MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 7, TRAGEDI ANABUL DI KOSAN


__ADS_3

-Pov Hanum


Horeeee, author-nya baik, ngasih aku pov sendiri...


“Heh, udah mulai langsung ke cerita aja, kebiasaan, mesti kalau ada orang-orang baru yang kukasih pov sendiri malah gitu. Udah, cepet cerita sana!”


Iya, ampun, ampun. Duh galak banget sih nih author-nya? Ya udah, kita mulai aja, ya. Namaku Hanum Maisha Kartika, biasa disapa Hanum atau Hani. Tapi kalian harus ingat, mau disapa apapun aku nantinya oleh kalian, sapa dan panggilah aku dengan pelan, ketika jarakku berada dekat dengan kalian, kalau kenceng-kenceng, nanti aku budeg, gimana? Hehehe. Usiaku sekarang ini 20 tahun, sedang kuliah memasuki semester dua di jurusan seni musik. Alhamdulillah, di tahun dan semester ini, aku mendapat kesempatan kuliah offline, dan kesenanganku tidak berhenti sampai disana saja, karena dalam perjalananku menuju Kota Pahlawan ini, aku bertemu dan berkenalan dengan seorang teman perempuan di dalam pesawat. Dan yang luar biasa, Mbak Riana – nama perempuan itu, dia adalah kakak dari kekasihku, Ganesha. Dia orang yang baik, supel, ramah, juga ringan tangan. Acapkali aku dibantu olehnya ketika aku tidak bisa melakukan sesuatu. Pokoknya, dia sosok kakak perempuan idaman banget, deh. Dan pagi ini, aku kembali menyaksikan kelembutan hatinya, ketika ia menggendong dan menimang dengan penuh kasih sayang seekor kucing yang sepertinya tersesat, nyasar masuk ke pekarangan kost kami.


“Ya ampuuun, kamu lucu banget, kenapa bisa sampe tersesat disini sih? Sssssttt... Kamu tenang yaaa, sekarang, kamu aman disini...” ucapnya lembut. Aku yang lagi asyik baca novel sambil duduk di sofa ruang tamu jadi penasaran juga. Setelah menghentikan pemutaran novel yang sedang aku baca, aku memasukkan ponsel ke saku celana, lalu menghampiri Mbak Riri yang sepertinya masih asyik bersama kucing itu.


“Itu kucing siapa mbak?” tanyaku.


“Nggak tau, Dek Han, nyasar ke kost kita dia. Tapi cantik lho, bulunya putih, enduuuut, lebat bulunya. Mau megang gak?” tawar Mbak Riana. Aku mengangguk. Segera saja kudekati Mbak Riana, dan meraih si anabul dari gendongannya.


“Ya ampuun hangat, kayak boneka hidup... Ya udah mbak, kalau gak ada yang ngakuin pernah punya kucing ini, mending kita rawat aja, tapi izin ibu kost dulu,” usulku.


“Ide bagus tuh... Yuk, ke rumah belakang, Bu Riska lagi disana kayaknya, bikin kue.” Ajak Mbak Riana. Aku mengangguk. Sambil masih menggendong si kucing, aku mengikuti langkah gadis itu menuju rumah induk, rumah ibu kost kami.


“Ya udah nggak papa, pelihara aja. Kucing itu binatang kesayangan Rasulullah, gak boleh ditelantarkan,” kata Bu Rizka. Kami mengangguk dan tersenyum bahagia. Syukurlah, ternyata ibu kost mengizinkan kami memelihara anabul lucu ini.


“Eh, ini mau dikasih nama siapa? Dia cowok...” kata Mbak Riana, seraya mulai mempersiapkan tempat tidur untuk sahabat baru kami ini.


“Kita kasih nama Almanzo aja, mbak, suaminya Laura Ingals itu, tau kan?” tanyaku.


“Lho, kamu suka baca Character Building Stories itu juga, ya?” tanyanya antusias.


“Iya mbak, aku suka banget cerita itu, dibaca berulang-ulang juga nggak bikin bosen,” jawabku. Mbak Riana mengiyakan. Dan ternyata, dia punya kegemaran lain yang sama juga denganku selain bernyanyi dan bermusik, ya itu menulis dan membaca. Wah, seneng banget bisa punya temen se-server kayak gini.


“Ya udah, sepakat ya, nama kucing ini sekarang adalah Manzo atau Almanzo. Kalau gitu, mbak mau ke pet shop dulu, mau beli makanan sama semua keperluan Manzo. Kamu gakpapa ditinggal berdua sama Manzo, kan?” tanya Mbak Riana.


“Nggak papa mbak, tapi itu berarti aku harus sama Manzo terus dong, kalau nggak, nanti dia hilang lagi gimana? Aku kan gak bisa lihat mbak, susah ngontrolnya,” kataku khawatir. Mbak Riana memeluk dan mengusap pundakku.


