MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 13, THE MISSION STARTED


__ADS_3

Pagi hari yang rusuh. Muara sudah menelepon sana-sini, setiap orang yang kontaknya dia simpan. Dia punya berita besar, dan dia harus menyampaikannya sekarang juga. Tapi bagaimana ini, satupun orang tidak ada yang menjawab teleponnya.


Muara mondar-mandir di depan kamar kost-nya. Dia bingung, harus nelepon siapa lagi. Riana, jelas gak mungkin. Lagi pula, biar Riana ditelepon paling terakhir aja. Muara punya alasan sendiri kenapa dia harus melakukan itu. Tapi masalahnya, sekarang dia harus nelepon siapa dulu ini? Ting... Seketika lampu di dalam kepalanya menyala. Kini ia tahu, siapa yang harus ia tuju.


***


“Duh Mas Ra... Nyapo sih isuk-isuk wes ngobrak-ngobrak ngene? Gak ngenaki wong turu. Iki lho dino minggu pisan...” omel Ganesh begitu waktu “hibernasi”-nya diganggu gugat oleh Muara.


“Lah kamu, sih, tak telepon gak diangkat-angkat,” kata Muara tak peduli seraya matanya memindai seisi kamar. Sebagai anak cowok, ternyata, kamar Ganesh cukup rapi juga, ya, Cuma kabel-kabel di mejanya itu yang sedikit berantakan, dan bikin Muara geregetan sendiri pengen ngerapiin.


“HP-nya masih ku-charge, dalam keadaan mati kayaknya. Sek tak nyalain,” kata Ganesh seraya dengan malas ia bangkit dari tempat tidurnya. Hari masih pagi, masih jam tujuh, tapi awal harinya sudah dimulai dengan sangat rusuh. Gara-gara siapa? Ya, Muara, lah, kalau nggak inget cowok ini adalah “calon” pendamping yang pasti baik buat sang kakak, sudah barang tentu ia akan menelannya bulat-bulat karena berani mengganggu rencana tidur panjangnya.


***


“Kenapa sih mas? Rusuh amat pagi-pagi begini,” omel Ganesh seraya menikmati seporsi lontong sayur yang dibelikan oleh Muara. Sarapan bersama di kost Ganesh adalah pilihan yang tepat untuk hari ini. Lagian hitung-hitung Muara menebus rasa bersalahnya juga karena sudah mengganggu “hibernate time”-nya Ganesh


Tadi.


“Aku kasih tau, tapi pliss di keep dulu, dan tolong gak usah histeris...” kata Muara serius.


“Aduh ada apa sih? Kok aku tegang?” tanya Ganesh.


“Jangan khawatir lah, yang jelas, ini bukan sesuatu yang buruk kok. Jadi...”


***


“APAA? Ini beneran? Wiiiii!”


“Kan udah kubilang, gak usah histeris, kayak cewek aja,” sungut Muara.


“Eh, sorry, mas. Tapi ini sih beritanya bukan Cuma menyenangkan buat Mas Ra ataupun Mbak Riri, tapi aku dan Mbak hanum juga akan ngerasain vibes yang sama lho,” kata Wisnu antusias.


“Ya okay, kalian beruntung karena kecipratan nih,” kata Muara lagi.


“Nah gitu, dong, jadi calon kakak ipar tuh harus baek, biar PDKT sampai akad-nya lancar...” Ganesh tersenyum puas penuh kemenangan seraya membawa mangkuk bekas makan mereka ke dapur dan mencucinya.


“Ye lah-ye lah...” sungut Muara. Pada akhirnya, berita itu tidak jadi dia simpan untuk Riana seorang. Untungnya, Ganesh ini pinter jaga rahasia, jadi dia bisa percaya sama anak itu. Tapi BTW, kalian penasaran gak sih, apa yang sebenernya terjadi, sampai-sampai Muara seheboh dan serusuh itu pada hari ini? Jani begidi *biasa, kebalik mode on. Ya udah deh, kita mending ngintip isi chat WhatsApp Muara dengan seseorang aja. Tenang, ini author udah dapet ijin dari yang punya HP, jadi, cusss kita kepoin aja sekarang ya, Esmeralda.


