
Asyiiiik, seluruh rangkaian kegiatan ospek sudah selesai. Seminggu sudah para maba didera ; dua hari ospek kampus, dua hari ospek fakultas, dan tiga hari ospek jurusan. Mereka sudah jadi zombie semua lho guys, saking tidurnya tidak pernah jangkep demi mengejar deadline tugas yang embuh. Beruntungnya, author udah melewati masa-masa itu sih. Jadi kayaknya tahun ini bakalan menyaksikan proses yang sama yang akan dilalui para maba, deh. Merdekaaa! Hihihi. Hari ini adalah hari terakhir, dan acara puncak akan digelar di gedung pertunjukan, di auditorium kampus yang super besar. Katanya sih akan ada banyak penampilan, mungkin dari para maba yang telah dibagi ke dalam kelompok-kelompok beberapa hari yang lalu.
“Ini kayaknya masing-masing fakultas, jurusan dan prodi pada penutupan sendiri-sendiri ya Mbak Hanum?” tanya Ganesh, seraya merapikan penampilannya.
“Iya, ada yang udah selesai duluan malah. Gak tau Sendratasik ini ada-ada aja, telung dino dewe leh osjur ki... Tapi zaman mbak cuma dua hari sih, masih online juga kan...” kata Hanum.
“Iya, aku inget kok...” lagi asyik-asyik mereka ngobrol, tiba-tiba seseorang datang dan menyapa mereka.
“Hai Mbak hani, hai Ganesh...” Hanum tercekat. Ia seperti mengenal suara itu. Kemudian...
“Eh, Mayaaang, haaaii...” sapanya heboh seraya memeluk gadis itu, yang tampak cantik sekali dengan busana adat jawa yang dikenakan.
“Apa kabar, mbak?” tanya Mayang.
“Baiiiik, May. Kamu sendiri gimana?” tanya Hanum balik.
“Baik mbak. Hari ini aku kebagian jatah nari nih. Sesuai sama jurusan sih. Do’ain ya biar lancar...” kata Mayang.
“Pasti May, pasti mbak do’ain. Good luck yaa...” kata Hanum tulus.
“Mbak, aku ke kelompokku ya,” kata Ganesh.
“Iya, Nesh. Good luck kamu juga...” kata Hanum. Ganesh mengiyakan. Setelah ia berbincang-bincang beberapa saat lamanya dengan Mayang, Hanum harus pergi guna memenuhi panggilan teman-temannya, karena dia juga akan tampil dalam perhelatan acara puncak nanti.
“Eh, Han, tak kandani... Aku asli gak eruh nek si Ganesh satu group sama orang yang dia sebel banget...” bisik Dian.
“Hah? Sopo?” Hanum heran.
“Andre...”
“Uhuk!” Hanum terbatuk-batuk saking kagetnya.
“Kok iso?” tanyanya lagi.
“Kan kemarin itu pengambilan kelompok pake sistem acak. Nih, tak tunjukkin datanya sama kamu...” kata Dian. Hanum mengangguk. Tak berselang lama, ponselnya bergetar. Itu nama-nama anggota kelompok maba yang dikirim sama Dian udah sampai ke WhatsApp-nya. Hanum membaca pelan-pelan. Kali ini, para maba yang mengambil Pendidikan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik), dan jurusan seni musik sendiri banyak banget. Belum lagi tari dan drama, itu juga cukup banyak peminatnya, sehingga terciptalah 10-15 kelompok yang berisi para maba yang akan menampilkan sebuah pertunjukan seni. Ganesh kebagian kelompok 6 berikut anggota-anggotanya:
KELOMPOK 6 MABA :
Ahmad Zein Angkasa.
Andreas Aditia.
Ganesha Dwi Pradana.
Muara Devan Mahendra.
Wisnu Putra Anugrah.
Larasati Rahma.
“Ini ada ceweknya satu, dia vocalist?” tanya Hanum.
“Kurang tau ya, mungkin iya. Sabar-sabar, gak usah cemburu. Toh disana ada Andre juga, tuu, Andreas Aditia...” kata Dian.
“Heh, maksud lo? Gue kan juga nggak macem-macem sama Andre!” seru Hanum.
“Iya-iyaaa, buset dah. Galak banget... Eh, btw, ada yang menghampiri kita tuh...” kata Dian seraya matanya memandang ke depan. Dan benar, seorang cewek berperawakan mungil berkepang dua sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
“Lho, itu kan Laras?” batin Dian.
“Selamat sore mbak,” sapa gadis itu.
“Eh, sore... Laras ya?” tanya Dian basa-basi. Acara pertunjukan memang akan digelar malam hari, jadi mereka baru datang ke kampus ketika sore baru saja menjelang.
“Iya mbak, Laras dari kelompok 6. Ini kesini disuruh sama... Siapa ya tadi? Lupa,” kata gadis itu seraya menundukkan wajahnya.
“Nyari siapa kamu Ras?” tanya Dian.
“Mbak Hanum... Yang mana orangnya?” tanya Laras.