“Manzo pasti ngerti kok sayang, dia nggak akan jauh-jauh dari tempatnya. Mbak yakin. Ya udah ya, mbak ke pet shop dulu,” pamitnya. Aku mengangguk. Setelah ia melaju dengan sepeda motornya, aku berjongkok, kemudian menggaruk belakang telinga si anabul, Almanzo. Berharap dia mengerti, aku berkata pelan padanya.


“Manzo, aku ini tidak bisa melihat. Jadi tolong, mainnya jangan jauh-jauh, ya,” seolah ia mengerti, ia meletakkan kepalanya di tanganku, berharap belakang telinganya digaruk lagi. Aku tertawa, mengusap bulu putih tebal Almanzo. Aku sungguh menyayanginya.

__ADS_1


***


Sore hari, di kost. Syukurlah, makanan dan seluruh barang-barang keperluan Manzo sudah ada di kost ini. Hanya saja, sekarang aku sedang sendirian disini, karena Mbak Riana sedang pergi ke suatu tempat, ada urusan katanya. Tapi kayaknya kesendirianku gak akan lama, soalnya, Ganesh, Wisnu dan pacarnya, katanya mau main kesini. Aku berjalan ke warung depan kost, memberi beberapa camilan ringan untuk menyambut mereka.


“Hey, Mbak Hanum, kamu sendirian? Mbak Riri mana?” tanya Wisnu, yang ternyata sudah tiba di pekarangan kostku, bersama Mayang – pacarnya, dan juga Ganesh.


“Lagi ada urusan, katanya. Bentar juga pulang... Oh iya, Ganesh kemana?” tanyaku, seraya meletakkan kantung camilan di atas meja teras.


“Ke dalam kayaknya, kebelet pipis tadi katanya.” Jawab Wisnu. Aku hanya ber-oh saja, lalu mengambil tempat duduk di seberang Wisnu dan Mayang yang sedang asyik berfoto-foto.


“Oh iya, kalian mau minum apa nih?” tanyaku.


“Seadanya disini aja, Mbak Hanum,” jawab Mayang. Aku tersenyum. Kemudian, aku bergegas pergi ke dapur guna mempersiapkan minuman untuk mereka. Sedang asyik-asyiknya meracik es sirup, aku mendengar jeritan membahana dari dalam ruang tamu. Aku meninggalkan es sirup yang sedang kubuat begitu saja di atas meja, lantas berlari menuju sumber suara.


“Kenapa-kenapa? Ada apa?” tanyaku.


“Ada kucing kejepit di belakang sofa deh kayanya, gimana nih?” tanya Ganesh.


“Lho kok bisa? Sek, ayo digeser aja sofanya!” usulku.


“Almanzooo... Manzooo...” panggilku seraya terus menggeser sofa. Ini sofa agak berat lho, jadi yah, harus berdua emang gesernya, kalau nggak gitu nggak bisa.


“Manzooo... Pusss...” panggilku sekali lagi. Tetap tak ada jawaban (yaiyalah, dia kan kucing?), maksudku, tetap tidak ada respond.


“Ayok, masuk aja ke belakang sofa sana, kayaknya lebih mudah kalau kita nyari dari sana,” usul Ganesh lagi. Aku mengiyakan. Beruntung sofanya sudah separuh tergeser, jadi ada celah yang cukup lebar juga buat kami menyelinap ke sana.


“Manzooo...” aku mulai memanggil lagi. Kali ini, kami sudah benar-benar berada di belakang sofa, benar-benar terhalang oleh sofa besar itu. Buat yang nggak tau sebelumnya ada kejadian apa, pasti auto mikir yang enggak-enggak tuh.


“Meooong...” Eongan lemah terdengar dari pojok sebelah kanan. Aku meninggalkan Ganesh yang juga sibuk mencari, lalu menuju sumber suara tadi. Dan disana, terlihatlah Manzo yang seperti ketakutan, karena tidak bisa keluar dari tempat yang dimasukinya.


“Sssssttt, tenang Manzo, sayang. Kamu ada di tempat yang aman sekarang. Makanya jangan suka masuk-masuk sembarangan... Gini kan jadinya,” kataku lembut seraya mengelus kepala Almanzo.


“Udah ketemu, sayang?” tanya Ganesh.


“Udah nih, udah tak gendong malahan,” jawabku seraya membawa Anabul itu keluar dari tempat terjebaknya.

__ADS_1


“Syukur deh, tapi masalahnya, sekarang aku yang kejebak gak bisa keluar nih, udah tak geser sofanya juga tetep gak bisa keluar aku...”


“Astaga dragon ball!” seruku. Kenapa jadi begini ya? Sekarang kalau gini urusannya, harus minta tolong siapa coba?


Deru motor terdengar dari pekarangan kosan. Itu pasti Mbak Riana. Waduh! Bakal mikir apa ini dia kalau tau ada anak perempuan terjebak di belakang sofa sama adik lelakinya? Ah, Manzooo, kamu sih pake kejebak di sofa segala, jadi gini kan...


