MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 21, YURA MENIKAH


__ADS_3

“Mungkin saat ini kuakan melepas masa lajangku


'Kan kupersunting dirimu


Jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku, terimalah cintaku...” Suara Yura yang merdu-merdu ambyar itu mengusik ketenangan studio D FM sore itu, ketika Riana baru saja datang untuk melaksanakan tugasnya. Jujurly *ceritanya biar kayak anak Jaksel getoh, dia heran pake banget sama kelakuan sahabatnya yang satu ini. Soalnya, dia emang belom pernah ngeliat Yura duduk tenang anteng di mejanya, sambil nyanyi-nyanyi pula kayak perawan lagi kasmaran. Biasanya juga biyayak-an, pecicilan, la kok hari ini tumben. Kesambet apaan kira-kira?


“Mbak Tita, boss kita kenapa ini? Habis masuk daerah terlarang di sebuah hutan kah?” tanya Riana seraya meletakkan tasnya di dalam loker.


“La ngopo Ri?” tanya Tita.


“Delok-en ta, kae, ngopo dek-e senyam-senyum dewe, anteng tenang ambek nyanyi-nyanyi. Mbak Yura yang aku kenal ki biasanya pecicilan je, la kok isok manis banget koyok ngene ki piye ceritane?”


“Biasa Ri, kan dia mau nikah...”


“What?” pekik Riana, lebih keras dari yang dia maksud, sehingga Yura terkejut dan menoleh ke arah mereka.


“Apa sih? Do bengak-bengok ae wong loro ki...” omelnya.


“Mbak Yu, bener apa yang dibilang sama Mbak Tita?” tanya Riana.


“Apa?” Yura nggak ngerti.


“Lo mau nikah?” tanya Riana sekali lagi. Yura terdiam sebentar. Lalu tiba-tiba ia melompat dari kursinya dan memeluk – tidak, nyaris meremukkan tubuh gadis itu, saking kencangnya.


“Ya ALLAH aku dimbleki kulkas! Jian


ra nggenah kowe mbak!” seru Riana seraya menggeliat, melepaskan diri dari pelukan Yura. Lagi bocah ya, masio dia mungil tapi cukup berisi lho dia itu, berat juga jadinya.


“Sorry-sorry, terlalu bersemangat sayanya. Tapi, apa yang dibilang sama Tita itu bener...” kata Yura, tanpa kehilangan senyumnya.


“Weh, sama siapa? Kacau lu mbak, nggak ada cerita apa-apa moro-moro rabi... Wes disek po piye?” tanya Riana – setengah berbisik.


“Hus ngawur, ora yo...” bantah Yura.


“La terus kumaha, bagaimana, kepiye ceritane?” tanya Riana, masih dalam mode penasaran.


“Lo inget festival kuliner yang dilaksanakan disini beberapa bulan lalu?” tanya Yura. Riana mengangguk, walaupun sejujurnya ia tidak begitu mengerti apa hubungan antara festival waktu itu dengan kabar pernikahan Yura yang tiba-tiba itu.


“Jeremy...” kata Yura pelan.


“Woh, Jeremy yang Manager Sakura Hotel itu?” tanya Riana kaget.


“Iya, dia sebenernya temen SMP gue dulu, tapi kita baru dipertemukan lagi sekarang. Dan setelah kita dipertemukan beberapa kali itu, komunikasi kita jadi intens fia chat, ya pokoknya ngono kui lah. Terus dia merasa kalau kita pacaran itu udah kayak bukan waktunya lagi. Makanya kemarin dia nemuin mama sama papa pas gue lagi di Malang, dia ngelamar gue, terus, ya gitu...”


“Elokkk, secepat itu?” Riana heran.


“Nggak cepet lah itungannya Ri, dia kan temen gue pas SMP, keluarga itu udah saling kenal semua, orang adeknya Jeremy, si Nita itu sering main sama Aufa, adik gue, sering nginep juga. Yang bikin semuanya jadi terkesan cepet adalah karena kita nggak melewati proses pacaran...” jelas Yura.


