
“106.1 D FM bareng-barengan sama Riana di Coffee Break dari jam tiga sore sampai jam tujuh malam nanti... Sobat D, untuk sore hari ini kita punya tema yang boleh diikuti sekalian request juga yaa, mau DM IG boleh, mau DM twitter, boleh, mau WA atau live lewat telepon, juga bisa ya, di 081112231212. Jadi tema kita pada sore hari ini adalah, apa makna LDR menurut kamu? Ditunggu ya gabungannya. Dan jangan kemana-mana juga pastinya, karena Riri bakal puterin lagu-lagu yang enak pake banget buat nemenin sore hari kamu!” Riana menghela napas. Ini hari pertamanya keterima kerja di sebuah stasiun radio anak muda di Kota Surabaya. Dan ngomong satu tarikan napas begitu, bikin tenggorokannya terasa seperti mau copot. Maka mumpung lagu masih running, dia memutuskan untuk keluar sebentar, ke kulkas, mengambil air minum dingin kemasan.
“Gue nawarinnya lo siaran di Jakarta, nyangkutnya tetep aja di Jatim lagi juga. Emang dasar gak bisa pisah lo ya sama gue,” ledek Yura, sahabatnya. Yah, inilah dia, wujud atau sosok Yura yang dulu begitu rempong nelponin Riana, Cuma mau nawarin kerjaan jadi penyiar.
“Kayaknya emang jodohnya gue kerja bareng sama lo lagi, mbak...” Riana nyengir, seraya menenggak setengah isi dari botol itu.
“Mbak Yu, ada yang datang dan mau ketemu,” kata Tita – salah satu karyawan di bagian reception.
“Oh iya, Ta, bentar!” seru Yura. Ia segera berpamitan pada Riana, hendak menemui tamu yang menunggunya. Riana mengangguk. Tapi karena sedikit penasaran, akhirnya ia mengintip keluar, dan...
“Lho, itu kan Hani? Mau ngapain dia disini?” batinnya.
“Dek Hani!” tanpa berpikir dua kali, ia segera memanggil gadis itu yang sedang duduk bersama Yura.
“Lho, Mbak Riri, announcer disini juga ya?” tanya Hanum.
“Iya, baru aja aku jalanin program sore ini. Kamu ngapain ke sini?”
“Aku ngelamar kerja juga mbak, tapi nanti nerusin program setelah Coffee Break, pokoknya intinya nanti ngelayanin orang curhat-curhat gitu deh, tapi kayaknya aku datengnya kesorean ini,” Hanum nyengir, menampakkan lesung pipinya, manis sekali.
__ADS_1
“Oh, okay, good luck ya dek, aku masuk dulu, udah mau kelar nih lagunya,” pamit Riana. Hanum mengangguk. Riana melambai kepada Yura, lalu kembali menuju kotak kaca siarannya.
***
Sebenernya Yura ini siapa sih? Terus apa pekerjaannya? Jani begidi *biasa, kebalik. Jadi begini, sebelum kalian pada penasaran, aku akan coba ceritakan sedikit mengenai profilnya Yura, ya. Siapa tau nanti ada yang tertarik jadiin dia pacar. Soalnya dia juga jomblo tuh,, hehehe.