***


Mas Jeremy : [Halo, Ra, apa kabar? Lama ya gak komunikasi. Dan oh iya, gue udah denger kabar juga. Turut berduka atas meninggalnya Abhi, ya, nggak nyangka, cepet banget dia perginya...]


Muara : [Yo Mas Jer, alhamdulillah baik. Iya, mas, makasih. Memang kepergian Abhi itu terlalu cepat untuk kami semua yang mengenalnya. BTW kabar mas sendiri gimana?]


Mas Jeremi : [Yaaa gini2 aja, Ra, belom ketemu jodoh nih sampai sekarang wkwkwk. BTW lo udah balik ke SBY ya? Berarti kebetulan dong nih...]


Muara : [Halah ndang golek mas, selak karatan ngko wkwk. Iya dari dua bulan yang lalu udah disini, di kota kelahiran tercinta. Ada apa rupanya nih? Kebetulan apa?]


Mas Jeremy : [Di cabang hotel and resto yang gue pegang itu (otomatis adanya di Surabaya kan ya, karena gue masih megang cabang Jogja), nanti bakal ngadain event, namanya Festival Kuliner Nusantara. Tapi ini bukan festival biasa sih, karena kami mau ngadain performing arts juga, dan rencananya karena budget untuk event ini lumayan banyak, kita bakal ngundang beberapa bintang tamu juga...]


Muara : [Performing arts yang kayak gimana? Live music gitu gak sih? Terus bintang tamunya?]


Mas Jeremi : [Gue kirimin rundown aja deh ya, sekalian lo pelajari. Soalnya gue emang mau minta lo yang ngisi penuh slot live music itu, berikut kolab bareng guest star-nya sekalian...] Dan sebuah file PDF langsung tiba di HP Muara, sesaat setelah balasan dari Jeremy itu. Dengan harap-harap cemas, ia membuka file itu, file berisi serangkaian agenda dari festival kuliner yang akan diadakan di kota ini dua minggu lagi. Rangkaian kegiatan itu akan diadakan juga selama 10 hari penuh. Pasti bakal banyak artist, dan pasti Muara akan menerima banyak bayaran seusai manggung. Senang akan semua kemungkinan itu, Muara langsung membuka file yang diberikan oleh Jeremy tadi. Awal ia membuka, isinya benar template dan biasa banget. Hari pertama, ada pembukaan, sambutan walikota, dan pemukulan gong secara resmi juga oleh orang yang sama. Tiba di hari kedua, booth festival mulai dibuka, dan di saat itulah direncanakan Muara mulai menghibur para pengunjung yang memadati lokasi. Tapi matanya membelalak sempurna – serasa hendak copot dari rongganya, begitu membaca deretan guest star alias bintang tamu yang juga akan ikut memeriahkan acara ini dari hari ke-3 sampai hari terakhir.


GUEST STAR


HARI 3




Tri Suaka, Nabila Maharani, Zidan.




GAC (Gamaliel, Audrey, Cantika).




HARI 4




Yura Yunita.




Tulus.

__ADS_1




Hari 5


Fiersa Besari, Febi Putri.


Hari 6.




Lyodra Ginting.




Rimar Calista.




Hari 7




Juicy-Luicy.




Tiara Andini, Arsy Widianto.




Mahalini Raharja.






Esa Risti, Wandra.




Deni Caknan, Happy Asmara.




Yeni Inka.




Hari 9




Kembali ke Tri Suaka And Friends.




Kaleb J.


__ADS_1



Hari 10


K A H I T N A


Muara membaca urutan nama para bintang tamu itu dengan perasaan membuncah luar biasa. Ia berkali-kali mengucek matanya, dan berkali-kali pula ia melihat cetakan huruf yang sama ; K, A, H, I, T, N, A, kahitna. Ya, group musik bentukan Yovie Widianto itu akan ikut memeriahkan panggung itu. Dan kesempatan kolab itu juga...


[Gue mau, mas, mau!] Jeremy is typing...