“Terus proses jatuh cintanya gimana?” Riana heran.

__ADS_1


“Ish, udah dibilang kita deket banget, cuma gak pernah ketemu, gitu doang. Lagian ya neng, proses jatuh cinta setiap orang kan beda-beda, alur yang dilalui, tahapan-tahapannya juga beda kan?” kata Yura lagi.


Riana mengangguk. Biar bagaimanapun, heterogenitas manusia telah memetakan kesimpulan sendiri bahwa, apapun yang dialami setiap orang, pastinya akan melalui proses dan tahapan yang berbeda-beda, termasuk rasa bahagia dan rasa sakit. Maka hindarilah penghakiman-penghakiman yang kurang perlu, yang kiranya akan melukai hati dan menjatuhkan mental, karena biar bagaimanapun, kita tidak bisa menjadi orang lain, sama halnya seperti orang lain yang juga tidak bisa menjadi diri kita, dan setiap orang sudah diporsikan masing-masing kok sama ALLAH, nggak ada  yang ujian hidupnya lebih ringan ataupun lebih berat, karena pada akhirnya yang berbicara tentang berat-ringan tadi adalah perspektif dari masing-masing kitanya. Dan satu pelajaran baru didapatkan lagi oleh Riana dari perbincangannya hari ini dengan Yura.


“Terus nikahnya kapan mbak?” tanya Riana akhirnya.


“Tiga minggu lagi. Dan gue sama Jere maunya elo-elo pada yang ngisi acaranya, elo, Muara, dan lain-lain...”


“Elokkk... Nanti gue ngomong sama anak-anak deh. Selamat ya mbak...” kata Riana seraya memeluk sohibnya sejak SMA itu.


“Thanks, Ri. Kapan nyusul sama Muara?”


“Woi, sek tah, kita baru semester satu mbak, biar pada selesai dulu aja...” kata Riana. Yura mengangguk. Dan begitu jarum jam sudah menunjukkan angka 15:00, Riana segera memasuki kotak kaca siaran untuk memulai tugasnya.


***


“Weh, Jeremy nikah? Ngomong wae belum punya jodoh, belum punya jodoh, ternyata malah duluan!” kata Muara heran seraya memasangkan helm kepada Riana.


“Iyaa, bang Je itu nikah juga sama temenku, si Yura...”


“Welah, kok bisa? Aku tau sih mereka sering ngobrol pas festival yang dilaksanakan sepuluh hari disini itu, tapi masak iya secepet itu?” Muara masih heran.


“Mereka temen SMP sayang, ya mbuh ya, perkara ngenean kan udah takdir yang ngomong, kita udah gak bisa komentar apa-apa lagi...” kata Riana.


“Iya sih ya, sama kayak kita, yang dipersatukan juga lewat takdir...” kata Muara seraya iseng mencolek dagu Riana.


“Mmm, pelanggaran lagi masnya. Ya udah jalan yuk, keburu malem nih ntar...” kata Riana. Muara mengangguk. Maka bersama mereka, pergi membelah jalanan kota Surabaya dengan kuda besi milik Muara.


***


“Ini gaun panjang amat sih, ribet aku jalannya nanti...” keluh Hanum seraya memasang sepatu yang sudah sepaket dengan gaunnya itu. Untung dia gak dikasih high heals, karena Yura udah dikasih tau, kalau Hanum ini tunanetra, dan kalau pakai high heals, dia pasti gampang jatuh.


“Kamu mending pake flat shoes, apa kabar saya yang pakai high heals nih?” sungut Riana seraya ikut memasangkan sepatu hak tinggi bertali rumit itu ke atas kaki jenjangnya.


“Sayang, nanti aku gandeng. Gak usah khawatir ya, lagian kamu cantik kok pake ini,” kata Ganesh seraya merangkul pundak Hanum.