“Ini sebelah kamu... Hanum...” Dian menyenggol pelan bahunya.
“Eh, hi, ada apa Ras?” tanya Hanum ceria seraya menjabat tangan gadis itu.
“Ndak, cuma mau kenalan aja. Saya madif juga, jurusan musik, tunanetra...” kata Laras sopan seraya membalas jabat tangan Hanum.
“Oooo, iyaa, salam kenal ya... Duduk sini aja, gabung sama aku sama Dian,” tawar Hanum ramah.
“Nggak mbak, makasih. Mau kembali ke temen-temen aja, ini tadi dianter sama Wisnu kok kesini, tapi dimana dia?”
“Ada kok. Yuk, balik...” ajak Wisnu. Gadis bernama Laras itu mengangguk. Kemudian ia menggandeng tangan gadis itu untuk kembali ke rombongannya di kelompok 6.
“Kok nggak digalakin sih, tadi keliatannya kayak siap perang gitu...” goda Dian, sepeninggal Laras dari tempat mereka.
“Ora lah, dek-e gurung lapo-lapo kok. Cuma tak amati aja gerak-geriknya, dipantau gitu...”
“Buset, udah kayak detektif aja lu.” ledek Dian lagi.
“Bodo, ah. Ya udah gue mau ke kantin aja, laper!” sungut Hanum.
“Ikuuuut!” seru Dian seraya buru-buru turun dari kursi dan menggandeng Hanum. Lalu mereka berdua berjalan bersama.
***
Singkat cerita, acara puncak penutupan ospek jurusan sudah berjalan separuh. Hanum ada disana, di kursi penonton, mendengarkan penampilan para maba yang keren-keren banget. Sekarang sudah kelompok 5, berarti sebentar lagi kelompok 6. Hanum sendiri sudah tampil di acara pembuka bersama band-nya. Sejujurnya, gadis itu juga penasaran, apa yang akan ditampilkan oleh Ganesh dan kawan-kawan, karena anak tuyul itu nggak ada cerita apa-apa soal apa yang akan ditampilkannya bersama kelompoknya.
“Dor!”
“Eh kutu loncat! Duuuh Mbak Ririii...” protes Hanum seraya mengusap-usap dadanya, memastikan jantungnya tetep stay di tempat yang semestinya.
“Lagian kamu, serius banget nontonnya...” kata Riana.
“Ini lho, aku lagi penasaran sama yang akan ditampilkan Ganesh dan kelompoknya...” kata Hanum.
“Enggak i... Mbak kelompok berapa?” tanya Hanum.
“Kelompok 8 nanti... Yowes selamat menunggu ya, mbak mau kembali ke habitat dulu...” kata Riana seraya menjawil pipi bakpau Hanum. Hanum cuma mengangguk, dan kembali mendengar-dengarkan lagi.
“Maukah lagi kau mengulang ragu
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu...” Hanum terkejut. Kok tiba-tiba udah lagu ketiga aja, Adu Rayu, pula. Kenapa anak-anak itu milih lagu ini sih?
“Lupakan dia pergi denganku
Lupakanlah ragu denganku
Ooooo... Aku...
Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu)
Tetap jadi milikku (Jangan ulangi ragu)
Bersamaku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu)
Yang menjadi milikku (Setengah jalanmu denganku)
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Layak untuk cantikmu, itu aku...” gema tepuk tangan bergemuruh usai lagu milik Yovie Widianto, Tulus dan Glenn Fredly itu dinyanyikan oleh mereka. Tidak, tepatnya itu oleh Ganesh dan...
__ADS_1
“Cieee direbutiiin...” ledek Dian yang tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya.
“Maksudnya?” Hanum gak ngerti.
“Lagu itu buat lo tau...” kata Dian.
“Maksudnya?”
“Ish, yang nyanyi tadi kan Ganesh sama Andre!”
“What?” Hanum kaget. Tapi dia tidak bisa menyimpan keterkejutannya lebih lama, karena Dian sudah keburu membawanya naik ke atas panggung. Parahnya, Hanum lupa kalau hari ini, Dian adalah MC pada perhelatan puncak ospek ini.
“Wah-wah, kelompok enam ini paling seru ya, Kak Putra,” kata Dian kepada rekan MC-nya yang lain.
“Aku baru mau ngomong gitu... Ini dua cowok ini kenapa sih?” tanya Putra menimpali.
“Kakak senior cantik ini lho penyebabnya!” seru Dian seraya membawa Hanum ke tengah-tengah panggung. Dan sekarang, gadis itu jadi tambah bingung.
“Oh, iya, paham. Jadi bener-bener adu rayu kalau ini sih...” kata Putra. Para audiens jadi heboh sendiri. Lampu blits menyorot dari berbagai arah. Tiba-tiba, seseorang yang lain berdiri di sebelah Hanum. Dan Hanum mengenal sekali sosok itu, karena wangi parfumnya yang khas.
“Ganesha Dwi Pradana...” kata Dian tenang seraya menepuk pundak cowok itu. Sementara itu, Putra – rekan MC-nya, memberikannya microphone.
