MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 42, SURPRISE (SPECIAL RIRI-GANESH, PART 2)


__ADS_3

Riana keluar ballroom hotel dengan wajah datar. Di belakangnya, Ganesha mengikuti tanpa suara. Gadis itu melambaikan tangan kepada driver taksi online yang sudah dipesan sebelumnya, dan menarik tangan Ganesha untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


“Sa-Sabar mbak...” ucap Ganesh pelan. Dia sungguh tak kuasa menyaksikan gelegar amarah Riana yang begitu besar kali ini. Tapi menurutnya. Apa yang dilakukan gadis itu juga tidak salah. Soalnya apa yang dilakukan Lisa juga benar-benar keterlaluan tadi ; menjelek-jelekkan Riana di tempat sebesar dan semegah itu. Untung saja Riana tidak bersikap brutal dengan meninju kakak sulung mereka itu sampai babak-belur di tempat. Riana, di atas gaun hitamnya hanya berjalan dengan anggun meninggalkan gedung, seraya membawa Ganesh, menggandeng lembut tangannya. Tapi, anak itu segera mengerti, bahwa ada bara yang disimpan sang kakak ; bara yang sanggup menghanguskan apapun, seandainya itu berwujud nyata.


“Aduh iki sopo seh telpan-telpon wae...” keluh Ganesh seraya tetapp ketakutan.


“Gek diangkat le,” kata Riana pelan. Meskipun masih gelisah, Ganesh tetap mengambil ponselnya dari tasnya, lalu mengangkat telpon tersebut.


“Halo...”


“Eh, Mas Ra. Ngopo?” Riana auto menoleh begitu mendengar nama pujaannya terbawa dalam panggilan itu.


“Iyo iseh kok, seh nang Malang iki. La ngopo?”


“Oh, iki ki, Mbak Ri nang sebelahku. Sek mas...” kata Ganesh. Kemudian ia berbicara dengan Riana sebentar.


“Mbak, iki lho Mas Ra...” kata Ganesh. Tanpa kata, Riana menerima ponsel itu dan berbicara.


“Halo Ra, ngopo?”


“Heh? Nang Star Hotel Malang iki? Tenanan ta? Karo sopo?”


“Welokkk tenan, karo Hanum, Wisnu, Dian barang? Parah kamu Ra, wes telung dino ket ngomong, asem. Yo sek aku tak ngambil barang-barang ndek omah, iki sisan arepe minggat tekan kono kok.”


“Yo, wes entenono kono yo. Assalamu’alaikum...” kata Riana seraya mengakhiri pembicaraan.


“Ngopo mbak?” tanya Ganesh.


“Dek, barang-barangmu udah di tas semua kan?” tanya Riana.


“Uwes mbak, aku gak ngeluarin semua barangku. Malahan yang di lemari wes tak gowo sisan, aku nurunin koper pink punya mama kae lho, wes tak lebokno kono wesan, lemariku kosong...” jawab Ganesh.

__ADS_1


“Yowes ngko mbak masuk rumah, mbak angkut semua itu barang-barang, sekalian yang di kamarnya mbak juga...” kata Riana. Ganesh Cuma mengangguk.


“Eh tapi mbak, aku eroh sesuatu lho ndek kamar ngarep ndek bawah...” kata Ganesh.


“Opo?” tanya Riana.


“Ada koper agak berdebu, ditaro di kolong ranjang. Kayaknya barang lama deh itu. Dan kalau aku menganalisa dari bentuknya, kayaknya isinya semacam dokumen gitu, mbuh dokumen rahasia mbuh opo, tapi pokoknya gitu deh...”


“Woh, misteri di rumah sendiri nek ngene ki. Seru juga kalau itu koper kita culik sementara dan kita bongkar pas udah sampe surabaya...” kata Riana. Api dendam di matanya berkobar lagi, tapi Ganesh tidak tau itu.


“Nanti kalau dicariin gimana itu tas, kok moro ilang?”


“Halah, ora. Kamar ngarep iku kan sidone gudang tho saiki, wes ra nok sing ngopeni, paling-paling yo ra sadar nek barange onok sing ilang...” kata Riana.


“La terus arepe ngopo mbak dirimu ki?” tanya Ganesh penasaran.


“Aku tau krungu lho, kalau Mbak Lisa iki sebenernya...” belum rampung kalimat Riana, supir taksi online memberi tahu mereka bahwa mereka sudah sampai rumah.


“Nggeh mboten nopo-nopo mbak, kulo tunggu teng mriki yo...”


“Nggeh pak, sekedap nggeh, kulo mlebet riyen...” kata Riana. Pak supir Cuma mengangguk. Sementara itu, Riana memberikan instruksi kepada Ganesh untuk tetap menunggu di mobil, sementara ia yang akan mengambil barang-barang.


***


Ganesh memeluk erat Hanum yang saat itu tampak anggun dengan dress pink selutut yang ia kenakan. Hanum balas memeluk dan mengusap pundak Ganesh. Ia tahu telah banyak yang terjadi selama anak itu pulang ke rumah bersama kakaknya.


“Everything ok, Ri?” tanya Muara lembut seraya memeluk kekasihnya juga.


“I don’t know. Tapi biarlah, sementara kita anggap oke aja semuanya...” kata Riana seraya bersandar manja di bahu kekasihnya.


“Elok yo wong loro ki, do pelukaaaan wae,” celetuk Dian.

__ADS_1


“Kamu mau ta? Eh!” Wisnu menutup mulutnya, keceplosan.


“Hayooo, ketahuan... Belum pernah meluk po, Nu?” ledek Ganesh.


“Hus, ora, ah, sungkan yo,” kata Wisnu pelan.


“Heh, ya nggak papa, lho. Wong kene yo pelukan thok kok, ora lebih. Coba, gek dipeluk sek Dian-e...” ledek Muara.


“Ish, do usil kalian ki...” Wisnu menutupi wajahnya yang kini menjadi semerah tomat.


“Ayo, gek dipeluk itu Diannya...” Riana memanas-manasi. Meski sempet ragu-ragu di awal, tapi akhirnya Wisnu mendekati pujaan hatinya, dan memeluknya. Singkat saja, tapi berkesan. Dan siapapun yang melihatnya pasti akan setuju bila pelukan singkat itu adalah terlihat sangat manis.


“Nah ngono ta, ben kompak...” kata Muara.


“BTW ini gimana ceritanya sih, kok surprise banget tho kalian tuh ada di sini semua...” tanya Riana seraya duduk di sofa empuk lobby hotel.


“Dikasih job sama Mas Jeremy di hotel temennya, ya ini, Star Hotel ini. Nah kebetulan aku pernah ngisi disini kan dua tahun lalu, ya sekalian aja kuajak anak-anak kesini, nyiprati penghasilan kan lumayan. Soalnya nek di Star Hotel sini bayarannya gede sih...” jelas Muara.


“Oh ho-oh sih. La wong kene ki libur semester kan ya, yowes bah nek ngono.” Kata Riana.



Yowes, ayo gek istirahat sek, ngko bengi jam tuju kita ke lounge di bawah, ngisi kan. Saiki sek jam papat, sek keburu lah nek arepe mandi-mandi sek,” kata Muara.


“Oke, la kamarku ndek ndi?” tanya Riana.


“Lo sekamar sama gue sama Hanum kok, Ri, yowes gek ayo, kita ke kamar dulu ya bestie...” pamit Dian.


“Woke, kita juga mau ke kamar kok. See you on stage ya,” kata Wisnu. Mereka semua Cuma mengangguk, lalu saling melambaikan tangan.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2