Namanya Yulisa Rahmania Putri. Usianya 24 tahun. Ia sudah tertarik dengan dunia kepenyiaran sejak SMP. Ketertarikannya itu membawanya masuk ke jurusan broadcasting semasa kuliah, dan menjadi lulusan terbaik di angkatannya. Gadis kelahiran Mojokerto ini pernah menjadi penyiar di beberapa radio terkenal di sekitar Jawa Timur. Dia juga pernah bekerja di Jakarta, meskipun hanya dalam durasi yang sebentar, satu setengah tahun. Terakhir, ia memutuskan untuk menetap di Surabaya, dan menjadi penyiar disana. Dia jugalah yang biasanya membantu perekrutan karyawan atau announcer baru, seperti Riana dan juga Hanum. Untuk ciri-ciri fisik, Yura ini tingginya sekitar 153 cm (pendek banget, ya?), rambutnya panjang sebatas punggung, hidung mancung dengan pipi yang sedikit berisi, kulitnya sawo matang. Kalau sedang tersenyum, meskipun tidak memiliki lesung pipi seperti Hanum, tapi matanya juga ikut tersenyum, meriangkan seketika siapa saja yang tak sengaja memandangnya. Kalau secara kepribadian, dia sebelas-dua belas sama Riana, tapi ini versi lebih bar-bar karena dia pemegang sabuk hitam karate. Jangan salah, kecil-kecil begitu, dia pernah ngehajar pentolan preman sekolahannya sampai babak belur dan akhirnya dia dipanggil sama guru BK, terus kena skors selama tiga hari. Tapi nggak papa, karena hikmahnya, setelah kejadian itu, kondisi sekolah jadi aman dan tenteram, karena nggak ada yang sok preman dan sok jagoan lagi, ngegangguin adik kelas. Jadi itulah sedikit profil dari sahabat baru kita yang berjudul eh, bernama Yura. Bagaimana? Ada yang tertarik? Kalau bisa sih buruan ya, takutnya hari senin harga naik. Hus!
***
“Halo, Ri, dimana?” tanya Muara, melalui sambungan telepon.
“Halo, Ra. Ini baru beres siaran... Kenapa?”
“Naik taksi online, motorku baru sampai besok kemungkinan. Pusing juga kalau tiap hari naik itu, pasti bengkak banget pengeluaran nanti,” keluh Riana.
“Ya udah share loc aja ya, nanti kujemput, aku baru pindah ke kos-kosan nih, alhamdulillah dapet deket kampus juga...”
“Emang gak capek?” tanya Riana.
__ADS_1
“Enggak lah, tadi beres pindahan itu jam 2, jam 3 udah bisa ditinggal tidur, bangunnya aja setengah enam tadi. Ya udah share loc sekarang ya, nanti aku OTW,” kata Muara lagi.
“Ok, tuh, udah, di WA.”
“Ok sip, tunggu ya, cantik...” kata Muara. Riana Cuma tertawa. Lalu ia memutuskan sambungan telepon mereka.
***
Kota Surabaya, malam hari, kawasan Pantai Kenjeran. Kalau boleh diceritain, berhubung beberapa tahun lalu author pernah kesana, suasana di Kenjeran itu mirip-mirip lah sama kawasan Ancol di Jakarta, rame, banyak tukang makanan, dan lain-lain. Dan disinilah Riana dan Muara sekarang, sedang duduk di dekat gerobak penjual kupang lontong/lontong kupang dan es kepala, eh, kelapa muda.
“Pesen dua ya pak, kupangnya,” kata Muara kepada si penjual.
“Nggih, siap mas...” jawab sang penjual dari balik gerobak. Riana tersenyum. Ia senang mengamati aktifitas orang-orang dalam diam. Ia suka keramaian, tapi tak suka terlibat langsung di dalamnya. Jadi pengamat saja, itu lebih baik.
“Heh, nyapo ngelamun?” Muara memecah kesunyian.
“Kon iku lak mesti sih ngageti... Ora yo, aku nggak ngelamun,” kata Riana seraya menjewer telinga Muara.
“Iya-iya deh, nggak ngelamun, tapi lepas dulu ini kupingku, nanti kalau tambah panjang gimana?” sungut Muara. Riana tertawa, lalu memencet sekali lagi telinga Muara sebelum melepaskannya.
__ADS_1
“Ini mas, mbak, kupang lontongnya. Selamat menikmati,” kata si bapak penjual seraya tersenyum penuh arti kepada kedua sejoli itu. Barangkali dia mikir, lapakku didatangi orang pacaran rek, gitu. Tapi ya udahlah ya, jomblo gak usah iri, berdo’a aja, siapa tau jodohmu datang besok lewat kurir paketan *eh, hus!
(TBC).