[Oke... Sudah kuduga wkwk. Soal kolab, lo mau sama yang mana, dari segitu banyak bintang tamu?]


[Mbuh, mata gue sakit nih habis baca ginian, apa lagi pas di hari  7 sama hari 10...] dan sekali lagi tulisan “Jeremy is typing” terpampang di layar smartphone-nya.


[Kalau di hari ke-7, lo mau yg nomor berapa?]


[Nomor 2, mas...]


[Kalau gitu sekalian di hari ke-10 aja ya, kebetulan anak dua itu bakal berkolaborasi se bapak-bapaknya sekalian...] WHAT? Itu berarti... Itu berarti.... Kahitna? Ia akan berkolaborasi  dengan... Oh Tuhan! Tidak bisa dipercaya!


Jadi begitulah, itu adalah sebab mengapa Muara bisa rusuh dan Ganesh bisa histeris mengetahui itu. Ini apa kabar kalau Hanum dan Riana akhirnya tau juga ya? Mereka cewek, lho, pasti bakal lebih parah nih.


***


“Cerita cinta kita memang belum dimulai, dan aku juga tahu bahwa cinta kita tak sebebas merpati. Tapi, izinkan aku untuk mengagumimu yang lebih dari sekadar cantik, ya. You’re my soulmate...” Riana tersenyum setelah membaca sepucuk kartu yang tertempel pada seikat bunga mawar yang diterimanya sore ini, di tempat kerjanya, studio Radio D. Dan dari tulisan tangan itu, Riana kenal betul siapa pengirimnya. Pasti dia adalah orang yang berjanji menjemputnya malam ini untuk mengajak makan malam. Orangnya belom nongol, eh bunganya duluan yang nyampe.


“Kenapa senyam-senyum sendiri?” tanya Yura seraya menepuk pundak Riana.


“Nggak papa...” jawab Riana seraya meletakkan bunga mawar itu di atas pot kosong yang telah diisi air. Tetapi sebelum itu, Riana menarik dulu kartu ucapan yang tertera, dan disimpan dengan rapi di saku kemejanya.


“Wiiiihhh, mau dong dikasih bunga juga!” ledek Yura begitu matanya menangkap satu fas bunga dengan setangkai mawar di atasnya, di atas meja kerja Riana.


“Ntar gue kasih deh Mbak Yu, bunga dukacita tapi,” ledek Tita – sang resepsionis yang sudah akan mengakhiri jam kerjanya hari ini.


“Ish kurang ajar nih bocah...” sungut Yura. Tita Cuma tertawa.


“Mbak Riri, itu cowoknya udah nunggu di lobby depan,” kata Tita. Riana mengangguk. Maka setelah ia berpamitan dengan kedua perempuan rekan kerjanya itu, ia segera pergi ke depan, menemui Muara.


***


Tempat makan yang dipilih adalah sebuah cafe di pusat kota. Ini bukan cafe biasa, konsepnya lebih elegant dan mewah. Riana sempet kaget begitu tahu Muara membawanya kesini, bukan ke warung langganan kaki lima yang kakinya ada li... Eh, warung kaki lima langganan mereka setiap habis pulang dari mana-mana.


“Kok kesini? Kenapa gak ke Kenjeran? Padahal aku lagi pengen lontong kupang lho Ra.”


“Karena hari ini special,” jawab Muara seraya tersenyum manis dan menggandeng tangan Riana, membawanya masuk ke dalam. Syukurlah, dia nggak salah kostum. Pakaian semi formal-nya yang tadi dipake Siaran cukup nyambung dengan suasana cafe.


“Duduk dulu, ya, ini meja yang udah tak reserfasi, tapi aku mau nyari waitres dulu buat mastiin pesanan,” kata Muara. Riana mengangguk. Dan dengan langkah pelan, Muara meninggalkan gadis itu untuk mencari waitres yang membantunya dalam kegiatan makan malam hari ini. Sepeninggal Muara, Riana mengambil notes kecil dan ballpoint dari dalam tasnya. Dan dengan cepat, ia menuliskan kalimat balasan dari kartu ucapan kiriman Muara tadi. Di bawahnya juga disertakan keterangan,, bahwa Riana pengen pergi ke toilet dulu. Hihihi, beser tuh anak.