“Tapi aku nggak pede lho sayang, lihat, deh, badanku nggak sebagus anak-anak perempuan lain. Kok ya lucu kalau aku pake gaun sekeren ini dengan kondisi badan yang kayak gini...”


“Big no!” seru Riana tiba-tiba.


“Coba lihat sini wajahnya, kita ke cermin sebentar, sayang,” kata Riana. Hanum menurut. Sesampainya di cermin, Riana memutar-mutar tubuh Hanum, agar bisa melihatnya dari berbagai sisi. Setelah puas memandangi gadis itu, ia merangkul pundak Hanum, dan berkata dengan sangat lembut.


“Kamu itu sempurna, Hanum. Kamu itu cantik, dan kecantikan sesungguhnya itu bukan hanya terlihat dari apa yang dilihat oleh mata biasa, tapi mata-mata yang luar biasa itu juga akan melihat kecantikanmu yang lain, yang tersimpan jauh di dalam diri kamu. Jadi, nggak perlu insecure, ya, karena kamu itu indah...” ucap Riana tulus. Hanum menutupi pipinya yang bersemu merah. Dengan langkah pelan, ia kembali ke kursinya, tepat di sebelah Ganesh.


“Boleh minta tolong fotoin kami gak?” tanya Ganesh.


“Siap, sini!” seru Muara antusias. Ia mengambil ponselnya, dan mengabadikan potret kedua sejoli itu yang begitu serasi.


“Perfect...” pujinya tanpa sadar. Ia tahu, baik Ganesh ataupun Hanum, keduanya sama-sama tidak sempurna, tapi mereka mampu untuk saling melengkapi. Dan mereka akan membungkam keraguan orang-orang tentang kebersamaan mereka, cepat atau lambat.

__ADS_1


***


Acara resepsi pernikahan Yura berlangsung dengan begitu meriah. Beberapa rekan artist juga turut datang pada pesta resepsi yang cukup mewah ini. Rekan-rekan artist itu adalah teman-teman baik Jeremy. Salah satu artist yang datang pada malam hari itu adalah Stephanie Jane, seorang selebgram dan juga model salah satu brand kecantikan ternama. Gadis itu tampil begitu cantik dengan gaun brokat modern dengan aksen mutiara yang dirangkai membentuk hati pada tengah bagian dada gaun memberikan kesan cute dan glamor dalam waktu yang bersamaan.


“Selamat J, Yu, bahagia kalian ya,” ucap gadis cantik itu seraya menyalami kedua mempelai.


“Thanks, Steph, sempet-sempetnya dateng ke sini di tengah jadwal pemotretan lo yang super buanyak itu... Katanya besok berangkat ke Tokyo, ya?” tanya Jeremy.


“Iya, hehe. Do’anya ya...” kata Stephanie seraya tersenyum malu-malu. Jeremy tersenyum. Usai Stephanie, kini giliran tamu-tamu lain yang memberikan ucapan selamat kepada sepasang raja dan ratu sehari itu.


***


“Akhirnya beres juga...” Riana menghempaskan tubuhnya di atas sofa hotel, sementara Hanum sedang membantunya mencopot segala asesoris yang melekat pada malam itu. Punya Hanum sudah dieksekusi duluan sama team perias disana, jadi ia terlihat begitu normal dan cute dengan piama pink yang membalut tubuhnya sekarang.


“Jangan banyak gerak mbak, susah nih nyopotnya...” protes Hanum.


“Sorry... Gila, seharian dijadiin boneka aku. Untung nikahan sahabatku dek, kalau nggak mah ogah!” sungut Riana. Hanum cuma tertawa. Lagi asyik-asyiknya mereka membereskan gaun dan segala macam asesoris, bel di kamar mereka tiba-tiba berbunyi.


“Siapa?” tanya Hanum seraya buru-buru menutupi Riana dengan selimut, karena ritsleting gaunnya sudah setengah terbuka.


“Yura,” jawab suara dari luar. Hanum buru-buru berlari dan membuka pintu.


