pede aja, belajar aja...” kata Hanum, dan diiyakan oleh yang lain.
“Gitu ya. Tapi kalau menurut kalian ternyata gue sama aja aneh, gimana? Kalian bakal nge-bully gak kalau kiranya gue emang gak cocok di pop?” tanya Dian hati-hati.
“Ya enggak laaaah!” semua menyahut kompak secara koor. Untung gak ada suara satu, dua, tiga, empat, lima (emang ada sampe segitu?), saking musikalitas mereka sudah terlatih gara-gara kuliah di prodi musik.
“Astaga kalian...” Dian memerah wajahnya, tapi tawanya terdengar renyah. Nggak salah dia masuk ke circle-nya Hanum CS sekarang, karena nyatanya, mereka adalah benar-benar gank yang kompak abis.
__ADS_1
“Tapi tahun ini, elo tetep ikut genre keroncong ya, Yan?” tanya Hanum.
“Iya. Mana begitu mendengar kabar kompetisi ini akan digelar secara offline, eyang putri, eyang kakung, ayah sama ibu gue berrencana nonton lagi...” keluh Dian.
“Lho bagus dong, support dari orang-orang yang berarti itu mendukung dan meningkatkan presentase keyakinan kita untuk berhasil lho,” ucap Hanum.
“Aku setuju sama katanya Hanum, yang. Lagian, keroncong kan genre yang sudah mengalir dalam darah kamu, setiap hari kamu selalu berlatih bersama mereka. Apa jangan-jangan... Mereka gak setuju kamu belajar genre lain?” tanya Wisnu hati-hati.
“Ya setuju sih, orang murid-murid keroncong di sanggar keluarga di Solo ya belajar lagu pop juga, Cuma jadinya pop keroncong gitu lho, jadi ada selingan mereka belajar keroncong asli sama keroncong modern. Yang campur sari juga begitu, apa lagi, sekarang zamannya Deni Caknan Happy Asmara, ya mereka gak bisa seenaknya tutup mata dengan perkembangan zaman termasuk genre musik yang ada. Mereka supportif dan objektif kok...” jelas Dian.
“Nah, bagus kan, itu juga kan yang elo mau? La terus lapo ndadak keberatan mau ditonnton sama keluarga lo segala?” Hanum heran.
“Takut ngecewain, Han, gue kan orangnya gak pede-an...”
“Ealah gak mari-mari arek iki. Rek tak kasih tau ya, Dian ini sering lho dijuluki sebagai “kuda hitam” di kelas, ngomongnya gak bisa, gak bisa, ngko pas wayae ujian bijine isok A dewe lho...” kata Hanum.
“Kita podo-podo A yo pas iko,” sanggah Hanum.
“La yo kui, terus apa lagi yang dipusingin? Udah yuk, maem sek ae, terus latihan...”
“Oke, sek, kalau gitu, mbak ambil dulu makanannya,” kata Riana.
“Yoh, tak ewangi mbak...” kata Hanum. Riana mengiyakan.
***
Tempat latihan, malam hari. Hanum, Wisnu, Muara, Riana dan Ganesh sudah menyelesaikan latihan mereka. Hanum dan Ganesh mengikuti cabang solo vocal pop putri dan putra, sementara Riana, Muara dan Wisnu mencoba peruntungan mereka di vocal group bersama beberapa teman lain yang mereka kenal, tapi kesemuanya sudah pulang. Sekarang mereka masih menunggu Dian yang sedang berlatih keroncong bersama pelatih vocalnya yang ternyata didatangkan jauh-jauh dari solo khusus untuk mendukung gadis itu.
“Suara-e Dian asline apik lho...” komentar Riana sambil mengawasi jalannya latihan.
“Iya, lembut-lembut yoopo ngono. Kalau dibawa ke pop, rasanya gak susah-susah amat kok. Yang pernah dan atau masih sering mengatakan dia nyanyi pop tu aneh, fix, dia gak ngerti musik aslinya...” kata Hanum.
“Aku setuju sama kamu, yang.” Kata Ganesh seraya mengusap lengan Hanum.
“Jangan elus-elusan disini po-o, gak ngerti a kalian kalau studio tuh suasana-e gelap-gelap yoopo?” ledek Riana.
“Awakmu gelem a sayang?” ledek Muara.
“Hussss, ojok gendak-an di tempat gelap, ah, bahaya kata nenek-nenek...”
“Neneknya siapa, Nu?” tanya Ganesh asal.
“Mbuh nenek-e sopo, tapi petuah nenek-nenek itu emang gak boleh dilanggar lho, bisa kualat entar...” kata Wisnu. Dian keluar dari ruang latihan, diikuti guru vocalnya. Saking senang dan lega, ia segera memeluk yang terdekat dari posisinya, dan alhamdulillah, itu jatuh ke orang yang tepat, yakni Wisnu.
“Udah selesai, sayang?” tanya cowok itu lembut.
“Udah kok. Oh iya, kenalin, ini Pak Ardan, pelatih vocalku dari Solo... Mau aja lho terbang jauh-jauh kesini buat ngelatih aku. Pak Ardan, ini Wisnu pacar saya, dan ini teman-teman saya...”
“Ah, hebat-hebat kalian semua. Ini, saya sengaja datang kesini untuk Dian, soalnya kalau bahasa orang dulu itu Dian ini “bau tangan”, Cuma maunya dipegang sama yang biasa megang dia. Sama lainnya, isok nyandet-nyandet iki ngko...” kata Pak Ardan. Dian tersipu malu dibuatnya.
“Pak Ardan ini yang ngelatih vocal aku sejak aku SD sampai sekarang...”
“La ho-oh, mulo wes ngerti karepe. Yowes nduk, bapak tak pamit sek yo, hati-hati nanti pulangnya...” kata Pak Ardan. Dian mengangguk dan mencium takzim tangan guru vocalnya itu,, dan diikuti oleh anak-anak yang lain. Sepeninggal Pak Ardan, mereka segera membereskan barang-barang mereka, terus pulang, sebelum membuat janji temu untuk kembali berlatih esok hari. Good luck ya kalian semua, semoga hasilnya yang terbaik.
(TBC).
__ADS_1