***


“Aku enggak ngerti, kenapa setahun kemarin kita bisa dipertemukan dalam suasana yang sama sekali tidak terduga. Malah pake acara ada insiden mantan (tapi tidak terindah), dateng segala, dan mengacaukan semuanya. Terima kasih, ya, bunga dan suratnya, semoga cinta kita tidak berakhir hanya sebatas mimpi...”


“Jadi kamu tau itu kerjaanku?” Muara nyengir lebar begitu ia membaca sepucuk surat balasan yang ditaruh di atas meja oleh Riana.


“Ya iyalah. Ada banyak faktor yang bikin aku tau kalau itu adalah kerjaan kamu. Pertama, tulisan tangan kamu itu gak bisa disamarkan. Kayaknya khas aja gitu tulisan kamu. Yang kedua, siapa yang bisa ngerunutin banyak judul lagu Kahitna sampe sedetail itu kalau bukan fans-nya yang sejati?” Muara membelalakkan matanya. Ia tidak meragukan kemampuan analisis seorang cewek. Pantes aja para cewek lebih cepat membongkar perselingkuhan pasangannya daripada cowok. Cewek itu... Gak tau ya, isi pikirannya apa, kok bisa dia merunutkan segala hal secara rapi tanpa kekeliruan sedikitpun.


“Apa sih, kok ngeliatinnya gitu?” Riana heran.


“Enggak, salut aja sama cara kerja otaknya cewek. Luar biasa...” puji Muara.


“Ini serius apa ngeledek sih?” Riana memutar bola matanya.


“Serius nona, ya ampun...” Muara meringis.


“Ya udah, kamu ngajak kesini sebenernya mau ngapain sih?” tanya Riana penasaran.


“Sek ya, jawabannya akan ada di akhir makan malam. Sekarang, just enjoy the show...” kata Muara seraya tersenyum misterius. Riana terkejut. Jantungnya bertalu-talu dengan keras. Ini mau ada apa sih sebenernya, Muara mau memberinya apa lagi setelah kartu ucapan dan bunga tadi?


***


Riana memeluk Muara dengan jantung yang berdebar begitu keras. Tangannya juga tak berhenti meninju-ninju pelan punggung Muara. Dan tidak hanya sampai disitu, sekarang dia pake acara loncat-loncat segala. Muara jadi bingung nih, gimana nenanginnya.


“Ri, diem napa, jangan loncat-loncat begini, wadawww...” Muara geleng-geleng kepala. Untung aja tangan Riana kecil juga, jadi ditinjuin dari tadi gak berasa itu dia.


“Ups, sorry...” Riana segera menghentikan ke-bar-barannya, dan kembali duduk dengan tenang di kursinya.


“Kamu seneng?” tanya Muara lembut.


“Seneng bangeeeeettt!” seru Riana seraya memeluk amplop putih berisi kertas print out rundown acara Festival Kuliner Nusantara itu. Kejutan itu memang benar-benar terjadi di akhir makan malam mereka. Begitu Riana menyelesaikan makan dan berniat menggeser piringnya, tiba-tiba sesuatu terjatuh dari atas nampan. Dan... Yah, itu dia, amplop putih berisi print out rundown acara, yang dibawahnya diedit sendiri oleh Muara, ditambahkan tulisan “hadiah special untuk makhluk ter-special”. Terniat emang.


“Thanks, Ra...” ucap Riana seraya tetap memeluk amplop itu di dadanya.


“Iya, sama-sama... BTW, mau juga dong dipeluk, ups!” Muara menutup mulutnya. Keceplosan dia, saudara-saudara.


“Kan tadi udah... Lagi ta?” seloroh Riana.


“Ehhh gak wes...” Muara menundukkan wajahnya. Ampuuuun, memulai misi sih memulai misi, tapi kan gak gini-gini amat jugaaaa. Hadeeeh!

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2