“Ini penganten baru ngapain ke sini dah?” tanyanya heran. Riana menoleh. Ia juga terkejut melihat sahabatnya yang bukannya melakukan ritual malah main ke kamarnya.


“Halooo penganten baru... Kenapa kesini? Jangan bilang mau minta tips and trick ya, kamu datang ke tempat yang salah anak muda. Kita-kita belum ada pengalaman disini...” ledek Riana yang sudah berhasil melepas gaunnya, jadi dia masih bersembunyi di dalam selimut.


“Hus ojo nggudo tho rek... Jeremy lagi nemuin sepupunya yang dateng dari Amrik. Mereka mau pesta-pesta gitulah, menikmati masa lajang terakhir gitu ceritanya. Ya berhubung sepupu gue juga udah pada balik, gue juga mau menikmati masa lajang gue sama sahabat-sahabat perempuan gue aja deh...” jelas Yura seraya menghempaskan dirinya di atas sofa berwarna krem yang ada di kamar itu.


“Yowes entenono sek yo, gue mau mandi, gatel ini...” kata Riana seraya buru-buru membuka selimutnya. Hanum sudah siap sedia melempar handuk hotel yang super gede itu kepada Riana, jadi tubuh gadis itu tidak sempat terekspos sama sekali.


“Mandi dulu mbak,” pamit Riana. Yura mengangguk. Sekarang dia malah sudah asyik mengganti-ganti saluran TV, mencari acara yang menarik.


***


“Yoopo rasanya nikah, mbak?” tanya Riana, seraya berbaring di atas bed king size yang kini sudah terisi tiga orang, dengan Hanum yang sudah tertidur lebih dulu di tengah-tengah mereka.


“Ya nggak gimana-gimana, biasa aja...” jawab Yura.


“He mbak, ojo digae dulinan ta, nikah itu cukup sekali saja seumur hidup, ngawur lu...” omel Riana.


“La niat gue ya gitu kok, kenapa lo jadi ngomel sih?” Yura heran.


“Ya habis, jawabannya kayak nggak niat gitu...” Riana mencebikkan bibirnya. Yura cuma tertawa, dan mengusap pelan rambut gadis itu.


“Setiap perempuan – apa lagi yang sudah dewasa, pasti menginginkan titik balik terbaik dalam hidupnya, setelah dia lulus studi, dapet kerjaan yang baik, cita-cita terakhirnya pasti menikah, membangun keluarga sendiri dengan bekal-bekal terbaik yang udah didapatkan dari sejak kecil sampai saat ini. Dan perspektif orang tentang pernikahan itu ya beda-beda, kalau gue bilang rasanya nikah itu biasa aja, itu bukan berarti gue nggak menganggap pernikahan ini berarti. Yang harus lo tau, gue sangat bahagia. Tapi, gue kan nggak se-ekspresif gadis-gadis diluar sana, gue gak tau gimana cara yang benar untuk meluapkan kebahagiaan...” jelas Yura. Riana manggut-manggut, paham. Satu pelajaran lagi dia dapat, dan masih tentang hal yang sama ; perspektif. Segala sesuatu yang terjadi (hal yang sama kepada orang yang berbeda), pasti akan menimbulkan reaksi dan perasaan yang berbeda pula. Dan itu bukanlah sesuatu yang aneh ataupun salah. Salah-benar tidak pernah pasti di mata manusia, selagi itu bukan sesuatu yang melanggar norma dan ketentuan, menjadi berbeda itu tidak apa-apa. Asal bisa saling menghargai, itu tidak akan jadi masalah. Riana dan Yura merasakan tempat tidur bergerak sendiri, dan ternyata Hanum terbangun.


“Kenapa dek?” tanya Riana pelan.


“Kebelet pipis,” jawab gadis itu seraya ngeloyor ke kamar mandi. Duh, elah, udah susah-susah ngebangun mood biar tulisannya jadi rada bener gitu, malah dihancurkan seketika sama si Hanum, dasar. Tapi sekali lagi, selamat ya Yura, semoga samawa.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2