MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 46, THE REAL COMPETITION


__ADS_3

“Yang penting usaha dulu, karena hasil biasanya mengikuti seberapa besar dan keras usaha kita” (Kura-kura Ninja)


Ketegangan tengah benar-benar meliputi circle Riana CS. Kost Riana, sore hari. Keheningan meliputi keenam anak manusia yang tengah duduk berjajar di atas sofa ruang tengah. Yang paling gelisah adalah cowok jangkung ber-hoodie merah, yang dari tadi hanya sibuk memainkan jemari di pangkuan.


“Nesh, are you okay?” tanya sesosok gadis. Dan dialah Hanum.


“Suaraku, mbak...” jawabnya, hampir tak terdengar.


“Iya-iya, bentar ya, aku lagi titip jeruk lemon sama ibu kost. Nanti tak buatin ramuannya... Mending sekarang kamu makan dulu...” kata Hanum cemas. Aduh, ada-ada aja, kenapa disaat kompetisi sudah nyaris dekat harus ada kejadian seperti ini?


“Iya Nesh, Hanum bener, mending kamu makan dulu,” timpal Riana.


“Gak mau,” Ganesh menggeleng lemah.


“Jangan gini dong Nesh, nanti kamu sakit. Lagian, kalau mau minum ramuan itu, kamu harus makan dulu... Kalau nggak, nanti perutmu sakit...” ucap Hanum lagi. Ganesh terpaksa mengiyakan. Sejujurnya dia stress- tidak, stress berat, apa lagi suaranya harus hilang disaat-saat begini, disaat sudah mendekati hari-hari kompetisi.


“Ayok bestie, makaaaan!” seru Hanum seraya meriangkan suaranya. Sebenernya dia tersiksa juga dengan keadaan begini, apa lagi dia kan orangnya suka overthinking, sukanya mikirin sesuatu yang belum tentu kejadian. Semua mengiyakan dengan perasaan sedikit enggan. Pokoknya biar gimanapun caranya, semua harus segera kembali seperti sediakala.


***


Tiga hari menjelang kompetisi. Syukurlah, tingkat kepanikan sudah mereda. Suara Ganesha berangsur-angsur pulih juga. Sekarang, hari-hari mereka disibukkan dengan kegiatan packing, karena dua hari lagi, mereka akan pergi ke Malang untuk kompetisi pekan seni mahasiswa yang diikuti oleh seluruh kampus di Indonesia (baik negeri maupun suasta).


“Ra, cek lagi, ada gak barangmu yang ketinggalan?” tanya Riana.


“Enggak dong, kan barusan dibantuin packing sama calon istri,” jawab Muara setengah modus. Riana memukul main-main kepala cowok itu dengan sebuah powerbank yang ada di tangannya.


“Itu powerbank apa batu bata sih yang? Kok gede banget?” protes Muara seraya mengusap-usap kepalanya.

__ADS_1


“Powerbank lah dodol, aku juga gak tau, kemarin iseng aja beli di online shop, nyari yang daya MAH-nya gede, eh malah dapet yang gede se bentuk fisiknya juga,” jawab Riana.


“Kebiasaan sih main checkout aja, bukan dicek dulu spesifikasinya...” omel Muara.


“Ya maap, namanya juga buru-buru...” kata Riana seraya menutup kopernya, lalu mengembalikan powerbank tadi ke tas utama yang akan ia bawa, supaya gak ketinggalan.


“Woiii, udah belum packing-nya, malah pada pacaran!” seru Hanum dari luar kamar.


“Alah koyok kon gak ae lho...” ledek Riana seraya membuka pintu, dan disambut dengan cengiran gadis berpipi bakpau itu.


“Ini kita pesen tiket sendiri-sendiri apa gimana sih?” tanya Hanum.


“Kayaknya dari pihak kampus deh. Sek tak tanyain dulu,” kata Riana. Semua mengangguk.


“Bestie, mereka Cuma ngucurin dana aja, ini kita yang pesen masing-masing, soalnya kan harus sesuai KTP dari kita, ya ribet kalau mereka nginput data satu-satu ke aplikasi...” kata Riana.


“Yowes gak papa, aku sama Ganesh mesen sendiri aja...” timpal Hanum.


“Udah, itu nanti tugasku. Aku sekalian tanyain member vocal group juga. BTW, ini jangan sampe ada perang dunia ketiga lho yaa nanti...” kata Muara tiba-tiba.


“Opo-o Mas Ra?” tanya Hanum.


“Kan gini, ada dua anak yang keluar dari keanggotaan, pas kita nyari pengganti, Laras Sama Andre ngajuin diri, kan mereka berdua sama-sama gagal di seriosa putra dan putri. Yowes, akhirnya nyemplunglah mereka ke group kita...”


“M A M P U S!” seru Wisnu dan Dian kompak.


“La kapan ada kesepakatannya, Ra? Kok aku nggak dikabari?” tanya Riana.

__ADS_1


“Waktu kamu datang latihan tapi telat itu lho...” jawab Muara.


“Ya asalkan si Laras gak caper ke Ganesh aku sih oke-oke aja...” kata Hanum.


“Asal Andre gak aneh-aneh ke Mbak Hanum aku ya juga nggak papa...” timpal Ganesh.


“Nah, repot wes kudu jadi juru damai.” Riana meringis.


“Eh, aku denger-denger Celine malah ikut monolog lho, dan menang, berarti besok ikut juga kan ke Malang?” kata Wisnu ikut-ikutan.


“Uwes, ah, kok malah do saling ngusili kancane...” ucap Dian.


“Tau nih, Mas Ra sih.” Rajuk Hanum.


“La kok jadi aku?” Muara heran.


“Ya pokoknya harus Mas Muara, karena cowok kan selalu salah, weeeeek...” ucap Hanum lagi seraya menjulurkan lidahnya.


“Moooh...” kata Muara seraya mencubit gemas hidung Hanum.


“Kalau nggak Mas Ra, Ganesh. Kalau nggak Ganesh, ya Mas Ra. Iki opo nggak entek ta irungku dipenceti?” Hanum bersungut-sungut seraya beringsut ke belakang, meminta perlindungan kepada Riana yang Cuma ketawa.


“Eh uwes-uwes, jangan pada saling menggarap aja kalian. Ya apa ini, urusan tiket mau dikerjain sekarang apa gimana?” tanya Riana.


“Ya udah, aku aja yang meng-koordinir semuanya. Yang penting data kalian jelas...” kata Muara.


“Ya udah, kalian setor foto KTP kalian ke Muara ya...” ucap Riana. Semua mengangguk.

__ADS_1


“Satu-satu aja ke japri, jangan semua ditaroh di group, nanti kelabakan aku...” timpal Muara. Semua kembali mengangguk. Maka jadilah mereka semua berpencar – mengerjakan tugas yang lain, meninggalkan Muara yang kepusingan karena harus input data untuk pemesanan tiket kereta api. Untung lombanya Cuma deket-deket aja, di Malang. Well, good luck ya bestie, do your best. Semoga hasilnya yang terbaik, aamiin.


(TBC).


__ADS_2