“Aku sebagai seniormu punya permintaan kali ini,” kata Dian usil seraya mengedip-ngedipkan matanya. Untung Ganesh gak lihat.
“A-Apa mbak?” tanya Ganesh malu-malu.
“Coba nyanyiin reff part-nya yang terakhir, Ras, pianoin ya... Ini soalnya, di sebelahnya Ganesh ada seseorang yang bener-bener layak menerima lagu ini. Silakan...” kata Dian lagi seraya benar-benar memberikan ruang untuk Ganesh dan Hanum bersebelahan. Meskipun kebingungan, tapi Ganesh tetap menuruti permintaan seniornya itu.
“Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain...”
“Layak untuk cantikmu...” Putra memberi kode.
“Layak untuk cantikmu, itu aku...” kata Ganesh, seraya refleks memegang tangan Hanum yang memang benar-benar ada di sebelahnya. Para maba dan senior, semua bertepuk tangan, heboh sekali.
“Jadi buat para maba yang tanya soal mereka berdua ini, mereka berdua ini sejoli guys ya. Jadi, selamat menikmati hari patah hati nasional...” goda Dian kepada Laras dan Andre yang hanya terdiam seraya menahan kecewa. Malam puncak penutupan ospek terus berlanjut. Dan seperti virus, romantisme keduanya menular ke para pasangan fenomenal lain yang sudah lebih dulu hits di kampus tersebut. Dan acara terus berlangsung kendati malam telah beranjak semakin larut.
***
“Adu rayu yang sangat seru ya tadi itu. Wes pokoke...” goda Muara saat akhirnya mereka berlima bisa berkumpul kembali dan makan malam bersama, di kost-nya Hanum dan Riana.
“Tapi kurasa itu perlu deh. Soalnya Laras-nya emang meresahkan, untung Mas Ra berlagak nyuruh aku bawa Laras kenalan sama senior yang lain. Apa lagi Mbak Dian itu kethok-e relawan, kayak Hanum...”
“Emang, satu organisasi kok. Aku paham maksud kalian. Penyakitnya cewek tunanetra tu gitu, dinyanyiin dikit, diperhatiin dikit, diajak ngobrol lama dikiiiit aja ujung-ujungnya membawa-bawa nama, atas dasar kenyamanan... Halah, Tel*k lah!” seru Hanum yang tiba-tiba emosi.
“Sabar mbak, sabar. Yang penting kan udah diselamatkan tadi. Laras berhenti ngincer Ganesh, Andre berhenti ngincer mbak. Wes, kalian berdua harus traktir aku kayaknya, aku jadi penyelamat cinta kalian e soalnya...” kata Wisnu.
“Gampang nek iku, Nu. Tapi sebenernya aku ngerti tho modusnya si Laras itu, ngedeketin kamu karena pengen ngedeketin aku, persis kayak...”
Hooooooppp, ora usah disebut. Saru nyebut kuntilanak bengi-bengi ki...” kata Wisnu acuh seraya menikmati nasi gorengnya.
“Heh, wong iseh ayu kok diarani kuntilanak i piye?” goda Hanum.
“Lho, tadi ketemu Mayang ta?” tanya Riana.
“Iya tadi sore, pas aku lagi sama Ganesh. Dia kan nari tu,” jelas Hanum. Riana hanya ber-oh saja, dan akhirnya mereka melanjutkan makan malam yang tertunda.
***
“Aku pulang dulu ya, Ri, cepet tidur...” kata Muara lembut seraya mengusap rambut Riana.
“Iya sayang. Kamu hati-hati ya? Jangan ngebut-ngebut, udah malam.” kata Riana seraya merangkul singkat kekasihnya tersebut.
“Siap, princess... BTW, coba kamu ngadep belakang, terus puter lagi badan kamu kesini,” pinta Muara tiba-tiba.
“La kenapa?” Riana heran.
“Ayolaaah, permintaan penutup nih...” rajuk Muara. Riana tersenyum, lalu melakukan semuanya sesuai instruksi. Dan tiba-tiba...
“Layak untuk cantikmu, itu aku...”
kata Muara seraya memeluk gadisnya lagi, mengecup sayang puncak kepalanya.
“Heh, kirain apa. Huuuu modusmu lho mas! Yowes pulang sana!”
“Dih, ngusir... Ntar juga kangen kalau ditinggalnya kelamaan...” ledek Muara.
“Ck, GR banget anda ya mas... Tapi emang iya sih... Ups!” Riana menutup mulutnya, sadar kalau dia keceplosan. Hadeeeh, kenapa sih kalau di dekat cowok itu, dia seperti gagal mengendalikan diri? Kayak seakan-akan remote dalam dirinya sudah dipegang dan dikendalikan otomatis sama cowok itu (BTW, ini orang apa smart TV sih pake remote segala? Mbuhlah).
“Yowes aku pulang yaa, Assalamu’alaikum...” pamit Muara seraya buru-buru menyalakan mesin motornya.
__ADS_1
“Waalaikum salam, hati-hati...”
(TBC).