
Dalam pesawat. Riana masih tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya sesaat sebelum ia meninggalkan tempat kostnya yang dulu. Kok bisa? Bagaimana bisa? Dan bagaimana mungkin juga kini Maura malah melabuhkan diri dan hatinya pada...
“Hai, cewek!”
“Eh cewek loncat... Ya ALLAH tak pikir siapa, Alit tho...”
“La ho-oh, kok awak dewe isok ketemu disini ya mbak?” pemuda bernama Alit itu cengar-cengir, heran, karena bisa satu penerbangan sama Riana, tanpa ada janjian sebelumnya.
“Awakmu arep nang Surabaya pisan ta Lit?” tanya Riana.
“Ck, yo iyo ta, pesawat ki tujuanne pasti mbak, ora koyok hubunganku karo Ica yang stak, ups...” Alit menutup mulutnya, keceplosan.
“Heh sek... Kowe ki ra ono cerita opo-opo moro-moro wes karo Ica wae... Ica-e Rose Cafe kan?” tanya Riana.
“Halisa Fibrina, ya siapa lagi kalau bukan sosok cewek itu...”
“La kok isok... Kepiye ceritane?” Riana penasaran.
“Mbuh, mungkin salahku juga, orang ini pelarian dari Carissa juga kok...”
“What?” Riana nyaris memekik. Apa saja yang sudah terjadi sebenarnya, sampai-sampai banyak cerita yang tidak dia tahu sama sekali seperti ini?
“Wes talah mbak, nanti aja aku ceritanya. Lagi males mikir gituan kok, makanya aku minggat nang Surabaya, pengen nengok Hanum juga...” ucap Alit seraya bersandar lemah ke punggung kursi pesawat.
“Oh gitu. Ya udah, nanti bareng aja selama disana, orang aku sak kost yoan mbek adikmu...” kata Riana.
“Iya, tapi ada info hotel murah ta mbak disana? Cuma buat dua hari doang kok.”
“Hotel sih banyak, tapi gak usah wes, nanti nginep nang kost-e adikku aja...” kata Riana.
“Lah, emang boleh?” tanya Alit.
“La kenapa nggak boleh? Wes talah tenango...” kata Riana. Alit Cuma mengangguk. Selebihnya, mereka memilih hening, berfokus pada pikiran masing-masing, sambil mendengarkan arahan pramugari yang sedang melaksanakan demonstrasi instruksi keselamatan dalam penerbangan. Dalam satu jam ke depan, mereka akan terbang, tinggi, jauh meninggalkan Jakarta.
***
Bandara Juanda, malam hari. Syukurlah, mereka berdua – maksudnya Riana dan Alit, tiba di ibu kota Jawa Timur ini dengan selamat.
“Lho, selamatnya mana? Kan mereka Cuma berdua katanya tadi?”
HEH kulit ayam krispi, bukan itu maksudnya. Bukan mereka pergi dikawal sama si Selamat, maksudnya tadi tuh, penerbangannya berjalan dengan baik, tanpa ada kendala apapun gitu lho. Ah, susah nih ngomong sama remahan rempeyek!
“Iya-iya, bungkus nasi padang. Dah sana lanjut cerita!”
***
“Hey mbak, welcome back!” seru Hanum girang seraya menghujani Riana dengan pelukan. Riana balas memeluk gadis itu, dan mencubit pipi gembilnya.
__ADS_1
“Lho, kok Mbak Riri thok? Sing iki gak dipeluk ta?” tanya Alit tiba-tiba. Hanum bengong. Tapi tiba-tiba, jeritannya menggema, dan ia langsung memeluk erat-erat kakak lelakinya tersebut.
“What a surprise? Kenapa Mas Alit bisa barengan Mbak Riri ke sini? Terus emang kalian udah saling kenal? Apa baru kenalan tadi di pesawat?” tanya Hanum beruntun. Duh bocah, kebiasaan dia kalau udah terlanjur nanya, kayak kereta api, panjaaaaaaaaaaang banget.
“Aku sama masmu tuh ternyata udah saling kenal lama dek, wong aku kaget dek-e bilang kamu adiknya. Aku gak percaya Han, soale kamu ayu, masmu elek...” ledek Riana.
“Asem...” sungut Alit.
“Oh iya Mas Al, ini Ganesh, pacarku, adeknya Mbak Riri,” kata Hanum riang seraya membawa Ganesh, memperkenalkannya kepada sang kakak.
“Duh, yoopo iki, ketemu calon kakak ipar...” bisik Ganesh setengah gugup.
“Tenang, Nesh, masku nggak gigit kok,” kata Hanum asal.
“Deeeek, masmu dipadak-ke karo helly iki piye tho...” sungut Alit lagi.
“Guyon mas, elah, yowes kenalan kono!” seru Hanum tak sabar. Ganesh menjabat tangan kakaknya Hanum lebih dulu, sambil memperkenalkan dirinya.
“Saya Ganesh mas, pacarnya Hanum...”
“Iyo, salam kenal, aku Alit, masnya... Apa Hanum gak pernah cerita?” tanya Alit.
“Pernah kok mas, pernah...” jawab Ganesh takut-takut.
“Mas, jangan diinterogasi cowokku...” omel Hanum.
“Halah udah-udah, yuk kita mengakrabkan diri aja, makan-makan!” sela Wisnu.
“Apa mbak?” tanya Ganesh.
“Muara mana?” tanya Riana, seraya matanya inspeksi ke sekeliling.