“Ya ampun Dek Hani, Ganesh, kalian ngapain di belakang sana? Main tak umpet?” tanya Mbak Riana kaget, ketika memasuki ruang tamu. Aduh, mampus lah ini. Apa yang terjadi terjadilah, yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya *la kok jadi nyanyi? Duh maap, panik nih.


“Kami kejebak mbak, gegara nolongin kucing, tadi dia duluan yang kejebak di belakang sofa ini, terus kami nyari sampe masuk-masuk ke dalam, kucingnya ketemu, sekarang malah giliran kami yang nggak bisa keluar,” jelas Ganesh.


“Sekarang kucingnya mana?” tanya Mbak Riana.


“Itu digendong Mbak Hanum,” jawab Ganesh.


“Halaaah onoook ae wong loro ki... Ya udah, bentar, nanti mbak cari bantuan tenaga dulu, buat mengefakuasi kalian dari situ. Gimana sih lagian, bisa masuk tapi gak bisa keluar,” gerutu Mbak Riana. Tapi aku tau itu bukan gerutuan kesal, hanya saja, dia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dan menimpa kami.


“Yak sodara-sodara sekaligus... Kali ini kita sedang menyaksikan, dua lumba-lumba yang terjebak di belakang sofa berwarna krem ini ya...” Aku setengah tersedak menahan tawa mendengar narasi itu. Itu pasti kerjaannya Wisnu, siapa lagi emang yang bisa jail sama kita kalau bukan itu anak?


“Gek ndang, Nu, kesel yo jongkok terus!” sungut Ganesh. Wisnu mendorong sofa lebih ke depan lagi, sehingga terciptalah celah yang sangat lebar untuk kami bisa berdiri dan keluar dari tempat itu.


“Aduuuh akhirnyaaaa!” aku mendesah lega begitu berhasil keluar dari sofa, sambil masih menggendong Almanzo – si anabul, yang bisa-bisanya malah tertidur sepanjang adegan menegangkan tadi. Hais...


“Kalian mau nyoba gaya pacaran model baru, ya, di belakang sofa?” ledek Mayang.


“Enggak, May, itu definisi mojok yang sesungguhnya,” timpal Wisnu. Asem i wong loro, gak tau aja dia kalau kita segitu tegangnya tadi, apa lagi pas ketahuan sama Mbak Riana. Ntar disangka habis berbuat yang iya-iya malah repot kan.


“Udah-udah. Mbak baru beli kandang buat Manzo tuh, diantar pake mobil barusan. Kalau pas kita lagi nggak ada atau nggak bisa ngawasin Manzo, dia kita taroh disana aja. Ngko ndak masuk ke tempat yang aneh-aneh lagi malah tambah ngrepoti. Ya udah, Wisnu sama Ganesh, tarik lagi sana sofanya, rapiin posisinya. Aku, Mayang sama Hani mau nata rumah baru buat si Manzo, ya,” kata Mbak Riana. Kami mengangguk. Setelah pembagian tugas itu, kami segera menyebar dan mencelat menuju tempat pelaksanaan tugas masing-masing, melakukan semuanya dengan cermat dan cepat supaya dapat selesai tepat waktu.


***


Disini kami sekarang, duduk di beberapa kursi yang mengelilingi meja besar di teras kos-kosan. Aku, Mbak Hanum dan Mayang sedang menata piring berisi nasi dan ayam bakar yang rupanya menjadi menu makan malam untuk kami semua. Es sirup yang kubuat tadi, tentu jadi minumannya, karena setelah beberapa saat terjebak di sofa bersama Ganesh dan Manzo, aku kembali pada aktifitasku membuat minuman tadi.


“Ini yang barusan jadi tim sar dadakan buat ngefakuasi Manzo, kita lebihin aja porsinya ya,” ledek Mbak Riana seraya mengambilkan nasi untukku dan Ganesh. Aku menutupi sebagian wajahku dengan tangan, malu sekali rasanya.


“Hayooo pipinya ilang,” kata Ganesh. Aku menyikut pelan pinggangnya. Udah tau lagi malu gini, malah tambah diledekin. Ya tambah ilang dong pipiku. Tapi ngomong-ngomong, ini jadi pengalaman yang tak terlupakan juga sih, anggep aja test kekompakan gitu kan. Seandainya tadi Manzo gak masuk-masuk ke belakang sofa, kan paling kami Cuma duduk bermageran aja di sofa sambil gitaran atau nggak main HP. Nah gara-gara ada proses “efakuasi” dadakan begitu, kami jadi bisa melakukan hal yang berbeda. Terima kasih, Manzo, kamu udah bikin moment pacaran kita jadi berwarna. Tapi jangan diulangi lagi, ngerepotin soalnya!

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2