“Oh, dia nunggu di cafetaria mbak, mbak ke sana aja, urusan bagasi biar jadi tanggung jawab kami...” kata Hanum.
“Lho, kok...”
“Wes talah, bener katanya Hanum. Dan aku rasa, kalian emang butuh waktu buat berdua.” Timpal Ganesh.
“Ja-Jadi gimana?” tanya Riana.
“Yo paranono, samperin. Sana, hus!” usir Ganesh. Riana Cuma bersungut-sungut. Sambil meninggalkan troli barangnya, ia berjalan, mencari keberadaan Muara yang katanya ada di cafetaria di dalam bandara.
***
Muara menatap gadis pujaannya dengan tatapan terluka sekaligus... Penuh rindu. Ya, dia terluka, tapi dia juga rindu.
“Ra...” panggil Riana. Muara tidak menjawab, tapi ia langsung menghampiri Riana, lalu memeluknya – memeluk saja, tanpa mengatakan apa-apa. Dan meskipun kebingungan, tapi Riana tetap membalas pelukan itu, karena dia juga merasakan rasa rindu yang sama.
__ADS_1
“Udah lama nunggu?” Riana memecah keheningan.
“Belum kok. Mau langsung jalan sekarang? Barang-barang dimana?” tanya Muara.
“Udah dibawain sama anak-anak ke kost, insya Allah aman.” Jhawab Riana.
“Oh, kalau gitu kita langsung jalan aja ya, lagian aku juga Cuma bawa motor kok...” kata Muara. Riana mengangguk. Dan bersama berdua, akhirnya mereka keluar dari cafetaria dan kawasan bandara, mencari warung-warung makanan yang masih buka, kendati suasana sudah semakin larut.
“Mau ke Kenjeran?” tawar Muara.
“Kemanapun kamu bawa, aku ikut,” jawab Riana pelan. Muara tersenyum, lalu melajukan motornya sesuai arah tujuan yang ditawarkannya tadi.
***
Keheningan tetap menjadi raja, bahkan ketika dua piring kupang lontong telah tandas, bersamaan dengan es kelapa mudanya. Kenjeran, malam hari. Dan mereka tetap memilih hening, berdialog dengan perasaan masing-masing. Tapi, salah satu harus mengawali, sebelum semua semakin berlarut-larut dan berakhir tanpa tepi.
“Ra... Ada yang mau disampaikan?” tanya Riana.
“Ngg... Kayaknya gak ada,” jawab Muara pelan.
“Atau kamu ingin melakukan sesuatu?” tanya Riana lagi.
“Cuma pengin peluk kamu... Boleh?” tanpa menunggu permintaan yang sama untuk kedua kali, Riana segera menenggelamkan dirinya dalam rengkuhan Muara. Rengkuhan yang kuat, nyaman, dan melindungi. Rengkuhan yang juga ia rindukan.
“Besok, akan aku ceritakan semuanya,” kata Riana, usai terurainya pelukan mereka.
“Ceritakanlah jika kamu sudah benar-benar siap, aku tak akan memaksa...”
“Siapku adalah besok, kita ketemu lagi, dan akan kuceritakan semua tanpa terkecuali padamu...” jawab Riana pelan. Muara tersenyum, Lalu merengkuh gadis itu sekali lagi.
“Kalau gitu, aku antar pulang aja ya? Sudah jam sebelas, nih,” kata Muara. Riana Cuma mengangguk. Rasanya kepala dan matanya sudah berat. Dia benar-benar butuh kamarnya, kasurnya, bantal dan selimutnya juga. Segala yang terjadi padanya sejak beberapa hari yang lalu telah menguras energinya begitu banyak. Dan mungkin, ketika dia bisa tidur seharian penuh sampai besok, dia jadi lebih siap menghadapi apapun lagi yang lebih berat pastinya.
“Hey, ngantuk ya?” tanya Muara. Riana tersentak, lalu mengangkat kepalanya.
“So-Sorry...” cicitnya.
“Ssssttt, no need to say sorry. Aku anter aja ya. Yuk, hold my hand,” kata Muara. Riana mengangguk. Matanya sudah benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Dia harus segera sampai rumah kostnya, kalau gak mau ambil risiko jatuh di jalan gara-gara ketiduran.
“Nyender ke punggungku aja ya. Ini badanmu dan badanku sudah terikat. Jadi kamu bisa tidur. Aku akan jalan pelan-pelan kok, tenang aja,” kata Muara. Lagi-lagi Riana Cuma mengangguk. Kepalanya berat dan sakit, matanyapun pedas karena menahan kantuk. Jadi, ia Cuma bisa pasrah saja, terserah apa yang akan Muara lakukan padanya. Dia sudah super percaya dengan laki-laki itu.
***
“Eh, sini mas, langsung diangkat aja Mbak Riri-nya. Itu ketiduran apa gimana?” tanya Ganesh yang terheran-heran mengetahui Muara tengah membopong seseorang.
“Iya Nesh. Bawa masuk aja, kasihan, capek banget kayanya dia...”
“Eh gak usah, wes aku tak mudun, aku jalan sendiri aja ke kamar,” kata Riana seraya mengucek-ucek matanya.
__ADS_1
“Yowes gek turu, cantik. Selamat malam.” Kata Muara seraya mengecup sekilas kening gadis itu. Riana Cuma mengangguk dan tersenyum. Sambil meraba-raba tembok, ia berjalan menuju kamarnya, terus... Ya lanjut tidur lagi lah. Mau ngapain emang?
(TBC).